Breaking News

25 January, 2012

Apalah Arti Sebuah Nama



mencoba menulis lagi supaya bisa belajar dan belajar lebih baik lagi seperti ibu2 IIDN lainnnya....
(Tanpa mengurangi rasa hormat dan mengurangi rasa persaudaraan ku pada teman teman IIDN, tulisan ini tidak bermaksud menyinggung SARA atau apapun hanya sekelumit cerita sederhana dalam cerita hidup aku.....)


Kenapa ya….kok perasaaan aku temen temen beda banget sama aku, kok mereka gak bisa deket sama aku, seolah olah ada jarak yang memisahkan mereka sama aku, padahalkan aku pengen banget bisa nyatu dengan mereka, kenapa ya?kenapa ya?
Pertanyaan itu yang selalu mencuat kepermukaan hatiku jikalau aku sedang bersama teman teman di sekolahku bahkan perasaaan itu muncul semenjak aku SMP, apalagi dari semenjak  SMP aku sudah aktif berbagai organisasi seperti Pramuka,OSIS dan organisasi extrakurikuler lain yang ada di SMP. Tetapi saat di bangku SMP pertanyaan semacam itu akhirnya terjawab sudah, ketika sekolah kami mengirmkan Pramuka intinya untuk acara  Persami dan saat itu secara otomatis banyak kegiatan yang dipertandingkan disana selain PBB dan kegiatan kepramukaan lainnya, dan salah satunya adalah  lomba membaca Al –Quran. Waktu itu semua anggota saling tunjuk siapa yang mau maju mewakili regunya untuk lomba membaca Al Quran dan lucunya ketika aku bilang, “ya udah deh aku juga gak apa-apa yang maju untuk lomba itu dan lomba memasaknya, dari pada bingung karena ga ada yang mau , kalian fokus aja untuk lomba utama yaitu lomba wide game (mencari jejak), gimana?” yah walaopun aku membaca nya gak faseh faseh banget kaya qoriah yang di tv tv itu tapi dengan modal bisa aja insya allah bisa,” spontan semua temanku langsung terdiam dan hanya bisa bengong tanpa menjawab apa-apa, dan aku jawab lagi, “kenapa?” Ya terserah sih akukan cuma membantu mengambil keputusan biar lebih cepat, jadi masing masing sudah punya tugas dan bisa mempersiapkan segalanya lebih lama, dari pada terus terusan bingung dan berdebat tapi gak dapat keputusannya juga.” Sang ketua regu menjawab , em…maaf ya bukan itu maksud kami, kalo memasak kami yakin kamu punya kemampuan, tapi kalo membaca Al Quran? bukannya kamu non islam mar?”.

Tenggorokan ku seakan tersedak mendengar pertanyaan sang ketua regu. Sekarang giliran aku yang dibuat kaget, “apa ? aku non islam? Siapa bilang?ya ampun..memang sih kalian gak ada yang pernah satu kelas dengan aku sejak kelas satu dan gak ada yang pernah baca kartu Osis aku tapi masa sih gak ada yang tau kalo aku ini seorang muslim?” Mereka dengan kompak Cuma bisa menggeleng kepala sambil menjawab dengan nada kompak.” Gak tau..!” jawab mereka. “Ya ampun girls please deh.. namaku Memang MARIA DINASTI AGUSTIN tapi , sejak lahir alhamdulillah aku sudah menjadi seorang muslimah dan dari aku SD aku juga sudah bisa membaca Al Quran lho (omonganku agak menyombong tanpa bermaksud sombong), lalu reaksi mereka cuma bisa bilang “Ya ampun ternyata selama ini kami salah….”jawab mereka. Aku tersenyum simpul merasa lega tapi dalam hati ku pun mengucapkan hal yang serupa seperti mereka yaitu mensyukuri akhirnya mereka tahu kalo aku memang seorang muslim, dan akhirnya akupun tahu bahwa itulah mengapa mereka seolah mereka segen padaku, karena mereka mengira aku seorang non muslim. Huf….Aku gak akan mengira namaku berpengaruh buat mereka karena awalnya aku bersyukur diberi nama itu karena nama itu pemberian orang tuaku, dan aku tahu pasti mereka punya arti dan punya maksud tersendiri dengan nama itu, dan pastinya berharap yang terbaik untuk anaknya kelak, dan aku yakin semua orang tua memberi nama pada anaknya pasti dengan segudang doa tapi ternyata yang aku hadapi tidak seringkas anggapan aku selama ini. Karena selama ini aku beranggapan apalah arti sebuah nama karena yang penting itu akhlaknya.

Setelah kejadian itu entah karena memang status ku yang sudah jelas atau bagaimana tapi mungkin karena mereka sudah tidak segan lagi terhadapku atau bagaimana yang jelas mungkin jika sesama muslim mereka merasa lebih nyaman juga tidak khawatir jika mereka bercanda akan ada yang tersinggung, sehingga kemana mana kita selalu bersama mereka bahkan kegiatan diluar kepramukaan pun seperti jalan jalan ke mall, nonton atau sekedar main apalagi belajar kelompok kita selalu sama sama dan lebih akrab tentunya. Sampai sampai persahabatan kami tidak terputus sampai SMP saja tapi ketika memilih SMA pun kami mempunyai pilihan yang sama sehingga beberapa dari kami kebanyakan pun masuk di SMA yang sama dan juga memilih kegiatan ekstrakulikuler yang sama yaitu Paskibra. Tapi…ketika masuk ke perkuliahan terpaksa aku harus berpisah dengan mereka karena memilih kuliah tentu saja bukan seperti memilih baju atau barang lainnya  karena selain disesuakain dengan kemampuan juga bidang apa yang akan kita ambil kelak nanti ketika kita akan berkarir tetapi juga disesuaikan dengan kemampuan finansial orang tua kita masing masing, akhirnya kami pun tersebar di berbagai universitas walaopun masih satu kota yaitu di kota Bandung.

