Breaking News

30 January, 2012

Dewi Muliyawan


Sinar matahari terasa panas, seperti membakar bumi. Dengan lesu kuayunkan langkah, menjauh dari pabrik tempatku bekerja. Sebuah amplop tipis tersimpan rapi dalam tas usang yang kusandang. Pesangon, begitu yang tertulis di atas amplop. Ya, krisis ekonomi membuat pabrik tempatku bekerja tutup. Tak mampu lagi menggaji karyawannya.
Mendadak kehilangan pekerjaan membuat pikiranku bekerja keras. Tanpa pekerjaan dengan apa aku harus menghidupi kakak? Putri pertamaku yang baru berumur satu tahun. Darimana uang untuk membeli kebutuhan-kebutuhan kakak?  Makanannya, biskuit, susu sampai vitamin? Sejuta pertanyaan memenuhi otakku.
“Bu…Bu…” kakak  menyambut kedatanganku di depan rumah. Langkahnya satu-satu. Masih tertatih-tatih.
“Sayang…, sudah makan belum?” segera kuraih kakak. Kuciumi wajah dan rambutnya yang wangi. Dipangkuanku, kugelitik kakak hingga ia tertawa-tawa. Penghibur hatiku. Hilang sudah semua lelah yang kurasa.
***
Tiga bulan berlalu. Usaha mencari pekerjaan terus aku lakukan. Puluhan surat lamaran kulayangkan ke berbagai perusahaan. Belasan tes masuk kerja kuikuti dengan tekun. Sayang keberuntungan belum juga menghampiri. Pekerjaan tak kunjung datang. Uang pesangon sudah habis untuk makan sehari-hari, tabungan juga menipis dengan cepat. Hati makin rusuh.
Akhirnya saat uang tabungan benar-benar sudah habis, aku mendapat tawaran pekerjaan. Gajinya lumayan besar. Hanya satu yang membuat aku ragu.  Pekerjaan ini mengharuskan aku berpisah dengan kakak. Bukan cuma keluar kota, tapi sudah berbeda negara. Ya, aku mendapat pekerjaan di Singapura.
Aku bingung. Pusing. Aku butuh pekerjaan, tapi meninggalkan kakak dalam waktu lama? Ah… sanggupkah?
Sepanjang malam aku tidak bisa tidur. Kupandangi wajah kakak yang sudah terlelap. Mana yang harus kupilih? Tetap bertahan bersama kakak di Indonesia, menunggu tawaran pekerjaan lain yang entah kapan didapat. Sementara kebutuhan hidup tak mau menunggu. Atau mengambil tawaran kerja ke Singapura, dengan resiko berpisah dengan kakak dalam waktu yang lama.
Kakak menggeliat dalam tidurnya. Aku menghela napas panjang. Dengan berat hati kuputuskan untuk mengambil tawaran kerja ke Singapura. Meninggalkan kakak. Demi masa depan yang lebih baik.
***
Tiga hari sebelum berangkat, kugunakan waktu sebaik-baiknya untuk bermain dengan kakak. Tak pernah sedetikpun aku meninggalkan kakak. Sejak kakak bangun tidur sampai kembali tidur. Kupuaskan hati menciumi rambutnya yang harum, menuntunnya belajar berjalan dan tentu saja membacakan cerita sebelum tidur.
Waktu seperti berjalan bagai kilat. Tiba saat aku harus berangkat. Seorang tetangga berbaik hati mengantarkan dengan angkot yang dimilikinya. Gratis. Sepanjang perjalanan ke bandara, kakak tampak senang.
“Obing… obing..,” katanya menunjuk setiap mobil yang lewat.
“Ya kak mobil…, bagus ya? Ada yang merah, hitam, hijau,” kataku menanggapi ocehan lucunya.
“Obing meyah…” kata kakak lagi menirukan ucapanku. Rasa sedih membuatku tak mampu lagi menjawab celoteh kakak. Perpisahan sudah membayang di pelupuk mata. Sekuat tenaga kutahan air mata ini agar tidak menetes. Aku tidak mau merusak keriangan kakak. Kubelai rambutnya yang halus. Kupeluk kakak erat
