Breaking News

27 January, 2012

ANUGERAH TERINDAH YANG KUMILIKI


ARCHA BELLA Mau ikutan Emak NARSISnya ibu ketua,mudah2an masuk kriteria.

Kita (aku dan suami),memang masih sama-sama muda ketika menikah dibandingkan usia pasangan menikah belakangan ini,yang mungkin lebih asyik mengejar karier atau ambisi apalah,tapi ya itu tadi,kita tidak mungkin lepas dari campur tangan orang tua ,terutama ayahku yang sangat-sangat terencana dan antisipatif.
Beliau sangat memegang prinsip idealis, seperti cewek sebaiknya menikah sekitar umur 25an,supaya nanti kalau punya anak,bibitnya lebih unggul dibanding yang lebih muda atau terlalu tua, supaya anaknya terencana, sehingga umur sekian sudah stop, supaya anak-anak sudah gede,ibu bapaknya masih belum tua,jadi masih bisa diajak dugem (eleh…kalau ini aku sendiri yang bilang..hihihi),supaya nanti kalau punya cucu,nenek kakeknya (maksudnya kita),masih kuat buat gendong,dsb,dsb.
Huuuft…memang agak ribet sii, secara dulu aku pengennya kerja dulu,kuliah lulus dulu,kariernya mantap dulu,pokoknya yang “ego-ego” gitu deh…

Dan perjuangan terberat sebagai wanita bagiku adalah saat diriku diserahi tanggung jawab sebagai seorang istri,seorang ibu sekaligus wanita karier.

Tidak begitu lama kita menikah dan honeymoon,Tuhan mensukseskannya dengan memberikan sesuatu yang indah didalam tubuhku yaitu baby. 
Masa-masa kehamilan lumayan santai, karena aku memang dasarnya cuek,kadang lupa kalau lagi hamil,secara tetap pecicilan,naik bangunan tua buat ngukur-ngukur ruang .
Sebagai seorang arsitek, sudah memang kerjaannya harus begitu, ditambah  angker pula,karena 3x aku masuk bangunan yang sarang laba-labanya sudah mirip korden dan ketika membuka pintu langsung disergap gerombolan kelelawar seluruh tubuhku, bahkan senter yang kupakai sampai 3x ganti tetap saja mati (kayanya “penunggunya” tidak terima aku acak-acak rumahnya dan itu aku lakukan sendirian!) karena memang bosku profesional,tidak peduli bagaimanapun,job is job.
Dan waktu naik tangga yang terbuat dari kayu lapuk,serta berbunyi kriet-kriet itu,aku harus super hati-hati menjaga keseimbangan badanku yang dibebani janin 6 bulan.
Kok…ya ..ndilalah…pas aku lagi melaksanakan tugas “Horror” itu suamiku yang memang pisah kota sama aku (dia kerja diBandung), telepatinya nyambung,dia telepon aku-mungkin sinyal kebapakannya berdering demi mendengar ada bahaya yang mengintai buah hatinya.

“Lagi dimana dik?”

aku cerita ..bla..bla..bla…

Langsung saat itu juga ,dia menyuruh aku untuk off dulu,alias keluar dari pekerjaanku,karena mungkin naluri seorang bapak,dia tidak mau anak pertamanya kenapa-kenapa, lagipula jauh dari bapaknya dan saat itupun aku masih harus menyelesaikan tesis (S2 jurusan Arsitektur) jadi triple deh..hamil,kerja,kuliah..huuufttt…
Tapi sebenarnya aku sih..enjoy-enjoy aja..cuma orang-orang disekelilingku yang miris melihat aku kaya cowok, kesana-kemari sendirian, nyetir mobil sendiri, manjat-manjat , penelitian, bikin paper, cari data,dll..dll.

Dan akhirnya 9 bulan pas setelah aku menikah, ga pakai lebih..ga pakai kurang..paaaaaas…(heheh…malah nawar…:D) anak pertamaku lahir kedunia.
Kata orang sih,biasanya anak pertama susah ngelahirinnya,cari jalan dulu kek..apa kek…
Tapi kok beda ya..aku gampang banget “ngeluarinnya” secara normal.

