Breaking News

31 January, 2012

ABAK


Aku memanggil Ayahku dengan panggilan yang paling kampungan yang ada di kotaku. ’Abak.’ Dengan panggilan ’Abak’ ini saja, sudah cukup bagi orang lain untuk mengetahui strata sosialku. Panggilan ini memang merepresentasikan satu kata : terbelakang. Panggilan ini tidak cocok dengan situasi kota tempat kami tinggal. Kota Padang yang sejak aku lahir, senantiasa berlari mempercantik diri di sana sini.

Abakku sebenarnya pantas dipanggil dengan sebutan demikian. Karena profesi beliau sebagai tukang cukur keliling saja. Setiap hari seingatku, Abak pergi menjajakan keahliannya mencukur dengan mengayuh sepeda butut. Seragam beliau adalah sebuah topi koboi berwarna coklat kehitaman, baju dan celana panjang lusuh serta terompah plastik model lama. Kotak kayu berisi perlengkapan cukur beliau ikatkan diboncengan belakang. Biasanya Abak berangkat bekerja selepas sarapan, sekitar jam 8.30 pagi. Beliau kembali ke rumah sore menjelang maghrib.

Adalah lingkungan yang membuat aku harus malu kepada Abak, secara panggilan sekaligus secara profesi yang beliau sandang. Tidak henti-hentinya teman-teman sepermainanku mengejek aku lantaran Abak.

”Anak tukang cukur.. Eee, anak tukang cukur..”begitu sering kami kakak beradik dipanggil oleh mereka. Terkadang dengan lidah yang dijulur-julurkan. Bahkan kadang ketika kami berselisih paham dengan mereka, ada yang sampai menunggingkan bokong dan menggoyang-goyangkannya ke arah kami. Kami tidak berdaya untuk membalasnya. Hanya batin saja yang tertekan. Di lingkungan tempat tinggal memang kamilah yang paling miskin. Rumah reot kami dikelilingi rumah bata yang bagus dan nyaman tempat teman-temanku itu tinggal.

Sering di masa kecil aku berandai-andai. ”Andai aku memanggil Abakku dengan panggilan Buya. Tentulah Buyaku itu seorang pegawai Kantor Gubernur seperti teman sebelah kanan rumahku si Kamariati itu. Atau andai aku memanggil Abak dengan panggilan Ayah. Seperti Ayah si Evi dan Eva teman rumah sebelah kiriku yang bekerja di PU itu. Atau, mungkin baiknya aku memanggil Abak dengan panggilan Papa. Seperti si David yang Papanya seorang pemilik toko batik di Pasar Raya Padang itu. Andai... Ah, banyak sekali andaiku dulu itu.

Beranjak remaja, rasa malu itu bukannya padam, malah semakin menjadi-jadi. Aku sering menghindar kalau bertemu Abak di jalan. Aku tidak ingin teman-teman tahu kalau itu Abakku dan dia hanyalah seorang tukang cukur keliling. Pilunya, Abakku tanpak sadar diri. Ketika berpapasan denganku, beliau juga berpura-pura tidak tahu.

Ternyata hal ini bukan terjadi padaku saja. Kakak-kakak dan adik perempuanku pun ternyata sama. Mereka mengalami tekanan dan rasa rendah diri akut yang berakibat malu akan Abak. Batin kecilku menangis. Aku tahu ini salah. Aku ingin berbuat sesuatu. Namun ejekan yang silih berganti di masa kecil itu terus memburuku. Hingga arah hidup mentakdirkan sesuatu padaku. Pada tahun terakhir di SMA aku mulai lebih memperdalam agamaku. Ada sebuah ayat dalam Alqur’an yang sangat berkesan bagiku.

”Sebaik-baik kamu adalah yang paling berTaqwa di antaramu.” Mendalami ayat ini, aku seperti orang baru siuman. Baru aku sadari, bahwa semua manusia adalah sama di mata Allah. Tidak pandang kaya atau miskin. Perpendidikan tinggi atau rendah. Cantik atau standar, semua mempunyai kesempatan yang sama asal mau bersungguh-sungguh. Berbekal ayat ini, aku mulai memiliki paradigma baru. Aku mulai berangsur optimis menatap dan menata masa depan.

