Breaking News

01 February, 2012

Aku Si Keras Kepala

 
Gatel pengen sharing....

Aku hampir sampai pada tahap kesadaran akan tujuan hidupku yang sebenarnya di dunia ini. Dimana telah datang pemikiran bahwa kehadiranku di dunia ini bukanlah untuk kepentingan diriku sendiri.
Kesadaran bahwa tugas manusia di dunia adalah untuk bermanfaat bagi orang lain. Bukan untuk memenuhi hasrat diri sendiri.
Kesadaran bahwa kita tidak boleh terus menjadi diri sendiri, tetapi harus berubah menjadi orang lain. Yang lebih baik.

Sejak dulu kebahagiaan tidak pernah datang dengan mudah. Dia seringkali terlambat datang, setelah melalui jalan berliku dan berbatu terjal yang menyakiti jiwa dan raga. Untuk mencapai suatu keinginan, seringkali aku harus berjuang berkali-kali lebih keras dibandingkan orang lain. Seringkali aku berpikir "Kenapa oranglain begitu mudahnya mendapatkan apa yang mereka inginkan?"

Hingga pada suatu titik, aku berbalik melawan. Tak lagi kupilih jalan yang mudah. Aku percaya, kebaikan selalu melalui jalan yang lebih sulit dibandingkan keburukan. Kupilih jalan yang berliku, berbatu tajam, yang seringkali nyaris tanpa ujung, yang tertatih-tatih kutempuh, menahan perih dan sakit hati. Tak kuhiraukan cemoohan dan tatapan kasihan oranglain.

Kekeraskepalaanku membuahkan hasil. Hasilnya, tahun pertama aku berjilbab, aku tak lulus mata kuliah praktikum, karena dosen yang antipati padaku. Untuk tugas akhir, kupilih dosen yang tersulit, dan akhirnya aku lulus (hampir) terakhir dibanding teman-teman sekelasku. Belum lagi 'bumbu-bumbu' seperti patah hati berkali-kali, nyaris kehilangan sahabat baik, sampai perjuangan mengumpulkan rupiah untuk makan sehari-hari dengan memberi les privat. Begitu banyak tawaran 'short-cut alias jalan pintas' dari sana sini, tapi sekali lagi, aku keras kepala. Semakin kulihat kesulitan di hadapanku, semakin ngotot aku menjalaninya.
Ketika akhirnya aku lulus, tak ada kegembiraan berlebihan atau kemeriahan pesta wisuda. Yang ada hanya kelegaan.

Sejak itu, hidup tidak menjadi lebih mudah. Tak ada kesempatan bekerja di perusahaan asing bergaji besar. Tak ada celah beasiswa sekolah ke luar negeri. Ketika akhirnya bekerja dengan gaji minim, aku memilih menikah. Tahun pertama, aku keguguran. Ketika hamil lagi, aku berhenti bekerja. Setelah itupun, ujian tidak berhenti datang. Lebih banyak kutumpahkan airmata daripada tawa.
Bagiku, pernikahan bukanlah jalan untuk mencari kebahagiaan. Pernikahan adalah cara untuk mencapai keikhlasan.
Seorang teman bertanya keheranan, "Aku bingung, bagaimana bisa kau sesabar ini?" yang kujawab singkat, "Karena aku harus... Tak ada jalan lain.."

Hatiku sudah pernah patah, hancur lebur, terinjak-injak, hangus, luluh lantak, tapi telah kutemukan obatnya. Yaitu berbagi kebaikan pada orang lain. Senyum seorang anak kecil atau tawa seorang teman, bagai iodine yang dioleskan saat aku terjatuh dan luka. Nyesss... Rasa perih yang perlahan berubah menjadi kenyamanan.

Aku masih (dan selalu) akan jadi keras kepala. Masih kupilih jalan yang sulit, yang bahkan kini makin curam mendaki. Aku percaya, setiap satu tantangan hidup (seringkali diartikan orang sebagai 'kesulitan hidup') yang berhasil aku atasi, aku berubah menjadi orang lain. Oranglain yang (aku harap) lebih baik daripada diriku sebelumnya.

Satu persatu keinginan dan mimpi duniawiku terlupakan. Yang menguat adalah keinginan untuk bermanfaat bagi orang lain. Kuterima apa yang bisa kudapatkan hari ini, tanpa meminta banyak pada hari esok.

Aku si keras kepala. Kupilih jalan sulit untuk mencapai akhirku. Jika dalam perjalananku, kebahagiaan dan kesenangan hidup berkenan menyapaku, kuanggap itu sebagai bonus, bukan tujuan. Tujuanku ada di ujung jalan berliku itu, di puncak bukit terjal itu, dimana wajah-wajah penuh senyum, hati-hati yang telah kusentuh, akan menyambutku.

Sentul, 18 Agustus 2011, 00.47