Breaking News

25 January, 2012

Belajar dari anak kecil: Perjuangan anakku



Hari-hari Zidan yang ceria selalu mempesonakan kami, orang tuanya.
Di suatu pagi aku kaget. “Ab…ab…ab…Abbb..bah, mau kemana ?” tanya Zidan dengan tergagap-gagap.
“Ke kantor, nanti Abah pulang jam 2 siang. Zidan di rumah sama Mama, ya ?”
“A..a…a…aku mau mainan yang…yang…yang…di SOGO ya Bah,”

Seperti itulah kira-kira dialog yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Zidan mendadak tergagap-gagap mengutarakan maksud, keinginan dan pendapatnya. Kasihan sekali. Aku dan suamiku tidak bisa menduga-duga penyebab ‘kegagapan’ Zidan. Semakin jelas Zidan makin sulit berkomunikasi. Kamipun mengalami kesulitan untuk memahaminya. 

Zidan lahir di Malang, dengan kondisi kurang sehat. Nilai skala Apgarr-nya hanya 6. Dia tidak aktif bergerak. Tidak seperti bayi-bayi lainnya yang menangis menendang-nendang dan menggerak-gerakkan tangannya. Zidan hanya sebentar saja menangis, beberapa saat setelah dilahirkan. Aku juga harus menerima kenyataan, dia tidak diperbolehkan pulang karena kadar bilirubinnya tinggi. Empat hari bayiku yang mungil langsung diopname segera setelah dilahirkan.

Kenyataan lainnya yang harus kuhadapi saat itu adalah Zidan ternyata adalah bayi yang rentan alergi. ASI yang dikonsumsinya dariku haruslah terbebas dari susu sapi beserta turunannya dan makanan laut.

Alerginya bertambah saat dia lebih besar. Zidan tetap harus menghindari makanan atau minuman yang mengandung susu sapi dan turunannya, makanan laut, telur dan ayam negeri. Apa yang terjadi jika dia ‘ngotot’ memakannya ? Meminum susu sapi mengakibatkan perutnya sakit, fesesnya hijau berlendir dan berdarah-darah. Tidak hanya itu, sekujur tubuhnya akan mengalami ruam, berbintik merah di kulitnya.

Aku merasa harus menjaganya dari susu UHT, coklat, keju, biscuit bahkan dari roti tawar lembut dan lezat bergizi itu karena kandungan susunya. Tak kusadari aku tergiring menjadi orang tua yang agak over protective terhadap Zidan, hanya semata-mata aku tidak menginginkan dia sakit.

Pertanyaanku selanjutnya, apakah hal itu yang menyebabkan Zidan gagap ?
Dalam hatiku, aku menginginkan semua terjadi karena Zidan yang cerdas dan selalu ingin tahu itu mengalami kesulitan mengejar jalan otaknya yang cepat. Kasihan sekali dia. Dalam doa aku memohon pada Allah agar anakku bisa sembuh total.

Kami tidak ke dokter untuk berkonsultasi. Aku mencoba untuk mencari tahu sebanyak-banyaknya tentang kesulitan berbicara. Selalu menyempatkan ke toko buku dan Alhamdulillah bisa menemukan buku tentang permasalahan dalam perkembangan anak.

Ya, gagap yang datang tiba-tiba membuat aku dan suamiku sedih. Tak sampai hati kami berpikir Zidan akan diolok-olok temannya atau mengalami ini hingga seterusnya. Naudzubillahi mindzalik.

Zidan memang luar biasa. Dia tetap banyak berbicara walaupun tergagap-gagap. Seakan menunjukkan pada kami, semangatnya yang luar biasa. Dia tidak peduli apa kata orang. Membuat aku, ibunya menjadi malu dan harus bercermin padanya. Dia saja berbesar hati. Aku menyemangati diri sendiri untuk memulai perjuangan agar Zidan sembuh. Walaupun di buku tertulis, bila gagap terjadi pada anak yang berusia 3-4 tahun maka harus lebih mendapat perhatian, Zidan harus sembuh !

