Breaking News

01 February, 2012

DEMAM SI RATU PANGGUNG


Oleh : Wylvera W

            Sudah sejam lebih aku membongkar isi lemari pakaian, belum juga usai. Belum ada satu bajupun yang kurasa pantas untuk kupakai di malam final itu. Isi lemari sudah hampir kosong. Waktu terus bergerak menjelang sore. Aku harus menemukannya.
Ya, malam itu adalah malam final ”Festival Tembang Kenangan” ku. Aku memang senang menyanyi dan ini adalah hobiku sejak kecil.
Kalau tiba-tiba hasrat untuk menyanyi muncul, aku pasti bersenandung sesukanya. Tapi cukup di rumah, atau di kamar mandi saja. Aku belum yakin suaraku cukup indah buat kuping orang lain.
            Hari itu, aku mendengar pengumuman di radio tentang lomba menyanyi lagu pop nostalgia. Perempuan usia 17 sampai dengan 23 tahun. Aku hampir terlonjak mendengar berita itu. Aku harus mengikuti lomba itu. Tapi, mampukah aku bernyanyi di depan orang banyak? Tiba-tiba ada rasa ragu dan tidak percaya diri yang menyelinap di hatiku.  Sebelumnya aku memang tak pernah mengikuti perlombaan menyanyi. Samasekali belum punya pengalaman. Padahal dalam batin aku sangat ingin sekali - kali menunjukkan kebolehanku dalam hal tarik suara. Waktu itu ada dua lagu yang harus dinyanyikan oleh peserta lomba. Satu lagu wajib dengan judul ”layu sebelum berkembang”, satunya lagi lagu pilihan peserta. Karena batas waktu pendaftaran masih ada seminggu lagi, akupun mencoba melatih semua teknik bernyanyi yang kumiliki. Ini adalah festival pertama buatku. Aku harus tampil semaksimal mungkin.  Setiap pulang sekolah, sedikit ada waktu luang, aku coba menyimak lagu-lagu koleksi papa, terutama yang berjudul ”layu sebelum berkembang” itu. Aku simak lagu itu dengan baik. Ternyata lagunya gampang. Kucoba menyanyikannya di dalam kamar, dengan segenap perasaan tentunya, ditambah gaya sedikit sebagai pemanisnya.
            ”Ya sudah dicoba aja ikut," tiba-tiba papa muncul dari balik pintu kamarku. Papaku juga suka menyanyi. Mungkin bakat alam ini menurun padaku. Cuma bedanya, aku tak pandai memainkan alat musik. Tak satupun. Sementara papaku bisa bermain gitar.
            ”Bisa lolos final gak ya pa?”
            ”Coba aja dulu, kalau gak dicoba kapan bisa tau kelemahannya?”
Akhirnya papaku pun ikut memberi semangat. Aku mulai berlatih teknik pernafasan, intonasi, tempo, sampai mimik wajah. Sementara mamaku hanya tersenyum”no comment”. Seperti orang kasmaran, semua ruang di rumahku kujadikan tempat berlatih, lagu cinta zaman tempoe doeloe. Tembang pilihanku sedikit agak berat. Kupilih lagu ciptaannya Titiek Puspa, ”Bing”. Strategiku, kalau lagu yang menjadi pilihanku, nada-nadanya sedikit susah untuk dinyanyikan, juri akan memberi nilai tambah untukku. Ups..! Tinggal tiga hari lagi, pendaftaran akan ditutup. Aku tak boleh ketinggalan, usahaku sudah sedemikian maksimal dalam mempersiapkan diri.
            Siang itu udara sangat garang menerpa ubun-ubun dan pipiku. Kulirk jam tangan seiko yang melingkar di lengan kiriku, jam dua, pantas saja, panasnya begini. Baju seragam SMA ku sudah multi aroma. Dari wangi parfum hingga bau asap kenderaan yang melintas lincah di depan sekolahku. Sebelum pulang ke rumah, aku mampir sebentar ke radio yang menyelenggarakan lomba nyanyi itu. Aku tersenyum sendiri, merasakan dera tepuk tangan penonton yang kagum pada suaraku. Mereka terlena melihat sosokku yang tampil anggun di atas pentas. Kuperhatikan bibir mereka ikut melantunkan lagu yang kubawa. Aku bangga.
            ”Mau ikut daftar ya dek?” Astaga, tanpa sadar aku sudah ada di depan meja panitia. Mereka pikir aku pasti gila.
            ”Ya bang,...uang pendaftarannya berapa?”
            ”Gratis dek..inikan ulangtahunnya radio kami, gak dengar iklannya ya?”
            ”Sori bang, lupa...he..he”
Nomor undian sudah ditangan. Aku pulang dengan membawa sejuta pengharapan, semuanya untuk menjadi juara.
            Dua hari kemudian, babak semifinal pun digelar. Peserta tampil dengan penuh percaya diri. Nada-nada suara merekapun bermacam ragam. Ada yang mampu mencapai nada sopran dengan tajam, tapi begitu sampai pada nada alto, suara itu seperti hilang ditelan deru irama musik. Sudah hampir dua puluh orang yang naik ke atas pentas. Tiba giliranku, aku harus mampu menyelesaikannya dengan mulus, tidak boleh salah. Kuawali penampilanku dengan membagi senyum ke setiap yang hadir di situ. Akupun mulai bernyanyi. Dengan teknik-teknik dasar yang sudah diajarkan papa, aku pun mampu menyelesaikan dua lagu sekaligus. Applause dari penonton menambah keyakinanku. Akhirnya aku mampu bernyanyi di depan puluhan orang. Satu prestasi awal sudah kuperoleh. Babak semifinal sudah mampu kulewati. Dan aku masuk ke final.
