Breaking News

31 January, 2012

Dan Dengarlah Hamba-Ku, Tiada Pernah Aku Mendzalimimu..


Dulu, dulu sekali, saya pernah berpikir bahwa Tuhan tidaklah adil. Tuhan membenci saya. Tuhan ingin saya mati, mungkin? Atau jika tidak dibiarkan mati, maka sengaja disusahkan hidupnya, dilarutkan dalam cairan kesedihan yang membuat hati membeku.

Bagaimana bisa saya berpikir demikian jahat? Semua tak lain karena saya pernah kehilangan calon anak, dua kali pula. Dalam selang waktu yang tak lama.

Yang pertama saat masih dua bulan dalam kandungan. Rahim saya dinyatakan membentuk kantong kehamilan, tapi tak ada janin yang menetap didalamnya. Saya dinyatakan hamil tapi blighted ovum alias janin tak berkembang. Yang kedua tak jauh beda, meski janin berkembang, namun menutup usia di dua setengah bulan... Sedih, sedih sekali rasanya. Saya masih mengingat dengan jelas saat-saat terisak hebat yang tak bisa ditahan di ruangan dokter. Dengan pandangan kabur oleh air mata, menatap suami yang tak tahu harus berkata apa. Dua kali keguguran dalam jangka waktu setahun tentu bukan hal yang pantas dibanggakan. Saya tak hanya sedih, tapi malu. Malu pada semua yang tahu: keluarga besar, tetangga, rekan kantor, malu pokoknya. Kok saya ini lemah betul sehingga tak bisa menjaga dengan baik kandungan, yang bahkan masih berusia dini.

Satu hal lagi yang takkan pernah saya lupa, saat kuretasi di keguguran kedua. Tanpa bius! Wow sakitnya tak terperi. Sakiiitt... sekali. Perut terus diurut para bidan agar janin cepat luruh sementara dokter berusaha tetap tenang, mengajak mengobrol yang tak saya pedulikan karena terkukung rasa sakit. Semua ini diluar bayangan. Sebelumnya saya telah disuntik bius seperti operasi pertama dulu, tapi anehnya bius tak berfungsi. Saya sadar 100%. Waktu itu meski saya tahu tak mungkin mati hanya karena dikuret, tapi saya merasa nyaris mati menahan sakit. Dalam keadaan telentang, sakit demikian, saya jadi seperti mau dicabut nyawa saja. Menatap langit-langit, terbayang dosa-dosa.. Melawan orang tua, bertengkar dengan suami, mengecewakan rekan kerja, memarahi adik karena hal sepele.. rasanya banyak sekali dosa-dosa yang melekat. Sempat juga terlintas, kalau sakit itu bisa mengurangi dosa, mungkin saat ini memang dosa-dosa saya sedang dipaksa luruh.

Ah.. semua penderitaan itu tak berakhir begitu saja. Bahkan di kehamilan ketiga lebih hebat. Masalah yang beruntun. Terpaksa berhenti bekerja karena ingin mempertahankan kehamilan, bermasalah dengan suami, mengalami cedera yang cukup parah sehingga harus melahirkan dengan operasi caesar. Apakah memang wanita diciptakan setegar karang? Atau sekuat besi? Atau sekokoh tiang penyangga kahyangan? Mungkin iya. Tapi Tuhan, kenapa harus saya yang dibolak-balik dalam larutan kesedihan sedemikian rupa untuk menjadi wanita sebenarnya?

Kehamilan demi kehamilan yang tak kan pernah saya lupa.. Tangisan, dada yang sesak karena sedih, rintihan tengah malam mengadu kepada-Nya... Saat itu ketika belum menjadi ibu, saya sempat menganggap Tuhan membenci saya karena memberi cobaan sedemikian rupa. Tetapi kini, kala telah menjadi ibu, saya tak hentinya bersyukur. Semua ada hikmahnya! Tak sedikit pun Allah berniat mendzalimi. Saya akan menjadi ibu. Saya harus bersiap. Saya harus belajar banyak mengenai kepedihan, rasa perih, rasa luka, rasa kecewa. Saya akan menjadi ibu. Saya harus belajar banyak mengenai kekuatan, ketabahan, keikhlasan, kesabaran, yang mengagumkan. Saya seorang perempuan. Perempuan adalah yang dipilih oleh Allah untuk melahirkan manusia, bukan laki-laki. Seorang ibu lah yang dipilih untuk menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya, bukan sang Ayah. Jika ada lelaki yang sukses, maka dipastikan istri atau ibunya lah yang ikut berperan di belakang layar. Seorang ibu yang disebut Rasulullah tiga kali sebelum beliau menyebut kata Ayah, ketika ada yang bertanya tentang siapa yang harus paling dihormati.

Seorang ibu.

Sosok yang bahkan Baginda Rasulullah bersabda, ada surga di telapak kakinya. Sosok yang rela mengorbankan begitu banyak hal untuk buah hati: dimulai dari keletihan mengandung, mempertaruhkan nyawa ketika melahirkan, mengorbankan waktu tidur dan kesenangan lain ketika membesarkan, juga menahan rasa pedih dan kecewa ketika mereka besar justru berbalik melawan. Ah.. saya jadi menangis, teringat Mama..

Demikianlah, kehamilan yang telah saya lalui semuanya bagi saya adalah menakjubkan. Dari situlah Allah mengajarkan banyak hal. 


Jatiwaringin, 30 Maret 2011. 


0 komentar:

Post a Comment