Breaking News

30 January, 2012

Bukan Hanya Seorang Emak Biasa


"Neng, Emak titip adik mu ya? Sebelum jam 9 nanti akan Emak usahakan pulang dulu. Biar bisa ngasih ASI, insyaAllah dapat ijin pulang dari Ibu Entin " Ujar Emak sebelum pergi mengajar. Dan aku mengangguk sebagai jawabannya. Aku mengantar kepergian Emak sampai ambang pintu, sambil menggendong adik bungsu ku. Menatap punggung Emak yang kurus, terlihat jelas beban berat berada tepat diatas pundaknya.

Emak ku adalah seorang guru SD. Cukup sibuk sebenarnya dengan karirnya tersebut. Tapi ia selalu mengusahakan pulang disela-sela kesibukannya untuk mengecek keadaan putra-putrinya, sambil memberikan ASI pada adikku.

"Mak, beli susu kardusan aja atuh buat si Adek biar Emak gak harus bolak balik kayak gitu. Atau ASI-nya disimpen di dot jadi Emak gak repot." Kata ku suatu hari, ketika melihat Emak pulang tergopoh-gopoh karena telat dari waktu yang telah dijanjikannya.

"Emak tahu itu lebih praktis ketimbang Emak harus capek kayak gini pulang pergi, tapi Emak gak mau melewati kedamaian yang Emak miliki ketika menyusui adik mu ini. Melihatnya tenang menyusu mengobati rasa bersalah Emak karena sering meninggalkan kalian." Senyum Emak sambil membelai lembut kepala adikku.

"Nanti sekolah masuk siang kan? Sok atuh segera disiapkan buku sekolahnya. Biar nanti pas Emak pulang lagi ke rumah Neng bisa langsung pergi. Satu jam pelajaran lagi Emak ngajar."

Melihat Emak begitu tenang dan menikmati masanya bersama adik, membuat ku semakin menyayanginya.

Ibu Entin, kepala sekolah dimana Emak mengajar, selalu mengijinkannya untuk sering bolak balik pulang. Bahkan pernah Emak harus membawa adik ke sekolah, mengajar sambil mengendong, Ibu Entin masih memberikan kelonggaran. Emak lakukan itu sekali-kali saja tentunya. Jika aku dapat jadwal sekolah pagi, atau tidak ada orang yang bisa dititipi adik.

Ibu Entin memang baik sekali. Emak pernah cerita, suatu hari saat Emak terpaksa harus bawa adik ke sekolah. Ketika sedang asyik mengajar ditemani adik yang sedang tertidur pulas dipangkuan. Ibu Entin terburu-buru segera masuk kedalam ruangan kelas Emak.

"Bu, sebaiknya segera pulang ya? Ngajarnya berhenti saja. Biar digantikan sama guru lain. Sekarang mau ada penilik* datang. Bisa gawat jika lihat Ibu ngajar sambil gendong bayi."

Mendengar kata-kata Ibu Entin, Emak pun segera pulang dan mengucapkan beribu terima kasih karena memberitahunya. Dan ya, setelah kejadian itu Ibu Entin masih memaklumi Emak. Juga guru-guru lainnya. Tak ada yang keberatan satu pun.

Tapi rupanya bukan pihak sekolah yang keberatan dengan tingkah laku Emak selama ini. Protes dilayangkan dari pihak orang tua murid. Waktu itu ada salah seorang orang tua murid tanpa sengaja melihat Emak mengajar sambil menggendong adik. Melihat pemandangan itu orang tua murid itu segera menemui Ibu Entin, hingga akhirnya Emak langsung dipanggil saat itu juga. Meski Ibu Entin mencoba memberikan pengertian sebaik mungkin, orang tua murid itu sangat keberatan dengan tindakan Emak.

"Saya dengar anak saya suka bilang, kalau ada ibu gurunya selalu gendong anaknya sambil ngajar. Kirain anak saya ngomong bohong gak tahunya beneran. Yang bener aja dong Bu, apa bisa anak-anak konsentrasi belajar kalau gurunya sibuk ngasuh anaknya. Mending kalau anaknya diem, kalau anaknya rewel? Masak iya mau kasih ASI didepan muridnya?"

Mendapat protes keras yang dilayangkan langsung kepada Emak dihadapan rekan kerjanya, Emak hanya bisa berdiam diri sambil mencoba menenangkan adik yang mulai menangis keras.

"Maaf ya, meski saya juga seorang Ibu tapi tetap saja keberatan jika ada gurunya yang setengah-setengah dalam mengajar. Demi kebaikan bersama saya mohon Ibu Kelapa Sekolah segera memecat guru ini."

Aku tahu jika aku melihat langsung adegan tersebut, Emak pasti sedang berjuang keras menahan air matanya yang mulai menyeruduk keluar diujung matanya. Dan aku yakin betul saat itu Emak sedang berusaha untuk tetap tenang sambil terus mengayun adik agar berhenti menangis.

Hingga Emak pun diminta pulang waktu itu, hanya untuk menenangkan si orang tua murid tersebut.

"Terus, Emak ngajar lagi enggak nanti?" Aku bertanya ketika Emak menceritakan perihal yang terjadi hari itu disekolahnya. Emak hanya menggeleng.

"Entah Neng, Ibu Entin bilang tunggu saja dirumah sambil menunggu hasil rapat antara orang tua murid dan pihak sekolah."

"Apa perlu kita beritahu Abah tentang kejadian ini? Biar Abah segera pulang"

"Jangan! Biar Emak cari cara lain untuk memenuhi kebutuhan kita, sambil menunggu keputusan sekolah. Biar Abah tenang kerja di kota sana. InsyaAllah jika waktunya tepat juga, Abah pasti pulang. Emak gak mau Abah khawatir tentang keadaan kita. InsyaAllah ada jalan Neng." Emak tersenyum menenangkan.

Dan ya, aku yang tak kuasa menahan air mata untuk tidak menetes. Entah terbuat dari apa hati Emak ku itu yang begitu kuat dan tenang menjalani kehidupan yang semakin lama semakin enggan untuk menyapa lembut kehidupan kami.

"Ah, Abah andai Engkau tahu kami pun tertatih-tatih disini untuk tetap bertahan hidup sambil menunggu mu pulang. Segera lah pulang, aku tak tega melihat Emak harus berjuang tanpa kehadiran mu di sisi kami..."


Dipertiga malam langit yang semakin menghitam pekat. Rindu kehadiran Emak dan Abah pun semakin mengakar.

Bandung, 10 Mei 2011
1:59 am


*Penilik adalah jabatan fungsional yang mempunyai tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak untuk melakukan pemantauan, penilaian dan bimbingan terhadap penyelenggaraan pendidikan luar sekolah












0 komentar:

Post a Comment