Breaking News

07 July, 2011

Grup Ibu-ibu Doyan Nulis

Grup Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN) didirikan pada bulan Mei 2010 oleh seorang Ibu Rumah Tangga yang juga menekuni bisnis Agensi Naskah dengan nama Indscript Creative. Ibu Rumah Tangga itu bernama Indari Mastuti.

Latar belakang didirikannya grup IIDN:
MENULIS merupakan salah satu kegiatan yang sebetulnya bisa dilakukan oleh semua orang. Sayangnya, kebanyakan orang sebelum memilih menjadi penulis sudah merasa bahwa dirinya ‘tidak berbakat’ untuk menulis. Padahal, hanya dengan konsistensi dan komitmen menjalankan aktifitas menulis setiap hari, akan membuat setiap orang terlatih menuliskan apa yang ada di kepalanya.
            Profesi menulis yang dianggap hanya orang yang ‘berbakat’ yang bisa menjalankannya akan dikampanyekan sebagai satu profesi yang semua bisa melakukannya, termasuk IBU-IBU. Malah, justru dilatarbelakangi oleh aktifitas ibu-ibu yang hanya sumur-dapur-kasur, aktifitas menulis akan menjadi satu bagian keseharian yang kelak akan menghasilkan lebih dari sekadar karya. Ibu-ibu yang akhirnya memilih jalur menulis sebagai aktifitas keseharian tanpa meninggalkan rumah, akan mengalami lonjakan PRODUKTIFITAS baik secara ilmu, karya, maupun materi.
            Hadirnya grup ibu-ibu doyan nulis akhirnya dilatarbelakangi untuk meningkatkan produktifitas para ibu di berbagai hal. 

Profil grup Ibu-ibu Doyan Nulis:

Selama hampir satu tahun berdiri, kini lebih dari 10% ibu telah menjadi PENULIS yang produktif. Indari Mastuti mengasuh grup bukan hanya melatih para ibu dalam berbagai pelatihan ONLINE dan OFFLINE namun juga memberikan kesempatan-kesempatan menulis buku pada para anggota grup.
            Pembentukan kordinator wilayah dalam grup mulai dibentuk pada tanggal 14 Maret 2011, ternyata hasilnya positif. Setiap kordinator wilayah akan mengurus dan mengembangkan wilayahnya masing-masing, mentransfer ilmu menulis serta melatih anggota grup di wilayahnya untuk terus berkembang.

Profil lengkap pendiri grup ibu-ibu doyan nulis:

Indari Mastuti seorang perempuan yang lahir di Bandung, 9 Juli 1980. Merupakan Ibu dari Qanita Muthmainatunnisa lahir pada 24 mei 2008 dan Muammar Najmi Fathan lahir pada 19 Januari 2011. Saat ini selain disibukkan dengan menjadi ibu rumah tangga, juga mengurus bisnis di bidang agensi naskah yang berdiri akhir tahun 2007 dan diberi nama Indscript Creative. Hobi menulislah yang mengantarkan Iin, panggilan Indari Mastuti  tergerak untuk mendirikan grup ibu-ibu doyan nulis pada Mei 2010, kini dengan beranggotakan 99% ibu-ibu, grup itu diharapkan dapat melesatkan produktifitas para ibu di bidang menulis yang telah dirasakan Iin memberikan begitu banyak manfaat.

Indscript Creative, Bisnis seorang Ibu Rumah Tangga

Awalnya Indscript Creative didirikan karena keinginan dari calon Ibu yang ingin total bekerja di rumah. Meninggalkan hiruk-pikuk dunia karir demi mengurus keluarga. Berpikir untuk mencari bisnis apa yang bisa dikerjakan di rumah dan sesuai dengan minat yang dimiliki. Kebetulan hobi dan minat menulis mendorongnya untuk menjadikan profesi menulis menjadi sumber penghasilan. Seiring berjalannya waktu, Indscript Creative pun terus berkembang.
Indscript Creative mulai dibangun pada akhir tahun 2007. Ketika pertama kalinya didirikan, fokus pasar Indscript Creative adalah bidang penerbitan. Indscript Creative memosisikan diri sebagai agensi naskah, yaitu menjadi mediator antara penulis dengan penerbit, antara penerbit dengan penulis. Indscript Creative mengemas naskah supaya lebih cantik dan bernilai jual.
Kini, Indscript Creative memiliki 30 klien penerbit, 4 klien korporat, dan 2 klien Institusi pendidikan. Memiliki kerjasama dengan lebih dari 172 penulis, 5 studio gambar, dan telah menetaskan 400 judul buku di pasar bebas.
Jasa yang dimiliki oleh Indscript Creative:
1.       Jasa penulisan
2.       Jasa editorial
3.       Jasa Fotografi
4.       Jasa Artistik
Untuk keunikan dan percepatan bisnis inilah barangkali yang membuat pendiri dan pengelola Indscript Creative terpilih menjadi 1 dari 10 Pemenang Perempuan Inspiratif Nova 2010.

Apa kata para ibu tentang grup Ibu-ibu doyan nulis?

Wanita memang diciptakan "hobi bicara". Bahkan, menurut sebuah sumber penelitian sosial, dalam sehari sekitar 5000 kata dianggap normal untuk ibu-ibu. Namun, mengucapkan kata-kata sedemikian banyak akan lebih bermanfaat jika "curhatannya" yang berupa verbal dalam tulisan maupun ucapan mempunyai dampak yang signifikan. Alangkah baiknya jika memberdayakan "hobi bicara" ini dalam tulisan juga. Istilah sharing pengalaman dan ilmu ibu-ibu yang enggak ada sekolahnya, bisa sama disimak dan didiskusikan. Oleh karena itu, saya sangat mendukung aktivitas Ibu-Ibu Doyan Nulis.
(Angy Sonia, 30, Bandung)                                              

Sebenarnya sudah dari dulu saya ingin bertemu dengan sebuah komunitas yang menekuni bidang tulis-menulis, tapi tidak ketemu. Kebetulan ada suggestion tentang "Ibu-ibu Doyan Nulis". Wah, dari namanya saja "Doyan nulis", saya langsung senang. Apalagi ada atribut ibu-ibunya. Jadi, klop, deh! Karena secara pribadi saya bisa merasakan apa dan bagaimana dengan dunia ibu-ibu.
Ternyata kesenangan saya tidak hanya berhenti di situ. Meskipun saya tidak merasakan langsung event-event yang diselenggarakan, namun hanya melalui up date- up date yang diterima via dunia maya, saya bisa merasakan sesuatu yang dimiliki Ibu-Ibu Doyan Nulis, tetapi tidak dimiliki oleh komunitas yang lain, yaitu "ketulusan dan ketuntasan". Hal ini terlihat dari setiap kegiatan yang berusaha seminimal mungkin membebani (biaya) para pesertanya. Kemudian, dilanjutkan dengan penyaluran atau pemberian kesempatan bagi peserta yang berpotensi untuk menyalurkan karyanya.  Semangat untuk Ibu-Ibu Doyan Nulis!
(Anik, 29 th, Bali )

Grup ini membuat saya bersemangat menulis karena saya memperoleh banyak ilmu dari teman-teman sesama anggota.
(Tita, 42, Bandung)

