Breaking News

30 January, 2012

AKU, SAHABAT KECIL DAN KAMPUNG HALAMAN


Berawal dari Facebook (aheyy, kayak lagu GIGI…eitt…tapi ini lain ceritanya), ada seorang yang nge-add aku. Dan ketika kulihat profilnya, hmm…nama dan wajahnya tidak asing bagiku. Tiada yang berubah wajah kecilnya hingga dewasa, hanya postur badannya yang terlihat lebih besar.

Melihat PP nya yang mengenakan jubah kebesaran mahasiswa dengan toga melingkar di kepala, seketika mengajakku kembali pada kenangan 25 tahun yg lalu. Kenangan ketika Irzi kecil masih suka panjat pohon jambu air depan rumah yang batangnya menjuntai ke genteng dan tidur siang di sana. Padahal Irzi kecil paling takut sama yang namanya ulet’.

Tapi herannya pohon jambu itu tidak pernah ada uletnya. Kata bapakku sih karena sering kena asap pembakaran sampah yang kebetulan dibakarnya di bawah pohon jambu. Maklum rumahku di kampung banget dan jaman dulu tidak ada tukang sampah keliling atau tempat pembuangan sampah seperti jaman sekarang.

Keluargaku pindah ke rumah itu ketika aku duduk di bangku SD kelas 1. Semenjak itu aku punya teman-teman baru termasuk dia, anak tetangga samping rumah. Kami sering bermain bersama. Bermain mainan khas kami sewaktu kecil, ‘jelong-jelongan, i-o, gobak sodor, gelatik, bogem’ dan lain-lain.

Lama kelamaan aku dan dia pun akrab. Dan layaknya seorang anak kecil atau adik kakak, kadang baikan kadang bertengkar. Hmm…kalau dipikir-pikir itu sih tidak hanya anak kecil, sudah besar bahkan suami istri pun bisa seperti “tom and jerry” hehe....

Salah satu kenangan yang masih terimpan adalah ketika bulan ramadlan, aku suka keluar rumah dan mengintip dari balik batako pemisah rumah kami. Memastikan apakah dia sudah bangun atau belum, dan sebaliknya. Aku juga suka ngecandain saat dia kelas 6 masih suka digendong ibunya. “Idih…udah besar masih digendong…malu…malu…!”

Pertemanan pun berlanjut hingga bertambah dekat ketika kami sama-sama duduk di tingkat biru putih alias SMP. Aku sebagai anak bungsu merasa dia seperti adik sendiri karena usianya di bawah aku satu tahun. Meski tak dipungkiri dia bukan siapa-siapaku. Setiap dia berperangai sedikit melenceng, aku sering protes dan memarahinya. Mungkin aku terkesan mengguruinya. Tapi semua itu kulakukan karena aku tidak ingin dia seperti teman-temannya yang ‘kurang baik’.

Hingga akhirnya pertemananku dengannya harus terpisahkan oleh ruang dan waktu. Semenjak aku pindah rumah lagi, meski masih satu kampung, namun kami jadi jarang main bersama lagi. Hanya satu harapanku ketika itu, suatu hari dia bisa menjadi orang yang berbeda, jangan sampai mengikuti jejak saudara-saudaranya maupun teman-teman di lingkungan itu yang hanya mengenyam pendidikan paling tinggi kelas sembilan.

Yah, di kampungku saat itu, pemahaman tentang pentingnya pendidikan sangatlah rendah. Bagi mereka, sekolah itu hanya suatu yang sia-sia bahkan buang-buang uang, lebih baik membantu orangtua atau kerja yang menghasilkan uang daripada sekolah seperti menjahit karung beras atau pun menjadi karyawan pabrik krupuk.

Menurut mereka, pada akhirnya wanita yang sekolah tinggi pun hanya akan menjadi ibu rumahtangga dan yang laki-laki hanya akan menjadi pengangguran atau paling juga sebagai pegawai rendahan. Karena untuk menjadi PNS sangat mustahil kecuali ada saudara atau uang pelicin (…??? Itu sih hingga sekarang juga masih berlaku, kecuali bagi orang yang beriman dan mempunyai harga diri serta intelektual yang tinggi)

Dan lebih parahnya, saat itu ada slogan ‘mangan ora mangan sing penting ngumpul’ yang artinya makan tidak makan yang penting kumpul. Hingga tidak mengherankan jika singgah di dusunku akan menemui dalam satu RT warganya satu keluarga besar. Alhamdulillah, aku terlahir sebagai anak seorang pendidik sehingga mampu mengenyam pendidikan yang cukup tinggi.

Waktu tetap berputar pada porosnya, tiada yang melenceng sedikitpun. Dan pada dasarnya, manusia itu sendiri yang menjadikan perubahan-perubahan pada perputaran jaman. Bak angin yang menerbangkan dahan kering, “Wuzzz…,” waktu membawaku pada usia yang tidak muda lagi.

Bahagianya aku, ketika melihat kampungku telah berubah indah. Tidak lagi melihat antrian pagi di tepian sungai sepanjang kampung untuk membuang ‘hajat’. Orang tua tidak lagi berhitung-hitung dalam membiayai pendidikan anaknya. Bahkan meski mereka terbilang keluarga tidak mampu, tetap berusaha menyekolahkan anaknya hingga mencapai cita-cita.

Terbukti juga dari playgroup ibuku yang baru didirikan, banyak peminatnya. Beberapa kampus pun berdiri tegak menghiasi perkampungan. Mahasiswa mahasiswi berseragam putih-putih membuat warna kampung terlihat semakin segar. Telah banyak lulusan sarjana di sana, dan dia diantaranya.

Aku salut karena dia mampu bangkit dari keterkungkungan keluarga yang sedikit mengenyam pendidikan. Dia berani meraih mimpinya sendiri. Dia juga tidak terpengaruh teman-temannya yang malas belajar dan hanya menghabiskan waktunya untuk begadang dan mabuk-mabukan. Sungguh aku bahagia mendengarnya. “Selamat, sahabat kecilku…semoga dirimu sukses dunia akhirat”

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. Ar-ra’d: 11)”   









0 komentar:

Post a Comment