Breaking News

30 January, 2012

di buat 5 tahun yg lalu



Yurmawita Adismal


“Ibu akan berangkat ke Malaysia!” tanpa beban sedikitpun suara Ibu barusan mengungkapkan kalimat asing di telinga kami malam saat berkumpul di meja makan habis makan malam seminggu yang lalu.
”jadi TKW” sambungnya.
            Aku bersungut memandang Ibu. Wanita yang selama ini aku kagumi mengatakan kalimat yang menurutku hanya pantas diucapkan oleh orang-orang putus asa hidup di bumi katulistiwa ini. Setidaknya itu kesimpulanku selama ini. Sisa sop yang menjadi menu malam ini urung kuhabiskan. Bagaimanapun kalimat Ibu lebih menyita perhatianku. Delapan tahun tidak serumah dengan Ibu menurutku belumlah terlalu lama mengenang saat-saat indah dimanja oleh Ibu. Tuntutan kerja membuatku memilih untuk tinggal di Kota Bengkulu bersama keluargaku, meninggalkan ibu beserta ayah yang sedang sakit dulunya bersama Nuri adik bungsuku yang masih SMP. Dan sekarang tepatnya setahun yang lalu saat ayah meninggal, praktis Ibu hanya ditemani Nuri yang sudah semester lima. 
Kupalingkan pandangan pada Nuri adik bungsuku yang masih tinggal sama Ibu. Setidaknya ia yang tahu banyak tentang keseharian Ibu ketika aku beserta adik-adikku yang sudah berkeluarga pulang ke rumah masing-masing.
            Nuri diam tak bergeming. Ia bahkan masih santai menikmati apel yang masih tersisa separuh ditangannya.  Seakan kalimat Ibu barusan adalah kalimat yang wajar didengarnya. Dan merasa kuperhatikan dia lantas bangkit dari tempat duduknya pergi ke ruang depan tanpa bersuara sedikitpun.
            ”Seminggu yang lalu berkas-berkas lamaran Ibu sudah diurus oleh Nuri. Tadi siang ada surat pemanggilan dari perusahaan yang memfasilitasi pemberangkatan bahwa Ibu akan diberangkatkan pada rombongan pertama Lusa”
            Kali ini bukan aku saja yang tercengang mendengar penuturan Ibu, Lilis dan suaminya Rifai, Kurnia dan suaminya Joni serta Tanti istrikupun menatap Ibu tak percaya. Kami serentak menyudahi makan malam. Bahkan Kurnia yang masih hamil 6 bulan sontak ke kamar mandi.
            ”apa yang menyebabkan ibu berfikir begitu?”gugatku. Bagaimanapun rasanya tidak adil jika ibu harus meninggalkan kami meskipun kondisi kami sudah berkeluarga. ”tidakkah ibu berfikir Malaysia jauh, apalagi kondisinya harus menjadi TKW?”
            ”Ibu ingin cari uang.”
            Glek! Kerongkonganku praktis tercekat. Sebutir nasi menyusul keluar. Aku tidak menyangka ibu mengucapkan hal itu. Ibu butuh uang?. Aku menatap satu persatu adik-adikku, Lilis dan Kurnia seketika menunduk. Menyusul suami mereka masing-masing. Dari depan terdengar Nuri bercanda dengan kucing yang senantiasa menemaninya di rumah. Wajah 40 tahun yang membaluti Ibu, menatapku berkaca-kaca. Ketegaran yang dipunyainya semenjak mengurusi ayah sakit maupun menjalani hari-hari kesendirian sepeninggal ayah menyimpan kekalutannya dari ku. Tergantikan dengan ketegaran yang tak pernah pupus, begitu penilaianku tentang Ibu.
            Aku kian tidak mengerti tentang keputusan Ibu. Ibu butuh uang! Untuk apa? Bukankan kirimanku satu juta perbulan sudah lebih dari cukup baginya?apalagi tinggal di kabupaten yang tidak terlalu banyak tuntutan dibanding kami yang tinggal di kota, Ibu masih  mempunyai kebun yang masih produktif untuk tanaman sayur seperti kacang panjang, cabe, terong dan sayuran yang lain untuk menambah masakan, bahkan buah-buahanpun masih sering kuterima kiriman beliau kala panen, Alpukat, Pisang, nanas, Jambu, mangga, rambutan tak pernah absen berbuah jika sedang musiman. Jika kuliah Nuri yang menjadi alasan kekurangan terhadap kirimanku, mustahil. Jatah Nuri diluar kiriman perbulan, setiap semester selalu ada anggaran tambahan khusus untuk Nuri.
            Rasanya tidak ada alasan yang masuk akal jika Ibu kekurangan uang atau malah karena tuntutan hidup. Bagiku uang satu juta itu sudah merupakan hitungan yang lebih dari cukup untuk ukuran Ibu, bahkan Tanti istriku sering juga mengirimkan bahan-bahan makanan seperti beras, gula, minyak, sabun maupun pakaian ketika ada honor lain diluar gaji yang kuterima perbulannya.