Bergabung dengan Ibu-Ibu Doyan Nulis membuat obsesi saya (menjadi penulis) kembali mencuat (setelah cukup lama terkubur oleh berbagai rutinitas harian, bulanan, dan tahunan).
Sekarang saya mulai giat lagi membaca (saya percaya, penulis yang baik - pada umumnya - berasal dari pembaca yang baik. Saya juga mulai menerima terjemahan lagi (setelah berhasil negosiasi dengan pihak sekolah, bahwa saya hanya punya waktu 2 hari per minggu untuk sekolah, atau dengan berat hati saya akan mengundurkan diri dari Kegiatan Belajar Mengajar - KBM).
Saya mulai lagi menulis dengan melayangkan surat-surat panjang kepada sahabat lama melalui FB (via messages). Seorang sahabat lama berkomentar, “Senang sekali kembali berkomunikasi denganmu.” - dulu surat-surat saya biasa disebut "koran.
Saya terbiasa menulis hal-hal yang menarik hati, yang sedang membebani pikiran saya, pun yang saya lihat, dengar, atau rasakan. Namun sekarang, saya pun memikirkan untuk menulis hal-hal yang berguna untuk pembaca.
Begitu terjemahan selesai, saya berniat menulis untuk kolom khusus di suatu majalah (semoga terlaksana). Nanti saya ceritakan perkembangannya.
(Mieke, 56 tahun, Bandung)

Manfaat secara langsung sih belum begitu berasa. Namun, dengan bergabung di komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis ini saya jadi tahu bahwa siapa pun tidak terbatas usia dan status ibu rumah tangga bisa menghasilkan karya lewat tulisan.
Informasi mengenai pekerjaan penulis pun membuka mata saya bahwa menulis selain sebuah hobi juga dapat dijadikan sebuah pekerjaan yang cukup menyenangkan.
Suatu hari nanti saya pun berharap bisa bergabung lebih eksis dan bisa menghasilkan karya tulis.
(Arie Aleida,  31 tahun, Bekasi)

Grup “Ibu-Ibu Doyan Nulis (meskipun saya belum jadi ibu-ibu) telah ikut membangun atmosfer menulis bagi diriku. Hingga energi menulis tak pernah mampu lari dari diriku.
(Neti Suriana, 26 tahun, Riau)

JOKI… OH…JOKI

Ehm…sudah sering ya mendengarnya. Yang satu ini bukan joki alias si penunggang kuda tapi orang yang suka menggantikan orang lain dalam ujian. Setiap tahun saat musim ujian tiba pasti ada saja berita mengenai “joki”. Meskipun sudah ada antisipasi dari pihak berwenang namun  fenomena “joki” tetap ada dan berulang setiap tahunnya. Walaupun ada yang tertangkap namun sepertinya tidak ada efek jera. Miris mendengarnya, entah apa yang ada dalam pikiran si penyewa joki sendiri hingga melakukan hal curang seperti itu. Bukankah akan ada kebanggaan dan kepuasan jika hasil yang diperoleh adalah jerih payah sendiri. Apapula alasan si joki mau melakukannya, demi sesuap nasikah atau apapun alasannya tindakan ini jelas tidak boleh dibiarkan saja tanpa ada upaya pencegahan dan sanksi yang tegas.
Yang membuat saya lebih prihatin lagi ternyata ada yang mengiklankan diri secara terbuka sebagai joki ujian. Saya sempat tidak percaya atas kenyataan ini, berulang kali saya baca memang begitulah adanya (hasil pencarian lewat internet). Kira-kira begini bunyinya : telat mikir,joki aja..titip mbah…..kirim 20 juta ke rekening……Saya tidak mengetahui apakah si pengiklan benar-benar joki atau ada tujuan sesat, yang jelas keterbukaannya dalam beriklan menandakan bahwa memang ada pasar yang ia sasar. Buktinya, beberapa waktu lalu ada joki yang tertangkap saat ujian, ini berarti ada yang selalu membutuhkan jasanya.
Yang ini lebih membuat saya prihatin, melalui “running text” di salah satu televisi diberitakan ada sebuah sekolah yang siswanya berjumlah 9 orang tidak lulus semuanya meskipun sudah pakai joki….nah lho? Adapula Kepala Sekolah yang ditangkap polisi karena diduga ikut terlibat dalam perjokian. Kalau para pendidiknya saja sudah terkontaminasi virus joki, bagaimana hasil didikkannya bisa diharapkan mampu menjadi generasi yang unggul secara akademis dan berakhlak baik. Bukankah peran sekolah selain sebagai tempat menimba ilmu juga adalah sebagai tempat untuk mendidik akhlak para siswanya. Adalah kesalahan fatal jika demi mengejar prestasi akademis kemudian menafikkan aspek pendidikan moral. Hasil akademis yang baik tentu sangat diharapkan oleh para siswa, orangtua guru, tentu akan lebih membanggakan dan elok jika hasil yang baik dicapai dengan cara yang baik pula. Terlalu berorientasi pada hasil tanpa disertai kesadaran bahwa untuk mencapainya diperlukan usaha, ketekunan dan doa tentu hanya akan menghasilkan prestasi dan kebanggan semu.
Sungguh ini menjadi tanggungjawab bersama orangtua, sekolah, masyarakat dan pemerintah. Sebagai orangtua saya ingin mengajak semuanya, mari kita benahi sama-sama, mulai dari keluarga sendiri. Menanamkan sikap mental pejuang pada anak-anak kita. Bahwa menjadi berhasil atau sukses butuh usaha, ketekunan dan doa. Bahwa menjadi gagal tidaklah hina, karena di sana ada pelajaran berharga untuk tahu dan bangkit lalu berhasil. Jadi mereka tidak akan takut menghadapi kegagalan, mereka akan berjuang dan tidak ada lagi itu joki-joki berkeliaran saat musim ujian tiba.
Dunia pendidikan kita memang masih butuh perbaikan di sana-sini. Belum meratanya fasilitas pendidikan membuat adanya kesenjangan kualitas pendidikan antara daerah/sekolah dengan fasilitas baik dengan daerah/sekolah dengan fasilitas yang serba terbatas. Di tambah lagi dengan tuntutan nilai kelulusan yang di samaratakan untuk kedua daerah/sekolah yang berbeda kondisi tersebut telah menyebabkan iklim yang tidak sehat. Demi mengejar akreditasi dan prestasi akademis tidak diimbangi dengan fasilitas memadai akhirnya muncul deh si joki…..untuk mendogkrak angka kelulusan. Nah kalau sudah begini prestasi yang dicapai berarti prestasi semu dong… lalu apa kata dunia?
‘’’’’’’’’’SAY NO TO JOKI’’’’’’’’’’’

