Breaking News

26 January, 2012

Azizah Sudah Pulang


           Pulang ke kampung halaman di Bukittinggi, Sumatera Barat memang pilihan Azizah sendiri, tak ada yang memaksanya. Tidak ayah maupun amak. Karena kedua orangtuanya telah meninggal dunia bersamaan dengan kakak lelaki semata wayangnya. Kecelakaan mobil dalam perjalanan ke Solok yang menewaskan ketiga orang kesayangan Azizah itu.
            Meninggalkan ibukota negeri dan kembali ke kampung halamani dirasa Azizah sebagai keputusan paling tepat. Di Jakarta ia tinggal sendiri, bekerja di salah satu perusahaan multinasional setelah menuntaskan pendidikan di universitas negri di Jakarta. Sama-sama hidup sendirian, lebih baik menjalani hidup sendiri di kampung halaman, tinggal di rumah yang sarat akan kenangan, membuat Azizah merasa bahwa orangtua dan kakaknya masih ada. Walaupun ternyata lebih banyak kenangan yang sementara ini masih membawa kesedihan. Namun sudah menjadi keputusan Azizah untuk kembali pulang.
              Disini lah ia sekarang. Kembali pulang. Ia merasa sepi dan sendiri. Setiap sudut rumah model lama, khas masyarakat minang itu kerap menyedotnya dalam memori. Sempat terlintas untuk kembali ke Jakarta, merasa keputusannya salah, seharusnya ia tidak tinggal di rumah itu, tidak kembali. Tetap tinggal di Jakarta, sibuk dengan kehidupannya yang telah bertahun-tahun di jalani. Dengan iringan hiruk pikuk ibukota. Disini, mulai dari pintu depan hingga jendela kamar paling belakang, memiliki torehan-torehan cerita, membuatnya semakin sadar ia kini sendiri. Di Jakarta ia bisa saja mencari kesibukan dan hiburan yang tak mengingatkannya kepada amak, ayah dan Uda Fikri. Toh dia sudah terbiasa sendiri di Jakarta, bedanya, tak akan ada lagi telepon dari ayah dan amak, tak ada lagi kiriman rendang kariang dari emak, tak ada lagi sms dari Uda Fikri. Cuma itu bedanya. Tapi di rumah ini, di Bukittinggi ini, ia benar-benar sadar telah ditinggal sendiri. Azizah merasa sepi, hatinya terlebih lagi.
            Namun ia sadar dan yakin, inilah yang diinginkan orangtuanya, ingin Azizah kembali. Merantau ke Jakarta dari awal tak disetujui Amak, wanita lemah lembut penuh kasih itu lebih senang Azizah kuliah di Universitas Bung Hatta, Padang. Tapi Azizah memilih Universitas Indonesia. Ia memang ingin tinggal di Jakarta, memberinya prestisius yang berbeda dari kawan-kawan sebayanya. Ia ingin menjadi gadis metropolitan dengan beragam aktifitas disana. Walaupun keputusannya mengecewakan Amak dan ayah. Sementara Uda Fikri lebih mengerti karena ia mengira keinginan Azizah semata-mata ingin mendapatkan pendidikan yang lebih baik dan juga pengalaman.
              Selama kurang lebih empat tahun Amak mengikhlaskan ganak adisnya terpisah dengannya, dengan harapan seusai menuntaskan kuliah, Azizah akan kembali pulang, namun kembali Azizah membuat kecewa, ia terlanjur betah dengan kehidupan ibukota dan memutuskan meniti karier disana. Kali ini Azizah tak kan mengecewakan Amak.
            Namun rasa sepi di hati tak kunjung terobati, setiap hari ia hanya beraktifitas dari rumah, ke toko kain peninggalan orangtuanya, yang dilengkapi dengan perlengkapan haji dan perlengkapan muslim lainnya. Tokonya salah satu yang terbesar di kota itu. Ia kembali menggunakan hijabnya, lebih dikarenakan ia adalah pemilik toko, menjual perlengkapan muslim, jadi tak pantas ia tak berpenampilan sebagaimana muslimah seharusnya.
