Breaking News

30 January, 2012

Badai Pasti Berlalu


Siang ini, cuaca panas sekali, keringat mulai bercucuran dari kening dan badanku. Padahal tak banyak yang aku lakukan, hanya mengantar dan menemani puteri keduaku Nadya mengikuti lomba menyanyi bersama teman-teman sekolah TKnya. Selesai lomba, aku dan beberapa teman ibu-ibu dan anak-anaknya meluncur ke sebuah restoran cepat saji yang terletak tidak jauh dari tempat lomba, makan siang...

Sambil makan, akupun ngobrol-ngobrol dengan ibu-ibu yang lain. Tiba-tiba hapeku berdering.
“ Assalamu’alaikum, bunda lagi dimana?” hmm...ternyata suamiku yang menelpon.
“ Wa’alaikum salam, bunda lagi hang-out nih sambil makan-makan enak.” Jawabku santai.
“Nadya bagaimana lombanya? Menang nggak?”
“belum tahu, tunggu kabar dari gurunya saja, kita nggak nunggu pengumuman, soalnya sudah pada kelaparan, kasihan anak-anak. Ayah lagi dimana nih?” tanyaku sambil mengunyah makanan pesananku.
“oh..ya sudah, ayah lagi di UGD ( Unit Gawat Darurat ) nih..?”
“ hah..?” ya Allah ayah...kenapa pake basa-basi sih.., kenapa lagi ? di UGD mana?” dengan nada agak panik aku menanyakan tempat dimana posisi suamiku berada dan untungnya tidak terlalu jauh dari lokasi tempat aku berada. Makan siangku masih banyak tersisa, aku pun langsung meminta Nadya yang sedang asyik bercanda dengan teman-temannya untuk  segera ikut denganku. Setelah pamit dengan ibu-ibu yang lain, akupun langsung meluncur ke Rumah Sakit, sekitar 20 menit dengan kendaraan.

Sesampainya di Rumah Sakit, aku langsung menemui suamiku di ruang observasi UGD yang sedang terbaring lemah, ada monitor kecil, selang infus dan beberapa alat kedokteran menempel di badannya. “ apa yang ayah rasakan sekarang? “ suamiku yang masih bisa bicara menjelaskan awal mula kenapa akhirnya dia bisa sampai di UGD. “ jadi dada ayah sesak dan terasa panas? terus apa kata dokter ?” tanyaku penasaran. “ awalnya ayah dibilang terkena serangan jantung, tapi kan sekarang lagi diobservasi, yang jelas tensi darah ayah juga tinggi.” “ ya Allah..., ada apa lagi dengan suamiku..? “ ini memang bukan kali pertama dia masuk ke UGD Rumah Sakit, aku bahkan sudah tidak bisa menghitungnya lagi.

Seorang suster menghampiriku..” Isterinya bapak Arief yaa?” tanya suster. “iya sus, kondisi suami saya bagaimana ya sus..?” akupun langsung bertanya pada suster tsb. “ Sabar ya bu.., masih diobservasi, sebentar lagi bapak mau dirongten dulu ya bu, setelah itu pindah ke ruang intermedit.” ( ruang bagi pasien yang memiliki penyakit yang perlu penanganan khusus, satu tingkat di bawah ruang ICU ).

Aku dan Nadya menunggu suami yang sedang dirongten. Aku perhatikan Nadya yang tampak lelah dengan masih memakai baju lomba, sambil memainkan kura-kura kecil yang aku belikan waktu di tempat lomba. “ ayah mau dirawat lagi ya bunda...?” tanya Nadya padaku. “ Iya sayang..., nanti kalau urusan di Rumah Sakit sudah selesai, ade bunda antar pulang ya?” Nadya hanya mengangguk sambil memperhatikan kura-kura yang memang sudah lama diinginkannya.

Tak lama kemudian, suamiku dipindahkan ke ruang intermedit. Sepanjang keluar masuk rumah sakit, ini memang kali pertama suamiku menempati ruangan tersebut. Sayangnya, Nadya tidak diperbolehkan masuk, karena ruang tersebut tidak steril. Akhirnya, aku membawanya ke ruang tunggu pasien yang hanya terdiri dari kursi-kursi, ada sebuah TV, locker tempat menyimpan barang dan telepon yang menempel di dinding, untuk mempermudah dokter atau suster berkomunikasi dengan keluarga pasien.

“ ade tunggu di sini dulu ya.., bunda masih mau ketemu ayah dulu, ade main kura-kura atau nonton TV aja ya, jangan kemana-mana.” Pesanku pada Nadya. Aku sebenarnya tidak tega melihatnya dan harus meninggalkannya sendirian di ruang tunggu. “ nggak apa-apa, tinggal aja mba, nanti saya yang jagain” seorang ibu setengah baya yang ada diruangan itu tiba-tiba menawarkan niat baiknya. “oh..terima kasih ya bu.., soalnya ada administrasi dan surat pernyataan yang harus segera saya urus.” Akupun langsung menuju ruang pasien, tempat suamiku berbaring lemah dan mengurus ke ruang administrasi Rumah Sakit.

Sambil menunggu antrian mengurus administrasi, sesekali aku melihat ke ruang tunggu, aku melihat Nadya yang sudah tertidur pulas sambil duduk dengan memeluk kotak kura-kuranya. “ Ya Allah.., maafkan bunda ya sayang..” Akupun baru teringat belum mengabarkan kalau suamiku masuk rumah sakit kepada orang tua dan saudara terdekat.

Sampai urusan administrasi yang aku urus selesai, Nadya masih tertidur dengan lelapnya. Aku pun minta izin ke suster jaga untuk pulang sebentar mengantar anak dan mengambil keperluanku untuk menginap, karena pasien harus tetap ditunggu oleh keluarganya, antisipasi jika ada sesuatu yang diperlukan oleh pasien.