Amal Di ujung Senja

Beberapa hari belakangan setiap kali melewati jalan ini harus kupelankan sepeda motorku. Hufft …pemandangan seperti ini lagi batinku. Apa tidak ada cara lain? Kenapa harus berdiri di tengah jalan begini, berpanas-panasan, mengganggu lalulintas pastinya. Sepanjang perjalanan aku terus menggerutu.
Esok harinya kulalui lagi jalan ini masih dengan pemandangan yang sama. Kutatap wajah mereka, keringat bercucuran membasahi wajah dan tubuhnya. Sampai kapan mereka akan terus berdiri di tengah jalan seperti ini, belum lagi suara speaker yang keras sungguh memekakan telinga yang mendengarnya. “Memalukan!” batinku.
Dua hari kemudian pun masih sama seperti itu. Entah berapa lama mereka akan bertahan mengumpulkan receh itu. Akankah cukup untuk memperbaikinya? Benarkah itu akan di gunakan untuk memperbaiki rumah MU atau jangan –jangan hanya akal-akalan mereka saja untuk mendapatkan uang dengan mudah. Aku terus berburuk sangka.
Seminggu kemudian kulalui jalan ini lagi, kali ini macet dan harus berhenti agak lama sehingga aku berkesempatan mengamati mereka satu persatu. Bapak yang memakai topi bulat itu bertubuh gemuk memakai tongkat untuk berjalan, rupanya salah satu kakinya sudah tidak sempurna, kerut di wajahnya kelihatan nyata. Dia pegang jaring kemudian dia sodorkan kepada siapa saja yang lewat jalan ini. Ketika sudah cukup banyak dia kemudian menepi dan menyerahkan kepada teman-temannya yang menunggu di pinggir jalan. Ternyata mereka seumuran, ada yang kurus tinggi, ada pula yang pendek, yang terlihat jelas adalah kulit mereka yang sudah keriput menandakan mereka tidak muda lagi, ya…kakek-kakek tepatnya Ah…akhirnya bisa kembali jalan, kutinggalkan pemandangan itu dan kulanjutkan perjalananku.
Hari sudah mulai sore ketika aku kembali ke rumah melewati jalan ini. Mereka masih ada di sana, masih dengan orang-orang yang sama. Tapi kini aku memandangnya dari sudut yang berbeda. Ketika kusempatkan bertanya, apa tidak lelah dari pagi sampai sore begini masih berdiri di sini. Apa jawab mereka? ‘’Lelah pasti de, namanya sudah tua, apalagi harus panas-panasan, tapi hanya inilah yang bisa kami lakukan untuk membantu memperbaiki masjid. Ya, mudah-mudahan ini bisa diterima sebagai amal baik kami oleh Gusti Alloh.” Deg……jantungku terasa dipukul palu. Ya Alloh selama ini aku dengan mudah mengatakan bahwa yang mereka lakukan hina, memalukan dan tidak pantas apalagi untuk memperbaiki masjid. Padahal mereka yang sudah kakek-kakek itu berniat mulia, meskipun miskin harta mereka juga ingin seperti orang kaya yang bisa membangun masjid. Bukankah setiap kita baik miskin atau kaya memiliki kesempatan yang sama untuk beramal jariyah? Mereka para kakek itu dengan sederhana memaknai amal itu melalui apa yang mampu mereka lakukan yaitu memungut sumbangan dari pengguna jalan agar masjid di kampung mereka bisa diperbaiki. Ah…kakek di ujung senjamu, di batas ketidakpunyaanmu engkau juga ingin seperti yang lain.
Ada di mana kita yang muda dan berpunya, melihat perjuangan kakek-kakek itu memperbaiki masjidnya, tidakkah kita tergerak membantunya? Jika kita masih muda dan bertenaga apalagi berpunya tentu mampu melakukan lebih dari yang dilakukan kakek-kakek itu.
Kakek, semoga amal di ujung senjamu di terima oleh Alloh Swt.
Catatan sebelum tidur,
Indralaya 20 juni 2011

SEKELUMIT KECEWA

By D-wie ‘de Barry


“ Maaf ibu, anak ibu belum bisa bergabung dengan sekolah kami, umurnya baru 5,8 tahun. Usia anak sekolah saat ini adalah 6 tahun.”

Penolakan itu terjadi pada tahun 2008. Saat my first son  Abel mulai mendaftar sekolah. Alih alih karena umur, sepertinya aku harus membatalkan niat untuk menyekolahkan anakku di salah satu sekolah negeri favorit di kotaku tersebut.

“ Oke kid, you don’t belong here.”

Kalimat itu kuucapkan kepada Abel sambil membereskan map yang berisi biodata untuk kelengkapan administrasi sekolah.

“ Eh, memangnya anak ibu bisa bahasa Inggris ya?”

Rasa takjub jelas terlihat dimata sang guru.

“ Sedikit”

Jawabku tak begitu antusias.

“ Bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris?” Boleh saya dengar?”

Permintaan sang guru terasa aneh untukku. Tapi tetap kupenuhi sebagai bonus penolakan manis yang baru kuterima.

“ Hi, what’s your name?”
“ Alfasya Syabil Sholatar.”
“ Where do you live?”
“ I live in Citra Persada complex.”
“ How old are you now?”
“ I am about to be six.”

Percakapan singkat, santai, tak begitu bermakna untukku, membuat mata takjub sang guru semakin membesar.

“ Aduh, anak ini sepertinya spesial ya.” Berkas dokumennya saya pinjam sebentar ya bu. Kita perlu anak anak seperti ini. Saya akan bicara langsung dengan kepala sekolah mengenai anak ibu.” Saya yakin beliau akan dengan senang hati menerima anak ibu untuk bergabung dengan sekolah kami.”


“ Loh, umurnya gimana?” Bukannya kebijakan sekolah tidak mengijinkan?”

“ Tenang, itu bisa diatur.”

Sang guru tersenyum manis dan membawa berkas anakku ke ruang sebelah.  

“ Ibu, kepala sekolah ingin bertemu. Silahkan ke ruang sebelah.”

Dan duduklah aku bersama Abel berhadapan dengan wanita paruh baya yang disebut sebagai si kepala sekolah.

“ Halo, selamat siang.”

“ Siang, bu.”

“ Saya mendengar dari wakil saya bahwa ibu punya anak istimewa yang bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Betul bu?”

Masih dengan kerutan di dahi aku menganggukkan kepala. Belum tahu arah pembicaraan ini.

“ Sekolah kami akan senang sekali kalau anak ibu bisa bergabung dengan kami.”

“ Maaf, bu. Tapi barusan wakil ibu menolak pendaftaran anak saya dengan alasan umurnya masih kurang beberapa bulan.”

“ Ooh, itu betul sekali, ibu. Tapi saya melihat potensi pada diri anak ibu. Maka kami memutuskan untuk menerima anak ibu dengan tangan terbuka.”

“Tapi bagaimana dengan umurnya?”

Kepala sekolah tersebut terlihat mencoba menebar senyum termanis.

“ Jadi begini ibu, mulai tahun ini sekolah kami akan mulai membuka kelas RSBI dan kami butuh anak anak yang berpotensi seperti anak ibu. Tapi karena umurnya kurang beberapa bulan, maka kami hanya akan meminta uang administrasi pelengkap sebesar Rp. 500.000.”

“ Maksudnya?”

“ Iya, lima ratus ribu rupiah. Orang tua lain biasanya dengan sukarela membayar dua juta hingga tiga juta rupiah lho bu, supaya bisa masuk sekolah ini. Tapi karena anak ibu spesial, maka ibu cuma membayar lima ratus ribu rupiah. Murah kan, bu?”

Murah? Membayar? Spesial? RSBI? Apa apaan ini? Apa urusannya kelas RSBI dengan anakku? Aku tak pernah meminta anakku untuk berada dikelas RSBI? Apa pentingnya kelas RSBI?

Rintisan Sekolah Berstandar Internasional yang siswanya hanya ada 25 orang dengan kelas nyaman ber AC namun berkesan pengkastasasian  biaya  sekolah yang berlipat dari kelas regular. Yang memiliki akses internet untuk mempermudah belajar ( atau meringankan pekerjaan guru?). Yang katanya akan full  ber atmosphere bahasa Inggris ( Apakah mungkin kalau gurunya hanya satu dua yang berkomunikasi dalam bahasa Inggris sementara yang lain hanya bisa ‘how are you’ dan ‘ see you tomorrow’?). Yang menggunakan buku buka terbitan luar negeri tapi tetap harus mengikuti UN (Ujian Nasional ). Yang jam belajarnya padat hingga jam 4 sore tetapi siswa tetap harus mengikuti les diluar untuk memenuhi nilai standar KKM yang tinggi dari pihak sekolah sehingga mereka benar benar kehilangan masa bermain dan bersosialisasi untuk mengembangkan kemampuan otak kanan saat mereka banyak berinteraksi dalam keadaan rileks, bukannya terus mengikuti pelajaran sekolah yang notabene mengutamakan otak sebelah kiri. Yang memberikan bertumpuk tumpuk PR yang belum jelas apakah dikoreksi atau tidak, entah bersifat practice, enrichment atau drilling? Entahlah.

