Breaking News

30 January, 2012

Bilakah Air Mata itu Berhenti Menetes?



“Huaaaa….”, tangisan seorang anak membuatku tersentak. Obrolan dengan beberapa ibu murid TK Firdaus langsung terhenti. Kami semua segera menengok  ke arah suara tangisan itu berasal.  Aah… aku melihat Ari sedang berdiri tepat di depan pintu ruang kelasnya dengan wajah sedikit bingung. Seorang anak laki-laki kecil sedang berjongkok tak jauh dari tempat Ari berdiri. Ia menutup mukanya sambil menangis tersedu-sedu. Teman-teman Ari yang lain sedang menunjuk-nunjuk Ari sambil berteriak memanggil-manggil bu guru.
“Bunda, Ari nakal. Dorong-dorong Fikri. Fikrinya jatuh. Tuh, ada yang berdarah”, kudengar Fauzan dengan cepat memberikan laporan hasil pandangan matanya pada Bunda Dea. Ari tiba-tiba marah sambil menjerit-jerit. Tangannya ia ayunkan ke kiri dan ke kanan tanpa terkontrol.
“Ari  nakal. Ari nakal”, jerit anak-anak TK lainnya sambil menunjuk-nunjuk ke arah anakku Ari. Aku segera bergegas datang menghampiri kerumunan itu.
Terdengar bunda Dea berkata,” sudah…sudah.. Ari pasti tidak sengaja. Iya kan, Nak? Fikri ayo berdiri. Anak laki-laki pasti kuat. Jadi menangis pun tak pernah lama.” Bunda Dea  berusaha mengatasi situasi heboh itu dengan cepat. Cara lembutnya berhasil. Anak-anak segera kembali berbaris sebelum masuk kelas, meskipun beberapa anak masih mencibir Ari dan tak mau berdiri dekat-dekat dirinya.
“Ari, hati-hati dong, Nak. Lebih baik lain kali kamu baris di depan aja, ya,” aku berbisik pada anak semata wayangku itu sambil berusaha tersenyum untuk menenangkan hatinya. Di dalam hati, aku merasa sedih. Sampai kapan hal seperti ini akan sering terjadi.
Aku tahu Ari tidak bermaksud untuk memukul Fikri. Ia hanya terlalu bersemangat bernyanyi dengan melompat-lompat sambil berusaha mencari pegangan agar tidak terjatuh. Tetapi tindakannya itu malah sering mengakibatkan anak-anak yang berdiri di sekitarnya tak sengaja terdorong atau terpukul. Sayang, teman-teman Ari masih tak mengerti dengan apa yang telah terjadi. Tentu saja aku tak dapat menyalahkan mereka.
Benar-benar dibutuhkan nyali besar untuk menyekolahkan anakku di sekolah umum. Ia memang berbeda. Aku tahu itu. Tetapi aku tak ingin ia dibeda-bedakan. Anggaplah ini sebuah asa agar suatu saat nanti anakku bisa mengejar ketertinggalannya, dan bisa hidup senormal anak-anak lainnya.

Pikiranku kembali melayang ke beberapa tahun silam.

Ari lahir dari rahimku lima tahun yang lalu. Saat ia berumur sekitar 6 bulan, aku mulai menemukan sedikit kejanggalan pada dirinya. Ia belum mampu tengkurap. Aku dan suamiku segera membawanya ke dokter anak di kotaku. Hasil pemeriksaan yang disampaikan sang dokter benar-benar membuatku seperti disambar geledek di siang bolong.
“Setelah saya periksa, anak ibu sepertinya terkena penyakit cerebral palsy,”tanpa basa basi dokter itu segera menjelaskan. Awalnya aku hanya melongo. Istilah itu terdengar sangat asing di telingaku.
“Sere…. apa, Dok?” aku segera bertanya.

Cerebral palsy, Bu. Anak ibu diduga terkena penyakit lumpuh otak. Semua gejala yang ada, mengarah ke sana, Bu. Tetapi kita belum tahu separah apa, sampai kita perhatikan perkembangannya dengan seksama selama bulan bulan ke depan,” sang dokter buru-buru menambahkan, setelah melihat wajahku langsung berubah pucat pasi.

