Breaking News

26 January, 2012

AKU BUKAN PERMATA


Aku terlahir dari keluarga yang bisa dibilang cukup religius, setiap sore aku sudah terbiasa dengan aktifitas-aktifitas ini,mengaji dan menghapal ayat-ayat Al-qur`an . Jilbab,bukan sesuatu yang asing lagi bagiku karena dari kecil aku sudah terbiasa menggunakannya.

Namaku Nur Faridah, orang tuaku memberi nama itu dengan harapan aku tumbuh menjadi permata yg bercahaya bukan saja untuk mereka tapi juga untuk orang lain,begitu katanya.

Yah, Sedari kecil aku sudah terbiasa dengan rutinitas seperti itu,mengaji dan menghapal Al-qur`an sampai aku lulus dari MTSN, setelah itu orang Tuaku memutuskan bahwa aku harus melanjutkan ke pesantren, sebagai seorang anak yang ingin membahagiakan orang Tua Aku menurut saja waktu itu.Karena sungguh besar harapan mereka bahwa aku akan menjadi seorang Hafidzah, sehingga kelak aku akan menyematkan mahkota yang berkilauan dikepala mereka.

Kujalani rutinitas di Pesantrenku,yah kusebut rutinitas karena bukan keinginanku.Sungguh sedari kecil aku begitu iri melihat teman-teman sebayaku asyik bermain tanpa harus dibebankan dengan belajar ini dan itu, bagaimana pula batinku tidak tersiksa teman-teman yang lain bebas bermain dengan siapa saja,tapi aku harus dibatasi dengan siapa harus bermain, lebih lagi dengan jilbab lebar yang bersarang dikepalaku. Satu hal lagi yang membuat aku dianggap makhluk aneh sejagad, dengan kebiasaanku tidak bersentuhan dengan lawan jenis dan menjaga jarak dengan mereka.

Tahun pertama dipesantren aku lewati dengan sangat berat, nilai-nilai ku begitu anjlok,sebenarnya aku bukan anak yg bodoh, tapi entah mengapa hari-hari yang kujalani begitu berat,akhirnya aku nekad kabur dari pesantren aku benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan semua rutinitas ini.

Sampai dirumah aku melihat Ibu yang biasa aku panggi Ummi menangis, sedangkan Abah hanya diam mematung, tanpa berkata apapun. Aku nggak tahu entah apa yang dipikirkannya, tapi satu yang pasti niatku sudah bulat bahwa aku tidak akan kembali lagi kepesantren.
Seminggu setelah itu aku didaftarkan ke SMA biasa, dan jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah dalam hati aku benar-benar bersorak saking bahagiannya.

Hari-hari berikutnya aku lewati dengan suasana yang begitu berbeda dan tentu saja lebih berwarna, aku seperti orang yang baru keluar dari tahanan, menghirup udara bebas dan merdeka sungguh sangat indah, lebih indah lagi ketika banyak laki-laki yang kelihatan mencuri-curi pandang padaku karena sekarang aku bukanlah Nur Faridah yg dulu aku sekarang lebih modis dengan selembar kerudung yg aku pakai untuk menutup kepalaku dan selebihnya aku lilitkan keleher, banyak teman-teman yang memuji kecantikanku kata mereka aku mirip artis, dengan postur tubuh tinggi semampai, kulit putih,hidung mancung, kenapa nggak jadi model aja begitu ujar mereka,membuatku merasa melayang.

Sesampai dirumah aku mematung diri didapan cermin, hal yang belum pernah kulakukan selama ini,kuamati wajahku dan kugerai rambut panjangku, benar juga yah kenapa aku tidak pernah sadar bahwa aku terlahir dengan wajah yg cantik serta rambut yang begitu indah, kenapa selama ini aku harus menutup keindahan mahkotaku ini?  

Bersambung.......

____________________________________________________________
* nyoba kirim cerbung :D*





0 komentar:

Post a Comment