Yang pasti aku benar benar tersinggung.  Dia anggap kelas RSBI yang jelas jelas berorientasi dengan ‘hasil belajar’ bukan ‘proses belajar’ bisa menjamin pertumbuhan dan perkembangan jiwa dan fisik anakku yang sangat dibutuhkannya saat dia tumbuh dewasa nanti apa? Dia anggap jual beli pendidikan seperti ini tidak merusak moral apa? Awalnya mereka menolak anakku, kemudian memberikan dispensasi, dan terakhir meminta ( memalak tepatnya) uang sebagai pelengkap adminsitrasi. Hanya lima ratus ribu? Orang tua lain berani membayar dua juta lebih.
It’s totally insane!

Kubenahi berkas dokumen milik Abel.

“ Terima kasih atas penawarannya, ibu.” Tapi saya tidak jadi mendaftarkan anak saya di sekolah ini. Prestasi sekolah berasal dari siswa. Siswa yang mampu berprestasi dibina oleh guru dan sekolah yang bermoral.”

Kusalami sang kepala sekolah sambil memberikan senyum (juga) yang termanis. Kulihat wanita itu masih terkesima saat aku menggandeng Abel melenggang keluar ruangan.

SUNDEL BOLONG GANTENG

(Mukti A. Farid).
Siang menjelang Ashar kemarin, setelah seharian mengikuti pelatihan menulis bersama ibu2 IIDN korwil Tangerang yang smart, begitu sampai di rumah aku langsung merebahkan diri di kamar. Ternyata kamar kami sedang full house, eh full room ding. Anak-anak ngeriung  semua di situ, untel-untelan seperti gado-gado. Adnin tampak sudah lelap, Hurin masih sibuk dengan lappy di meja kerja, si Ayah tampak sedang pura-pura terlelap.
Begitu pintu kamar terbuka, Ayah langsung meletakkan telunjuk di mulutnya. Itu artinya dia minta aku supaya tenang tidak bersuara, karena dia sedang ngelonin dek Hibban. Tapi Hibban (2 tahun), begitu melihat aku membuka pintu kamar matanya langsung terbelalak riang dan tersenyum manis. Weelha… percuma juga tuh Ayah pura-pura merem, lha wong yang dikelonin matanya masih bulat sempurna begitu.
Karena memang benar-benar lelah, aku ikut bergabung saja di tempat tidur. Jadi satu bed untuk berempat dengan urutan Hibban-Ayah-Aku-Adbin. (untungnya gak jebol bed-nya, hihihi. Sengaja kutulis begini karena biasanya ada yang komen soal ini. Hufht). Mengikuti jejak Ayah, aku pura-pura merem, maksudnya supaya Hibban ikut merem.
Tapi dasar Hibban mungkin sudah gak ngantuk, dia malah mengajakku main cilukba dengan bersembunyi di balik badan ayahnya. Aku cuma menanggapi dengan senyum, tapi lalu berbalik menghadap ke Adnin, dengan maksud supaya Hibban diam dan tertidur.
Ternyata, dia malah menemukan ide baru, bermain ‘halang rintang’, berganti-gantian melompat ke antara ayah dan aku, berlanjut ke antara aku dan Adnin, balik lagi antara ayah dan aku, begitu seterusnya. Tak jarang loncatannya tidak pas benar dan mengenai tubuh kami. Huaa, sakit juga ternyata.
Lama-lama, mungkin ayahnya juga merasa sakit, lalu dia membangkitkan kecemburuan Hibban dengan memelukku, ”Ah, ngelonin ibu aja aah” . Efektif, karena  Hibban langsung nimbrung lagi antara aku dan ayahnya.
Segera tubuhku berbalik, memunggungi Hibban. Tubuh mas Anto juga berbalik memunggungi Hibban, dengan harapan jika dicuekin lama-lama Hibban akan tertidur. Lama tak ada suara, kupikir Hibban sudah mulai tenang. Tapi ternyata dia malah mendapatkan ’permainan’ baru lagi, memain-mainkan jarinya di kaos oblong ayah yang kebetulan ada sedikit bolong di punggung. Kuperkirakan, pasti Ayah kegelian, tapi ditahan saja karena takut Hibban jadi bersemangat main lagi.
Agak lama sepi tak ada suara, lama-lama kudengar suara, ”Breeett... breeett... breeett”. Waktu kutengok ke belakang, ... Astaga! Hibban rupanya mulai merobek kaos oblong ayah, berawal dari tempat yang bolong tadi. Dasar kaosnya juga sudah mulai kumal mungkin, gampang saja dirobek anak sekecil Hibban. Aku senyum-senyum sendiri, tapi tak berkomentar.
Rupanya, tak tahan menahan geli, ayahnya memutuskan untuk bangun. Kebetulan azan Ashar berkumandang. Begitu dia berdiri, aku tak tahan untuk tidak tertawa terbahak melihat si Ayah memakai kaos compang-camping, dengan sebagian besar punggungnya terbuka lebar. Melihat bentuk bajunya yang sudah tak keruan, mungkin orang lain mengira si Ayah baru saja menerima perlakuan KDRT terkejam. Padahal pelakunya cuma seorang bocah batita.
Hihihi, siang-siang kok ada sundel bolong nih, tapi sundel bolongnya ganteng euy :D
#Pamulang, 27 Juni 2011

EVERY KID IS SPECIAL By D-wie ‘de Barry




”Orang tua biasanya melarang anak bergaul dan menyuruhnya belajar terus di rumah. Tindakan ini salah. Anak bisa menjadi tertekan,” ( kutipan kalimat psikolog Tika Bisono dalam seminar Jurus Jitu Mengembangkan Potensi Anak ).
Kecerdasan intelegensi tidaklah cukup bisa menjamin karier masa depan anak jika tak diimbangi dengan kecerdasan emosi dan spiritual. Anak selain tidak bisa bersosialisasi juga kurang bisa mengendalikan emosinya bila menghadapi masalah. .
Pribadi yang sehat adalah pribadi dengan kecerdasan emosi yang optimal. Kecerdasan emosi tidak diperoleh secara instan melainkan sebuah proses yang terjadi selama masa tumbuh dan kembang anak. Anak yang tidak diberi ruang untuk berkembang secara emosi dapat tumbuh menjadi pribadi yang sulit. Hal tersebut dapat terbawa terus hingga memasuki masa dewasanya.
Pertumbuhan dan perkembangan jiwa dan fisik yang harmonis menjadi cikal bakal pribadi anak yang sehat yang sangat dibutuhkan saat mereka tumbuh dewasa nanti.
Para ahli sepakat bahwa ada aspek lain selain aspek kecerdasan intelegensia atau logika yang berpengaruh dalam menentukan keberhasilan seseorang di lingkungan sosial.  Kecerdasan Emosi di dalam Multiple Inteligensia masuk kedalam kecerdasan Interpersonal dan kecerdasan Intrapersonal, dua kecerdasan ini sangatlah penting karena sangat mempengaruhi kehidupan seseorang. Kecerdasan yang lebih tinggi lagi diatas dua kecerdasan ini adalah kecerdasan spiritual. Kalau dua kecerdasan sebelumnya akan memberikan kesuksesan diri pribadi maka kecerdasan Spiritual akan membawa seseorang untuk memberikan kesuksesan bagi orang lain. .
 Kecerdasan intrapersonal secara luas diartikan sebagai kecerdasan yang dimiliki individu untuk mampu memahami dirinya. Sedangkan, dalam arti sempit ialah kemampuan anak mengenal dan mengindentifikasi emosi, juga keinginannya. Selain itu anak juga mampu memikirkan tindakan yang sebaiknya dilakukan dan memotivasi dirinya sendiri. Anak dengan karakter ini mampu mengintropeksi dirinya dan memperbaiki kekurangannya. Setiap anak dianugerahi kecerdasan ini, namun kadarnya berbeda-beda.
Tiga tipe pola pengasuhan anak untuk mengembangkan kecerdasan intrapersonalnya adalah
 Authoritarian, orang tua yang bersikap otoriter, tidak memberi anak kebebasan dan memaksa anak agar memenuhi tuntutan orang tua.
Permissive, orang tua yang mengalah pada keinginan anak, sangat membebaskan anak walaupun seorang anak belum dapat membuat keputusan dengan tepat dan membiarkan kesalahan anak.
Authoritative, orang tua yang menentukan dengan jelas konsekuensi dari setiap tindakan yang diambil, tidak mengekang anak secara berlebihan juga tidak membebaskannya, tetapi terus memberi perhatian pada anak dan berusaha membentuk anak yang mandiri.