Lumpuh otak… lumpuh otak… lumpuh otak. Anakku otaknya LUMPUH?? Ya, Tuhan. Ingin rasanya aku menangis sekeras-kerasnya saat itu. Tak mungkin hal ini terjadi pada keluargaku. Tetapi aku mencoba untuk menahan perasaan sekuat tenaga. Hanya genggaman tangan dari suamiku saja yang membuatku tetap kuat melangkah keluar tempat praktek itu. Baru saat sampai di rumah, aku menangis sejadi-jadinya. Tak dapat kubayangkan bagaimana nasib anakku kelak.

Vonis dokter di hari itu benar-benar telah membuat hidupku tak pernah sama lagi. Sejak saat itu mulailah hari-hari yang penuh dengan jeritan dan air mata. Jika melihat sekilas, tak akan ada yang percaya anakku menderita lumpuh otak. Dengan berat badan sekitar 9 kilo di usianya yang baru 6 bulan itu, Ari terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Tapi kenyataan berkata lain.
Sebagai tindakan perawatan dan pengobatan, Ari kecil harus menjalani berbagai terapi untuk melatih perkembangan motoriknya. Ternyata anggota gerak di bagian kiri, baik tangan dan kakinya sangat lemah. Diperlukan latihan rutin untuk menguatkan kaki dan tangannya itu.

“Maaf, Bu.. bisa tolong bantu pegang bagian kakinya sementara saya memegang bagian tangannya.  Kita akan coba melatih Ari belajar tengkurap. Nanti ibu bisa mengulang latihan ini di rumah sendiri,” kata suster Nina dari bagian fisioterapi. Selanjutnya berubah menjadi adegan yang paling aku benci. Anakku Ari akan diguling-gulingkan ke kiri dan ke kanan berulang ulang.  

“mamamamama…..huaaa..huaaa..huaaa,” Ari menangis menjerit-jerit. Agaknya ia merasa sangat tak nyaman dengan perlakuan itu. Pipinya yang gembil mulai memerah.

“cup…cup..cup… sabar ya, Nak,” hanya itu yang bisa kukatakan.

Total selama kurang lebih 45 menit, suster Nina terus melatih Ari tengkurap.  Selama itu pula air mataku terus menetes. Ingin rasanya aku pergi sejauh-jauhnya dari tempat itu. Bukannya aku tak sayang dengan anakku, tetapi aku tak pernah tega. Ibu mana yang sanggup melihat anak sekecil itu menangis terus menerus.
“Kuatkan hatimu. Ini semua demi kebaikan Ari,” aku bisikkan kalimat itu pada diriku sendiri. Aku mencoba berusaha tegar dan kuat. Terapi itu harus terus Ari jalani seminggu 2 kali. Jadi aku memang tak punya pilihan lain selain menerima kenyataan. Tiap sesi terapi yang dijalani benar-benar terasa sangat berat. Sepertinya aku membutuhkan stok air mata yang lebih banyak lagi.

Setiap tahapan perkembangan Ari sebagai seorang bayi kecil harus dilewati dengan perjuangan yang luar biasa. Kadang aku ingin seperti ibu-ibu lain yang tak perlu bersusah payah mengajari anaknya belajar merangkak, berdiri dan berjalan. Ari baru dapat melewati setiap tahapan itu setelah menjalani sesi terapi yang melelahkan. Beruntung kondisi penyakitnya masih terbilang cukup ringan. Kemampuan berbicaranya masih dapat berkembang normal.
Terkadang aku harus rela menerima pandangan aneh dan iba dari tetangga-tetangga atau orang yang kutemui ketika melihat Ari yang waktu itu sudah berumur sekitar 3 tahun masih terlihat sulit berjalan. Tangan kirinya tergantung lemah, sementara saat melangkah, telapak kaki kirinya tak dapat ia tekan dengan mantap ke lantai. Kaki kirinya itu selalu terlihat menekuk ke arah dalam sehingga sol sepatu sebelah kirinya akan selalu terlihat utuh sementara bagian kanan sepatu kirinya itu akan cepat rusak karena bagian itulah yang aus akibat terus bergesekan dengan lantai. Hal lain adalah matanya seringkali melirik tak terkontrol ke arah kiri atas, saat ia sedang mencoba berbicara dengan aku atau orang-orang disekitarnya.

euleuh…euleuh… belum bisa jalan bener ya? Kesian amat”.
“Ya ampun, anaknya kenapa, Bu. Sakit apa? Matanya juling ya?”
“Wah… kasian atuh. Nanti sekolahnya dimasukin ke sekolah luar biasa aja biar lebih keperhatiin”.

