Breaking News

30 January, 2012

Apakah Salah Menjadi Miskin?


“Apakah salah menjadi miskin?” teriakku yang berdiri di pantai, senja itu.
            Aku yakin, jeritan hati nuraniku itu terdengar oleh beberapa orang yang berlalu lalang di dekatku. Tapi aku tak peduli, aku tak mau melihat sorot mata mereka, yang seakan-akan mengatakan wajahku penuh dengan borok yang dikerubuti lalat.
            Aku memilih untuk berjongkok dan menancapkan telunjukku ke pasir lembek, lalu membiarkan buih air laut membasahi telunjuk dan tapak kakiku.
            “Tak ada yang salah dengan menjadi miskin, Ri!” seru suara lembut di belakangku yang kukenal baik. “Bahkan menjadi miskin itu suatu kemenangan bagi kita.”
            Aku berdiri, lalu memutar tubuhku. Kini di depanku berdiri sosok kecil berpakaian seadanya dengan wajah pucat karena menahan lapar dan tubuh gemetar tapi masih dapat tersenyum manis. Sosok di depanku ini, Ibuku!
“Tapi Bu. Bagaimana dengan pandangan orang-orang di sekitar kita? Mereka selalu menganggap kita remeh, tak punya apa-apa dan tak bisa apa-apa! Mereka bilang kita orang malas yang hanya bisa meminta-minta. Katakan Bu! Sudah berapa lama Ibu menjadi pengemis di pantai ini?” teriakku pada Ibu.
Ibu tersentak. Tubuh kecilnya terhuyung ke belakang sambil tangan kanannya menempel di dada kiri.
“Maafkan aku, Bu!” pintaku cepat.
Ibu menggeleng, dia melambaikan tangan kirinya dan tersenyum.
“Ibu tak apa-apa. Mari kita pulang!”
Aku menggandeng tangan Ibuku, yang tak lagi mempunyai daging, hanya kulit dan tulang saja. Padahal setahuku, Ibu belum lagi memasuki usai 50 tahun, bahkan sebenarnya dia masih berusia di bawah 45 tahun, tepatnya berapa aku tak tahu pasti.
Kami berdua jalan bergandengan menuju ke rumah kami yang berada sedikit di luar pantai. Rumah gubuk beratap rumbia tanpa listrik dengan hanya satu kamar dan satu dipan di dalamnya. Kamar mandi kami berada di luar, dekat dengan batu besar yang menghalangi pandangan orang-orang.
Sepanjang perjalanan, aku menatap hampa dan benci orang-orang yang memandang jijik pada kami. Mungkin dalam pikiran mereka, ada sepasang pengemis yang menggangu mata mereka. Beda dengan Ibu, dia melihat orang-orang di sekelilingnya dengan senyum terukir di bibir rapuhnya. Tetapi orang-orang yang mendapatkan senyum tulus Ibu, malah membuang muka dan terkadang meludah. Sungguh tak punya perasaan mereka semua.
***
Setelah makan malam yang seadaanya, yaitu tiga kepal nasi dan sepotong ikan asin kecil. Aku duduk di tepi dipan, memandangi wajah tua Ibu yang sedang berbaring. Wajah Ibu terlihat semakin bertambah keriputnya.
“Bu, Ibu selalu bilang, bahwa tak ada yang salah dengan menjadi miskin?”
Ibu mengangkat tangannya, memintaku menolongnya untuk bangkit dari tidur. Segera aku gapai tangan Ibu, lalu dengan lembut aku menarik Ibu bangun. Begitu bangun, Ibu mengelus kepalaku. Aku tersenyum, Ibu mengangguk, lalu sinar matanya mengarah ke pahanya yang kecil. Aku tahu, Ibu memintaku untuk menjadikan pahanya sebagai alas kepalaku.
“Bu, harus kah?” tanyaku.
“Turutilah permintaan Ibu sekali ini. Sudah lama Ibu tak membelai-belai kepalamu sambil kamu tiduran di atas paha Ibu. Ibu janji, ini untuk yang terakhir kalinya.”
Terpaksa aku ikuti kemauan Ibu. Ya, apa salahnya membahagiakan Ibu. Walau sejujurnya aku risih. Bukan karena aku sudah besar tapi karena aku tak ingin Ibu kesakitan dengan menahan berat kepalaku di atas pahanya.
“Apakah kamu mau mendengar cerita Ibu?”
Aku mengangguk pelan di atas paha Ibu.
Ibu menarik nafas panjang, lalu membuangnya pelan-pelan. Tiga kali Ibu melakukan itu, lalu suara lembutnya mulai mengalun di telingaku.
“Dahulu kala, hidup sepasang suami-istri yang kaya raya. Si suami tampan dan gagah seperti kamu dan si istri cantik jelita seperti bidadari. Kehidupan mereka begitu indah dan menjadi keinginan banyak orang. Apalagi waktu mereka diamanahkan bayi lucu dalam bahtera rumah tangga mereka. Tetapi….”
