Breaking News

01 February, 2012

6 mei


FATAMORGANA

Sebuah rumah yang mungil, berwarna putih, dengan halaman berumput kecil kehijauan, dan sederet pot-pot bunga warna warni mungil pula adalah impian terbesar Nana saat ini. Setelah 5 tahun menikah dan mempunyai 2 buah hati yang sedang  lucu sekaligus nakal-nakalnya, rasanya sudah mulai “gerah” juga bila terus-terusan numpang di rumah mertua.
Ya pasangan yang pernah tinggal serumah dengan orang tua pastilah tahu bagaimana rasanya, romantikanya. Ada istilah, kalau jauh tercium melati, kalau dekat kok bau terasi heeehe. Tentu peribahasa ini tidak berlaku mungkin buat yang terasi lover ya.
Meskipun Nana dan suaminya Dika  bekerja,kok rasanya tidak terkumpul juga uang buat DP rumah. Maklum lah mereka sama-sama pegawai swasta biasa yang gajinya biasa-biasa juga. Dengan dua anak balita yang sedang doyan-doyannya minum susu dengan 2 asisten rumah tangga pula, beban pengeluaran selama sebulan rasanya sangat pas bahkan kadang-kadang pula harus nombok. 2 anak balitanya terpaksa disapih ASI karena waktu kerja Nana yang terlalu panjang, membuat mereka tidak berselera dengan ASI yang dah basi. Akhirnya mereka beralih ke susu formula. Tahulah harga susu formula sekarang. Duuuh.
Punya 2 asisten rumah tangga bukan dalam rangka gaya-gayaan. Itu semata-mata mereka  lakukan untuk menjaga agar pekerjaan rumah dan urusan 2 balita bisa berjalan efisien dan efektif. Apalagi ini di rumah orang tua, yang tentu saja istilahnya ada 2 majikan yang harus dilayani. Kalau di rumah sendiri sih Nana bukan termasuk majikan yang rewel untuk urusan rumah tangga. Yang penting anak-anak diawasi secara baik, mau rumah kayak kapal perang juga tidaklah mengapa. Nomor satu anak. Kembali lagi, ini dia lakukan agar orang tua tetap dapat terlayani dengan baik. Apalagi kedua mertuanya adalah sosok yang sibuk dengan berbagai kegiatan social berkaitan dengan Yayasan Sosial yang dikelolanya. Hingga waktu untuk mengawasi cucu-cucunya tidaklah banyak. Setiap Jum’at siang, rumah dipenuhi oleh nenek-nenek lanjut usia yang melakukan pengajian rutin. Ditambah lagi dengan paginya acara masak memasak buat rantangan yang dibawa pulang mereka seusai pengajian. Acara ini berlangsung seminggu sekali. Belum lagi kunjugan dari Dinas Sosial dan instansi pemerintah dan donator swasta yang meninjau kegiatan Yayaasan ataupun memberikan bantuan berupa uang, sembako,alat-alat rumah tangga, alat-alat sholat dan lain-lain. Kalo acara kunjugan ini berlangsung, sudah dipastikan semuanya begitu sibuk.
Sekali dua , ibunya Nana datang untuk melepas kangen dengan cucu-cucunya sekalin bantu mengawasi anak-anak. Tapi kasihan , ibunya pastinya risih bila berlama-lama tinggal di rumah besan.
“ Sabar ya Ma, Insya Allah kita pasti punya rumah” kata Dika ketika mereka berdiskusi soal rumah
“Target berapa lama lagi nih Pa? Dah ga sabar nih pengen punya dapur pribadi heee”, ujar Nana setengah berkelakar.
“Mau dapur yang model punya siapa? Farah Quinn atau Sisca Suwitomo?” Suaminya tahu sekali Nana senang memasak dan membuat kue-kue. Meskipun hasil masakannya tidak selalu memuaskan.
“Harus kenceng nih doa kita Pa, biar cepet punya istana”
Beberapa hari kemudian, Dika menjemput Nana ke tempat kerjanya dengan wajah sumringah
“ Doamu terkabul Ma. Tahun ini kita pasti bisa beli rumah”, Dika menepuk tangan istrinya senang.
“Ah yang bener Pa. Alhamdulillah. Dapat rezeki darimana nih? “ tanya Nana penasaran.
“Nanti juga kamu tahu” Dika langsung menjalankan motornya dengan riang. Sementara Nana sibuk menerka-nerka dalam pikirannya.
Selesai menidurkan anak-anak, bapak mertua Nana memanggil
“Nana, coba sini bantu Bapak mengetik proposal ini. Bapak sudah mengantuk mau istirahat aja”
“ Proposal tahun kemarin aja itu disalin.O ya jangan lupa, kalo sudah selesai, kamu tanda tangan ya di bagian sekretaris”
“Iya baik pak” Jawab Nana meski ragu.
Huruf demi huruf , angka demi angka dia telusuri. Meskipun sudah lama bekerja di bagian administrasi selama bertahun-tahun, tapi dia merasa baru dengan hal-hal yang berbau prosposal bantuan dana sosial.
Upps, ada yang aneh nih,  bisik hati Nana.
Disebutkan acara pembagian rantang makanan yang berbarengan dengan acara pengajian kok di tulis 6 kali seminggu sih. Kan kenyataannya cuma sekali seminggu. Terus ada biaya jalan-jalan 3 bulan sekali buat lansia, pengobatan gratis sebulan sekali, pembagian baju baru 3 bulan sekali. Nominal uangnya pun lumayan besar juga. Dia tahu sekali kalau kenyataannya tidak seperti itu.
Diedarkannya pandangan di sekeliling kantor kecil itu. Sebuah ruangan faviliun dulunya yang di rubah menjadi sebuah kantor dan tempat menerima tamu juga. Sebuah papan kepengurusan lengkap dengan nama dan jabatannya masing-masing. Tapi tampilannya sudah muram pertanda sudah lama ditulisnya. Dan sepertinya Nana kebanyakan belum pernah bertemu dengan nama-nama yang tertera disitu selain nama mertuanya dan nama seorang ibu yang rajin menjadi pembuka acara pengajian. Deretan foto-foto anak yatim diatas kertas karton besar yang mulai pudar warnanya meghiasi dinding. Sepertinya anak-anaki itu sudah berubah menjadi abg sekarang. Dan sejak pertama Nana tinggal di rumah itu, foto-foto itu sudah  terpajang disitu.
Tiba-tiba tangannya gemetaran di atas keyboard. Tulis gak ya, tulis gak ya? Dan hey kwitansi-kwitansi ini  kok tulisannya tulisan tangan mertuanya. Kwitansinya begitu rapi, secara baru disobek dari bukunya. Belum lagi bon-bonnya yang berisi pembelian sembako terlihat begitu “baru”, dan seragam. Kepalanya tiba-tiba pusing dan dadanya berdebar-debar. Ya Allah apa yang harus aku lakukan, bisiknya dalam hati. Ah aku tak boleh berburuk sangka dan menduga-duga. Tidak baik, ujung-ujungnya bisa jadi fitnah. Diteruskannya mengetik dengan pikiran melayang-layang. Tepat jam 12.45 malam semuanya kelar. Satu lagi, tanda tangan!