Tipe orangtua seperti apakah kita? Sudahkah kita menjadi yang terbaik bagi anak anak kita? Mereka adalah titipan Tuhan yang harus kita jaga sebaik baiknya. Every kid is special…

Nick Vujicic, Sang Inspirasi Dunia

Tri Wahyuni Rahmat

selamat pagi....
sobat, berikut adalah sebuah catatan dari blog pribadi saya, mengenai salah seorang sosok inspirasi dunia.  Nick Vujicic. Dari Nick, saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga.  yaitu mengenai Sikap dan Pikiran  Positif.
Yuk, silahkan dibaca..., sambil minum teh atau kopi di pagi hari... :)

==================
Ketika saya dan suami mengikuti acara motivasi dan pengembangan diri  di Wonosalam, Jombang beberapa waktu yang lalu. Salah satu pembicara  menyampaikan materi tentang SIKAP. Disela-sela penyampaian materi tersebut, beliau menayangkan video dengan durasi pendek.  Video tersebut menampilkan Nick Vujicic, seorang pria berusia 30 tahun yang menjalankan hidupnya dengan sempurna.
Awal dari video tersebut, hanya terlihat raut wajah Nick Vujicic yang bersemangat sambil memperkenalkan diri dihadapan kamera.  Semula, saya pribadi begitu terpesona melihat wajahnya yang menarik dan tersenyum. Namun, ketika sorot kamera mengarahkan ke seluruh tubuhnya, saya sempat terenyuh melihatnya.
Nick Vujicic, seorang pria yang menginspirasi banyak orang di dunia ini untuk selalu bersikap positif dan terus berani menghadapi kehidupan ini, ternyata tidak memiliki kesempurnaan pada fisik tubuhnya yaitu tidak mempunyai tangan dan kaki sejak lahir.
  Sejenak saya tertegun. Nick Vujicic memang orang yang sangat luar biasa. Dalam ketidaksempurnaan fisik yang ia miliki, tapi ia mampu memberi inspirasi dan semangat kepada orang lain yang memiliki fisik lebih sempurna dari nya.
Dalam video tersebut di perlihatkan kehidupan sehari-hari yang dijalani Nick Vujicic.Mulai dia bangun tidur,melakukan aktifitas di kamar mandi,mengenakan pakaian,sampai mengisi kegiatan hari itu. Ia lakukan sendiri tanpa bantuan orang lain. Padahal ia tidak memiliki tangan ataupun kaki seperti orang lain. Namun wajahnya tetap bersemangat.

Di session lain, di tunjukkan beberapa album foto Nick dari bayi sampai dewasa, yang semuanya menggambarkan bahwa Nick benar-benar menghargai kehidupan ini dengan penuh semangat dan antusias. Namun ada pula session selanjutnya di video tersebut, terlihat Nick pun mengungkapkan bahwa ia pun pernah merasakan saat down,namun hal itu tidak menjadi penghalang baginya untuk terus bangkit dan maju.
Tapi yang paling menyentuh adalah session video pada saat Nick dengan segala kesederhanaan yang ia miliki memberikan motivasi kepada para siswa sekolahan yang hadir untuk bertemu dengannya. Nick dengan penuh kesungguhan memberikan motivasi yang sangat membekas dihati para siswa tersebut.
Nick,mungkin hanya pria biasa dengan kekurangan fisik. Namun dengan keadaannya tersebut, tidak membuat dia minder ataupun putus asa menghadapi dunia ini. Bahkan Nick mampu menunjukkan kepada dunia siapa dirinya sekaligus menjadi inspirasi bagi setiap orang untuk tidak pernah menyerah dalam menghadapi kehidupan. Dunia ini begitu indah untuk diisi hal-hal yang positif dan bermanfaat.
Sobat,belajar kisah Nick Vujicic ini,  permasalahan SIKAP dan PIKIRAN adalah hal yang paling inti dan penting dalam hal ini.  SIKAP dan PIKIRAN seorang Nick memang sangat luar biasa. Dari semua keterbatasan fisik yang ia miliki, ia mampu bersikap dan berfikir positif menghadapinya, dan bahkan ia mampu merubahnya sebagai sumber kekuatan dalam hidupnya.
Pertanyaan saya sangatlah sederhana pada diri saya sendiri dan para sobat? Apakah selama ini kita dapat mampu ber SIKAP dan BERFIKIR Positif dalam menghadapi semua hal yang terjadi dalam hidup kita? Bahkan bila hal yang terjadi tersebut benar-benar merontokkan semangat kita dan membuat kita terpuruk serta merasa bahwa tidak ada jalan untuk menghadapi itu semua selain menyerahkan nasib.
Melihat sosok Nick dengan penuh aura positif yang dimilikinya, membuat kita harus intropeksi diri kembali. Tanpa kita sadari, begitu banyak anugrah yang diberikan Tuhan kepada kita. Termasuk kesempurnaan fisik yang tidak dimiliki oleh Nick. Tapi mengapa perasaan bersyukur dan sikap positif Nick malah lebih bermakna dari pada kita? Terlebih ia bisa begitu banyak menginspirasi dan membangkitkan semangat orang lain.
Well sobat. Semua memang tergantung dari SIKAP dan PIKIRAN kita masing-masing. Bila kita selalu belajar bersikap dan berfikir positif, maka hal-hal positif pula lah yang akhirnya dapat kita tarik. Sedikit mengambil intisari dari buku The Secret tentang law of atraction atau hukum tarik menarik. Saya jadi ingat satu pesan orangtua terdahulu agar kita selalu bersikap dan berfikir positif. Ya..,karena dengan begitu kita akan menarik hal-hal positif kepada diri kita.

Karena itulah sobat.., tariklah hal-hal yang positif disekitar kita. Buang jauh-jauh hal-hal negatif ke laut aje :)
  Nick mengajarkan banyak hal pada saya pribadi dan semua orang tentunya. Tidak hanya ttg sikap dan berfikiran positif saja. Tetapi tentang arti semangat dan perjuangan hidup yang ia di wujudkan melalui kehidupan yang ia jalani dengan penuh rasa syukur dan menginspirasi banyak orang untuk berubah lebih positif dan baik.... :)

Thanks to Nick Vujicic
Dan apabila teman-teman penasaran dengan mau liat video Nick vujicic, bisa search di Youtube.