            Akhirnya kembali Iza menjadi Azizah. Iza nama yang telah bertahun-tahun digunakan selama ia di Jakarta. Kembali ia menjadi Azizah, wanita minang berjilbab. Agak canggung awalnya bagi Azizah kembali menggunakan hijab, setelah sekian waktu ia tanggalkan identitas muslimahnya itu. Ada rasa penyesalan yang menggelayuti hati dengan beratnya, mengingat keputusannya untuk tak lagi berjilbab telah mengecewakan orangtua, khususnya Amak. Ia ingat amak sampai menangis. Ayah hanya bisa terdiam melihatnya pulang sewaktu libur semester dengan rambut hitam tergerai tanpa kain menutupinya. Uda marah, jelas. Namun Azizah datang dengan persiapan segala macam dalih dan alasan, alasan yang sebenarnya ia sendiri pun tahu, terlalu mengada-ada.
           “Amak, di Jakarta itu lebih panas dari Bukittinggi,  Azizah tak tahan kalau harus memakai pakaian tertutup apalagi sampai memakai jilbab”
           “Azizah, kalau kamu tahu manfaat dan fungsi jilbab, serta digunakan dengan ikhlas demi mendapatkan ridho Allah, pasti indak akan terasa berat menggunakannya. Terlebih lagi, apa yang Allah dan RasulNya perintahkan, semuanya demi kepentingan dan mendatangkan manfaat bagi manusia itu sendiri” Nasehat Mak etek, adik Amak yang sengaja amak panggil untuk menasehati Azizah, karena amak terlalu shock dengan langkah tak terduga yang diambil anak gadis kebanggaan dan kesayangannya itu. Azizah sebenarnya tahu.
           “Azizah….waang tahu kan sebenarnya memakai jilbab itu dapat melindungi waang dari berbagai macam hal buruk, menjaga diri waang dari, Naudzubillah, perbuatan yang bisa saja dilakukan lelaki yang hilang akal dan imannya. Selain itu, waang juga pernah aku tunjukkan artikel tentang manfaat jilbab dan baju tertutup bagi kesehatan kulit dan rambut” Lanjut uda Fikri.
            Abangnya bukan lah orang bodoh, ia berpendidikan sama tingginya dengan Azizah bahkan lebih. Ilmu agama dan ilmu sosialnya cukup mumpuni. Berdebat tentang hal ini apalagi terkait syariat pastilah Azizah akan kalah. Akhirnya kata-kata yang keluar hanyalah “Uda ndak merasakan sendiri bagaimana rasanya, memakai pakaian kurung dengan jilbab di kota dengan udara sepanas Jakarta”. Jawaban yang bodoh sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi. Ayahnya yang pendiam hanya mengatakan, “pilihanmu itu salah, kamu sendiri sebenarnya tahu”. Kata-kata ayahnya sangat mengena, tepat.
            Menanggalkan jilbabnya lebih dikarenakan ia tergoda menggunakan busana-busana yang sedang trend saat itu, walaupun tak sepenuhnya mini dan terbuka, ia sendiri risih melihat kawannya bila berpakaian seperti itu. Tak hanya jilbab ia tanggalkan, shalat dan mengaji pun mulai ia tinggalkan. Kawan-kawan satu kost dengannya tak ada yang shalat, teman-teman kampusnya tak pernah ada yang mengajaknya ke masjid kampus saat waktu shalat tiba. Sebenarnya cukup banyak juga mahasiswi yang berjilbab, masjid pun sebenarnya tak pernah sepi. Hanya hati Azizah yang sedang tertutupi.