Jam 12 malam masih liat “Naked Gun” film komedi di TV,jam 3 pagi pengen (sorry) pup,tapi ga jadi,trus suamiku yang sudah siaga, pulang ke rumah beberapa hari sebelumnya, langsung menyuruh aku cepat-cepat saja ke RS, tapi aku bilang ,"orang ga sakit, ga papa kok", tapi dia sibuk maksa-maksa, akhirnya jam 5 pagi ke RS, mau digeledek pake kursi roda sama suster aku nolak..”Ga usah sus..kaya orang sakit aja “, kataku.

Akhirnya aku jalan, padahal lumayan jauh ke ruang VK (melahirkan).
Kata suster, "Bu,diperiksa dulu ya,kalo masih kecil bukaannya boleh pulang dulu"
(katanya bukaan itu dari 1-10,kalo sudah 10,berarti siap tinggal landas..hihih..jet kaleee?)
Ternyata sudah bukaan 8..(woaaaaa..kok ga kerasa ya sus..hehe dasar badak! :D)

Akhirnya,seluruh keluarga memprediksi paling lahirnya sore,anak pertama gitu lhoh,tapi ternyata jam 8 sudah lahir.
Nha,mulai lahirs aja sudah special,soalnya waktu separo keluar,ternyata lehernya kelilit usus 2 kali,jadi terpaksa brenti separo buat nglepasin baru deh ditarik lagi.
Dokternya sempet rada panik,soalnya waktu diangkat posisi nungging,leher keataswarnanya  putih,leher kebawah merah.
Mungkin karena kurang oksigen akibat kelilit usus tadi.
Diketuk-ketuk kakinya sampai keras banget buat ukuran bayi mungil, tetap saja ga bisa nangis dan ga ada nafas.
Dimasuki selang mulutnya, macam-macamlah,aku cuma bisa melihat saja, mendongak ke samping, sambil masih lemah akibat “pertempuran” tadi.
Kulirik suamiku mukanya panik,dia berusaha menutupi pandanganku supaya aku tidak bisa melihat mereka memperlakukan  bayiku , tapi aku ngeyel,

”Orang ga papa kok,aku ga panik,” sahutku.
(Basically ,dia emang orangnya panikan,atau akunya ya yang ndableg,hehe)

Akhirnya setelah 10 menit yang menegangkan,keluarlah tangisnya yang menggelegar dan nyaring…fyuuuuh…Puji Tuhan,kau selamatkan jiwa bayiku ini.
Masa-masa balita bayi yang kuberi nama “Aurelia TeZa Devinta”dan lahir 2 minggu setelah aku maju sidang S2 (yang artinya Aurel=emas, Teza=aku sedang menyelesaikan tesis,dan Devinta=sempurna - thanx God, S2 yang harusnya selesai 2 tahun di salah satu PTN,aku rampungkan 1 th, cumlaude dengan nilai nyaris sempurna), lumayan ribet juga.
Sepertinya dia tipe keras kepala- (kaya emaknya..hush!:P) , harus menggendong sampai 3 jam untuk meninabobokan, super duper aktif, dll.
Dan perkara mengurus anak pertamaku ini bukannya mudah,bisa dikatakan menguras energi dan pikiran.Berulangkali aku keluar masuk lembaga psikologi.Berkonsultasi dengan beberapa psikolog baik dikotaku hingga ke ibukota,karena keunikannya .
Umur 8 bulan sudah bisa mengucapkan kata dengan jelas , umur 1,5 tahun huruf A-Z sudah hafal luar kepala,dan 2 tahun sudah lancar baca.
Yang bikin kami terheran-heran,daya ingatnya yang tajam.
Kalau diajak ke Time Zone,atau arena rekreasi , dia selalu menceritakan detail satu-persatu.
Aku ingat,waktu umur 2 th,di TimeZone,dia naik mainan helicopter,terus sampai rumah,eyangnya bertanya., “Aurel,tadi naik apa...?”
“Tadi aku naik helicopter,warnanya merah,diatas ada lubangnya,bentuk oval,tombolnya 4,warnanya...” bla..bla…ada ininya,itunya,sedetail-detailnya.

