Breaking News

31 January, 2012

Bunga-Bunga Hutang


“Eh… Bu Ira. Apa kabar?” sapa saya ramah waktu ketemu dengan Bu Ira di pasar. Senang juga bertemu tetangga jauh. Kebetulan rumah saya dan Bu Ira beda komplek perumahan, karena sama-sama sibuk kami jarang bertemu.
“Baik, Bu,” Bu Ira menjawab sama ramahnya.
“Gimana kabarnya, Bu Esi?” saya menanyakan kabar teman yang lain. Dulu kami bertiga sering jalan-jalan mengisi waktu sambil menunggu anak-anak sekolah.
“Wah… Bu Esi sudah dipulangkan sama suaminya, Bu,” jawab Bu Ira.
“Hah…? Dipulangkan? Maksudnya?”
“Iya rumah tangganya bubar jalan. Bu Esi ternyata punya hutang ke rentenir. Sampai ratusan juta loh, Bu. Tanpa ijin suami lagi. Waktu suaminya tahu, waah… langsung suaminya marah besar. Bu Esi dipulangkan ke kampung orang tuanya,” cerita Bu Ira dengan nada prihatin.
Cerita seperti ini bukan sekali dua kali saya dengar. Beberapa teman dan kenalan saya pernah “kesandung” kasus seperti ini. Hari gini masih punya hutang sama rentenir? Boleh kan saya sebut mereka rentenir karena meminjamkan uang dengan bunga gila-gilaan?
Di sekitar komplek perumahan saya, praktek meminjamkan uang dengan bunga tinggi ini masih sering terjadi. Supaya keren dan tidak berkesan negatif, para rentenir ini menamakan dirinya sendiri: Bank Keliling. 
Mereka agresif loh, mencari “nasabah”. Tidak segan-segan datang ke rumah-rumah dan warung. Menawarkan pinjaman uang untuk tambahan modal atau menawarkan aneka barang yang bisa dibeli secara kredit. Pinjaman ini praktis tanpa agunan. Cicilannya juga fleksibel. Bisa memilih, mau cicilan harian atau mingguan.
Jumlah uang yang bisa dipinjam nyaris tanpa batas. Lima puluh ribu atau lima puluh juta, tinggal bilang saja. Ingin punya handphone model terbaru, TV plasma, bahkan emas? Langsung akan dibelikan. Nyaris tidak perlu persyaratan apapun. Makin besar nilai yang “nasabah” pinjam, mereka pasti tambah senang.
Banyak teman-teman saya memilih cicilan harian. Nggak kerasa katanya. Contohnya nih, kalau saya mengkredit panci seharga Rp. 40.000,  pembayarannya bisa dicicil Rp. 2.000 sehari selama 40 hari. Enteng kan? Cuma dua ribu perak sehari. Padahal kalau dihitung-hitung panci seharga 40 ribu itu saya bayar 80 ribu. Alias dua kali lipat…
Karena merasa enteng, teman-teman saya jadi gemar berhutang. Hampir semua barang dibeli secara kredit, mulai baju, panci sampai kursi plastik. Akibatnya cicilan yang semula dianggap enteng jadi membengkak juga. Hitung saja kalau cicilan kursi 2 ribu, cicilan panci 4 ribu, cicilan TV 20 ribu,  kalau ditotal sudah beribu-ribu jumlahnya.
Karena kebiasaan berhutang dan hidup konsumtif. Lama-lama teman-teman saya jadi tergoda untuk meminjam uang dalam jumlah besar. Tahu sendiri meminjam seperti itu gak bakalan kelar-kelar cicilannya. Akhirnya terpaksa gali lubang tutup lubang. Pertama meminjam dari A. Lalu karena gak mampu membayar cicilannya, teman saya meminjam Ke B untuk membayar cicilan hutang ke A.  Jadi dia sekarang punya hutang ke A dan B. Ribet kan? Hutang pun terus-menerus membesar bagai bola salju. Bisa-bisa seperti Bu Esi mencapai ratusan juta. Jumlah yang amit-amit besarnya untuk saya.
Saya sendiri sangat ketat urusan hutang, ada beberapa prinsip soal hutang yang sangat saya patuhi: 
1. Tidak berhutang untuk barang konsumsi
      Berhutang untuk benda-benda yang menurun nilainya seiring bertambahnya umur barang sangat saya jauhi. Termasuk di dalamnya kredit kendaraan bermotor, kredit renovasi rumah dan lain-lain
      Untuk barang-barang konsumsi saya selalu membayar tunai. Kalau harga barang itu mahal, saya memilih untuk menabung daripada membeli secara kredit. Buat saya jika belum mampu membayar tunai berarti saya belum layak memiliki benda itu.
2. Kartu Kredit adalah pengganti uang tunai
      Berita orang-orang yang terjerat kartu kredit sungguh memprihatinkan. Saya memperlakukan kartu kredit sebagai pengganti uang tunai. Berapapun tagihan yang datang selalu saya bayar lunas. Soalnya saya paling ogah bayar bunga.
3. Menabung
      Katanya sih biar kita bisa rutin menabung, biasakan menyisihkan uang untuk ditabung di awal bulan. Jadi dana untuk tabungan disisihkan dari awal. Bukan dari sisa belanja setiap bulan. Soalnya kalau tidak disisihkan di awal bulan, seringkali uang kita tidak bersisa di akhir bulan.
4. Hidup di bawah standar
Maksudnya saya memilih untuk hidup di bawah standar kemampuan saya. Kalau saya mampu beli mobil, saya memilih naik motor. Kalau saya mampu beli motor, saya pilih naik angkot. Gitu deh jadi saya bisa hemat dan menabung lebih banyak.
5. Investasi
Menabung dalam bentuk uang pasti rugi. Karena nilai uang yang kita simpan akan termakan inflasi alias nilainya menurun. Untuk melindunginya saya mengkonversi uang menjadi emas, properti atau diputar dalam bisnis.
Gitu deh, jadi berhutang boleh tapi bukan untuk membeli benda-benda konsumsi. Apalagi berhutang ke rentenir dengan bunga gila-gilaan. Amit-amit…

















0 komentar:

Post a Comment