            Tinggal beberapa saat lagi waktu untuk menuju babak yang lebih menentukan.Yah akhirnya, aku menemukan baju yang akan kupakai di malam final itu. Berwarna dasar merah, dengan kombinasi bunga-bunga kecil kuning, hijau di atasnya. Sekarang tinggal sepatu. Aku harus mendapatkan warna sepatu yang cocok dengan gaunku. Ternyata aku sekali lagi beruntung. Dengan sikap ”no comment” nya ternyata mamaku sudah menyiapkan sepasang sepatu berwarna hitam, berhak 5 cm untuk pelengkap penampilanku. Sempurna! pikirku.
            Kembali aku memasuki arena laga tarik suara. Suasana malam itu begitu berbeda dari semi final sebelumnya. Berapa biaya yang dihabiskan pihak radio ini? Hanya untuk perayaan ulangtahun saja, mereka nekat menyewa tempat ini. Babak ini mengambil setting di auditorium dengan ruang yang berkapasitas ratusan orang. Setengah dari deretan bangku yang tersedia sudah terisi. Di bagian plafon tergantung beberapa lampion dengan warnanya yang kelap-kelip. Kalau pertunjukan dimulai, beberapa cahaya lampu diredupkan, akan terlihat semakin tajam kilauannya. Dekorasi panggungnya pun tak kalah artistik. Dengan didominasi latarbelakang pentas bernuansa merah, sama dengan nuansa baju yang kupakai. Lagi-lagi aku besar kepala, merasa seolah-olah panitia lebih memihakku. Buktinya, mereka menyelaraskan dekorasi panggung dengan gaun yang kukenakan malam itu,...senyumku mengembang.
            Saat yang ditunggu-tunggu oleh para finalis pun tiba. Aku mendapat nomor urut 5 dari 6 orang yang lolos. Aku harus sabar menunggu empat sainganku yang akan tampil lebih dulu. Dahsyat!! pikirku mulai merasa khawatir melihat penampilan para finalis. Heran, pada babak semi final suara mereka sepertinya tidak terlalu bagus, tapi malam itu, mereka seakan mengeluarkan semua kekuatannya. Vibrasi yang begitu menawan di nada-nada yang mereka lantunkan membuatku semakin kagum. Memang, aku juga sudah berlatih tentang vibrasi, tapi bisakah suaraku seindah getaran suara mereka? Mampukah aku menyisihkan mereka untuk duduk di posisi satu, dua atau tiga, seperti targetku semula? Tak ada jawaban lain untuk saat itu. Aku harus sekuat tenaga pula mencoba sekali lagi keberuntunganku. Namaku dipanggil. Mengapa tiba-tiba aku grogi dan panas dingin? Ketika diatas pentas aku melihat para penonton seolah mengejekku dari tempat duduk mereka. Ada apa ini? Sekilas kulihat papa siap membidik dengan kameranya. Bismillahirrahmanirrahim....aku mulai bernyanyi. Lagu wajib selesai, tinggal satu lagu pilihan ”Bing” ciptaan Titiek Puspa.
”Siang itu surya berapi sinarnya, tiba-tiba redup langit kelam..
  Hati yang bahagia tersentak seketika, malapetaka seakan menyelinap
  Berita menggelegar aku terima, kekasih berpulang tuk selamanya
  Hancur seluruh rasa jiwa dan raga, tak percaya tapi nyata...huuu”
Aku berusaha menyelesaikan bait pertama dan bait berikutnya. Ajaib, syair itu tiba-tiba hilang dan menguap. Kucoba mengingat, tak juga dapat. Aku lupa bait refrainnya, akhirnya inilah yang kulantunkan,
”Nana..nana..nanana..nananana...
  Nana..nana..nanana..nananana..”
            Tawa penonton seolah meruntuhkan atap gedung di atas kepalaku. Aku sudah berusaha menekan rasa grogi yang sedari tadi sudah menjalar sampai ke pita suaraku, tapi tak berhasil. Papaku pun tak kalah memberi semangat diantara puluhan penonton, namun tetap sia-sia. Telapak tanganku mulai basah oleh keringat. Jantungku berdegup kencang. Lututku terasa bergetar. Namun demi rasa malu yang hampir melumatku diatas pentas, aku selesaikan lagu itu meskipun hanya menyanyikannya dengan ”nana nana” saja. Karena kelupaan itu, aku hanya mendapat juara harapan dua. Itupun karena peserta nomor enam batal tampil, dan score akhir pada penampilanku dianggap cukup. Aku hampir meninggalkan gedung itu. Rasanya tak ingin naik sekali lagi keatas pentas untuk menerima hadiah. Tapi papa dan mama membujukku untuk tetap sportif. Kekalahan memang bukan segalanya, tapi rasa malu dan ditertawakan puluhan orang di gedung itu, susah untuk dilupakan. Dan itu sudah menjadi bagian dari episode hidupku yang konyol dan memalukan.