Aku saja ga meperhatikan..setelah aku cek di kamera,ternyata..ya ampun…bener semua….
Belum lagi kalau lihat iklan di film,dia hafal kata-katanya baik bahasa inggris maupun Indonesia, plus gerakannya.Agak-agak amazing si dalam hati.
Walaupun begitu ada juga kekurangannya,kami hrs ekstra sabar menghadapi anak model begini,mungkin kalo ada transplantasi usus,aku mau daftar pertama kali,biar ususku tambah panjang dan tambah sabar..hehehe…:P
Dia tidak bisa dikasih tahu secara anak-anak, harus bener-bener logic seperti ngomong sama orang seumuran kami….pssst..selalu aja punya argument yg membuat aturan kami mental..dan itu nalar juga…
Akhirnya karena kami cepet emosi demi menghadapi dia yg “special” itu..suatu hari aku ikut seminar tentang anak,ketemulah aku dengan pakar psikolog yg sudah terkenal diIndonesia,dan sering jadi pembicara dimana-mana.
Beliau merekomendasikan supaya Aurel dites di psikolog sekaligus mengedukasi kami cara menghadapi anak model begini biar tidak jengkel melulu.
Akhirnya,kami bikin janji ditempat psikolog cukup terkenal dikotaku untuk ngetes sebenarnya gimana siii solusinya?

Tes dibagi 3 tahap,dengan level-level yang sudah ditentukan semakin lama semakin sulit,waktu itu umurnya 3,5 th.Setelah beberapa hari,keluarlah hasilnya dan ternyata,tes menunjukkan kalau Aurel harusnya masuk kelas 2 SD…waaaa???
Dan,kami harus memposisikan 99% sebagai teman baru 1% sebagai orang tua.
Yup!kami dapat pembelajaran baru dari seorang anak,supaya lebih sabar,lebih bijaksana,membimbing anugerah Tuhan yg begitu istimewa ini.
Akhirnya dia masuk sekolah lumayan termuda dengan prestasi yang cukup membuat terheran-heran,dan waktu TK bbrp waktu lalu dia pertama kalinya ikut lomba bahasa Inggris,dan ga diduga dapat juara 1 mengalahkan International School dan sekolah-sekolah lain yang pendidikannya bilingual.It’s really a miracle for us.

Beda yang pertama,beda pula yang kedua.

Ini pengalamanku memperjuangkan “lepas landasnya” anak yang kedua.

Eng..Ing..eng..
Seperti yang kuceritain sebelumnya,kalau melahirkan anak pertama lumayan gampang,anak kedua yang kebetulan cowok ini,ya ampyuuuuun…totally different!
Dari hamil trimester pertama sampai ketiga cukup dibikin “repot”.
Beda pas hamil Aurel yang “gagah berani” dan cuek,tidak pakai muntah waktu hamil dan mual-mualnya jarang.Anak kedua ini,pakai mual-mual dashyat dan muntah beberapa kali.Belum lagi ditambah “jiwa petualanganku” yang sok2 pengen naik Bis waktu hamil 6 bulan dari Jogja ke Semarang (padahal yang lainnya naik mobil,aku keukeuh,pulangnya mau naik bis aja ah…) dan inilah “penderitaan” semakin menjadi-jadi.Setelah naik bis itu sampai mau melahirkan,bokong sampai telapak kaki sisi kanan sakitnya minta ampun,aku yang terkenal badak nih,sampai nangis dibuatnya,saking sakitnya,puegel,kram,kesemutan jadi satu.

