Breaking News

30 January, 2012

Dialog Cinta Suatu Malam



Setiap malam menjelang tidur ada ritual yang tak pernah dilewatkan oleh pejuang-pejuang kecilku. Ritual singkat yang membuat mereka candu gelisah bila tak tertunai sebelum menutup mata. Sejak mereka kecil, mungkin saat usia Umar, sulungku, 3 tahun (Hamzah baru saja lahir), aku mulai membiasakan ritual ini untuk mereka.
Kuusap kepalanya, kubelai ubun-ubunnya, sambil komat-kamit berdo'a :

"Allahumma ihfazh hu min baini yadaihi wa min kholfihi wa 'an yamiini hi wa 'an syimaali hi waq dzi fit tauhiida fii qolbi hi wa a'inni 'alaa tarbiyati hi yaa Arham Arraahimiin. Allahuma inni u'iidzuhubika wa dzurriyatahu min asyyathoonirrojiim."

Selalu. Saat tiba waktu beristirahat di pembaringan, mereka kan datang dan berkata,

" Eh, Ummi kan blom do'ain kita..."  atau

"Oiya, do'ain dulu dong Mi...." seraya menyorongkan kepala-kepala mungil di depan wajahku.
Atau, jika mereka melihatku masih sibuk menyetrika ataupun sedang online di depan komputer, mereka kerap mengingatkan manja, "Nanti Ummi ke kamar ya do'ain kita...."

Begitupun saat aku ingin tidur lebih cepat dari jam tidur mereka, karena kurang sehat atau terlampau penat, tatkala aku pamit tidur, salah satu tetap akan ingat dan berkata cemas,

" Nanti gimana dong Mi do'ainnya ?"

Biasanya kujawab dengan nada sedikit bawel, "Makanyaa, cepet gosok gigi dari sekarang. Udah gitu langsung sholat 'Isya.Mumpung Ummi belom tidur niih. Jadi bisa dido'ain!"

Exhausted  kadang bikin galak mode ON. *nyengir*

Malam itu, saat aku menunaikan ritual kecilku seperti biasa.
Terbitlah rasa ingin tahuku, mengapa mereka begitu addicted dan terus menagih jika do'a Ummi belum terlaksana.Kudekati Umar. Sepertinya ia sudah lebih rasional untuk dijadikan teman diskusi. Setelah mendo'akannya, aku berbaring di sisinya dan bertanya,

 "Bang, kenapa sih abang selalu minta dido'ain Ummi sebelum tidur ?"

"Enak ajaah.... dielus-elus terus disayang sama Ummi", sahutnya ringan sambil memeluk guling.

 "Then, how do you feel after dido'ain Ummi ? Do you feel safe, secure, happy ...or what ?" kejarku dengan tatap menyelidik.

Kuberi dia option supaya lebih mudah mengekspresikan rasa hatinya.

Umar terdiam. Ia tampak berpikir agak lama dengan mata menerawang. Sejurus kemudian dia menatapku sambil menjawab mantap,"Feel grateful......"

Aku bengong tak percaya dengan apa yang terdengar.
"Apa bang...?" lirihku tercekat. Berharap dia mau mengulang lebih keras. Agar aku pun yakin, ge-er ini berada di jalan yang benar.

"Feel grateful that I have a mom like you."

Ohhhh..
Kubenamkan wajahku ke dalam pipi empuknya. Lembut dan lamaaaa.
Lalu kubisiki telinganya dengan untaian do'a penuh syukur dan harap pada-Nya.

Ya Allah masukkan ia ke dalam generasi Rabbani yang Kau cintai...

[Perth, 2008]











0 komentar:

Post a Comment