“Zidan mau berjuang sama-sama mama ?”
Dia diam tanda tidak mengerti maksudku.
“Zidan harus sembuh, Zidan turut kata Mama ya,”
“I…i…i…ya, Ma,”

Pertama yang Zidan lakukan adalah latihan bernafas. Di sela-sela waktunya bermain kami menyempatkan diri untuk melatihnya. Zidan mulai bernafas perlahan. Kemudian berbicara perlahan. Setiap menjelang tidur aku usap-usap rahangnya, Zidan kegelian. Anak-anak sungguh mempunyai kekuatan yang luar biasa untuk mengatasi kecemasannya.

Namanya juga anak balita, ada kalanya dia lupa dengan ‘pembicaraan’ kami. Dia tergagap lagi dan wajahnya memerah jika menginginkan sesuatu dengan segera. Misalnya dia ingin meminta tolong mengeluarkan sepeda. Sambil menghentak-hentakkan kakinya dia menyeretku dambil menunjuk-nunjuk sepedanya.

“Bang. Abang ngomong dulu, baru Mama ambilkan sepeda Abang, ya,”
“Ak..ak..ak..aku mmmmaaa..u…. sssssse..pedaaah,”
“Abang ngomongnya pelan-pelan yuk,” kataku menenangkan.
“Ma..ma inih, gi..mana sih… Ak..aku… mmmau…. cccee pat,”
“Ayo coba atur nafas dulu,”
Setelah Zidan mengatur nafasnya dengan lancar perlahan dia berbicara tanpa tergagap. Alhamdulillah. Setiap kali menjelang tidur aku dan suami mengajaknya berbicara dan mengulang.

Akhirnya Zidan memahami. Dia harus terlebih dahulu bernafas dengan tenang dan bicara perlahan agar bisa dengan lancar mengutarakan maksudnya.
“Huf…huf…,” di depan pintu kulihat Zidan sedang berdiri mengatur nafas. Dia baru saja berlari pulang dari main di depan rumah dengan teman-temannya. Subhanallah. Dia menuruti ‘petunjukku’. Dengan sabar aku ingin mendengar apa katanya.

“Ma, a ku  bo leh  ma in  di  ru mah  kosong ?” katanya dengan perlahan.
“Iya, boleh,” jawabku singkat.

Hatiku berbunga-bunga, Zidan benar-benar menangkap pembicaraan kami semalam. Aku yakin tidak lama lagi, dia akan sembuh.

Bismillahirrohmanirrohim. Kami melakukan latihan pernafasan dan bicara perlahan setiap hari. Zidan sangat sabar menghadapi keadaannya. Anak kecilku sedang berjuang. Aku harus bersemangat. Melebihi semangat seorang anak kecil yang di pikiran orang dewasa hanya tahu tentang bermain. Dialah pahlawanku.

Lama kelamaan Zidan bisa berbicara dengan normal. Tak ada suara tergagap keluar dari bibirnya. Aku sangat bersyukur.

Di suatu pagi sebelum Zidan berangkat sekolah ke play groupnya, aku melihat dia mengepal-ngepalkan tangannya. “Kenapa, Bang ?”
“Biar Abang ingat kalau mau ngomong harus tenang dan bernafas pelan dulu,” katanya sambil tersenyum.

Wajah bundarnya yang lucu membuat air tergenang di pelupuk mataku. Anak sekecil itu berjanji pada dirinya sendiri untuk sembuh, Subhanallah. Maha Besar Engkau ya Allah.

Sering aku kehilangan keberanian. Sering aku malah merasa ciut dengan banyak hal di kehidupanku. Anak kecilku yang mengajarkan tentang perjuangan. Keinginan Zidan untuk sembuh menjadi sesuatu yang sangat ‘dewasa’ di hatiku. Lambang perjuangan bahwa untuk berubah ke arah yang lebih baik, manusia harus memperjuangkan nasibnya sendiri dan berani bermimpi.

* * *

Subhanallah, Zidan anak yang cerdas.
Prestasi terakhirnya, dua bulan yal dia jadi juara olimpiade sains di sekolahnya.
Dia juga memberikan kejutan manis: masuk kelas 'unggulan/ billingual', setelah' melalui tiga tes di sekolah yang dia rahasiakan dari mama dan abahnya:-)