Di Bandara Soekarno-Hatta, kuserahkan kakak ke gendongan neneknya. Ia memberontak keras. Ingin kembali kugendong. Tangannya yang mungil menggapai-gapai ke arahku. Tak ingin terpisah dengan ibunya.
“Bu… Bu…Bu!” dari mulutnya yang mungil terdengar jeritan. Memanggil-manggil supaya aku kembali. Kakak meronta-ronta dalam gendongan neneknya. Air mata tampak membanjiri pipinya yang tembam. Segera kupalingkan wajah, tak kuat rasanya melihat semua itu. Tanpa menoleh lagi, kusandangkan tas di bahu dan berlari masuk ke dalam bandara. Supaya tak terdengar lagi tangisan kakak. Tidak terlihat lagi derai air matanya. Menguatkan diri untuk terus melangkah, demi masa depan yang lebih baik.
“Sabar ya, Kak. Ibu pasti pulang…” janjiku dalam hati.
***
Hari-hari di Singapura adalah hari yang penuh kerja keras. Rasa rindu pada kakak kian bertambah. Setiap malam bantal penuh dengan air mata. Untuk mengatasinya kusibukkan diri dengan sejuta pekerjaan. Kuambil over time dengan dua tujuan: menambah penghasilan dan melupakan sejenak pikiran tentang kakak. Makin banyak dollar yang didapat, berarti makin cepat aku bisa berkumpul dengan kakak.
Makin hari rasa rindu pada kakak makin besar. Saat libur, kukeluarkan baju dan celana kakak. Kupasangkan pada guling kecil miliknya yang kubawa dari Indonesia. Lalu kupeluk dan kucium. Guling yang memakai baju kakak itu juga kubelai dan kuajak bicara, seakan kakak yang ada di sampingku.
Setiap minggu kugunakan uang jatah makan malam untuk membeli kartu telepon. Tak apa, rasa lapar bisa terobati hanya dengan mendengar suara kakak nun jauh di Indonesia.
“Bu…. Pecapecapece… pecapecapaeca,” kadang-kadang hanya seperti itu yang kudengar. Sambungan telepon yang tidak terlalu bagus dan kakak yang belum lancar bicara membuat komunikasi via telepon tidak terlalu baik.
“Iya kak.. kakak makan ya.. yang sehat…,” jawabku mencoba berbincang dengan kakak, sambil menahan tangis. Selalu kupilih telepon umum yang jarang digunakan orang lain. Supaya puas bicara dengan kakak sampai pulsa di kartu telepon habis.
***
Setahun berlalu, rasanya sudah cukup uang yang kukumpulkan. Sudah tak kuat lagi menahan rindu pada kakak, aku memutuskan untuk pulang ke Indonesia.
Kakak ikut menjemput ke bandara. Rasa kangen yang sudah setahun menyesakkan dada, membuatku ingin segera menggendong dan mencium kakak. Sayang terlalu lama berpisah membuat kakak tak mengenaliku lagi. Hati ibu mana yang tidak hancur saat buah hati kesayangannya menolak untuk didekati. Kakak malah menyembunyikan wajah di balik kain neneknya, saat kuulurkan tangan untuk menggendong.
Aku mengerti. Kakak lupa. Tak ingin memaksa, aku pun bersabar. Kutekan keinginan untuk segera memeluk dan mencium kakak. Kubiarkan ia tetap di pangkuan neneknya. Sepanjang jalan ia hanya memperhatikan aku. Mendengarkan cerita-ceritaku dengan neneknya.
 Sampai di rumah kuberikan oleh-oleh tiga buah buku cerita bergambar. Kakak tertawa senang. Perlahan-lahan ia mulai mendekat. Aku bersyukur saat ia tiba-tiba memanjat pangkuanku. Kupeluk ia erat-erat, tak ingin kulepaskan lagi. Kakak sudah ingat dengan ibunya.
Aku memutuskan untuk tidak bekerja lagi. Uang hasil bekerja di Singapura kujadikan modal usaha. Dengan berwirausaha aku bebas mendampingi kakak setiap hari. Mengurus semua kebutuhannya. Aku tak ingin lagi berpisah dengan kakak seharipun. Aku ingin menebus hari-hari yang hilang dulu.


0 komentar:

Post a Comment