Pengalaman tak terlupakan.
---------------------------------

Note :
Kalau 2 postingan saya sebelumnya rada serius, kali ini pengen yg ringan-ringan dan lucu.
Siapa tahu, Ibu-ibu di sini juga punya pengalaman konyol yg pengen dibagi..ayo ah sharing..;)

3 komentar:

Meiqing Xu said...

20150701meiqing
ralph lauren polo shirts
ray ban glasses
cheap jordans
kate spade handbags
michael kors outlet
chanel bags
toms outlet
jordan pas cher homme
michael kors outlet
jordan 13
abercrombie
timberlands
jordan shoes
christian louboutin outlet
insanity workout dvd
pandora charms
michael kors outlet
jordan 8 playoffs
louis vuitton handbags
oakley sunglass
beats by dr dre
christian louboutin sale
longchamp outlet
michael kors outlet stores
abercrombie
air jordan pas cher
abercrombie & fitch new york
coach outlet
true religion
hermes birkin bag
louis vuitton outlet
cheap jerseys
michael kors handbags
ray ban sungalsses
oakley sunglasses wholesale
louis vuitton handbags
michael kors uk
toms promo code
ray ban outlet
louis vuitton

陈晓 said...

vuitton handbags

louis vuitton outlet online

louis vuitton

louis vuitton

marc jacobs handbags

mcm bags

mcm backpack

michael kors

cheap michael kors

michael kors bags sale

michael kors

michael kors outlet online

michael kors outlet

michael kors outlet

michael kors outlet online

michael kors outlet online sale

michael kors outlet store

michael kors

mont blanc

new balance shoes

nike air max 2014

nike factory outlet

nike free 5.0

free run

free running

nike jordan shoes

soccer shoes

nike roshe run

nike store

north face outlet

the north face jackets

oakley vault

oakley outlet

Wei Chen said...

QF0805
celtics jerseys
burberry outlet
kobe 9
nike free
coach outlet online
tim tebow jersey,julian edelman jersey,darrelle revis jersey,vince wilfork jersey,tom brady jersey,rob gronkowski jersey,deion branch jersey,jerod mayo jersey,danny woodhead jersey
oakley sunglasses
manchester united jersey
toms shoes
jets jersey
air jordan shoes
kansas city chiefs jerseys
nike air huarache
tory burch outlet online
bears jerseys
robert griffin jersey,joe theismann jersey,andre roberts jersey,sonny jurgensen jersey,art monk jersey,bashaud breeland jersey,barry cofield jersey,perry riley jersey,e.j. biggers jersey,duke ihenacho jersey,josh morgan jersey
kate spade outlet
boston celtics jersey
michael kors outlet, http://www.michaelkorsoutletcanada.in.net
miami dolphins jerseys
nike sneakers
nike trainers,nike trainers uk,cheap nike trainers,nike shoes uk,cheap nike shoes uk
indianapolis colts jerseys
mizuno running

Post a Comment