Breaking News

16 January, 2012

Aku Direktur Operasional Keluarga Oleh Dewi Muliyawan


Aku Direktur Operasional Keluarga

By Dewi Muliyawan · Last edited about 3 months ago · Edit Doc
Alarm berbunyi saat jarum jam belum genap menunjuk ke angka lima. Senin pagi, hari yang baru segera dimulai. Aku bangun dan mulai menyiapkan kebutuhan anak-anak untuk sekolah. Seragam si bungsu dan makan siangnya, juga sarapan untuk putri sulungku.

Tugas selanjutnya adalah membangunkan mereka.

“Aku masih ngantuk, Ma…” kata adek, begitu saya memanggil si bungsu yang masih berusia tujuh tahun.

“Lima menit lagi deh, Ma…” ucap kakak.

Perlu kesabaran ekstra untuk membangunkan mereka. Saat-saat sebelum berangkat sekolah adalah waktu paling sibuk. Ribet. Kakak ribut mencari dasi, adek minta di kuncir dua. Fiuhh… tepat jam enam pagi mereka berangkat ke sekolah dan aku bisa menarik nafas lega.

Sekarang aku mulai menyiapkan perlengkapan untuk suami. Baju, celana panjang hingga kaos kaki kuletakkan di atas tempat tidur. Mungkin terdengar kuno ya, di jaman sekarang masih menyiapkan perlengkapan suami. Tapi aku suka. Kuanggap itu sebagai bentuk perhatian dan rasa sayang pada suami. Segelas teh manis juga sudah siap di atas meja.

Setelah suami berangkat, giliran aku yang menyiapkan diri. Sebentar lagi beberapa orang pegawai yang membantuku mengelola apotik akan datang. Aku suka memanfaatkan waktu sendiri ini untuk memeriksa jadwal kegiatan di agenda.


Kuambil agenda coklat yang sudah setahun ini setia menemani. Hmmm… hari ini aku harus ke bengkel. Servis rutin ganti oli mobil rasanya tidak akan terlalu lama. Kuminum segelas susu tinggi kalsium. Hangatnya susu sampai ke lambungku yang masih kosong. Bunyi telepon menyita perhatianku,


“Halo… Wi,” suara ibu terdengar. “Jangan lupa ya nanti antar ibu ke dokter. Cek kolesterol sama asam urat.”

“Ya, Bu. Jam satu kan?” kataku sambil melirik agenda.


“Ya,” jawab ibu. “Nanti sekalian jemput kakak sama adik dari sekolah ya..” ibu mengingatkan lagi.

Hmmm… ke bengkel, rumah sakit dan menjemput ke sekolah, aku membuat catatan kecil di bawah agenda. Tidak boleh terlambat karena jam empat aku sudah ada janji dengan notaris untuk mengambil sertifikat sebidang tanah yang baru saja kubeli.

Oh ya, aku juga harus mampir sebentar di Bank untuk memeriksa transfer uang sewa. Ya, empat  ruko yang sedang kubangun sudah habis tersewaLumayan… untuk menambah pasiv income yang sedang kurintis untuk masa pensiun. Retire young retire rich, begitu cita-citaku seperti judul buku yang pernah kubaca.

Tak terasa tujuh tahun sudah aku meninggalkan dunia kerja. Dunia yang sungguh dahsyat dan dinamis. Pekerjaan yang padat membuatku sering menginap berhari-hari di kantor. Seakan masih kurang sibuk, aku masih menyempatkan diri untuk bekerja paruh waktu sebagai dosen plus kuliah lagi. Aku yang lulusan Diploma IV waktu itu mengejar ijazah Strata 1 ekonomi. Jadi setelah jam kerja selesai aku masih harus “berlari-lari” ke kampus, untuk belajar atau mengajar. Dengan segudang aktivitas itu, setiap hari aku lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Berangkat kerja jam enam pagi, paling cepat aku sampai di rumah jam sepuluh malam.


Setelah memiliki dua orang anak, aku memutuskan inilah saatnya untuk kembali ke rumah. Membangun keluarga yang bahagia. Membesarkan anak-anak yang manis dan pintar. Membahagiakan ibu serta merintis bisnis. Keputusan yang dipertanyakan banyak orang. Termasuk teman-teman dan atasanku sendiri. Lulus dengan IP tiga, membuat aku punya peluang besar untuk meniti karir hingga ke puncak. Tapi aku tahu yang kuinginkan adalah membangun keluarga dan bisnis sendiri. Visi hidup yang tertulis di dinding kamarku adalah: Mengantarkan anak-anak ke jenjang pendidikan tertinggi, menjadi pengusaha serta penulis yang sukses. Aku tahu semua itu hanya bisa dibangun dari rumah.


Sekarang anak-anak sudah tumbuh besar dan sehat. Prestasi mereka sungguh membanggakan. Si sulung lulus SD dengan nilai UAN terbaik di sekolahnya. Karena beberapa kali lompat kelas di usia 12 tahun, ia sudah duduk di bangku kelas delapan. Putri bungsuku yang baru berumur tujuh tahun gemar sekali menggambar. Karya terbarunya adalah membuat buku panduan untuk memelihara dan merawat kucing, lengkap dengan gambar ilustrasi yang dibuatnya sendiri.

Bisnis dan aset yang kumiliki juga berkembang pesat. Beberapa properti yang aku sewakan selalu penuh. Rencana bisnis ke depan adalah membuka satu cabang apotik lagi dan satu rumah sakit khusus untuk ibu dan anak. Oh ya, aku ingat untuk memasukkan jadwal survey lokasi strategis untuk membangun beberapa ruko lagi. Target dalam tahun ini, aku harus punya 12 properti yang disewakan.

Aku selalu membayangkan rumah tanggaku suatu perusahaan. Suami berperan sebagai direktur utama dan aku sebagai direktur operasional. Semua keputusan-keputusan penting dalam rumah tangga selalu diambil atas persetujuan suami. Sedangkan tugasku adalah memberikan masukan lalu melaksanakan semua keputusan itu.

Di sela-sela kesibukan aku masih menyempatkan diri untuk menambah ilmu. Berbagai seminar baik di dalam maupun luar negeri aku hadiri. Jenis seminarnya pun bervariasi, mulai dari bisnis sampai menulis. Sekarang aku sedang rajin sekali belajar menulis. Dengan menulis aku ingin berbagi. Ya, berbagi pengetahuan dan pengalaman hidup.

Nah… pegawai-pegawaiku sudah datang. Kututup agenda dan siap menjalani aktivitas yang tertulis di dalamnya.