Breaking News

25 January, 2012

BALADO NENEK-NENEK


By Dhia Nisa 
 
NENEK ANA
       Nasib Nenek Ana sungguh tragis, dimusuhi sama anaknya sendiri, pasalnya beliau suka ember bocor alias suka ngomong seenaknya tanpa mikir panjang. Setiap hari kerjaannya mengeluh saja. Mengeluh sakit ini lah, sakit itulah. Menurut diagnosa dokter, beliau menderita hipertensi tingkat akut hehehe apa coba. Soalnya kalau marah suka ndak kira-kira. Bablas gitu.
       Terkadang karena kurang bahan cerita kali ya, anak-anaknya sendiri jadi bahan obrolan. Kontan saja, sang anak gegap gempita menyambut desas-desus tetangga. Geramnya bukan main pada sang bunda. Sangking hobinya mencerca orang, nenek Ana sempat didoain anaknya supaya cepat mangkat. Nauzubillah.
       Beruntung kakek orangnya penyabar. Sangking sabarnya kakek, malah sering dicemburuin. Satu hari kakek ngadem duduk santai di teras rumah sambil menghadap ke rumah seberang, Ya iya lah menghadap ke depan, masa nunduk terus, cape kan tengkuk J. Tiba-tiba nenek Ana datang, marah-marahnya kumat. Kakek dikira mau kawin lagi, karena pantengin nenek-nenek tetangga. Walah… nenek Ana cemburu rupanya hihihi. Dasar kakek gokil, malah senyam-senyum dan tambah khusu nyantainya. Halilintar pun bermain-main di ubun-ubun nenek Ana. :D
       Kakek penyabar ingin sekali istrinya berubah. Sampai-sampai bela-belain jual tanah untuk pergi umroh. Berharap di tanah haram sana, nenek Ana menemukan hidayahnya. Dan kembali ke tanah air dalam keadaan sadar binti insyaf.
       Belum tuntas urusan pasport dll dan belum final urusan, jadi atau tidaknya berangkat, nenek Ana sudah gembar-gembor ke tetangga kalau dia mau berangkat umroh. Walhasil berita hangat keberangkatan beliau umroh menjadi santer. Untungnya nasib baik berpihak pada nenek Ana, berangkat umroh bukan isapan jempol. Coba kalau tidak jadi berangkat, mungkin nenek Ana sudah jadi penghuni RSJ karena terlanjur malu.
       Sesampai di Mekkah, nenek Ana tak dapat menikmati setiap tahapan umroh, karena semua penyakit yang dialaminya di tanah air ikut juga umroh J. Alhasil nenek Ana tak bisa menjalankan umroh dengan sempurna.
       Misi kakek pun belum membuahkan hasil, nenek Ana bukannya isyaf malah tambah satu lagi penyakitnya, pamer kalau sudah umroh. Halah…
       Seakan tak kehabisan akal, selang 1 tahun, kakek kembali menjual tanah untuk pergi umroh ditemani nenek Ana. Dengan harapan yang sama, agar istri tercinta mendapatkan hidayah, ya minimal pulang-pulang bawa rem mulutnya, alias tidak obral kata-kata lagi.
       Namun pada kenyatannya kakek mesti berbesar hati lagi. Nenek Ana tetap saja seperti itu, tak dapat dipermak sedikitpun. Sekarang kakek jadi mikir, tanah siapa lagi ya yang akan dijual? Hehehe… koq jadi kakek yang ketagihan jual tanah. * Hidayah hak prerogatif Allah, namun demikian manusia wajib mengejarnya*
                                                                

NENEK IMAH
       Menjadi pedagang kue dan makanan untuk sarapan adalah profesi nenek Imah. Beliau ngetem di bibir gang tempat beliau tinggal. Membuat pondok-pondokan di atas parit jadi lapak beliau.
       Hari-hari ada saja ibu-ibu yang mampir membeli sarapan di tempat nenek Imah. Di sinilah terjadi transaksi jual beli sarapan dan bibir. Halah koq ya transaksi bibir...
       “Eh itu siapa sih yang sering ada di rumah janda, laki-laki sering keluar masuk di sana?”
       “Suaminya kali”
       “Bukan, orang belum menikah koq”
       “Pacarnya kali”
       “Wah jangan… jangan…”
       Bibir-bibir pun semakin siang semakin nambah beberapa senti, alias tak dapat distop sebelum transaksinya tuntas.
       Entah sudah berapa banyak transaksi bibir terjadi di situ. Dan Nenek Imah siap mentransfer bibir-bibir yang singgah di telinganya ke segenap penjuru kampung. Hingga virus bibir pun menyebar dalam hitungan menit. OMG… itu bibir sudah pada sikat gigi belum ya? Kalau belum bisa tambah angot aja transaksinya.*