            Kini ia kembali menggunakan jilbabnya. Ia cantik, Azizah sendiri sadar akan itu, dulu ia mencoba membohongi hati nuraninya sendiri dengan mengatakan ia lebih cantik tanpa jilbabnya. Namun sungguh ia sadar, pantulan wajah wanita dengan jilbab biru berhias border kupu-kupu dihadapannya sekarang terlihat lebih anggun, mempesona layaknya seorang muslimah yang diciptakan Allah Sang Maha Indah dan penyuka keindahan.
            Setelah berbulan-bulan, Azizah masih merasa sendiri dan sepi, ia marah kepada Allah, karena telah membiarkannya sendiri. Hanya ada sedikit yang mengobati hati Azizah, setiap setelah magrib, sewaktu ia pulang dari toko, dengan berjalan kaki, ia sengaja berlama-lama bahkan sengaja berhenti, di dekat sebuah rumah bercat kuning-hijau, warna khas melayu. Ia mendengar suara seorang wanita sedang membaca Al Qur’an. Suaranya indah. Mengalun di udara menyentuh oktaf terendah untuk kemudian melantunkan ayat dengan oktaf tinggi. Setiap ayat yang terdengar mampu mengisi sedikit hati Azizah. Setiap hari diwaktu yang sama, suara itu akan terdengar lagi. Dibacakan oleh wanita itu kalam Illahi dengan gaya qiraah yang berbeda-beda, Azizah sedikit banyak masih bisa mengingatnya. Gaya shaba, jiharkah, maupun gaya klasik dengan hanya beberapa cengkok di pertengahan dan akhir ayat.
            Bacaan yang menenangkan hati Azizah, ada kerinduan disitu, kerinduan kepada orangtua dan kakak lelakinya, tapi kerinduan yang dirasakan saat mendengar bacaan itu bukan kerinduan disertai dengan kemarahan dan kekecewaan akan keadilan Tuhan. Kerinduan yang menghangatkan. Azizah tak kenal dengan si empunya suara, yang Azizah tahu dari pembicaraan dengan karyawan toko sebelahnya, bahwa wanita itu bernama Malikah, ia sepantaran dengan Azizah, tapi Malikah tak pernah keluar rumah, ia sakit keras, entah tumor atau apa tak jelas juga. Kesehariannya hanya di rumah. Azizah ingin sesekali bertandang kerumah itu, berkenalan dengan Malikah, pemilik suara emas. Tapi Azizah tak kenal dengan keluarga Malikah, mereka bukan orang lama. Bukan teman orangtua Azizah. Keluarga itu baru setahun tinggal di Bukittinggi, pindahan dari Tanjung Pinang, salah satu pulau di kepulauan Riau.
             Bagaimana Azizah akan berkunjung, dia tak pernah melihat Malikah, hanya mendengar suaranya. Tak lucu kalau dia datang mengatakan ingin berjumpa Malikah karena begitu terpesona akan suaranya. Sebenarnya terpesona bukan pilihan diksi yang tepat. Azizah yakin, bacaan Al Qur’an yang dibaca dengan kekhusyukan dan keikhlasan itulah yang Azizah indahkan. Sampai suatu saat berhari-hari ia tak mendengar lagi suara itu. Tak ada lagi bacaan ayat-ayat Al Qur’an yang didengar Azizah dalam perjalanan pulang ke rumah. Akhirnya sampai juga kabar Malika telah meninggal dunia. Kembali Azizah merasa sepi dan sendiri, bahkan kerinduannya kini bertambah. Ia rindu mendengar bacaan Al Qur’an. Dari masjid-masjid yang tersebar di daerahnya pasti juga akan didengarnya bacaan kalam Allah itu setiap menjelang subuh, magrib dan isya. Namun mendengar seorang wanita dari dalam rumahnya sendiri, bahkan di duga dari dalam kamar tidurnya membaca Al Qur'an dengan khusuknya, memberi arti yang berbeda.