Berbagai pertanyaan mengesalkan itu aku jawab seperlunya sambil tersenyum getir. Tetapi aku tak mau terganggu dengan omongan dan pendapat orang lain tentang anakku. Aku berjanji untuk  fokus pada pengobatan Ari agar ia bisa tumbuh dengan baik meski tak secepat anak lainnya. Terbukti tak lama kemudian, Ari sudah mulai bisa berjalan dan berlari dengan cukup baik meskipun kakinya sedikit diseret dan kadang terlihat agak limbung.

Satu tahun kemudian, ketika tiba saatnya Ari harus mulai sekolah, aku dan suamiku sepakat untuk mencoba menyekolahkannya di sekolah umum. Ternyata ada juga sekolah yang mau membantu membimbing anakku belajar, meskipun mungkin mereka terkadang harus memberinya perhatian lebih dibanding anak-anak lainnya. Aku sangat berterima kasih sekali pada ibu Noni, sang kepala sekolah TK Firdaus.
Di TK ini, bersama anak-anak lainnya, Ari belajar bernyanyi, mengenal angka dan huruf, belajar berbagi serta belajar mengendalikan emosinya. Perkembangannya cukup pesat menurutku. Terapi untuk melatih otot-otot kaki dan tangannya pun masih terus dilakukan meski tak sesering dulu.

Seringkali Ari masih tak dapat mengontrol gerakan tangan atau kakinya. Apa yang ia anggap sebagai pegangan lembut di pundak temannya, bisa dianggap sebagai sebuah cengkraman buat anak lain. Sebuah tepukan pelan bagi Ari, bisa merupakan dorongan keras bagi anak lain. Emosi Ari pun masih harus dibentuk agar tidak mudah marah-marah. Sikap itu mungkin timbul dari rasa frustasinya terhadap tanggapan dari lingkungan sekitar terhadap dirinya yang tak sesuai dengan harapannya.

Mungkin hasil rapor semester pertamanya tak terlalu bagus. Begitu banyak penilaian “kurang” di sana sini. Tetapi aku percaya, jika aku bisa terus memberikan dukungan padanya, Ari akan mampu membantu dirinya sendiri untuk terus maju. Tugasku hanya membuatnya belajar lebih mandiri. Ia tak perlu aku sekolahkan di sekolah luar biasa, karena ia telah cukup luar biasa bagiku.
Aku hanya tahu bahwa apa yang kualami ini karena Tuhan mempercayaiku. Tuhan mempercayakan pengasuhan seorang anak yang istimewa pada orang tua yang juga istimewa. Tuhan mempercayakan pengasuhan Ari pada orang yang dianggap kuat menjalani cobaan seperti itu.
Aku tak ingin terlalu banyak meneteskan air mata lagi. Aku tak ingin Ari melihatku menangis. Kalau pun air mata itu harus jatuh, biarkan ia menetes karena kebahagiaan dan keikhlasan. Aku tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan Ari. Aku hanya bisa berusaha, berdoa dan tak putus berharap agar Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk dirinya.

“Mama… yuk kita pulang,” sebuah suara yang tak asing, membangunkanku dari lamunan.
Di hadapanku Ari sudah berdiri sambil menenteng tas sekolahnya sambil tersenyum. Aahh…. Ternyata waktu bergulir sangat cepat.

“Oh.. sudah waktunya pulang ya, Nak? Ayolah… kita kemon. Aku bangkit berdiri, kemudian kami berjalan menembus hiruk pikuk  teriakan anak-anak yang riang gembira.

Biarkan waktu yang akan menjawab semua tanya. Kugantungkan hidupku dan keluargaku hanya padamu ya Tuhan.
===
I dedicated this story to you, Sis. May your spirit will  inspire me, forever. Just always be a tough Mom.”  :)
s








0 komentar:

Post a Comment