Breaking News

25 January, 2012

3 JEBAKAN

By Lina Marlina

Sore ini setelah pulang kuliah aku mampir di Lembuswana Mall untuk membeli kekurangan perlengkapan sekolah kedua jagoanku yang esok akan memasuki tahun ajaran baru. setelah kudapat yang kucari dan beberapa oleh-oleh makanan serta minuman kesenangan mereka saatnya aku kekasir. tiba-tiba hujan turun dengan sangat derasnya. setelah selesai transaksi aku urungkan niatku untuk pulang aku kembali kedalam toko sambil menunggu reda hujan. selang setengah jam hujannya sedikit reda. akupun segera pergi kekasir sambil membawa  barang-barang hasil pilihan selama menanti reda. Ku langkahkan kakiku menuju pelataran parkir dengan berjalan disisi kanan trotoar. Tapi ternyata tangisan hujan itu belumlah rampung tiba-tiba hujan kembali deras akhirnya Aku terjebak di Lembuswana  Mall tepatnya di pelataran teras diringi alunan musik Hujan dengan sesekali dentuman gemuruh petir dengan kilatannya menggelegar bumi pertiwi. Sementara ku tatap hujan silih berganti pengunjung yang mempunyai mobil  bergegas memasuki mobil mereka masing-masing seakan-akan ingin mengiringi simponi alam dengan memberi instrument suara gas mobil mereka. sementara aku dan pengunjung lainnya memilih duduk manis dipelataran teras sambil menonton konser alam itu. Ku tatapi jalan raya  dari teras ternyata sudah berubah warna menjadi kecoklatan dengan riak-riak gelombang air setinggi pinggang orang dewasa.semakin kuurungkan niatku tuk pulang, karena aku khawatir jika kupaksakan nanti akan berakibat fatal, yaitu motorku mogok.
menjelang senja sekitar hujanpun berhenti. Kemudian aku bergegas menuju pelataran parkir motorku untuk bergegas menuju pintu keluar yang terletak diujung ke arah Ruhui Rahayu.ternyata antrian di pintu keluar sudah membentuk konvoi  sepanjang 300 M. kalau tadi aku terjebak hujan sekarang aku terjebak antrian pintu keluar. setengah jam berlalu kudengar kumandang azan maghrib dari Masjid Al-Ma'ruf sementara motorku masih separuh jalan menuju pintu parkir. malam mulai menampakkan geliat aktifitasnya sayup-sayup ku dengar dari arah lepas portal parkir orang berteriak dorong...dorong ayo dorong.... tiba saatnya motorku disamping kasir parkir. setelah kubayar total jam parkirnya ternyata didepan masih banyak motor-motor yang masih bingung mencari celah kubangan terendah jalan  raya yang penuh dengan air agar motornya tidak mogok ditengah jalan. ada yang selamat dan terus melaju di jalan yang berubah menjadi sungai  ada yang apes mogok ada juga yang meggunakan jasa dorong. untuk ketiga kalinya aku terjebak yaitu terjebak dalam banjir di jalan raya S. Parman.
Sungguh tiga jebakan ini menguras waktu, tenaga, emosi dan bensin. Semoga Samarinda ke depannya tidak sama rendah apalagi semakin rendah dengan  cara pengadaaan drainase yang terbaik, serta membuat daerah resapan air yang mampu menahan curah hujan, dengan melakukan penghijauan di hulu maupun di hilir. Dan mungkin budaya buang sampah pada tempatnya harus menjadi tabiat baik dari warga yang menetap ataupun berkunjung ke Samarinda agar samarinda semakin indah dan bersih.sehingga tidak ada lagi sumbatan - sumbatan yang bisa menghalangi jalannya air yang dapat mengakibatkan kebajiran. Semoga.



HUJAN TURUN AIR DAN BATU PASIR

Subhanallah,hujan diSamarinda sore tadi begitu derasa sekali,petir,angin dan derasnya hujan menjadikan suasana menjadi sangat mengahawatirkan.

Hujan yang begitu deras kusempatkan membersihkan selokan selokan yang tersumbat dedaunan kering,ku ambil sikat lantai yang bergagang,menyikat semua lantai halaman dan tangga tangga yang berlumut,nah aku turun dari tangga ke bawa bertemulah para ibu ibu tetanggaku yang sibuk dengan membersihkan halaman yang penuh dengan air hujan.

Sesudah membersihkan di depan,aku kebelakang membersihkan selokan yang ada di belakang.dengan bunyi" gdoplang byor" batu batu dan lumpur jatuh dari atas gunung,mataku melonggok ke atas gunung ternyata gunungnya longsor,aku berteriak,"bi bi longsor"suamiku tak keluar keluar karena suara tertutup suara hujan yang lebat,apa lagi suami lagi asik memperbaiki sekrepsi,ku panggil berkali kali tetep tak dengar suaraku.."bi bi longsor"ku kuatkan suaraku..sambil aku mengangkat batu batu di depanku,pas air dan lumpur memasuki ruang dapurku..aku binggung mau apa aku..ternyata aku lari lagi kebelakang,maksudku mau ambil sekrop di belakang rumah,ternyata suamiku menarik tangganku kuat kuat,akupun beranjak di depan suamiku.lantas bunyi dor,batu turun dari atas menabrak mesin cuciku..Alhamdulillah selamat lah aku dari longsor.

hiks hihs.banjir lumpur dapurku...
kita bersama sama anak anak dan suami serta cucuku yang pertama memberihkan lumpur,lalu mengepel hingga bersih.anakku yang ke 4 berebut sapu,rame amat dapurku..ternyata asik be kerja sama  anak anak dan suami serta cucu,lucunya cucuku,yang membawa selang tuk menyiram aku waktu mengepel,"ummi ummi ini kotor"kata cucuku.gemes rasanya.nah bukan lantai yang di siram,malah bajuku yang disiramnya.malah suamiku ketawa ketawa meliahat aku di siram cucuku.

Selesai sudah tugas membersihkan dapur,giliran membersihkan teras dan halaman.Pasir pasir ada dimana mana.subhanallah hujan ini rahmat yang membawa batu dan pasir pasir kedalam rumahku dan halamanku.aku semangat karena suami dan anak anak ada menemaniku.

Semua jalan tertutup air yang sangat deras sekali,mungkin di jalan raya sana pastilah banjir setinggi lutut,apa lagi jalan lembuswanai,pastilah banjir, motor motor pada mogok di jalan,apalagi di simpang lampu merah sempaja..



0 komentar:

Post a Comment