Breaking News

25 January, 2012

Cinta Ternyata Bisa Dimakan (Debut di IIDN)


Salam kenal, semuanya! ^_^Sebagai anggota baru yang masih bau kencur, Mirna mau posting catatan pertama, debut pertama Mirna. Ada banyak kekurangan. Mohon perbaikan, saran, dan kritiknya.. ^^Selamat membaca... ^^

                                                                       ***

Sore itu cerah seperti biasa. Aku heran kenapa tidak turun hujan. Duh, ternyata aku bukan Gumiho... Hahahaha

Dan di sore itu aku sengaja pulang cepat. Ahh, aku tak pernah sanggup menatap matanya tanpa menjadi luluh dan meleleh.  Aku tak pernah sanggup. Tsaahhh... coba kalian bayangkan ekspresi apa yang tampak pada wajahnya kalau dia membaca ini. Tapi tenang saja. Dia tidak suka membaca. Dia bahkan tidak pernah tahu bahwa lebih dari setengah isi blogku adalah tentangnya. ^___^

Kembali ke cerita...

Jadi sore itu aku pulang cepat dan nebeng di motornya Muthe.

“Muth, nebeng sampai M’tos, yah!”pintaku.

“Ngapain di M’Tos? Mau ditemani?”tanyanya lagi. Si sipit yang kusayang ini memang baik sekali.

Aku menggeleng mantap.

“Tidak. Cuma mau beli Cheetos, kok!”jawabku sambil nyengir kadal. *bosan, ah, nyengir kuda! ^^

Muthe tampak sedikit heran tapi kemudian mengagguk.

Soo... M’Tos.... here I go....!!!   \0/

                                                                          ***
Di M’Tos Tamalanrea (memangnya ada berapa M’Tos di Makassar? -_-; )

“Cheetos mana, yah?”mataku awas menelusuri rak demi rak cemilan.

Dalam pencarianku yang suci itu, aku tak sengaja bertemu Smax Ring rasa keju. Tak sampai hati karena sudah terlanjur akrab, sebungkus pun masuk keranjang. Lalu beberapa langkah kemudian, aku pun bertemu dengannya. Si teman lama yang kukenal sejak kanak-kanak. Dialah si Taro rasa rumput laut. Ingin bernostalgia, kumasukkan juga ke dalam keranjang. Hey, tadi aku ingin mencari apa?

Cheetos.

Yah, akhirnya aku bertemu dengan si Cheetos yang entah kenapa ketika bertemu justru mendelik padaku. Aku heran. Kok? Ternyata ia cemburu. Cemburu karena aku membawa pasukan cemilan yang lain ikut serta. Aku menggeleng paham, mengambilnya sebungkus lalu menatapnya mesra.

“Kaulah tujuan utamaku, sayangku.”sahutku nyaris berbisik dan menggenggam bungkusnya lembut.

Si cheetos menaikkan sebelah alis. Aku terbahak. Dan untuk membuat dia percaya, aku memasukkan dua bungkus ke dalam keranjang. Si cheetos tersenyum senang.

                                                                       ***
Kenapa aku membeli banyak cemilan untuk kuhabiskan hari itu? Kebiasaanku hanya membeli satu sampai dua bungkus saja. Itu pun harus dimakan sembunyi-sembunyi karena mama pasti marah kalau aku ngemil chiki-chikian seperti itu. >_<

Tapi ini kulakukan karena sejak kemarin aku terus saja merasa lapar dan ingin ngemil apa saja. Mungkin karena cerita hati yang harus terukir agak-agak sedih seperti di film-film. Mungkin karena aku tengah galau, gundah-gulana, sesak tak terhingga, atau apapun itu yang bisa menggambarkan kalau aku patah hati. Tsaaahh.... gayanya....

Dan ketika berjalan menuju pete-pete (baca=angkot), aku berpikir. Kemarin-kemarin ketika kisahku berderai tawa, ketika semua berjalan menyenangkan aku bisa mengendalikan bakat ngemilku yang sudah sedemikian hebat. Aku malah dengan mudahnya makan siang hanya dengan jus alpukat dan batagor. Dan sekarang ketika aku merasa ada yang sesak di dada, aku malah tidak tahan kelaparan dan selalu mencari sesuatu untuk dikunyah.

Cinta itu mengenyangkan. Patah hati itu bikin lapar. ^____^b

Ada buku besutan Raditya Dika yang judulnya kalau tidak salah “Makan Tuh, Cinta!”. Dan hari ini setelah aku menerima wangsit dari Sang Hyang Widhi, nampaknya saingan buku itu akan segera terbit. Hahaha.

Akan ada teori baru yang mematahkan teori sebelumnya. Dan pasti ini akan jadi fenomenal.
Banyak yang mengecam tapi akan tidak sedikit yang memuja. :evilsmrik:
Dan tentu saja, judul buku itu adalah >>  Cinta Ternyata Bisa Dimakan

Hehehehe. Semoga tidak bermanfaat.

Sambil ngemil cheetos dan minum teh kotak
Sembilan – Lima - Sebelas