Breaking News

31 January, 2012

Aku Tak Punya Ibu


 

Kata siapa ibu itu perempuan berhati lembut? Siapa bilang ibu itu wanita yang merelakan apapun demi anaknya? Ibuku tidak.
Ibuku jahat. Dia meninggalkanku sendiri di rumah ini. Kupikir tadinya ia hanya akan pergi ke tempat kerja seperti biasa. Tapi ternyata tidak.
Harusnya aku tahu dari gelagatnya. Ibu bukan hanya membawa tas cangklong yang biasa dipakainya tiap kali bekerja. Hari itu dia juga membawa tas jinjing besar.
Semalaman kulihat ia memasukkan apa pun ke dalam tas warna hitam itu. Isi lemari, laci, semua dimasukkannya dengan cepat. Aku tak bertanya. Aku mengantuk malam itu. Bahkan aku tak tahu apakah ibu sempat menciumku atau tidak saat pergi.
Pagi hari aku terbangun. Sepi. Kulihat ruangan sama seperti tadi malam. Pintu lemari terbuka. Isinya kosong. Baju ibu tak ada satu pun. Bajuku ada di dalam keranjang di sampingku. Penuh.
Hari makin siang ibu tak juga kelihatan. Ke mana ya? Perutku perih. Seandainya aku bisa berjalan, sudah dari tadi aku bangkit dari kasur ini. Umpama mulutku bisa bicara, aku sudah meneriakkan nama ibu berulang-ulang.
Aduh perutku makin melilit. Ini kenapa lagi? Ah, aku mengompol. Tuhan, ibuku ke mana sih?
Emak Ipah mencubit kue talam lalu menyuapkannya padaku. Enak, manis. Aku suka. Eh, bagaimana ya supaya Emak Ipah tahu kalau aku mau lagi? Ah, kugerak-gerakkan saja kepalaku. Hanya itu bagian tubuhku yang tidak lumpuh. Berhasil! Emak Ipah kembali menyuapkan kue talam. Padahal dia sedang diwawancarai awak televisi.
Sejak pagi ada saja orang yang menyatakan diri sebagai wartawan datang ke rumah Emak Ipah. Mereka mengambil gambar video, foto, mengobrol dengan Emak Ipah. Aku tak mengerti pembicaraan mereka. Aku hanya menurut saja duduk di sampingnya, menyandarkan kepalaku di pangkuannya. Memangnya apa yang bisa kuperbuat, anak lelaki sembilan tahun berbadan lumpuh dan tak bisa bicara..
"Yusuf bukan anak Emak, bukan juga cucu Emak. Dia anak tetangga yang pernah ngontrak di situ tuh," kata Emak Ipah menunjuk satu petak rumah tempat aku ditemukan terkulai kelaparan bersimbah air ompol dan tinja di atas kasur butut delapan tahun lalu.
"Emak nggak tahu ke mana ibunya pergi. Nggak ada yang lihat warga sini juga si ibunya pergi," tambah Emak sambil mengelus kepalaku. Ah, nyamannya.
"Kalau bapaknya sih dari dia belum lahir juga udah pergi. Nggak tahu juga kita ke mana perginya. Dia nggak pernah kelihatan lagi." Lalu ia memandangiku dan tersenyum lirih.
"Emak kasihan sama Yusuf. Dikirain mah ibunya bakalan balik lagi. Tapi eh udah berapa tahun ya ini?” tanyanya pada Aki Jubed, suaminya.
"Dalapan," jawab lelaki tua itu singkat. Aki memang tak banyak bicara. Bukan karena gagu sepertiku tapi memang pendiam.
"Tuh dalapan tahun masih we begini nggak pulang-pulang. Kan kasihan Yusuf nggak ada yang ngurus. Mana anaknya begini lagi," ujar Emak Ipah sambil mengelap matanya dengan lengan baju lusuhnya.
"Emak mah cuma mikirin gimana kalau emak sama aki udah nggak ada. Yusuf mau sama siapa da emak sama aki nggak punya anak," isaknya.
Emak Ipah dan Aki Jubed menjadi orang tuaku sejak aku ditinggal pergi ibu. Suami-istri renta ini bukanlah orang kaya. Mereka buruh tani. Tapi mereka punya cinta yang indah untukku. Aku juga mencintai mereka.
Lo kok kue talamnya cuma dipegang aja sih, Mak? Aduh om-om dan tante-tante wartawan ini mengganggu acara makan kue talamku saja deh. Kugoyang-goyangkan lagi kepalaku. Satu cubitan kue talam masuk lagi ke mulutku. Enak.

Jakarta, 9 Mei 2011
*diilhami secuplik berita di televisi tentang Yusuf, penyandang cacat mental dan lumpuh di sebuah desa di Garut, Jawa Barat. Sejak usia satu tahun ia dibuang orang tuanya kemudian dibesarkan tetangganya*


0 komentar:

Post a Comment