Selepas SMA aku melanjutkan studi ke sebuah Perguruan Tinggi Negri di kota lain. Jumpalitan aku berjuang mencukup-cukupkan biaya yang dikirim orang tuaku setiap bulan. Di semester ke 3 aku mulai mengajar kursus bahasa Inggris dan dengan inilah setapak demi setapak, aku tinggalkan masa sulitku. Aku bekerja sambil kuliah. Ternyata jurusan bahasa Inggris yang aku pilih membawa hoki. Allah mengizinkan aku mengais rezeki dengan mengandalkan bahasa dari negri Pangeran William ini. Bahkan aku sudah bisa membantu biaya pendidikan adik-adikku.

Selesai menamatkan kuliah, aku kembali ke kotaku. Di sini karierku melejit. Aku dipercaya mengajar bahasa Inggris di sebuah Yayasan Pendidikan Islam yang sedang naik daun. Aku mengajar mulai dari Play Group hingga Perguruan Tingginya. Jam terbangku tinggi. Selain itu aku juga aktif sebagai mentor atau trainer untuk kelas-kelas universitas lokal. Aku telah menemukan jati diri kini. Aku bayar tunai semua ejekan yang datang silih berganti dulu. Aku buktikan bahwa, Biidznillah, anak seorang tukang cukur bisa menjadi ’somebody.’

Aku sajakah? Tidak. Allah tidak pernah sia-sia. Ke lima saudara kandungku juga telah mendapatkan jalan rezki mereka masing-masing. Uda tertuaku bekerja di PLN di Riau sana. Uni tertuaku telah menjadi Notaris. Uni nomor dua adalah seorang PNS. Adik laki-lakiku menjadi Direktur. Adik perempuan yang bungsu juga telah menjadi PNS.

Ummiku menyimpulkan kepada kami. ”Abak itu sholeh. Beliau memberi makan anaknya dengan harta yang halal. Hasil peluhnya sendiri. Itulah yang diBerkahi Allah.” MasyaAllah. Rasa syukur pelan-pelan menyelinap ke dalam sanubariku, karena memiliki seorang Abak seperti Abak. Yang sangat bersahaja. Yang tidak kenal manipulasi apalagi korupsi. Tidak hanya itu. Kini bahkan aku BANGGA. Baru dapatku ingat, Abak setiap malam selalu bangun dini hari. Beliau sholat tahajut dan berdzikir hingga pagi. Setiap malam. Do’a beliaulah juga yang pasti turut mengantar kami untuk bisa menjadi kami saat ini.

Namun, dalam usianya yang renta. Abak tetap mengayuh sepeda tuanya berkeliling kota. Sekarang bukan lagi untuk mencari segantang beras agar bisa ditanak  untuk makan malam nanti.  Tapi untuk berolah raga. Walau beliau tetap membawa serta alat cukurnya. Ternyata masih ada satu dua langganan fanatik yang menunggu tangan trampil Abak.

Suatu Ramadhan, ketika aku diminta menjadi pemateri dalam acara ’Pesantren Remaja’ di sebuah Mesjid besar di salah satu pusat kota. Aku yang membelakangi kiblat dan menghadap ke arah pintu masuk, melihat Abak dengan sepedanya di halaman Mesjid. ”Ah, tentulah Abak lelah telah berkeliling semenjak pagi,”pikirku. ”Tentulah Abak ingin beristirahat sejenak di dalam Mesjid nyaman ini.” Sambil tetap berceramah, otakku bekerja menyusun rencana. Akanku siapkan sebuah senyum yang indah kalau Abak masuk ke dalam Mesjid nanti. Akan aku perkenalkan Abak kepada adik-adik santri. Akan aku buat Abak tahu, walau terlambat, bahwa aku BANGGA  padanya. Aku tunggu Abak. Namun yang ditunggu tidak kunjung tiba.

Malamnya, selepas berbuka puasa, aku menanyakan ini pada Abak. ”Ambo melihat Abak tadi siang di Mesjid Istiqlal. Kenapa Abak ndak masuk?” Setelah puluhan tahun berganti, tak terbayang sedikitpun olehku kalau Abak akan menjawab dengan tenang dan datar.

”Abak takut Ambo malu....” Airmataku pun menganak sungai.

(Chiba - Chigusadai : Abak in Memorian)

0 komentar:

Post a Comment