Duh , bagaimana ini? Dengan perasaan ragu, dicoretkanlan tandatangan di atas kertas proposal itu. Sekretaris ------Khairina Rahmawati.



Pagi yang cerah, dengan hiasan awan bergumpal gumpal di bawah langit biru..
“Nana, proposalnya dah beres kan? Kamu sudah tanda tangan juga kan?” ibu mertuanya membuka pembicaraan di teras taman belakang rumah.
“Iya bu, kalau ada yang kurang, ibu koreksi saja”
“Gak usah. Ibu tahu kok kamu pasti pintar bikin proposal kayak gitu”, Ibu mertuanya mengibaskan tangannya dengan ringan
“Ah biasa saja kali bu…” Nana tersenyum kecil.
“Udah kamu tenang saja, begitu dana itu turun, cucu-cucu Ibu akan segera punya rumah baru. Makanya ibu sama bapak ingin sekali ada yang meneruskan Yayasan ini. Uangnya lumayan lho.” Ibu mertuanya tersenyum
Seketika Nana merasakan ada yang melesak ke dadanya. What???? Tidak salahkah pendengarannya dengan kalimat yang diucapkan ibu mertuanya itu?
Astaghfirullah, maksudnya apa dengan semua proposal itu? Angka-angka itu?
Duh tiba-tiba saja Nana merasakan mules di perutnya.
Dalam keheningan malam, dalam sajadah panjangnya
“Ya Allah, ampuni hamba-Mu ini dari dosa dan kesalahan. Ya Allah hamba ini sungguh tak tahu diri meminta terlalu banyak meski itu sangat mudah bagi-MU YA RABB. Ya Allah berikanlah rezeki-Mu yang halal, berkah dan dalam ridho-Mu. Jangan biarkan hamba menikmati rezeki yang tidak halal dan tidak dirihoi-Mu. Lindungilah anak-anak hamba dari semua yang Engkau haramkan juga.Hamba hanya ingin yang terbaik menurut-Mu Ya Rabb. Sesungguhnya Engkau Maha Tahu atas ketidakberdayaan aku ini. YA ALLAH kabulkanlah semua doa dan permohonanku ini. Amiiin”

Beberapa minggu kemudian…………

“Lho bagaimana bapak ini, kan saya sudah melengkapi semua persyaratan dan bukti-bukti pembelanjaan selama 6 bula ini pak. Bapak jangan mempermainkan saya dong” suara mertua laki-laki yang entah menerima telepon dari siapa tiba-tiba saja menggelegar di seluruh ruangan
Sementara itu sang isteri sibuk mondar-mandir di ruang tamu sambil memberi isyarat pada suaminya agar terus berargumen.
“Pak saya ini sudah belasan tahun mengurusi yang beginian, masak institusi bapak tidak percaya dengan data yang sudah diberikan? Saya sudah kenal dengan semua pegawai disitu. Anda baru ya? Pantesan belum apa-apa sudah berlagu..” Bapak mertua mendengus kesal.
“ Ya sudah kalo memang dana itu tidak bisa cair, tidak apa-apa. Memangnya saya ini tukang minta sumbangan di bis kota? Masih banyak institusi yang mau kasih bantuan buat yayasan saya” brak, suara gagang telepon dibanting.
Selanjutnya sayup-sayup terdengar di balik kamar mertua Nana , suara wanita melengking tinggi seperti sedang menyumpah-nyumpah.
“YA Allah Alhamdulillah , Engkau telah mengabulkan doa hamba” bisik Nana dengan mata berkaca-kaca.


Jakarta 6 Mei 2011



0 komentar:

Post a Comment