Waspadai Bahaya INFLASHIT (Semoga Menambah wawasan meskipun hanya sedikit)

-Dieta Aditya Dewi-

Namanya juga wanita, kenaikan harga akan menjadi sensitifitas tersendiri yang mengisi hampir keseluruhan pikiran dan perasaan kita karena tentu saja akan sangat mempengaruhi kualitas dan gaya hidup keluarga. Mulai dari biaya kebutuhan pokok, harga kewajiban hidup hingga harga sebuah hobi. Kita bisa merasakan jika kocek yang harus dibayar terasa semakin brutal dan biaya kehidupan terasa semakin anarkis.
Tapi rasanya hal ini harus dimaklumi mengingat wanita memiliki berbagai macam kodrat yang begitu istimewa, selain melahirkan, menyusui dan menstruasi, sadar atau tidak selama ini wanita masih memiliki kodrat lainnya yakni mengatur segala kebutuhan rumah tangga dan menjadi menejer keuangan keluarga.
  Sialnya justru harga-harga yang memuncak ini bukan hanya sekedar hobi biasa atau barang tak berguna saja namun justru semua kebutuhan pokok dan biaya kewajibanlah yang terasa semakin tinggi bak menaiki lift bertenaga pesawat jet  hingga ke lantai puncak. Apalagi jika ditambah hobi belanja dan hura-hura yang menjadi salah satu daftar hobi yang paling konsisten dilakukan. Harga tas, baju, sepatu, make-up dan nongkrong sudah tidak bisa kita hitung secara sadar.
Tiba-tiba kita merasa kehilangan uang sekian juta demi sebuah hobi. Padahal tanpa melakukan hobi tadipun, tetap saja rasanya uang sekian juta tak cukup untuk memenuhi perjalanan rutinitas sehari-hari. Gajian tanggal satu eh sebelum tanggal sepuluh sudah kejang-kejang, padahal tak seperak pun kita hamburkan untuk hal yang sia-sia, semua pengeluaran sudah ada pos-pos tersendiri dan semua pos adalah sesuatu yang sangat penting.  sialnya satu harga saja naik maka harga yang lainnya pun ikutan naik, tapi giliran ada harga yang turun, harga yang lainnya enggan turun padahal tingkat penurunan harga tersebutpun tak sebanding dengan presentase kenaikannya.
  Saya yakin, semua manusia yang hidup di era ini menyadari bahwa kenaikan harga yang semakin brutal membawa dampak yang luar biasa meresahkan karena pada kenyataannya income yang didapat masih tetap sama, kalaupun berubah ya paling kenaikannya berkisar 10-20% pertahun, padahal setiap harga kebutuhan dan kewajiban juga naik rata-rata 10% pertahunnya.
Bagaimana bisa income kita mampu mencukupi kebutuhan pokok kehidupan. Sementara tak satupun kewajiban bisa dikesampingkan. Mana bisa dapur tidak ngebul? atau pendidikan anak diabaikan? Mana bisa listrik, air dan telepon tidak dibayar? Hari gini Mana bisa pulsa HP kosong? Mana bisa ongkos operasional dan transportasi dikurangi? Kalaupun ada yang dipilih untuk dikesampingkan dahulu sementara waktu, pasti stabilitas keluargapun akan sedikit goyah.
  Bagaimana caranya agar keseimbangan hidup keluarga dikemudian hari tetap bisa terjaga? Bukankah hari ini adalah hari yang menentukan masa depan kita? karena hari ini terbentuk dari masa lalu bukan?
Salah satu cara untuk mengantisipasi kesuraman di masa depan akibat “bahaya Inflasi” yang terjadi di negara ini adalah dengan cara meningkatkan Kesadaran kita dalam hal menyusun perencanaan keuangan masa depan secara apik dan mulailah mempersiapkan langkah-langkah kecil itu hari ini dan sekarang juga. sehingga kita bisa dengan cepat menemukan dan menjalankan sebuah solusi.
Karena dengan perencanaan keuangan yang matang kita akan menemukan “Bagaimana caranya agar pendapatan bulanan dan perencanaan keuangan kita mampu mengimbangi kecepatan lonjakan harga tersebut” satu hal yang penting untuk disadari oleh kita adalah Jika kita terlalu lambat mengantisipasi hal tersebut, waktu tidak pernah memberikan kita toleransi. Bukankah Saat kita berhenti,
Waktu tetap berlari? Saat kita terdiam dan terlelap, waktu terus melangkah pasti? Maka sudah menjadi keharusan buat para wanita untuk menjadi cerdas dan cerdik dalam mengatur dan merencanakan keuangan saat ini dan masa depan bagi keluarga. Meskipun status saya belum menjadi seorang istri (apalagi ibu) tapi saya memperhatikan dan mempelajari cara kerja hebat ibu saya dalam melakukan pengaturan keuangan.
Itulah yang membuat saya tertarik untuk menekuni dan memperdalam ilmu tentang perencanaan keuangan dan investasi. Berkarir sebagai konsultan perencanaan keuangan (Financial Consultant / Financial Advisor) adalah bukan hanya sekedar teori dan nasehat tapi praktek secara langsung, berjumpa para klien, mendengar dan bertukar cerita lalu memecahkan masalah bersama berdasarkan realita yang ada.
Dan sadar atau tidak,ternyata sesungguhnya hampir semua manusia yang ada di jaman sekarang sangat membutuhkan seorang financial advisor demi menstabilkan anggaran keuangannya.


Misalnya merancang kebutuhan pendidikan anak. Biaya sekolah semakin mahal. TK, SD, SMP, SMA, apalagi Universitas, semua terasa begitu mencekam padahal anak-anak jaman sekarang dituntut memiliki perndidikan setinggi-tingginya. Jika dahulu entah beberapa puluh tahun yang lalu cukup dengan ijazah SMP maka beberapa tahun setelah itu harus minimal Ijazah SMA.
Tapi dengan seiring dengan perkembangan jaman, teknologi, informasi, tuntutan, tantangan dan persaingan di era globalisasi ini, terkadang ijazah D3 pun tak cukup mejawab tantangan. “Minimal S1 dengan IPK sekian” begitu kata iklan lowongan pekerjaan di koran, maka tak heran jika banyak teman seangkatan saya langsung bergerak melanjutkan kuliah hingga S2 tanpa kenal lelah. Mereka mengantisipasi kebutuhan pasar “Lapangan kerja” jaman modern ini,  Lalu berapa harga yang harus dibayar ya?
Mari kita cek bareng-bareng ya. Jaman ayah saya kuliah dulu (Ayah saya sempat bercerita), biaya persemesternya hanya 10.000 rupiah untuk mendapatkan gelar S1, namun beberapa puluh tahun kemudian ketika saya memasuki gerbang kuliah harga persemesternya sudah mencapai titik 700rb rupiah,kemudian beberapa tahun kemudian adik perempuan saya memasuki gerbang kuliah (di kampus dan jurusan yang sama), namun harganya sudah 1,2jt persemester, nah sekarang giliran adik lelakiku yang mulai kuliah harga persemesternya sudah di angka 4 juta rupiah.
Padahal kami (Aku, Adik perempuanku dan Adik lelakiku) sama-sama di universitas negeri yang relatif lebih murah dari pada swasta. Biaya persemster dari tahun ke tahun mengalami kenaikan yang sangat jelas.
Eits tunggu dulu, yang saya sebutkan Itu baru biaya per semester lho, Nah kira-kira uang pangkal dan sumbangannya berapa ya? Trus biaya total yang harus dikeluarkan kalau sampai lulus berapa yah? Satu catatan penting dari saya, jaman sekarang setiap Universitas berlomba-lomba menaikkan harga uang pangkal dan sumbangan lho ga perduli itu universitas negeri atau swasta. Hadoh tepok-tepok jidat sebentar yuk.
Mau bukti lagi bahwa betapa kejamnya Inflasi di negeri ini? boleh, dan bisa dicek bareng-bareng kalau mau silahkan hubungi saya. Aku sempat iseng-iseng menghitung jika rata-rata biaya kuliah S1 terbaik saat ini (dari mulai awal masuk (sumbangan, uang pangkal, ospek dll) hingga wisuda termasuk operasional kuliah, biaya hidup saat kuliah, dll ) adalah sekitar 280 juta-an maka 15 tahun kemudian harga 280 juta tersebut secara mengagumkan akan menjadi 1 milyar 10 juta an.
Nah,  jika saat ini ibu-ibu mempunyai buah hati yang berusia 3 tahun dan akan kuliah 15 tahun lagi, maka mau tak mau 15 tahun kemudian itu ibu-ibu harus memiliki jumlah uang minimal 1 milyar 10 juta jika ibu-ibu menginginkan sang buah hati mendapatkan gelar S1 terbaik. Padahal kita tidak tahu saat 15 tahun lagi, apakah ijazah S1 masih laku or tidak untuk mencari pekerjaan saat itu?atau jangan-jangan pendidikan minimal saat itu harus S1 dengan gelar profesi atau jangan-jangan malah minimal S2?
Itulah bahayanya inflashit, sayangnya disaat semua orang telah sangat menyadari bahaya inflasi yang terus menjajah dan mencekik namun hanya segelitir orang saja yang berusaha mencari senjata untuk mengatasi penjajahan ini. Mayoritas dari Mereka hanya disibukkan dan memikirkan kebutuhan hidup saat ini sementara mereka pikir, harga yang harus dikeluarkan nanti ya gimana nanti. Hai, Hidup kan bukan Cuma buat hari ini, justru kita ada di hari ini buat kehidupan nantikan?
Padahal kalau harga saat ini saja membuat kita mati, apalagi nanti. Jadi persiapan dan perencanaan keuangan itu sebenarnya salah satu kebutuhan karena itu merupakan senjata paling ampuh untuk meminimalisir, mengatasi bahkan menghilangkan dampak buruk inflashit.

