Breaking News

27 January, 2012

Cool mom


            Buat kebanyakan orang profesi ibu rumah tangga itu mungkin bukan sesuatu yang wah atau patut di banggakan. Tergambar perempuan bertampang lecek yang keletihan bebenah rumah dan momong anak seharian, tubuh agak tambun karena menghabiskan sisa-sisa makanan anak-anaknya, no make up karena nggak punya waktu buat dandan, and no intelegency karena nggak sempat baca-baca buku buat nambah pengetahuan

           OMG ! kalau itu yang tergambar pasti nggak akan ada anak-anak hebat yang tumbuh di rumah. Anak-anak hebat yang ditraining dengan benar oleh human resource development handal. Seorang perempuan dengan sebutan IRT yang mau tulus merawat anaknya, menjaganya dan memberi tuntunan akhlak yang  baik agar anak tumbuh menjadi anak yang soleh atau soleha.

            “ mah, kenapa sih aku nggak boleh makan snack kemasan terlalu sering ?” pertanyaan si sulung yang usianya sudah mau sepuluh tahun dan menyimpan rasa keingin tahuan besar tentang sesuatu yang dilarang oleh ibunya

            “ mas baca bahan-bahannya dikemasan. Ada tulisan MSG gak ? kalau ada mas buka-buka lagi buku IPA dan lihat kegunaan serta efek samping MSG   ?”

            Seorang ibu dituntut untuk pintar-pintar memilah jawaban atas pertanyaan anaknya agar tak dianggap  suka melarang ini itu. Memiliki wawasan luas hingga mampu memberi penjelasan dengan cepat, tepat dan akurat. Tidak terkesan asal bicara dan asal bunyi.

            Pertanyaan yang kadang melompat-lompat dari topic umum, sekolah lalu agama yang cakupannya begitu luas dan tak bisa dipelajari satu hari. Yang jika pekerja kantoran di beri kuisioner seperti yang diajukan anak-anak kita belum tentu hasilnya cukup memuaskan.

            Benar-benar professor yang menganggumkan dengan ensiklopedia dikepalanya. Padahal melihat ensiklopedia saja hanya bisa dilakukan dikala senggang, saat pekerjaan rumah telah tuntas dan anak-anak tidur dengan nyenyaknya.

           Oh ya ngomong-ngomong soal pekerjaan rumah, teringat kalau kita sebagai ibu rumah tangga adalah manager operational dan karyawati terbaik sedunia. Penghargaan the best employee seharusnya disematkan pada kita atas dedikasi kerja tingkat tinggi. Merencanakan job description dengan jelas dan terjadwal, mulai dari dini hari saat harus menyiapkan sarapan, membangunkan seisi rumah untuk shalat shubuh berjamaah, menyiapkan seragam anak sekolah, mengantar mereka ke sekolah, pergi ke pasar, memasak untuk makan siang, mencuci pakaian, menyetrika baju, mencuci piring, menjemput anak sekolah, menyiapkan makan siangnya, menemani anak tidur siang, menanyakan PRnya, mengingatkan anak untuk mandi sore, menyambut suami pulang kerja, menemani mereka nonton dan setelah semua pekerjaan tuntas baru kita beristirahat. Esok paginya mengulang rutinitas yang sama dan menikmatinya. Tanpa merasakan kejenuhan yang seringkali di alami pekerja kantoran hingga memutuskan resign. Kita dengan semangat empat lima masih mengutas senyum dan berkata

           “ ya allah, terima kasih untuk hidup yang kau tambahkan satu hari hingga aku masih bisa melihat anak-anak dan suamiku “

          Begitulah ibu rumah tangga selalu mengarahkan dirinya untuk berpikir dan bertindak positif. Walaupun kehidupan tak selalu berjalan sesuai rencana dan sesuai harapan. Yang mana kadangkala penghasilan suami terbatas dan kita harus pandai-pandai berhemat

“ mah, aku mau beli lego kaya temenku “ si sulung meminta mainan

“ beli lego ? itu mainan harganya mahal banget mas. Bisa bangkrut mama kalau beliin mainan yang mahal-mahal buat kamu sama adek. Mending uangnya ditabung buat kita liburan nanti “

         Sebagai akunting dadakan, yang ilmunya dikhatamkan dari praktek lapangan, kemampuan mengukur anggaran adalah hal penting. Hampir sebagian besar IRT paham akan hal ini dan mampu menjalankan tugasnya dengan baik sehingga tak terjadi kebocoran anggaran seperti yang terjadi di pemerintahan dan swasta. Masih adakah yang meragukan kalau IRT adalah perempuan yang brilian dengan segudang kemampuan yang tak terbantahkan ?

            Tengah malam mendadak anak sakit, rumah sakit dan klinik terdekat jaraknya lumayan jauh. Ditengah kepanikan suami yang tidak tahu harus berbuat apa dan ingin cepat-cepat melihat anaknya pulih, IRT lah yang dengan tenang menjadi dokter merangkap perawat melakukan diagnose sementara, dengan thermometer ditangan mengukur suhu badan anak, saat panasnya diangka tiga puluh derajat celcius segera mengompresnya, mengambil stok obat  dikulkas yang biasa di resepkan dokter saat anak demam, IRT hapal apa nama bahan antibiotic dari obat tersebut yaitu paracetamol. Ia meminumkannya, begadang semalaman untuk menunggui buah hati tanpa berpikir letih atau kantuk. Ia berjaga menunggu panas si buah hati turun, kalaupun masih tinggi dan diangka tiga puluh Sembilan derajat celcius ia akan segera mengambil sendok untuk menahan giginya jika mendadak anak step. Mengambilkan obat yang dimasukkan di dubur untuk menghilangkan stepnya. Dan berpikir esok pagi kalau kondisi si anak belum membaik baru ke dokter.

            “ adek sudah baikan ?” tanyaku pada si kecil yang baru berusia dua tahun

            “ sudah “ iya menjawab lugas

            “ alhamdu….” Aku mengajarkannya mengucap syukur

            “ lillah “ ia hapal lanjutannya

            Menggaji satpam untuk beberapa hari ke depan karena suami dinas keluar kota adalah usulan janggal. Tak ada orang yang mau dipekerjakan hanya untuk beberapa hari. Lagi pula satpam di rumah kecil rasanya aneh dan tak masuk akal. Maka jadilah ketika suami pamit tugas keluar kota, istri yang memikul tanggung jawab sebagai penjaga rumah

            “ titip anak-anak ya say. Lusa aku pulang “ pamit suamiku

            “ sip. Nanti begitu sampai tujuan kabarin kami ya yah “

            Suamiku mengangguk, mencium keningku dan anak-anak sebelum berlalu menuju ruang boarding pass bandara polonia

             Tugas baru, tanggung jawab baru. Setelah menempati posisi sebagai HRD bagi anak-anak, manager operational sekaligus karyawati yang mengurusi pekerjaan rumah, akunting yang menyusun anggaran rumah tangga, dokter sekaligus perawat bagi anggota keluarga yang sakit, kini aku mendapatkan posisi baru sebagai satpam dirumah sendiri.

            Beranikah aku ? harus berani. Bukankah keberanian adalah ilmu hidup yang bisa dicontoh anak ?. berani dan mandiri, itu yang coba di biasakan tiap kali suami tugas keluar kota. Dengan begitu akan bertambah satu lagi nilaiku sebagai ibu rumah tangga dengan beragam profesinya yang patut dibanggakan. Jadi kenapa harus minder menjadi ibu rumah tangga ???…..











0 komentar:

Post a Comment