Breaking News

27 January, 2012

Aku Narsis Abis karena ingin Eksis biar selalu Optimis walaupun tanpa Kumis.


IBU AJAIB

“Ibu Ajaib” begitulah julukan yang di berikan anak-anakku kepada ku. Julukan ini aku dapatkan setelah aku berhasil menjadi ibu sekaligus ayah buat mereka.
Berawal dari kejadian di panggilnya suamiku ke haribaan Allah Subhanallahuwata’ala 1.5 tahun yang lalu. Aku yang selama 12 tahun berumah tangga sangat bergantung padanya merasa sangat terpuruk dan tak tau bagaimana harus melanjutkan hidup.

Aku yang begitu bergantung pada suami mulai dari berangkat dan pulang kerja yang selalu di antar jemput, ke pasar, ke mall, ke dokter, dan semua aktifitas ku selalu di bantu suami, tak heran ketika Allah mengambilnya, aku benar-benar merasa kehilangan pegangan. Beruntung aku masih memiliki seorang adik laki-laki yang belum berkeluarga, hingga dia bisa membantu menjadi pengganti suamiku dalam urusan ‘ojek’ antar jemput.

Namun 3 bulan setelah suamiku tiada dan aku sepertinya menikmati ketergantungan aku pada adikku, anak-anakku menyadarkan aku. Mereka memprotes karena aku tidak berusaha untuk bisa mengendarai motor sendiri, terutama si sulung (9 tahun saat itu). Dia mengatakan: ibu kok gak belajar motor aja? Kan ibu selalu bilang tempat kita bergantung sudah tidak ada, jadi kita harus bisa mandiri kok sekarang ibu malah bergantung sama om? Ayah beli motor buat hadiah ulang tahun ibu supaya ibu bisa bawa motor sendiri kok malah si om yang pake.” Des!! Telak dan tepat sasaran apa yang keluar dari bibir sulung ku. Sejak itu aku berjanji dalam hati akan belajar, belajar, dan belajar.

Aku utarakan keinginanku belajar motor pada adikku dan dia menyambutnya gembira. Ternyata belajar mengendarai motor tidaklah sesulit yang aku bayangkan. Dalam 1 minggu aku sudah bisa mengendarai motor ku. Yess! Berhasil,….  Itulah mengapa anak-anak memberiku julukan “Ibu Ajaib” karena bisa bawa motor sendiri dalam waktu 1 minggu belajar.

Meski seringkali jatuh, aku dan anak-anakku pantang menyerah dan tak pernah jera. Aku yang nekat bawa motor sendiri ke kantor pernah beberapa kali jatuh hingga kakiku bengkak, tak ketinggalan pula kami (aku dan ketiga anakku)pun seringkali jatuh dari motor entah karena di salip orang maupun karena jalan yang licin. Meskipun kami sering mengalami kecelakaan kecil (Alhamdulillah) tapi kami tidak pernah jera terutama anak-anak, mereka selalu mendorong aku utnuk semakin mengasah kemampuan bermotorku (halah seperti pembalap saja. Hehehe).
Alhamdulillah kini aku tidak lagi bergantung pada adikku. Aku bisa melakukan semuanya sendiri, antar jemput anak-anak jika sedang libur kantor, belanja bulanan, pergi ke toko buku, ke rumah nenek, silaturahmi ke rumah teman, saudara bahkan pergi ke dokter jika ada anakku yang sakit. Pokoknya sekarang kami bisa selalu pergi bersama (ber-empat) naik motor. Greeeng,….

















0 komentar:

Post a Comment