Sudah dibawa ke tukang pijet,minta suplemen penguat,kalsium ke dokter,tetap saja sakitnya ga ketulungan,sampai kalo bangun dari duduk harus dipapah.
Masih pula ditambah aktivitas nungguin Aurel sekolah,sampai 1 hari menjelang hari melahirkan.Dan alhasil,karena kecapekan,besoknya sekitar jam 2 dini hari,pecahlah ketuban,tau-tau basah disprei.Tapi ga merasa sakit sii.
Ibuku yang panik,langsung telepon aku supaya buru-buru ke RS,sebelum kering airnya.
Akhirnya meluncurlah aku ke RS,sekitar jam 4an pagi.
Suster-susternya ternyata masih mengenaliku yang “lumayan tersohor” gara-gara tahan banting kisah Aurel kemarin.
Akhirnya aku cuma disuruh berbaring diranjang,ga boleh kemana-mana,soalnya ketubannya sudah pecah.
Aku pikir ini kaya kejadian Aurel,paling sebentar lagi jam 8 sudah lahir,tinggal tunggu waktu.Aku tengok kiri(walaupun dibatasi korden tebal,tapi masih bisa dengar),pasiennya lagi aduh-aduh..melenguh,melenguh…(dalam hati."Hhihihi..gitu aja mengeluh,ga tahan ya " #senyum licik :P)
Sementara suster-suster yang pada mengecek detak jantung babyku bilang,"Wah kalo ibu siii kuat ya buuu,?"
"Hehehe..lumayan sus.." (sombong MODE ON :P)
Tengok kanan,pasiennya lagi nunggu dokter buat dicaesar.
Aku bilang ke suster,”Sus ..ini nunggu apaan?dokternya sudah dihubungi?”

“Sudah bu,nanti dikasih arahan kok,dalam perjalanan”,katanya.

Sampai jam 9, diperiksa,bukaan masih 2 melulu,mana perut sudah mulai senut-senut.

“Trus nunggu apa sus?”

Akhirnya,susternya dapat telpon dari dokter supaya aku diinduksi alias diinfus supaya bayinya cepat keluar,keburu air ketubannya kering kerontang malah lebih sulit.Dan inilah detik-detik yang “mematikan” bagiku.
Sebenarnya sii,ga mau cerita,takut bikin calon ibu-ibu pada phobia,tapi gapapa lah,itung-itung sharing pangalaman,toh ga semua nasibnya kaya aku.heheh(ngayem-ngayemin MODE ON).
Setiap tetes infuse yang kulihat dari botol infuse,mengindikasikan semakin sakitnya perutku, bahkan 10 x lipat lebih sakit daripada waktu nglairinnya, usus rasanya kaya mau ditarik-tarik..huuufttt.
Aku yang biasanya ga tahan sakit,jebol juga pertahanannya untuk ga teriak teriak,akhirnya,teriakanku justru lebih keras dari pasien yang aku cemooh tadi.

Susteeeeeerrrrrr,panggil dokternya suuuuuusssss..cepeeeet!!!!!!Lama bangeeeeeeet!!!!!!Sekaraaaaaanggggg!!!!!Cepeeeet!!!!ayoooooooo!!!!!!!!!!!!!!!
Pokoknya sudah kaya preman mau nyerbu pasar,teriak-teriak ga ketulungan sampai orang-orang yang menunggu diluar ruang VK pada ngintip-ngintip (jadi malu,aaah biarin!sakit nieeee!!!-sampai tiang infus sudah mau aku angkat dengan gaya HULK)

“Bentar bu nunggu 6 jam..”

“Waaaakkkkks…dari jam 9 nunggu 6 jam!!!!!O..my Gosshhhh!!!!”,batinku histeris.

Suamiku sampai ga kuat lihat aku melolong-lolong,sudah hampir memutuskan untuk disesar saja.
Jam 10an aku disuapi my hubby nasi supaya ada tenaga buat ngejan,aku tepis piringnya,sambil ngamuk-ngamuk,
“Udah tau sakit kok malah disuapin!!!”(sorry honey..:P),untung dia sabar,qiqiqi…


Akhirnya jam 3 siang dokternya datang ,
"..woaaaaa…lamaaaa amiiiirrr @#$%^%$%^^%,grrrrrhhhhhhmmm!!!!!!!!!!"

