Breaking News

25 January, 2012

AL-FARREL GHAZALI SHOLATAR.


Mengenang sepuluh tahun kepergian malaikat kecilku. Semoga  catatan kecil perjalanan hati ini bisa bermanfaatJ))

“ I see the angels. They smile at me”
“ I see the heaven, It welcomes me”
“ I see my mom and Dad, They cry for me”
(in memoriam, Al-Farrel Ghazali Sholatar, July 3rd 2001)

AL-FARREL GHAZALI SHOLATAR

 Nama itu kupersiapkan di tujuh bulan kehamilanku ketika sang dokter memperkirakan anak pertamaku adalah laki-laki. Top guy!  Takjub sekali melihat janin yang bergerak-gerak aktif dalam perutku melalui layar monitor USG.  Excited, bahagia sekaligus terharu membayangkan sebentar lagi aku akan menjadi seorang ibu! Hebat!

Banyak persiapan kulakukan menjelang kelahiran Farrel. Mulai dari menyiapkan nama, mengkonsumsi makanan sehat, mempersiapkan popok, tempat tidur, mainan berwarna-warni hingga mengikuti beberapa mitos-mitos para orang tua jaman dahulu sebagai ajang protective tingkat tinggi bagi keselamatan si jabang bayi.

“ jangan lupa bawa gunting ya kalau keluar malam.” Inget, perempuan hamil jangan suka ngomong sembarangan, nanti kualat.” Magrib harus ada didalam rumah.” Jangan berdiri di pintu, nanti bayinya susah keluar.”

Dan sejuta petuah lainnya. Wah, pokoknya ribet deh. Tapi dengan senang hati kulakukan semuanya tanpa banyak protes walau kadang aku tidak menemukan korelasi antara petuah itu dengan kenyataannya.

Jika penelitian membuktikan musik klasik bisa meningkatkan kecerdasan anak, aku lebih memilih ayat-ayat suci Al-Quran untuk kudendangkan. Aku begitu berharap wajah Farrel akan bersinar dan setampan nabi Yusuf. Dalam bayanganku, Farrel adalah bayi lucu berpipi gembul, berambut keriting kriwil, dengan mata sedikit sipit dengan alis tebal seperti ayahnya. Wah lucunya!

It was July 3rd 2001. Tiga hari lebih cepat dari perkiraan dokter, perutku mulai bereaksi. Flek merah penanda terbukanya mulut rahim membuatku merasa bersemangat. Dalam hitungan jam, Farrel akan keluar! Rasa excited yang begitu tinggi membuat aku lupa akan rasa sakit. Fearless pregnant lady! Aku bahkan tidak khawatir dengan ucapan ibu-ibu di daerahku yang mengekspresikan proses kelahiran dengan begitu berlebihan.

“ Duh, saya tuh ya, sehari semalem lho ngeluarin si dedek. Susah banget! Anak pertama sih."

“Eh iya, saya malah lebih parah bu, sampai pendarahan segala !”

Ada rasa getir membayangkan ucapan mereka. Tapi aku tetap tak perduli. Dalam buku kehamilan yang sering kubaca, semakin aku merasa sakit maka  akan semakin lebar pula mulut rahim yang terbuka. Lebih cepat terbuka berarti lebih cepat Farrel hadir dalam kehidupanku. Aku harus semangat!

Jam menunjukkan pukul 8.00 pagi saat sang bidan mulai menyuruhku mengejan. Rasa sakit luar biasa hilang timbul terasa pada bagian pinggul. Sakit! Sakit sekali! Seperti ribuan tangan besi meremas dan siap meremukkan tulang-tulangku. Mungkin inilah rasa sakit yang diekspresikan ibu-ibu itu.

Hebatnya aku tidak menjerit. Aku tidak menangis. Aku hanya terus berzikir memohon pertolongan ALLAH. Sesekali mengatupkan rahangku kuat-kuat saat rasa sakit terhebat menderaku!

 Jarum jam mulai berpindah tempat. Angka delapan menuju kesembilan, sepuluh, sebelas dan hampir keduabelas. Empat jam sudah aku bertarung. Farrel tak jua kunjung keluar.

 Aku mulai putus asa. Tenagaku hampir habis dan pandanganku pun mulai berkunang-kunang.

 “Umi gak kuat bi.”

Aku mengucap lirih pada sosok yang setia mendampingiku sedari awal persalinan. Suamiku.

 “Kuat! Umi harus kuat! Untuk Farrel mi!.”