Lalu Bagaimana caranya? Sebuah langkah mudah mulai bisa kita terapkan, yaitu :
Kita perlu mulai menghitung secara spesifik dan detile, apa dan berapa harga kebutuhan yang terjadi saat ini. kemudian tambahkan dengan inflasi (kenaikan harga yaitu 10%/tahun) setiap tahunnya, hitung tahun demi tahun berdasarkan angka yang telah dihitung hingga tahun yang dimaksud. Misalnya : jika tahun ini (2011) harganya 10rb maka tahun depan (2012) harganya menjadi 10 rb + (10% x 10rb) = 11rb lalu thun berikutnya (2013) adalah menjadi 11rb + (10% x 11rb) = 12.100 dst hingga tahun yang dimaksud.
Lalu dari langkah “a” kita bisa mulai menghitung Berapa penghasilan yang harus kita sisihkan untuk ditabungkan/diinvestasikan untuk mendapatkan angka (jumlah) tersebut di tahun yang dituju. Disesuaikan dengan keutungan investasi yang biasa kita dapatkan, Mudah kan?
Jika penghasilan kita dirasa belum bisa disisihkan untuk ditabung maka mulailah sedari sekarang kita buat kolom-kolom pemisahan kebutuhan berdasarkan jangka waktunya. Apakah untuk jangka waktu pendek (1-3 thn), jk menengah (3-10 thn) dan jangka panjang (di atas 10 thn). Dengan cara seperti itu kita bisa juga mengecek kebocoran pengeluaran yang selama ini terjadi sekaligus menetukan pilihan investasi yang menguntungkan untuk masing-masing jangka waktu. sementara Kebocoran yang ditemukan bisa dialokasikan untuk kebutuhan hari nanti alias ditabungkan. Silahkan di coba, atau kalau masih bingung dan perlu bantuan silahkan hubungi saya. Konsultasi gratis kok.
Nah Kalau sudah benar-benar mepet, ya cari pekerjaan sambilan or bisnis sampingan. Biasanya justru akan membuat diri kita lebih kreatif.
Selain dana pendidikan buah hati, Hal penting lainnya yang harus mulai dipikirkan sedini mungkin adalah tentang kualitas pensiun yang ingin kita nikmati. Saat pensiun tiba, kebutuhan kita meningkat (bagaikan libur setiap saat) sementara raga kita tak lagi mampu bekerja seperti saat ini.
Kita tidak boleh terus-terusan menganggap bahwa pensiun akan terjadi di waktu yang masih sangat lama (coba kita hitung, Berapa tahun lagi usia pensiun akan menghampiri? 10 thn? 20 thn? Atau 30 thn lagi? karena ingat sekali lagi, waktu berlari sangat cepat bahkan mungkin sama cepatnya dengan kecepatan cahaya sementara saat pensiun tiba, semua keadaan kita sudah sangat berubah dan menurun begitu drastis.
Coba kita ingat dan pikirkan kembali, apa yang kita rasakan selama ini (dari sejak kita dilahirkan hingga kita menginjak usia sekarang?) Apakah pergerakan waktu terasa sangat lama? Atau Biasa saja? Atau terasa cepat sekali? atau saking cepatnya semua tidak kerasa apa-apa? tiba-tiba sekarang kita sudah sebesar ini?
Padahal baru saja kemarin kita dilahirkan lalu menjadi balita dan tiba-tiba dimasukkan TK trus SD lalu SMP kemudian SMA sehabis itu Kuliah eh tiba-tiba wisuda lalu mencari kerja atau membuat dan mengembangkan bisnis. Eh habis itu nikah deh trus punya anak deh, 1 anak, 2 anak eh 5 anak? Eh punya cucu, Cepat sekali bukan?  Nah itulah perasaan yang akan kita rasakan saat pensiun itu datang. semuanya tidak akan terasa, tiba-tiba kita sudah menginjak masa pensiun. Ga percaya? Coba tanyakan saja kepada orang tua kita!!


Apakah pernah ada, orang tua yang berencana hendak menikmati pensiun dengan cara mengandalkan anak kita saja? Memang sih sudah kewajiban anak berbakti pada orang tua, tapi bukankan anak kita juga nantinya akan memiliki kebutuhan, kepentingan dan masalah sendiri seperti diri kita di hari ini? Sementara kita saat ini mengerti betul situasi sulit ini, apakah tega jika kita berencana menjadi beban anak kita kelak?
Tentu tidak bukan, semua ibu PASTI akan memberikan yang terbaik bagi anaknya, TIDAK ada seorang ibupun yang berniat mengambil sesuatu dari anaknya atau memberi beban berat pada sang buah hati yang telah dijaga sedemikian rupa hingga dewasa.
Nah sekarang mumpung  kita berada pada usia yang masih sangat produktif untuk menegakkan kehidupan, mari kita mulai merinci segala kebutuhan kita secara detile, dari mulai kebutuhan, kewajiban serta keinginan kita saat ini, setahun lagi, dua tahun lagi, 10 tahun lagi hingga nanti.
Pensiun seperti apa yang kita impikan? Apakah kita ingin menikmati pensiun dengan ketenangan atau kepanikan? semua ditentukan sejak hari ini.
Namun apakah selama perjalanan hidup menuju pensiun datang, kita dijamin terbebas dari resiko kehidupan? Tidak kan, tidak ada yang menjamin kita bisa terbebas dari resiko hidup. Kita memang tidak bisa menghindarinya namun sebenarnya kita bisa mengantisipasinya. Bukankah semua kehidupan ada resikonya? Saat usia dan kehidupan kita Semakin matang, dewasa dan mapan, maka semakin besar pula tanggung jawab, ujian, cobaan dan tantangannya. Apakah kita sudah sedia payung sebelum Hujan? Apakah kita sudah mengingat 5 perkara sebelum 5 perkara?
Apakah kita ingin memiliki generasi penerus dengan kualitas tinggi? atau tidak? semuanya ya ditentukan dari hari ini. coba renungkan apa yang terjadi jika setiap dari kita menginginkan anak kita menjadi dokter, sang anak telah berusaha belajar dengan keras hingga menjadikan dia diterima difakultas kedokteran. Namun masalahnya saat waktu yang sama-sama dinanti tiba, saat sang anak harus segera mendaftarkan diri menjadi mahasiswa kedokteran tiba, kita tak punya dana atau dana kita kurang sehingga mengorbankan cita-cita dia dan kita. anak kita batal masuk gerbang kedokteran lalu apa yang kita rasakan? Sedihkah? Kecewakah? Menyesalkah? Atau biasa-biasa saja?
Mimpi apa yang ingin kita raih dalam tahun-tahun kehidupan kita selajutanya juga ditentukan dari usaha dan kesiapan kita sejak hari ini.
Aku suka sekali membayangkan hari nanti agar aku bisa mulai menyusun strategi, lalu mengolah strategi tersebut menjadi langkah-langkah pasti. Agar kelak semua mimpi bisa aku lihat secara nyata bersama para pendampingku dikemudian hari.
Gimana ya saat aku menikah kelak, menjadi seorang istri yang baik bagi suamiku. Berada di belakang suamiku untuk melajukan perahu rumah tangga.
Gimana ya saat aku dikarunia buah hati dan menjadikan jabatanku naik, dari yang tadinya menjabat sebagai seorang istri lalu naik menjadi seorang ibu.  Berapa anakku kelak? lalu Apakah saat anak-anakku bertumbuh dan dewasa hingga mandiri,  masih cukup produktifkah usia, tenaga dan pikiranku? atau sebaliknya, saat tubuhku mulai ringkih, jangan-jangan aku masih mempunyai buah hati yang belia sehingga masih membutuhkan banyak biaya dalam kehidupan?  Semoga kesehatanku tetap terjaga, rezekiku semakin berlimpah. Dan aku tahu ALLAH suka jika umat-NYA penuh dengan strategi, perencanaan dan Usaha yang matang.
Yang terakhir adalah, Gimana ya diri ini pada saat usia pensiun tiba? saat tubuhku sudah tidak mampu bergerak seaktif ini, saat pikiranku tak lagi mampu berfikir cepat, dan saat perasaanku tak lagi dipenuhi impian akan hari nanti yang lebih baik? Apakah hasil usia mudaku yang akan ku tuai kelak? Apakah pensiunku nikmat dan penuh rahmat? atau sebaliknya, pensiunku dalam keadaan sekarat dan berkarat? Mati kebosanan, diam dalam kejenuhan? Tak sanggup bergerak dan tak mampu berbagi? Mudah-mudahan tidak dan jangan sam[ai kaya gitu, karena semuanya tergantung rencana, usaha dan doaku di hari ini. semoga saat pensiun nanti, semua mimpi sepenuhnya sudah mampu ku nikmati dan ku bagi

