Breaking News

30 January, 2012

Cita Bapa


Apa yang bisa kamu berikan untuk bangsa ini?” suara serak itu langsung saya dengar, bukan suara Bung Karno tentunya tapi suara laki-laki sederhana di depan saya, bapa. Bapa keberatan ketika Saya izin untuk pindah kerja ke sekolah yang berada di kota besar, dengan gaji jauh lebih besar dan fasilitas yang sangat modern. Untuk menjadi guru di sekolah itu harus melalui seleksi yang sangat ketat, beruntung Saya tidak perlu seleksi dan langsung dipersilahkan ngajar karena menggantikan seorang teman yang pindah keluar daerah. Saya harus berhadapan dengan prinsip bapa yang keras, sekali tidak tetap tidak! Saat itu Saya sangat tidak mengerti dengan jalan pikiran bapa, bukan hanya Saya tapi juga mamah dan kaka saya. Dengan mengajar di sekolah elit tentunya Saya akan mendapat gaji yang lebih besar dibandingkan mengajar di sekolah kampung dengan fasilitas yang sangat minim, dengan begitu Saya bisa bantu ekonomi keluarga, Saya sangat ingin membantu orang tua dengan keringat Saya sendiri karena mereka sudah dengan susah payah menyekolahkan Saya sampai perguruan tinggi. Ketika alasan itu Saya kemukakan, bapa tetap menolak. “Bapa menyekolahkan kalian bukan untuk cari uang, tapi supaya kalian pintar, berbudi pekerti luhur dan bermanfaat untuk masyarakat dan Bangsa”. Suara Bapa terdengar lirih tapi menusuk jantung Kami, oh Bapa laki-laki sederhana ini punya cita begitu tinggi. “Selama tangan Bapa terbuka lebar jangan khawatir masalah uang, Bapa masih bisa bekerja mencukupi kebutuhan kalian” lanjutnya sambil memainkan kedua tangannya tanda semangat. Kucium tangan Bapa dengan takzim, amanat Bapa akan Saya pegang, janji Saya dalam hati.
Kata-kata Bapa terus terngiang di telinga Saya, menggelorakan semangat Saya untuk terus melangkah dengan meniti jalan sebagai guru honorer di sekolah yang sangat sederhana. Bangunannya sudah sangat tua, dengan dinding retak di beberapa bagian, atapnya pun bocor sehingga kalau hujan besar kegiatan belajar dihentikan. Halamannya sempit ditumbuhi rumput liar, disinilah Kami upacara bendera, di sisi kiri ada sebuah kantin dengan jajanan yang aneka ragam. Kantin inilah hiburan Kami satu-satunya. Saya mengajar full 5 hari dengan memegang tiga mata pelajaran sekaligus, gajinya tidak nyampai 100 ribu. Untuk ongkos sering dibantu Bapa, bahkan pemberian Bapa jauh lebih besar, anggap saja gaji tambahan katanya. Kalau sudah akhir bulan ongkos sudah habis terpaksa berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki kira-kira 4 Km.
Kisah kakak Saya lebih seru lagi, Dia mendapat tugas dari Bapa untuk menjadi guru di kampung halamanya di pesisir pantai selatan. Kakak hampir nangis menghadapi medan yang sangat berat, untuk sampai ke sekolah harus berjalan selama 2 jam dengan jalan setapak berlumpur dan mendaki. Jadilah bapa guru ini ke sekolah tanpa alas kaki apalagi sepatu mengkilat. Gajinya jauh lebih kecil dari Saya, hanya 20 ribu saja. Setiap minggu Kakak pulang untuk membawa perbekalan makanan karena tempat tugasnya sangat terpencil. Setiap pulang warna kulitnya tambah tua digarang matahari. Di tempat tugasnya Kakak dipanggil “juragan guru”, di kampung Bapa ini guru sangat dihargai oleh masyarakat dan dipatuhi. Setiap Kakak mengeluh dan minta berhenti Bapa selalu menghibur. “Kapan lagi kita ngabdi untuk Negara? Mumpung masih muda, masih kuat, masih ada umur”. Dilanjutkan dengan kisahnya di masa perjuangan dulu yang penuh heroik. Ternyata sejak muda Bapa terobsesi anak-anaknya untuk menjadi guru semuanya. Dalam pandangannya Guru pekerjaan yang sangat mulia dan pahlawan masa kini. Bapa sangat ingin anak-anaknya jadi pahlawan yang berkorban untuk tanah air, tanpa harus memanggul senjata seperti di masanya dulu.
Alhamdulilah cita-cita Bapa terwujud ketiga anaknya berhasil dihantarkannya jadi seorang guru. Dengan pengorbanan yang sangat luar biasa, Kami sadar Bapak menyekolahkan Kami bukan karena mampu tapi karena memaksakan diri. Bapak hanya seorang sopir dengan gaji tidak seberapa, setiap hari pulang larut malam dengan keringat bercucuran. Seringkali Bapa pun mendapat ejekan dari teman-temannya yang menganggap cita-citanya berlebihan, ada yang berseloroh “dasar Pahlawan kesiangan”. Tapi Bapa tidak gentar, Bapa yakin rizki itu dari Allah, Allah yang jamin rizki hambanya yang menuntut ilmu. Terimakasih Bapa, atas segala cita dan harapannya, Semoga Kami bisa jadi pahlawan di hadapanmu.








0 komentar:

Post a Comment