 Remasan keras jemari suamiku mengisyaratkan kegalauan. Ada ketakutan disana. Tapi aku memang lelah! Aku tidak lagi memiliki tenaga untuk mengejan. Aku ingin menyerah. Tapi bayangan wajah Farrel menari-nari dibalik mataku yang sesaat terpejam.

Aku harus berjuang!
 Aku harus bisa!
Aku harus bertemu Farrel segera!

Kukumpulkan sisa-sisa tenaga. Tanganku bergerak menyentuh perut yang sedari tadi masih juga membuncit. Aku berbisik pelan, hampir tak terdengar.

”Farrel..bantu Umi sayang..”

Ajaib! Seperti tau apa yang kurasakan Farrel benar-benar bereaksi! Aku merasakan tekanan keras pada perut bagian bawah yang membuat aku mengejan lebih keras!

Bertepatan dengan adzan dzuhur, Farrel lahir!

ALLAHUAKBAR!

 Kukumandangkan asma ALLAH, bersyukur atas lahirnya Farrel. Hilanglah semua rasa sakit, keletihan dan keputusasaan. Aku bahagia! Para suster sibuk membersihkan kotoran-kotoran sehabis melahirkan juga mengeluarkan ari-ari dari dalam rahimku. Aku masih menunggu. Menunggu sang bidan mengijinkanku mendekap Farrel. Ah Farrel..

Lima belas menit berlalu. Seharusnya Farrel sudah selesai dibersihkan. Seharusnya aku mendengar tangis Farrel pada saat dia dibersihkan tadi. Seharusnya Farrel sudah diijinkan untuk bersamaku. Tapi kenapa begitu lama? Ada apa dengan Farrel? Ada apa denganku? Seribu pertanyaan berkecamuk dalam pikiranku.

Ratusan jam selama sembilan bulan kuhabiskan hanya untuk menunggu hari ini. Tapi kenapa belum juga aku bisa melihatnya? Seribu pertanyaan yang bergaung dibenakku terjawab saat suamiku masuk dan menggenggam jemariku. Galau. Lebih galau dari sebelumnya. Matanya memerah. Ada yang salah disini. Ada yang tidak beres dengan Farrel! Tapi apa?!!

“Mi…ikhlasin Farrel..”

Suara itu bergetar. Getaran atas pedihnya hati yang tengah terluka.

Aku terkesima!

Itulah kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan apa yang aku rasakan. Pikiranku kosong. Hatiku kosong. Jiwaku pergi entah kemana. Aku hanya mampu tertegun. Terus tertegun. Tidak ada airmata di pipiku. Karna aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Hatiku hampa….

AL-FARREL GHAZALI SHOLATAR.

 Nama itu terukir indah. Tapi bukan pada lembaran kertas crepe warna-warni yang biasa dipakai sebagai penghias telur pada hari aqiqah. Tapi pada batu nisan. Batu nisan penanda telah terkuburnya impian-impian indahku bersama Farrel.

Aku menangis. Kali ini aku benar-benar menangis. Teringat para kerabat bercerita betapa tampan wajah Farrel. Persis. Persis seperti yang kupinta kepada Tuhan. Bayi lucu berpipi gembul, berkulit putih, berambut keriting dengan mata sedikit sipit dengan alis tebal seperti ayahnya.

Aku kecewa, marah, sedih, benci. Kecewa pada takdir. Marah pada keadaan. Sedih pada kehilangan. Dan benci dengan kenyataan. Ada sejuta kata mengapa yang terus bergaung dalam benakku. Mempertanyakan kasih sayang Tuhan yang DIA berikan dengan cara yang menyakitkan. Mempertanyakan kesempatan untuk menjadi ibu yang baik Farrel yang tak pernah terwujud.

ASTAGFIRULLAH.

Aku tersadar, tidak seharusnya aku seperti ini. Tidak seharusnya aku menyalahkan keadaan, menyalahkan takdir Tuhan. Seharusnya aku ikhlas pada setiap takdir yang Tuhan berikan dalam hidupku. Semua pasti yang terbaik.

Layaknya seekor kupu kupu yang tidak pernah tau warna sayapnya, tapi semua orang tau betapa indahnya dia. Sama seperti  setiap manusia yang tak pernah tau indah dirinya. Tapi TUHAN  tahu betapa istimewa kita dimataNYA ketika  taat dan ikhlas mampu membalut setiap luka. Ketika senyum terus terkembang dalam masa sukar, tegar dalam ujian dan tetap teguh dalam Iman yg kita miliki.....





















0 komentar:

Post a Comment