            Aku menatap satu persatu adik-adikku yang meninggalkan meja makan, pergi ke kamar masing-masing dan mengunci pintu dari dalam, tinggal kami berdua dengan Istriku Tanti yang membantu Ibu membereskan piring-piring kotor. Ibu sendiri tak bersuara sedikitpun saat itu. Ia sibuk keluar masuk dapur membereskan sisa-sisa makanan. Seakan keputusan yang ia jalani sudah bulat tanpa boleh ada yang menghalangi.
            Esoknya adik-adikku pamit pulang ke rumah masing-masing bersama keluarganya, Lilis pulang ke Manna bersama suami dan anaknya yang baru satu tahun, aku tidak tahu apa yang menjadi landasan dia merelakan Ibu pergi, komunikasiku dengan mereka sedikit tersendat, lantaran letak tempat tinggal mereka jauh dari alat komunikasi, aku hanya tahu bahwa Lilis yang seorang guru SD honorer, dan menurut cerita yang kudengar dari Lilis ketika akan menikah  dua tahun yang lalu suaminya seorang juragan sawit di desanya. Bagiku itu sudah cukup menggembirakan, setidaknya tidak perlu khawatir akan keadaan mereka, sedangkan Kurnia yang setahun lalu menikah bersuamikan seorang sopir angdes, dan juga cukup lumayan kehidupannya karena menadapat jatah sebuah toko peninggalan ayah di Argamakmur. Akupun setidaknya tidak perlu memikirkan jatah makan mereka, bagiku mereka sudah bersuamikan orang yang sudah bekerjapun sudah menggembirakan.
            ”Bu...” hati hati ku sapa ibu yang sedang membolak-balikkan arsip yang berisikan surat-surat penting di ruang tamu setelah melepas kepergian adik-adikku.
            ”Ya.”
            Ibu masih asyik dengan surat-surat tersebut, tanpa menoleh sedikitpun kearahku. Disebelahnya Nuri sedang bercanda dengan anak bungsuku.
            ”Coba pikirkan lagi keputusan itu, sebenarnya apa yang menjadikan ibu merasa kekurangan uang sehingga harus mengambil jalan begini? Ibu tahu kan kalau menjadi TKW itu banyak resikonya. Kemudian nanti Nuri tinggal sama siapa, kuliahnya bagaimana, ketika lebaran tiba kami harus pulang ke mana?” serobotku
            Ibu terdiam. Bagiku, diamnya Ibu merupakan suatu sikap yang sangat  sulit ku terka. Biasanya Ibu akan mendiamkanku jika aku sudah terlampau usil dengan sikapnya, dan ujungnya nanti ia tidak akan berbicara sepatah katapun dengan ku. Aku menarik nafas dalam menanti jawaban Ibu. Bibir Ibu yang sudah mulai menghitam dan keriput menjadi objek perhatianku. Bibir yang sudah lama tidak menyungging senyum, setidaknya dalam delapan tahun terakhir, semenjak aku meninggalkan Ibu dan ayah yang  sedang sakit-sakitan.
            ”Bu...” kembali kuulangi teguranku. Berharap agar ia mengerti bahwa aku sangat ingin mendengar jawaban darinya. Ibu meletakkan map hitam diatas meja, nafasku sedikit tertahan, mencoba memahami apa yang akan Ibu utarakan nanti.
            ”Hidup ini butuh uang Nak…, Ibu masih punya beban dan tanggung jawab atas kalian. Ibu masih kuat dan bisa berusaha. ” tutur Ibu diplomatis.
            Ibu terdiam sesaat, ia menatapku sekilas. Aku semakin tidak mengerti dengan perkataan Ibu.
            ”apakah kirimanku masih kurang Bu?”
            ”Ya...”
            Ibu meninggalkanku. Dan aku tahu bahwa langkah yang ditempuh Ibu itu tidak lain untuk menghindar dari pertanyaaanku selanjutnya. Ibu kekurangan uang? Aku kembali menghitung-hitung pengeluaran Ibu jika satu-satunya pemasukan Ibu adalah kirimanku tiap bulan. Rasanya tidak mungkin hidup berdua di tempat seperti ini harus merasa kekurangan dengan uang sejumlah itu.
            Aku beringsut dari sofa, mendekati Nuri. Barangkali darinya akan kutemukan jawaban yang ingin kudapatkan.
            ”De...kenapa Nuri tidak telfon Kakak jika kirimannya kurang?” aku membelai kepala Nuri yang tertutupi jilbab. Nuri menatapku, matanya berkaca-kaca.
            ”uang kiriman kakak tidak pernah untuk makan kami.”
            Aku tercekat. Menatap Nuri tak mengerti.
            ”jadi selama ini digunakan untuk apa?”
            ”Inga Lilis dan  Cik Kurnia selalu datang setiap bulan meminta jatah mereka terhadap kiriman itu”
            Aku kaget bukan kepalang.
            ”untuk apa?”
