Breaking News

25 January, 2012

Ardina Sang Juara


Aku memandangnya  lekat.  Ia terlihat sumringah di atas panggung.  Selalu tersenyum, memberikan kesempatan kepada yang ingin mengabadikan dirinya bersama piala-piala yang ia raih hari itu.  Gayanya seperti seorang selebritis yang sedang menghadapi para penggemarnya, tidak kaku, luwes, senyum  penuh keanggunan, benar-benar sangat menawan, jauh dari kesan kesombongan seorang yang jumawa.  Wajahnya yang cantik berpadu dengan sikapnya yang anggun serta senyum yang selalu mengembang menambah sinar diwajahnya.

Namanya Ardina, teman sekelas sulungku.  Setiap melihatnya aku selalu merasa kagum, bercampur kesedihan.  Sungguh , aku tidak mengada-ngada, setiap melihatnya aku selalu ingin menangis, entah perasaan apa yang berkecamuk di dadaku.  Mungkin karena seringnya anakku bercerita tentangnya.  Kupikir anakku kagum kepadanya hingga cerita – cerita tentangnya dari A – Z selalu mengalir deras dari mulut kecil anakku.

Kadang kakak –panggilan sulungku-  bercerita tentang prestasi-prestasi yang diraih Ardina, terkadang bercerita tentang keinginannya bisa ‘mengalahkan’ prestasi Ardina, terkadang tentang keluarganya, tentang ibunya yang  tidak tinggal bersamanya. Ya, Ardina di rumah hanya tinggal bertiga, ayahnya, adiknya dan Ardina .

Anak itu memang sangat spesial.  Selalu juara umum dari kelas satu sampai lulus kelas enam.  Puluhan atau mungkin ratusan kejuaraan telah diraihnya.  Dari kejuaraan olimpiade sains, matematika, cerdas cermat, tahfidz qur’an sampai pidato serta story telling diraihnya.  Aku pernah beberapa kali mendengarnya berbicara dalam bahasa Inggris, sangat lancar dengan lafal yang sangat fasih.  Tak heran kalau dia pernah meraih juara pertama pidato bahasa Inggris yang diadakan sebuah sekolah internasional  mengalahkan murid-murid sekolah tersebut yang kesehariannya berbahasa inggris dan diajarkan langsung oleh para native speaker yang  memang banyak disediakan disekolah tersebut.

Aku baru tiga kali bertemu dengannya.  Pertama sewaktu mengantarkan kakak mengikuti lomba story telling, kedua di acara perpisahan dan terakhir hari ini, yaitu acara wisudaan kelas enam.  Selalu di dampingi oleh ayahnya, tanpa ibunya.  Seorang pria yang serius, berkacamata agak tebal, terlihat pintar.  Konon kabarnya ibunya jauh berada di provinsi lain menemani neneknya Ardina yang sakit dan sendirian.  Berbagai kabar burung   aku dengar tentang keluarganya.  Itulah yang membuat aku selalu ingin menangis bila melihatnya.  Membayangkan keseharian si anak pintar tanpa didampingi ibunya.

Sewaktu novel anakku diterbitkan, hubungan kakak dengan Ardina menjadi lebih erat.  Aku menangkap Ardina seorang anak yang selalu haus prestasi.  Dia banyak bertanya tentang dunia tulis menulis kepada anakku dan keinginannya untuk bisa menulis.   Kakak diminta untuk menulis sesuatu di buku khususnya hampir  tiap hari.  Dari sana mungkin dia bisa belajar sesuatu.

Hari ini,hari wisuda kelas enam, dia memborong  tiga penghargaan.  Juara kelas, Juara Umum Nilai Terbaik, serta hapalan Al Qur’an terbanyak (5 juz).  Pantas kalau  anakku terkagum-kagum kepadanya.  Aku melihat semua kecerdasan majemuk terhimpun dalam dirinya jangankan anakku, aku pun terkagum-kagum melihatnya.  Selain pintar luwes dan sangat santun, baik dari sikap maupun ucapannya. Beberapa kali aku meng smsnya, dijawab dengan penuh kesantunan.  Setiap bertemu dengannya anggukan penuh takzim dan senyuman ia lemparkan. Aku terpesona.  Ingin aku melihat bagaimana keseharian orang tuanya mendidiknya, sehingga ia bisa seperti itu.

Ardina, seorang anak yang sangat pandai. Sekarang akan melanjutkan kesebuah pesantren modern unggulan, yang hanya menerima 25 murid per angkatannya.  Ardina lulus dari seleksi ketat yang diadakan sekolah tersebut, dan menjadi peringkat pertama dalam seleksi tersebut sehingga berhak menerima 50% beasiswa pendidikan.  Bercita-cita menjadi seorang arsitek, desainer interior dan motivator.  Gadis kecil  menginjak remaja yang cantik, luwes, supel dan anggun serta sholihah.  Selalu tersenyum ramah.

Tak heran mengapa sulungku selalu menyebutmu dalam banyak cerita-ceritanya.  Ia kagum padamu, Ardina.  Aku juga, kagum  padamu , pada kedua orang tuamu yang telah mendidikmu dengan begitu sempurna.     



0 komentar:

Post a Comment