Di rumahku tidak ada asisten rumah tangga yang menginap, tapi untungnya masih ada ibu dan adik perempuanku yang bersedia untuk menjaga anak-anakku di rumah. Akupun menjadi sedikit tenang.

Jam besuk sore, aku sudah kembali ke Rumah sakit dengan kakak dan mertuaku. “ sabar ya mi...” ibu mertuaku memelukku erat sambil membesarkan hatiku. “ iya, mah.., tenang aja, sudah biasa kok..” aku pun menenangkan ibu mertuaku dan merekapun pulang.

Malam menjelang, setelah jam besuk selesai, seluruh keluarga yang menunggu pasien tidak boleh berada di ruang pasien, kecuali diminta oleh suster atau dokter, itupun melalui telpon yang ada di ruang tunggu.

Tak banyak yang bisa aku perbuat, aku mengisi waktuku dengan membaca buku sambil sesekali ikut mengobrol di pojok ruangan dengan alas tikar. Ada beberapa ibu-ibu muda dan setengah baya yang sedang berkumpul, ada juga anak muda dan bapak-bapak yang sedang asyik menonton bola. Tak terbayangkan, bagiku malam ini aku seperti berada di ruang pengungsian.

“siapa yang sakit mba, sakit apa?” seorang ibu setengah baya bertanya padaku.” Suami saya bu.., punya tekanan darah tinggi dan penyempitan pembuluh jantung.”jawabku pelan. “oh.., kalau saya sudah hampir seminggu di sini, suami saya kena stroke..” ibu tersebut langsung bercerita banyak tentang diri dan keluarganya, keluarga suaminya tidak menyukainya karena pada awal menikah mereka berlainan agama. Sampai akhirnya suaminya merasa kasihan dengan ibu tersebut dan sering sakit-sakitan. Tidak ada keluarganyapun yang bisa membantu. Aku melihat titik-tik air mulai berjatuhan dari matanya. “ Saya ikhlas melakukan semua ini mba.., saya hanya bisa berdoa dan banyak berdzikir demi kesembuhan suami saya.” Lanjut ibu tsb. Aku pun hanya bisa mendengarkan...dan tak terasa akupun menitikkan air mata.

Seorang ibu muda yang ikut berkumpul dipanggil oleh suster, tapi tak lama kemudian dia masuk ke dalam ruangan sambil menangis. “ kenapa mba..?” tanyaku pelan.” Aku cape deh mba, masa anakku sudah seminggu di rawat belum sembuh-sembuh juga, perutnya jadi tambah besar, udah gitu malam-malam harus nebus resep obat di luar”. “memang suami mba kemana?”.” suamiku tinggal dan kerja di daerah mba, aku cuma sama pakde ku yang sudah tua itu”. Dia menunjuk ke arah seorang bapak yang sedang tidur di atas kursi.  “Ya Allah..”

Tak terasa..., hari sudah mulai malam, aku perhatikan para penunggu pasien sebagian besar sudah mulai tidur. Entah kenapa, aku sendiri merasa kurang nyaman dan memilih mendengarkan kisah seorang ibu yang suaminya baru masuk ruang ICU setelah maghrib tadi.
“ siapa yang sakit bu..?” tanyaku kepada ibu setengah baya itu. “ suami saya mba, dari mulutnya selalu keluar darah dan tidak bisa bicara.” Selanjutnya ibu itupun bercerita, dengan sakitnya suami dia sampai menjual rumah, mobil dan beberapa barang berharga lainnya, sampai sekarang akhirnya hanya bisa mengontrak rumah. Akupun terenyuh mendengar cerita hidupnya. “ke kamar mandi aja harus digendong mba dan saya harus selalu berada di dekatnya, nggak boleh jauh-jauh.”

Ya Allah..., dalam semalam ini saja aku sudah mendengarkan beberapa cerita yang membuatku sedih tapi merasa bersyukur. Walau suamiku pun sering sakit-sakitan tapi masih lebih baik dari mereka. Aku dan beberapa ibu yang bercerita tadi meyakini bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan kepada hambanya melebihi kemampuannya. Dengan tidak lupa untuk terus instropeksi diri, kemungkinan ada perbuatan-perbuatan kita yang salah, kurang bersedekah dan lain-lain.

Waktu sudah mendekati pukul 12 malam, aku berfikir kenapa aku tidak pernah dipanggil oleh suster, sedangkan hampir semua keluarga yang menunggu, selalu mendapat giliran. Akhirnya, aku menelpon suster. “ suster, saya isterinya pak Arief, minta izin menegok suami saya sebentar bisa nggak?” “oh.., pak Ariefnya sedang tidur, kelihatannya nyenyak bangat bu..” “Tapi keadaannya bagaimana sus..?” tanyaku penasaran.” Sudah mulai membaik kok bu..., ibu tenang saja, kalau ada apa-apa pasti kami kabari.” Jawaban suster malam ini membuatku merasa agak tenang.

Pukul 02.00 dini hari, kelopak mataku sudah tidak bisa diajak kerjasama lagi untuk selalu terbuka, akupun mencoba pejamkan mata dan hanya bisa berdoa..”Ya Allah, berikanlah kesembuhan kepada suamiku, anakku masih kecil-kecil, masih membutuhkan ayahnya, jangan biarkan kami larut dalam kesedihan, berikanlah kekuatan kepadaku dan keluargaku agar tetap sabar menerima cobaan-Mu.” Laa haw laa wa laa quwwata illaa billaah, Amin.



0 komentar:

Post a Comment