Masuk ruang sambil bilang. “Sudah bu,kalo mau ngejan,ngejan aja,sudah…”

Sementara susternya geleng-geleng sambil bisik-bisik,

“Belum dok,masih bukaan 7,belum sempurna.”

Tapi dokternya mungkin sudah kasian (atau ga tahan ya denger suaraku yang berisik kaya kaleng rombeng..hihihi),

“Sudah gapapa,suster bantu.”

Akhirnya 2 suster disisi bawah dekat kakiku,dokternya ditengah,siap menangkap “jet”,hehe, 2 lagi disisi lengan kanan dan kiriku,langsung seeetttt,1 suster ngambil bantalku,dia naik keranjang,pahanya dia letakkan kepalaku buat sandaran (NB:susternya cuantik2 dan muda2…gleg!hush!)sambil sikunya mendorong perutku kearah bawah.
Pokoknya jadi seperti selamatan-kendurian,hehe,dikerumunin suster 5 sama dokter 1…hihihi…(masih kebayang wajah dokternya yang sekuat tenaga mencoba mengeluarkan baby pada bukaan yang belum sempurna).

Akhirnya keluarlah my baby,lumayan besar,dan setelah itu sama sekali ga terasa sakitnya.
Plong banget.Untung dokternya sabar,menenangkan,dan suka becanda,jadi lumayan menghibur.
Dia sempat bilang,
“Memang nglairin cowo lebih susah daripada nglairin cewe ya sus,,”,katanya.
“Ooooo..jadi begitu ya?pantesan cowo jumlahnya dikit.hehehe...:P”

Thanx God,akhirnya selesai sudah penderitaanku diganti kebahagiaan. Yesh!

Dan kami beri nama:Adrian ENRICO Dibyantara,lahir menjelang detik-detik Proklamasi.(ini ga pake sesar lho pak SBY,hehehe)#nyindeeer.com

Trus,apa yang dilakuin suamiku??Melupakan istrinya dan sibuk memotret..weleh2..:(

Dan sekarang demi merawat kedua buah hatiku yang memang butuh perhatian ekstra karena keunikan mereka (karena anak keduaku pun tampaknya serupa dengan kakaknya,yang aktif cepat tanggap dan hafal semua lagu-lagu trend jaman sekarang,padahal baru 2,5 th).Aku dengan tulus tidak memproritaskan pekerjaanku sebagai seorang arsitek seperti dulu.Walaupun dikala malam aku masih menerima job dari suamiku untuk membantu menggambar proyek-proyeknya karena dia bergerak dibidang kontraktor.Tengah malam masih sibuk berkutat dengan menulis karena aku cinta menulis,walaupun masih berupa blog yang syukurlah digemari oleh banyak orang dan mengganjar diriku dengan platinum berlian karena memenangi juara ketiga dalam kontes blogger,dimana juara pertamanya jatuh ke orang Denmark.Pagi tetap dengan setia bangun pagi mempersiapkan segala sesuatu menjelang anak-anak kesekolah dan bapaknya anak-anak ke kantor.Memasak sendiri karena memang tidak punya asisten pribadi.Huufft,untungnya masak adalah hobiku, dan siangnya untuk menyalurkan kecintaanku akan musik,aku menjadi guru les piano,keyboard dan electone.

Banyak kejadian menarik yang kudapat,selama bergelut dalam pekerjaan diluar kemampuan yang kumiliki lewat pendidikan formal.
Banyak pelajaran yang kupetik bahwa keahlian dibidangku bukan satu-satunya yang bisa kusandarkan.Betapa takjubnya aku ketika mengajari piano seorang anak autis,karena dia begitu cerdas dan responsif terhadap nada.Diriku seolah tersadar bahwa curahan perhatianku pada anak-anak dan sekelilingku,rumah tanggaku ternyata lebih berarti daripada aku harus meratapi nasib dan berkeluh kesah karena tidak dapat bekerja seperti dulu lagi.Hidup adalah proses,dan aku masih akan terus berproses untuk meningkatkan kualitas hidupku ditengah-tengah orang yang kucintai penuh rasa syukur.



0 komentar:

Post a Comment