NENEK WATI
       “Tolongin bikin buras ya. Aku lagi sakit-sakitan, di rumah nda ada yang bantuin,” bujuk Nenek Ana dengan tatapan memelas kepada Nenek Wati. Nenek Wati yang sedang sakit lutut, tak tega melihat roman Nenek Ana yang jago acting itu. Luluh lantaklah hati Nenek Wati.
       “Ini uang 125 ribu untuk buras 100 biji, kalau bisa lebih, lebihin aja!” Tanpa wajah berdosa Nenek Ana menyerahkan uang pembuatan buras. Nenek Wati hanya terperangah, seperti terkagum-kagum. Bukannya apa-apa, 125 ribu bikin buras 100 biji, kerja rodi kali ya. Halooo hari gini 125 ribu dapat apaan? Ikan Haruan (bahasa nasionalnya, Gabus) aja sudah berapa duit, beras, rempah-rempah, kelapa, daun pisang, Please deh Nenek Ana minta 100 biji bahkan lebih pula.
       Kalau beli buras di tempat orang yang khusus dagang buras, 1 tangkup buras (isi 2) dihargai  3 ribu perak. 100 biji berarti 50 tangkup. Kalau diuangkan 3 ribu kali 50 tangkup sekitar 150 ribu. Ah pintar sekali Nenek Ana ini, padahal uang iuran shalawatan untuk konsumsi dapat 400 ribu. Banyak sekali angsulannya (=kembaliannya, Banjar translate).
       Dasar nenek Wati tak pintar berargumen main terima saja. Tahu tidak darimana Nenek Ana tahu kalau Nenek Wati bisa bikin buras?
       “Mau bikin buras ya? Minta bikinin Wati aja, buras bikinannya enak” kata Nenek Imah semangat mempromosikan kepiawaian Nenek Wati membuat buras ke Nenek Ana. Secara nenek Imah pernah merasakan buras gratis dari Nenek Wati. Tak ayal, tanpa pikir panjang Nenek Ana langsung nodong Nenek Wati.
       Niat Nenek Wati emang mulia, hanya ingin membantu Nenek Ana, yang notabene adalah adik iparnya sendiri. Istri dari adiknya si mata wayang. Jadi Nenek Wati nombok dong untuk membuat buras 100 biji bahkan lebih itu? Ya tidaklah, Nenek Wati tak selemah pikiran orang, dipanggilnya anak Nenek Ana untuk membantu pekerjaan membungkus buras.
       “Ini duit nda cukup buat bikin buras sebanyak itu. Jadi bilangin mamamu, ikannya beli sendiri aja ya. Kebetulan bibi sayur yang biasa bawakan ikan tidak jualan. Jadi mesti beli ikannya di pasar.”
       Anak nenek Ana memang kooperatif, dia lebih setuju dengan pendapat Nenek Wati, uwaknya. Malah sempat-sempatnya dia bilang begini, “Kata tetangga-tetangga kami, lebih baik Nenek yang di sana (red, Nenek Wati) ketimbang mama (red, Nenek Ana).”
       Nenek Wati sumbringah. Bukannya uzub tapi terpukau dengan pujian para tetangga.*


NENEK NUR
       Jauh dari tiga serangkai nenek-nenek di atas, Nenek Nur tak ada kaitannya, selain pada Nenek Wati. Nenek Nur adalah client anak Nenek Wati.
       Nenek Nur adalah mahasiswi sebuah perguruan tinggi di kota ini. Nenek kampus hehehe… Keren kan.
       Beliau seorang guru, yang kuliah lagi karenan tuntutan jabatan dan birokrasi atas nama kenaikan gaji. Sungguh menggembirakan ketika pemimpin negeri ini menyuarakan bahwa gaji guru akan naik menjadi 5 juta per orang. Sumbringah guru pun melebar ketika pengumuman itu dikoarkan.
       Namun… sumbringah itu lama-lama jadi pupus, karena syarat untuk mendapatkan gaji itu ternyata setebal kamus bahasa Indonesia sejumlah 2 buah kamus. Bayangin tuh tumpukan kamus 2 buah, seberapa tebalnya. Maksudnya para guru mesti mengumpulkan berkas perjalanan mengajar beliau, entah itu piagam, pelatihan, dll, dsb. Pendidikan mesti S1 atau yang tuaan sesuai usia sang guru. Ternyata di belakang angka 5 juta ada tanda bintang, seperti ini nih 5.000.000*, trus ada catatan kecil banget tulisannya syarat dan ketentuan berlaku. Halah kaya promo pulsa dari ponsel saja.
       Dengan demikian berbondong-bondonglah para nenek mendaftarkan diri ke kampus yang sesuai dengan profesi beliau sebagai guru bidang studi. Salah satunya Nenek Nur. Nenek Nur tergolong nenek yang semangat dan mempunyai motivasi yang tinggi untuk menimba ilmu dan meraih gelar sarjananya. Dan yang terpenting beliau tidak gentar menghadapi serangan dosen disaat seminar mempertahankan proposal, skripsi dan ujian pendadarannya. Padahal tak sedikit dosen yang iseng, mengoyak-ngoyak mental para nenek.
       Tahu tidak? Tidak sedikit nenek-nenek atau ibu-ibu yang mundur kuliah di saat-saat akhir pendidikannya, yaitu disaat harus menyelesaikan skripsinya. Padahal sudah malang melintang 2 tahun duduk manis sebagai mahasiswa. Tinggal sedikit saja lagi, mereka mendapatkan apa yang menjadi harapannya. Semua terganjal oleh revisi proposal atau skripsi yang bagi mereka njelimet, lebih-lebih mendapat tekanan mental dari dosennya. Sayang sekali ya L.
       Bisa bayangin tidak kalau di saat-saat akhir pendidikan tersebut, ada nenek-nenek yang semaput karena diabetnya kambuh, tensi naik, maag kumat, mual-mual, pusing-pusing, stres stadium 4, bahkan ada yang menghembuskan nafas terakhir. Innalillahi.*


==
Kelak kita tergolong nenek-nenek seperti apa yah? *think



0 komentar:

Post a Comment