            Berhari-hari Azizah kembali merasa sepi, kembali ke kamarnya dalam kesendirian. Azizah menangis, menangisi waktu yang terbuang sia-sia dalam keegoisannya meninggalkan orangtua yang begitu menantikan kepulangannya. Menangisi akan waktu yang telah terlewati, ia sadar selama ini tak cukup kasih sayang dan kepedulian yang ia balaskan kepada orangtuanya. Menangisi kesendiriannya. Mengapa ini terjadi Yaa Allah, katanya Engkau Maha Penyanyang, lantas kenapa Engkau ambil orang-orang yang kusayang, jerit Azizah. Kalau Engkau Maha Pengasih dan Penyayang. Sayangi lah hamba, berikan pelipur sepi dan duka bagi hambamu ini, isaknya. Hamba butuh penghilang kesedihan ini Yaa Allah…..
            Esoknya Azizah terbangun karena suara Adzan Subuh, biasanya ia akan tertidur lagi dan kembali bangun pukul tujuh atau delapan pagi, lalu bersiap-siap untuk berangkat dan mebuka toko miliknya. Namun kali ini matanya tak terpejam lagi, sedikit berat memang, bengkak dirasanya. Mungkin akibat menangis semalaman, sampai ia tertidur diiringi doa. Doa?? Iya…Azizah berdoa. Bukan kah dia meminta kepada Allah, bukan kah dia berdoa. Setelah sekian waktu ia tinggalkan, subuh itu Azizah melangkahkan kakinya ke bagian samping kanan rumahnya, rutinitas yang beberapa tahun silam rutin ia lakukan, dulu bahkan dalam kondisi setengah mengantuk, ia tak pernah salah jalan. Melangkah dengan lincah dan gesit, saat mata benar-benar terbuka dan nyawa terkumpul seluruhnya, maupun saat langkah terseret dan terseok akibat masih setengah terpejam akibat rasa kantuknya, ia tetap akan mampu menemukan tempat wudhu itu.
            Subuh itu, setelah melewati sekian ratus subuh sebelumnya, Azizah shalat subuh dikamarnya. Dia menangis dalam shalatnya. Kali ini tangis kesadaran, sadar bahwa ia tak hanya rindu amak, ayah dan Uda Fikri, tak hanya rindu kehangatan dan kasih sayang keluarganya, tak cuma rindu Malikah yang membaca kalam Allah dengan indahnya. Ia rindu Allah, rindu beribadah kepada-Nya, rindu berdoa serupa berbincang-bincang dengan Khaliqnya. Ia rindu bacaan-bacaan dalam shalat yang tak lain berupa pujian, ucapan syukur dan doa pada Rabbnya. Rindu merasakan diri sebagai hamba-Nya. Rindu mengucap shalawat kepada Rasulnya. Tersungkur Azizah menangis dalam sujudnya. Sebenarnya sudah dari kemarin-kemarin lalu Azizah ingin shalat, tapi ia malu, setelah sekian waktu ia tak pernah menyapa Allah tiba-tiba datang begitu saja. Malu yang salah letak sebenarnya. Seharusnya ia malu karena tak kunjung-kunjung datang memenuhi panggilan Allah. Ampuni Azizah Yaa Allah,….
            Selesai shalat ia mengaji, tak ada lagi suara Malika yang indah dengan bayyati-nya, tapi ada suara Azizah yang membaca kalam Allah dengan suaranya sendiri, walaupun nafas pendek Azizah membuatnya tak bisa seindah bacaan Malika, namun suara yang ditangkap telinganya adalah suaranya sendiri, suara yang memberi sinyal keharuan dan kobaran semangat hidup ditelinganya, lalu terasa menyentuh kedalam hatinya sendiri. Kerinduan akan amak, ayah dan uda Fikri seolah terobati, mereka dulu kerap tadarus bersama, amak menyimak bacaan anak-anaknya. Azizah teringat, suara amakpun terdengar tak kalah indah, sebanding dengan Malika. Kerinduan kali ini tak terasa sakit, tapi hangat dan

0 komentar:

Post a Comment