Breaking News

30 January, 2012

Asih dan Ikan Asin


            Pasar Rawa Lumbu, Bekasi, sesak dengan segala ragam manusia. Sebenarnya tujuan utamaku bukan semata-mata ingin berbelanja. Ada tugas menulis deskripsi di pelatihan Jurnalistik pada sebuah komunitas dimana aku menjadi anggotanya. Untuk menyelesaikan tugas tersebut, aku memilih pasar sebagai objek observasi.
            Pandanganku menyisir beberapa para pedagang.   Aku menghampiri sosok perempuan, berkain batik yang sudah memudar warna, dipadu atasan kuning lusuh. Badannya kurus dengan tinggi sekitar 150 cm. Tatapan matanya tak terarah. Seperti orang yang sulit berkonsentrasi.  Namanya Asih. Diantara jajaran para penjual ikan asin, tampang Asihlah yang paling terlihat kusut. Tak ada senyum dan keramahan tergambar di wajahnya. Penampilan jauh dari bersih. Malah lebih terkesan bahwa Asih tak pernah sempat mandi pagi.     
            Perempuan ini sibuk menyusui anak yang ada di gendongan.  Berjualan sambil mengasuh anak, sedikit mengganggunya untuk menarik perhatian pembeli, katanya. Aku biasa membeli ikan teri di sini. Meskipun perempuan ini acuh tak acuh dalam mendagangkan ikan asinnya, aku tetap memilih ikan teri yang dia jual.
Beberapa kali calon pembeli yang lalu lalang, menoleh sekejap dan berpaling ke penjual ikan asin yang lain. Asih dengan muka tak bersahabat, samasekali tidak berusaha menarik perhatian pembeli. Ikan asin Asih masih menumpuk di atas tampi-tampi itu. Padahal jenis ikan asin itu lumayan komplit. Selain ikan teri, Asih juga menjual ikan asin jambal, ikan asin kepala batu, ikan pare asin, cumi asin dan beberapa jenis lagi. Namun, perilaku Asih seperti orang yang tidak ingin berdagang dengan sungguh-sungguh. Aku samasekali tidak melihat dia serius berjualan.
            ”Sehari, bisa laku berapa bu?”
            ”Tidak tentu, terkadang malah tidak ada yang laku,” jawab Asih tetap tidak acuh.
Suaranya yang nyaring samasekali tidak berpotensi untuk membujuk calon pembeli. Wajah Asih yang kehitaman kembali murung. Bulak-balik dia melepaskan jari-jemari anaknya yang menarik-narik rambutnya yang acak-acakan. Angin pagi menerpa ikan-ikan asin di depanku. Aromanya sangat menyengat hidung. Di sudut meja yang berukuran 60 x 60 cm tergeletak rantang 3 susun, terbuat dari bahan plastik. Ada juga cangkir melamin bercorak bunga warna merah serta lap tangan yang sudah sangat kotor. Ada bangku kosong di sebelah meja itu.
            ”Boleh saya duduk di sini bu?”
            ”Silahkan, tapi di sini bau,” jawabnya datar.
Jam di tanganku terus bergerak. Sudah hampir setengah jam aku mengamatinya. Sesekali aku memperhatikan tingkah laku dan gerak gerik perempuan berusia 36 tahun ini. Dia tidak begitu antusias menawarkan dagangannya kepada orang-orang yang lewat di depan mejanya. Tak seperti laki-laki yang ada di sebelahnya. Mereka sama-sama berjualan macam-macam ikan asin, tapi semangat bapak itu seperti ingin menguasai semua calon pembeli. Aku menilai Asih sebagai contoh pedagang yang pemalas.
            ”Mengapa ibu tak berusaha menawarkan ikan asin ini?”
            ”Biarkan saja, kalau mereka mau beli, pasti mampir.”
Laku syukur, tidak juga tak menjadi masalah, begitu katanya. Setiap keuntungan dari penjualan ikan-ikan asin miliknya akan kandas di meja judi. Suaminya gemar berjudi. Hatiku terenyuh, tak berani meneruskan dialog hati tentang seorang perempuan, penjual ikan asin yang malas, lusuh dan tidak bersemangat, karena aku sudah menemukan alasannya. Padahal, sebelumnya aku memiliki keinginan berbincang lebih lama dengan Asih. Aku menghentikan niat, tapi ternyata Asih masih melanjutkan.
            ”Bu, dimana bisa menyewa busana Kartini ya?” tanyanya jauh dari topik percakapan kami semula.
            ”Banyak, biasanya di tempat-tempat salon perias pengantin ada. Ibu mau ngapain?” tanyaku heran.
Hatiku kembali berdialog tentang perempuan ini. Di balik wajah dan sikapnya yang tidak ramah karena terpaan kemiskinan, Asih masih sempat bertanya tentang busana Kartini.
            ”Anak saya yang SD mau ikut karnaval di hari Kartini nanti,” tambah Asih lagi.
Tanpa aku tanya, Asih terus saja berceloteh tentang diri dan keluarganya. Dari mulai rasa ketakutan terhadap suami yang gemar memukul kalau sedang kalah berjudi, sampai uang simpanan yang sering disembunyikannya dalam sebuah panci usang di dapur.
Obrolan terputus. Anaknya kembali menangis, minta disusui. Aku tatap Asih beberapa saat. Inilah contoh generasi Kartini yang berjuang untuk mempertahankan kehidupan di abad ini. Kalau yang lain berjuang meraih karir, Asih hanya bisa mengandalkan tumpukan ikan asin demi kehidupan dan masa depan anak-anaknya. Belum lagi perjuangan yang tak mudah untuk bertahan hidup dengan suami yang gemar berjudi.
            Dengan membawa bungkusan ikan teri dan ikan asin lidah khas Medan,  kutinggalkan Asih yang masih tak perduli dengan tumpukan ikan-ikan asinnya yang tak kunjung laku. 

0 komentar:

Post a Comment