Breaking News

17 January, 2012

ANTARA ESEM DAN ESEMKA


Seminggu ini berita di koran maupun televisi tak henti beritakan mobil buatan anak-anak SMK. Sebenarnya hal itu bukan yang luarbiasa, karena salah satu matapelajaran mereka yang mengambil jurusan otomotif, tentu saja membuat mobil dan sejenisnya, sudah dirintis berpuluh tahun yang lalu. Lalu apa yang membuatnya istimewa?

Ya, Joko Wi, sang walikota "pujaan" masyarakat Solo. Entahlah untuk sekarang, segala sepak terjangnya seolah jadi sorotan. Padahal kalau mau dirunut, sekelas Menteri yang berkunjung ke SMK bahkan Presidenpun beri apresiasi pada anak-anak SMK atas buatannya sudah bukan barang baru lagi, bahkan ya diliput media massa, tapi ketika Joko Wi menaiki mobil itu dan menjadikannya mobil dinas, masyarakat yang dikompor-kompori media khususnya televisi, langsung ribut. Seolah tersentak kaget, terbangun dari tidur panjang, kalau sebenarnya anak-anak bangsa, bahkan baru SMK sudah mampu rakit mobil sendiri dengan harga murah, padahal bertahun-tahun lalu jerih payah mereka tak banyak dilirik masyarakat.

Walikota ini memang sangat fenomenal. Saya sangat bangga kepadanya. Padahal sebenarnya secara KTP saya warga Sukoharjo, namun secara teritorial sangat dekat dengan Solo. Untuk sampai kerumah Pak Wali, cukup 8-10 menit. Sedang untuk sampai kerumah dinas bupati Sukoharjo, membutuhkan waktu 30-45 menit. Dan sstt,..nama Bupatinya saya malah lupa, teringat saat pemilihan Bupati Sukoharjo, saya kebingungan untuk mencoblos siapa, karena tak kenal dan semua tak ada yang buat prestasi, kalau sensasi tertangkap berjudi dan minum-minuman keras ada. Kutanya suami yang dipilih yang mana? yang pakai caping apa peci? sambil mendekat suami dibilik sebelah. "Hayo,..bu Candra dilarang nyontek pilihan suami,.." kata pak Ketua RT. Saya kaget dipanggil, dan kami semua tergelak,..

Buat saya, sosok Joko Wi, ini dekati sosok pemimpin yang ideal. Ia menjauh dari korup dan politik uang karena sebelumnya Ia suka kaya karena seorang  pengusaha. Ia sosok pemberani, tak takut dikata berbeda dengan pemikiran atasan, dan ungkapan "asal bapak senang,.." yang dulu jadi jargon pemimpin dimasa ORBA jauh-jauh ditendangnya.Hampir seluruh masyarakat ingat saat Ia berseteru dengan Gubernur Jawatengah soal pembongkaran cagar budaya untuk di rombak sebagai hotel berbintang lima dan pusat pembelanjaan megah.  Pak Wali ini menentang habis rencana pimpinannya itu, dan sepertinya genderang perang seolah tertabuh. Dan masih segar dalam ingatan ketika satpol PP yang ber"gelut" dengan warga dan pedagang ditempat lain, sampai menimbulkan korban jiwa dibeberapa daerah tak menjadi soal dikota Solo? mengapa demikian? karena Pak Wali, menerapkan prinsip dialog langsung dengan mereka, digiring ditempat teduh sambil makan sego kucing dan wedhang jahe, sambil berbincang hangat, apa yang mereka ingin dan apa yang dimaui pemerintah kota. Hingga Ia ternominasi jadi Walikota teladan dan mengharuskan berbicara didepan walikota  dan kepala daerah se-Indonesia untuk mencontoh cara-caranya.

Ketika berkuda dengan gagahnya disepanjang jalan protokol dengan pakaian adat saat pawai festival budaya berlangsung , telah menunjukan kepeduliannya terhadap pariwisata Solo,..habis-habisan kota yang dulu senyap dengan acara dan festival daerah, menjadi riuh dan meriah. Namun apa daya ketika Media Massa begitu getol beritakan keperpihakannya terhadap produk lokal dan menghargai pekerjaan anak-anak SMK, Pemimpin Daerah lainnya mulai mencibirnya. "Aha, kalau barang yang masih 'jelek' itu saya belum mau memakainya,."kata seterunya. Lain lagi pemimpin wilayah ibukota ini, tak sadar di'adu' oleh wartawan . Dengan sewot bapak berkumis itu mengatakan:"cuma mobil aja ribut, tuh anak SMK Jakarta lebih te-o-pe alias TOP karena berhasil membuat pesawat, yang ada di Jakarta Utara, atau dimana saya lupa (terlihat gagap). Nih Note book-ku juga buatan anak2 SMK sini, saya tak teriak-teriak sama sampeyan (wartawan) karena saya tak bisa jualan kayak dia (walikota Solo),..

Mulut saya yang terbengong berubah jadi Esem (senyum) sangat,..sangat geli melihat perhelatan yang disuguhkan oleh para pemimpin negeri ini. Kenapa tidak mereka mengakui dengan positif ide pemakaian suatu buatan dalam negeri yang dibuat anak-anak bangsa sebagai sebentuk penghargaan kepada mereka. Kenapa mulut jadi kaku, dan malu tuk sebut :"memang ide itu adalah ide yang baik, semoga ditiru oleh yang lainnya saya salut,." seperti sedang kalah set, dalam pertandingan Badminton. Bila itu dilakukan, tak membuat wartawan semakin senang ekspos runcingnya iri dengki diantara mereka. Apalagi mendengar pak Joko Wi, akan dicalonkan sebagai presiden masa datang, setelah wacana  dicalonkan jadi Gubernur DKI Jakarta, oleh beberapa kelompok. Katanya dengan tenang,.."Aku ora pantes dadi Gubernur DKI apa neh Presiden, terlalu ngoyoworo (berlebihan), secara prejengan (bentuk badan, muka) pantesku dadi ketua RT saja,.."
Ihik, pak Joko Wi, aku jadi teringat saat awal sampeyan jabat jadi Walikota Solo. Memang secara postur kami liat memang jadi gamang, bagaimana tidak. Seorang yang tinggi, kurus, berwajah tirus rambut yang selalu klimis, dan berbicara yang tak meledak-ledak,..seolah memang seperti juru tulis dikelurahan. Namun jangan tanya, secara prestasi sampeyan itu luarbiasa, jabat tuk kali kedua tanpa banyak cela, duta perdamaian dengan Malaysiapun juga engkau emban. Namun sungguh tak ada gading yang tak retak. semuanya harus berusaha keras tuk wujudkan mimpi negara ini menjadi lebih baik, meski harus dimulai dari kota kecil Solo ini. Jadikan terus kami bangga Pak Wali. Semoga jadi pemimpin amanah dan selalu lurus,..

Sukoharjo,.(meski senang disebut Solo), 13 januari 2012
Dari penganggum rahasianya pak Joko Wi...Bu candra

0 komentar:

Post a Comment