Ibu berhenti. Dia menarik nafas panjang sekali lagi. Dan aku melihat ada selaput bening berair di kedua mata Ibu.
“Tetapi mereka mempunyai sikap teramat buruk, yaitu selalu mentertawakan kehidupan tetangga mereka yang miskin, bahkan sampai keluarga besar mereka sendiri yang hidupnya kembang-kempis juga tak luput dari hinaan mereka. Sampai suatu hari datang seorang Kakek yang merupakan tetangga mereka, berkunjung meminta pertolongan.”
“Pasti Kakek itu meminta uang ya, Bu?” potongku.
Ibu menggeleng.
“Kakek itu menanyakan apakah ada pekerjaan yang bisa dilakukannya dengan imbalan sedikit upah untuk dia bisa memberikan makan Cucu-cucunya. Tapi dengan kejamnya sepasang suami-istri tersebut menolak, mentertawakan dan menghinanya. Si suami berkata ‘Apa tak salah kupingku. Badanmu sudah ringkih, Kek. Mana kuat kamu bekerja?’, lalu si istri menambahkan ‘Kami ini bukan dinas sosial atau dinas tenaga kerja, Kek. Tapi kalau Kakek mau, kami akan memberikan sedikit uang karena hari ini kami sedang bahagia’.”
“Apakah Kakek itu menerima penawaran itu?” tanyaku.
“Kakek itu menolak dengan halus, dia berkata ‘Kedatangku kemari bukan sebagai pengemis yang meminta belas kasihan tapi menanyakan apakah ada sedikit pekerjaan yang bisa aku lakukan. Jika Tuan dan Nyonya ingin memberikan aku uang begitu saja, kenapa tak datang berkunjung ke rumahku? Karena itu cara yang lebih baik, di mana seorang yang kaya raya melihat secara jelas dan dekat kehidupan tetangganya atau orang-orang miskin, agar tak tertipu mentah-mentah’.”
“Wah, Kakek itu punya prinsip, Bu!” tegasku.
Ibu tersenyum, tangan kecilnya membelai lembut kepalaku.
“Kamu benar. Tetapi sayangnya, ucapan Kakek itu membuat suasana menjadi penuh kemarahan. Si suami terbakar amarah, lalu dia berkata keras setengah berteriak ‘Sudah enak mau dikasih uang, malah menasehati. Dasar orang miskin yang nggak bisa apa-apa. Apa enaknya menjadi miskin?’.”
Ibu terdiam. Aku terdiam, menanti kelanjutan cerita Ibu.
“Kakek itu menjawab tenang ‘Menjadi miskin bagi mereka yang tak mempunyai keikhlasan dalam hatinya, tentu saja itu memberatkan baginya. Tetapi bagi mereka yang tahu, bahwa miskin itu ialah kesempatan baginya untuk beribadah pada Allah, maka mereka dengan senang akan menerimanya. Karena di Padang Masyhar nanti, orang-orang miskin yang berhati tulus dan selalu mencintai Allah, akan mendahului orang-orang kaya yang dermawan dalam memasuki pintu surga. Apalagi jika dalam kemiskinannya itu, mereka juga miskin dalam melakukan perbuatan dosa. Betapa beruntungnya si miskin itu! Dan betapa enaknya menjadi si miskin’.”
“Wah, Kakek yang bijaksana,” ucapku.
Ibu mengangguk, membenarkan perkataanku.
“Tetapi si suami tak bisa lagi menahan amarahnya. Kupingnya tertutup, hatinya terkunci, hingga dengan kasar dia mengusir si Kakek keluar rumah sambil tangannya menggampar wajah tua yang selalu tersenyum itu.”
“Jahat sekali si suami itu, Bu,” gemasku.
“Ya! Tapi anehnya si Kakek itu keluar sambil tersenyum, lalu sebelum benar-benar keluar dari rumah orang kaya itu, dia berkata lembut ‘Semoga kalian sekeluarga mendapatkan banyak hikmah hari ini dan semoga Allah melindungi kalian’. Sepeninggalan Kakek tersebut, pertengkaran besar terjadi antara si suami dan si istri.”
“Kenapa, Bu?” tanyaku ingin tahu.
“Karena si istri menyadari kekeliruan sikapnya selama ini dan menyayangkan sikap keras si suami. Si suami tetap bertahan pada pendiriannya, bahwa orang-orang miskin itu hanya menjadi benalu bagi kekayaannya. Pertengkaran mereka menghebat. Sampai-sampai si suami tangan kasar si suami mendarat di wajah si istri. Padahal si suami tak pernah sekali pun menganiaya si istri. Si istri berlari masuk ke kamar, dia menangis seharian. Sementara itu si suami malah larut dalam kenikmatan minuman berakohol.”
“Lalu apa yang terjadi selanjutnya, Bu?” tanyaku dengan sinar mata tertarik ingin segara mendengar kelanjutan cerita Ibu.