Dan ketika masuk ke perkuliahan, kejadian seperti yang aku alami sewaktu SMP terulang lagi waktu itu akhirnya aku masuk diperguruan tinggi bahasa dan sastra Inggris di kota Bandung, pada saat semester pertama waktu itu kami sedang mendapat ujian mata kuliah agama, teman disamping aku yang juga sedang mengerjakan soal agama sepertinya dia ingin bertanya sesuatu padaku tapi dia ragu, dan ketika ku tanya, ada apa ? dia menjawab, “gak ini soalnya aku ga ngerti karena aku gak bawa kaca mata jadi tulisan arabnya gak bisa aku baca, tapi aku bingung musti tanya sama siapa karena pengawasnya juga lagi keluar, jawabnya. Lalu aku lihat oh itu di bacanya “Allahu Akbar” jawabku, lalu dia kaget, “lho kok kamu bisa baca huruf arab sih?” aku lebih kaget lagi, lho emang aku bisa kan aku juga soalnya sama seperti kamu, emang kamu pikir aku dapat soal agama apa? lalu dia tersenyum, “ya ampun mar aku pikir kamu bukan muslim…” lalu aku cuma bisa menghela nafas, huff …again?” “emang kenapa? tanya dia lagi, lalu aku ceritakan kejadian yang sama ketika aku masih SMP itu padanya. Dan dia hanya bisa tertawa tawa mendengar cerita aku itu,pun jika kami sedang kumpul di kosan dan mengenang saat saat masuk perkuliahan pertama kali dia pasti akan membasah ceritaku itu. Cerita yang membingungkan tapi selalu berakhir dengan kelucuan.

Aku tahu mereka memang tidak bermaksud membeda bedakan agama yang satu dengan yang lain, semua agama itu baik karena Negara NKRI ini sudah melegalkan keragaman  5 agama tapi karena mereka menghormati keragaman agama yang tentu saja kalo sudah tingkat universitas keragaman agamanya lebih terasa sekali,jadi seolah olah berkesan mereka segan atau mungkin lebih tepatnya lebih berhati hati menjaga ucapan. Jika sedari awal mereka sudah tahu kalo si A agamanya ini dan si B agamanya itu, gaya bercandaan mereka juga jangan sampai menjurus kearah SARA, yang akhirnya akan memecah belah kebersamaan kita sebagai teman perkuliahan karena saat saat kita kuliah itu kebersamaannya pun tidak kalah eratnya dengan masa masa kita di SMP atapun SMA. Apalagi jika kita sama sama orang rantauan atau orang yang sama sama tinggal di kota yang sama dan sedang menimba ilmu ditempat yang sama pula, rasanya seperti ketemu saudara padahal sebenarnya  bukan saudara kandung atau tidak ada hubungan saudara karena sedarah sama sekali, tapi entahlah kebersamaan di perkuliahan itu bener bener aku rasakan. Jadi tidak menutup kemungkinan saat kuliah kita bisa punya sahabat yang berbeda beda agamanya, bahkan di saat kuliahpun aku punya banyak sahabat yang berbeda agama tapi kita bisa akrab tapi kita masing masing lebih saling menghargai dan menghormati keyakinan kita.

Kembali ke masalah nama, setelah kejadian di awal semester kuliah itu akhirnya pada saat liburan kuliah dan pulang ke rumah akupun mencoba membahasanya dengan orang tuaku karena selama ini aku cukup cuek dan tidak mempermasalahkan itu sehingga aku tidak pernah membahasnya atau minimalnya bertanya apapun pada orang tuaku, sebenarnya kenapa sih aku di kasih nama dengan nama yang menurutku cukup bikin bingung teman-temanku selama ini karena tidak pas dengan keyakinanku. “Kenapa belakanya ga dikasih M aja, “MARYAM”  kan lebih sesuai tanyaku pada suatu malam.
Orang tuaku pun akhirnya menjelaskan kalo dulu sewaktu aku lahir orang tua ku kagum pada seorang qoriah yang bernama MARIA ULFA, makanya dipilihlah nama MARIA supaya kelak aku bisa membaca al quran seperti qoriah itu, sedangkan Dinasti itu artinya keturunan dan AGUSTIN nya itu diambil dari gabungan nama mamah dan papahku.”o…jadi itu maksudnya akupun mengangguk angguk tanda mengerti dan cukup puas.

Jadi apapun namanya aku tetap yakin semua orang tua pasti berharap anaknya menjadi seperti apa yang diharapkan seperti orang tua pada umumnya, yaitu anak yang sholeh/sholeha dan berbudi pekerti yang mulia, tetapi menurutku juga akan jauh lebih baik jika nama kita diambil dari nama nama yang sesuai agama kita, bukan berarti aku tidak menyukai namaku yang udah bikin status keyakinanku sedikit membingungkan di mata teman temanku tapi seiring bertambahnya ilmu dan perubahan pandanganku, akhirnya aku berprinsip bahwa akan jauh lebih baik jika nama anak anak ku kelak adalah nama yang memang mencerminkan agamanya agar sejak dia terlahir ke dunia namanya itu akan identik dengan agamanya dan tentunya dia tidak akan direpotkan dengan kebingungan seperti yang dialami ibunya :))
Jadi ketika dulu aku berprinsip apalah arti sebuah nama ?
Tapi kini aku berprinsip nama yang baik memang akan jauh lebih baik jika mengandung arti yang baik pula.                    










0 komentar:

Post a Comment