            Nuri menangis keras. Aku berlari ke kamar Ibu pintu kamarnya tidak terkunci. Ia menunduk menghadap jendela kamar.
            ”bu... sebenarnya apa yang terjadi dengan Lilis dan Kurnia? Bukankah mereka sudah punya suami? Mereka bukan tanggung jawab ibu lagi. Mereka sudah bisa mandiri bu... kenapa jatah Ibu dan Nuri diberikan sama mereka? Ibu kenapa tidak bilang dulu sama saya sebelumnya kalau uang kiriman itu dipergunakan untuk itu.” aku menatap mata ibu yang masih memandang jauh ke luar jendela.
            ” mereka lebih butuh daripada Ibu dan Nuri di sini nak.. ibu tidak akan bisa tenang kalau mereka tidak makan. Biarlah ibu yang lapar di sini. ”
            ”kemana suami mereka bu? ” bukankah ibu dulu cerita jika menantu ibu adalah orang-orang pilihan, matang dan mapan?”
            Ibu mengeleng keras. Terisak.. aku meraih bahu ibu yang sudah semakin melemah. Ibu menangis didadaku. Ya Allah... tidak mungkin aku membiarkan ibuku tersiksa seperti ini. Aku sangat menyayanginya.
            Tega sekali Lilis dan Kurnia yang masih ngedon sama Ibu. Bukankah dulu ketika mau menikah mereka mengagung-agungkan calon suaminya dihadapanku yang tidak pernah setuju dengan cara mereka memilih pasangan, aku akui bahwa untuk ukuran saat ini salah satu yang harus menjadi point penting bagi seorang laki-laki adalah kemauan untuk berusaha, apalagi jika keinginan untuk menikah begitu besar. Hatiku semakin geram dengan adik-adikku yang tidak pernah mau mengikuti apa yang aku nasehati dulu sebelum mereka menikah, terbayang pertengkaranku dengan Lilis saat mengutarakan keinginnya menikah.
            ”kami sanggup untuk hidup mandiri tanpa dibantu oleh siapapun nantinya.” ia pun nekad menodong ibu agar merestui pernikahannya.
Dan akupun ketiban dampaknya setelah itu. Ibu meminta uang sepuluh juta katanya untuk modal Lilis dan suaminya. Dan info terakhir kuterima suami Lilis sukses menjadi juragan sawit di tempatnya. Ternyata itu bohong belaka.
Kurniapun tidak kalah sewot ketika mengutarakan niatnya menikah dihadapan Ibu saat itu. Ia mengajukan berbagai alasan  agar ibu setuju dan merestui. Seminggu setelah pernikahan mereka aku kembali ditelfon Ibu agar mengirimkan sejumlah uang yang juga untuk modal awal Kurnia dan suaminya menempuh hidup baru. Perkataan kurnia yang mengatakan bahwa suaminya punyai mobil angkutan ternyata juga akal-akalan saja.
Aku merasa dikerjai habis-habisan oleh adik-adikku. Setidaknya Ibu. Namun aku tidak pernah punya alasan untuk menolak keinginan ibu yang teramat mulia itu. Baginya membahagiakan anak-anaknya adalah tujuan utama hidupnya, meski apapun yang terjadi dengan dirinya. Termasuk memberikan jatah makan sehari-harinya untuk anak-anaknya, meskipun ia sendiri kekurangan.
”Bu..Kakak tidak rela jika Ibu yang harus berkorban, apalagi sampai memutuskan untuk mencari rezeki di negeri orang. Ibu harus tegas pada Lilis dan kurnia serta menantu ibu agar mau berusaha. Apalagi status mereka sekarang bukan lagi tanggungan Ibu. Sangat dzalim Bu... kalau ibu membiarkan mereka seperti selama ini. Ibu tidak mendewasakan mereka. ”
Ibu semakin terisak. Perlahan kubimbing ibu untuk duduk di sofa ruang tamu.
”Nuri...tulis surat pembatalan keberangkatan Ibu sekarang, suruh managernya menghubungi kakak jika menanyakan macam-macam” perintahku kepada Nuri yang masih bercanda dengan anakku.
Sekarang juga aku harus pergi menyusul Lilis dan Kurnia ditempatnya masing-masing. Sebagai kakaknya dan sekaligus kepala keluarga dalam keluarga besar kami aku merasa bertanggung jawab menasehati mereka. Memang ku akui selama ini jarang bahkan tidak pernah berkunjung langsung ke tempat tinggal mereka. Selain tidak ada waktu dihari-biasa, liburpun kalau harus pulang ke kampung pasti ketemu sama mereka di rumah Ibu. Sehingga ku tidak tahu persis keadaan mereka kecuali yang kudengar dari ibu.
Ah Ibu... ketulusan dan rasa tanggung jawabmu semakin membuat aku kagum denganmu.   Aku harus banyak belajar dari Ibu.


                                                                        15 Maret 2006

0 komentar:

Post a Comment