“Esok paginya, si istri menemukan si suami tergeletak mati dengan puluhan botol minuman keras berserakan di sekitarnya. Kematian si suami membawa duka yang teramat besar bagi si istri, dia kehilangan pegangan hidupnya, nakhoda rumah tangganya, penunjang kehidupan anaknya yang masih bayi.”
Ibu tak bisa lagi menahan tangisnya. Beberapa tetes air matanya mendarat mulus di wajahku. Tetapi aku tak mau menghapusnya dan aku membiarkan Ibu menangis untuk sesaat. Ibu menyeka air matanya, lalu dia kembali tersenyum. Oh, Ibu benar-benar wanita yang mempunyai berjuta-juta senyum.
“Tiga bulan setelah kematian si suami, si istri mendapatkan berita mengejutkan, yaitu berupa pengusiran dirinya oleh keluarga besar si suami. Tanpa bisa melawan, si istri membawa bayinya yang masih kecil itu, hidup mengelandang dari rumah ke rumah mencari pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga. Sempat beberapa kali menjadi korban kejahatan tapi selalu dapat selamat di detik-detik terakhir. Hingga akhirnya terdampar di gubuk tua di tepi pantai bersama Anaknya yang beranjak dewasa. Tetapi si Ibu tak pernah meminta-minta seumur hidupnya dan menekankan pada Anaknya untuk melakukan hal yang sama. Dan itu lah akhir cerita Ibu.”
Aku terkejut mendengar akhir cerita Ibu. Rasa-rasanya cerita itu menyangkut diriku dan Ibu. Aku mengangkat kepalaku dari paha Ibu. Lalu aku berjongkok di depan Ibu yang menangis.
“Bu, jadi sebenarnya si istri itu Ibu dan si suami itu Ayah?”
Ibu mengganguk pelan.
“Oh…,” keluhku. Aku tak percaya, bahwa aku pernah mempunyai Ayah sejahat itu. Lalu kenapa Ibu merahasiakan masa lalu keluargaku. “Jadi Ayahku itu orang yang jahat ya, Bu? Kalau saja peristiwa itu terjadi ketika aku dewasa, aku akan….”
“Hush! Jangan kamu berkata seperti itu. Biarkan kejahatan Ayahmu itu menjadi pelajaran bagimu kelak, agar kamu tak mengikuti jejaknya. Masalah balasan atas kejahatan Ayahmu, serahkan semua pada Allah.”
Aku mengangguk.
“Ibu mengantuk. Ibu mau tidur dulu ya, Ri!”
“Silahkan, Bu! Selamat tidur, mimpi indah ya, Bu,” ucapku sambil membantu Ibu berbaring dan diakhiri kecupan kasih sayang tulus di kening Ibu.
***
Pagi-pagi aku terbangun. Pertama kali yang aku lihat, ialah Ibu. Tetapi ada yang aneh. Ibu tak bergerak sama sekali, dada kecilnya tak terlihat naik-turun. Ada apa ini? Segera aku hampiri Ibu, tanganku menggenggam tangan Ibu. Dingin. Telunjukku mendekati lubang hidung Ibu. Tak ada hembusan nafas yang kurasakan. Ibu meninggal dunia. Ibu meninggalkan aku. Ibu… oh, Ibu....
Aku berteriak. Beberapa orang masuk ke rumah gubukku karena mendengar jeritanku. Tanpa aku beritahu, mereka mengerti bahwa Ibu telah tiada. Tanpa aku minta, mereka bergerak cepat membantu proses pemandian, pengkafanan dan pemakaman Ibu. Hari itu aku sedih sekali tapi aku tak bisa menangis. Yang bisa kulakukan hanya berdo’a untuk Ibu, Ibu terhebat milikku.
***
            Lima belas tahun berlalu sejak kematian Ibu. Aku berdiri di tepi pantai yang sama berteriak kencang.
            “Siapa bilang menjadi miskin itu salah?”
            “Tak ada kesalahan ketika menjadi miskin, Pa. Karena miskin itu anugerah dari Allah,” lantang seorang remaja tampan yang berdiri di belakangku. Remaja itu Ahmad Nur Fattah, anakku. Anak dari si miskin lima belas tahun lalu yang tak pernah meminta-minta pada sesamanya, kecuali menanyakan apakah ada pekerjaan yang bisa dilakukannya untuk mengatasi kelaparan yang dideritanya. Hingga suatu hari, aku bertemu dengan pengusaha yang tertarik melihat keuletan dan kerajinan kerjaku. Sejak itu masa depanku berubah dan sekarang di samping anakku, berdiri sosok lembut nan cantik jelita yang selalu terseyum ikhlas, mendamaikan hatiku. Dialah istriku. Alhamdulillah...betapa Allah telah menunjukkan kuasa-Nya.*


(seperti yang diceritakan seorang sahabat)

0 komentar:

Post a Comment