Salam Sayang
-Dieta Aditya Dewi-

Bingung Mencari Ide Usaha?

Tri Wahyuni Rahmat

Beberapa ibu bertanya kepada saya. Setelah muncul keinginan menjalani bisnis, biasanya terkendala pada ide usaha apa yang ingin di jalankan.  Sebenarnya banyak ide yang ibu-ibu bisa jalankan sebebagai bisnis.  Berikut penjelasannya ya.... :)

Ada beberapa cara bagi anda untuk mencari ide usaha yang sesuai dengan keinginan anda sendiri yang tentunya akan menjadi usaha yang menguntungkan kelak bagi anda.
Kenali lingkungan anda
Bisnis yang dilakukan mompreneur pada awal biasanya dilakukan dengan memanfaatkan rumah sebagai tempat usaha. Beberapa pengusaha perempuan sukses terkenal seperti Mooryati Soebagio, Nyonya Meener memulai usahanya dari rumah. Menariknya lagi mereka memilih jenis usaha tersebut  dikarenakan kebutuhan oleh masyarakat disekitar lingkungan mereka.

Kenali lingkungan tempat tinggal anda, bisnis apakah yang cocok dan potensial bisa di jalankan di sekitar lingkungan anda.  Contohnya saja bila di daerah tempat tinggal anda banyak di terdapat anak-anak kecil atau remaja  yang membutuhkan banyak hiburan, anda bisa melirik persewaan Playstation atau Game online sebagai  jenis usaha anda.

Atau bila di daerah tempat anda, sangat jauh dari supermarket ataupun tempat belanja kebutuhan sehari-hari, anda bisa memilih usaha toko klontongan sederhana di rumah anda. Dan tentunya, masyarakat sekitar anda akan sangat terbantu dengan berbelanja dekat di tempat anda.
Hobi ataupun kegemaran.
Hobi atau kegemaran  yang biasa kita lakukan bisa menjadi ide usaha yang bisa menguntungkan bagi kita.  Misalnya saja kita hobi membaca buku dan mempunyai koleksi buku yang lumayan banyak jumlahnya, maka kita bisa membuat tempat usaha persewaan buku atau perpustakaan mini kepada masyarakat.
Atau bila anda hobi menulis, anda bisa memanfaatkan hobi menulis anda untuk sebagai jenis usaha seperti menjadi penulis buku ataupun penulis lepas.  Belakangan pun sudah mulai dikenal istilah writerpreneur yaitu orang yang berprofesi sebagai penulis entrepreneur yang nanti akan kita bahas pula.
ATM (Amati, Tiru, Modifikasi)
Kebanyakan mom masih bingung untuk mencari ide usaha. Cara  yang mudah un tuk menemukan ide tersebut yaitu ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Pertama kali yang kita lakukan adalah mengamati usaha-usaha apa yang ada di sekeliling kita.  Kita bisa melakukan pengamatan secara langsung  usaha tersebut.  Namun bisa pula melalui membaca buku, melihat televise, mencari informasi di internet.  Setelah kita mendapatkan pengamatan tersebut, kita bisa menirunya.
Beberapa mompreneur yang saya kenal, mengakui bahwa mereka memilih bisnis yang di jalani sekarang berdasarkan dari proses amati dan tiru dari usaha-usaha sejenis. Bahkan mereka rela survey ke kota-kota besar untuk menemukan usaha yang cocok bagi mereka.
Untuk lebih menarik minat konsumennya, biasanya mereka akan menambahnya dengan modifikasi usaha. Jadi tidak sekedar hanya meniru saja.  Sehingga konsumen akan lebih tertarik dengan usaha kita.

Inovasi dan kreatif
Beberapa jenis usaha yang bisa anda pilih bisa berasal dari sebuah bentuk inovasi ataupun pikiran kreatif. Menciptakan sesuatu hal berbeda dalam usaha akan menambah daya tarik konsumen.  Biasanya konsumen akan tertarik dengan usaha ataupun produk tertentu yang berbeda dengan yang lainnya.
Contohnya saja dengan usaha dagang sandal ataupun sepatu lukis. Mungkin usaha sandal ataupun sepatu adalah hal yang biasa. Namun bila di tambah dengan inovasi yang kreatif dengan membuat sandal berkarakter unik ataupun sepatu lukis, hal ini akan menjadi suatu hal yang luar biasa.

Buku-buku, seminar dan pelatihan wirausaha
Buku adalah gudang ilmu pengetahuan dan informasi. Anda bisa mendapatkan banyak informasi melalui membaca buku. belakangan ini telah tersedia beratus-ratus judul buku yang terkait dengan dunia wirausaha. Buku-buku tersebut terkait dari  segala macam hal yang ingin anda ketahui tentang wirausaha. Tentu saja anda tinggal memilih jenis buku yang sesuai dengan keinginan anda.   Bahkan beberapa teman saya, memulai usahanya karena terinspirasi dari buku-buku yang mereka baca.
Disamping itu, anda bisa mengikuti kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan wirausaha, seperti seminar, pelatihan ataupun training wirausaha.  Kegiatan-kegiatan tersebut akan membuat kita kaya akan ilmu pengetahuan tentang dunia usaha, termasuk ide-ide usaha yang sangat menarik untuk dijankan.  Disamping itu juga akan menambah jaringan teman-teman di dunia usaha.
Informasi dari komunitas ataupun milis-milis wirausaha.
Bila anda masih saja kekurangan ide-ide untuk memulai usaha, anda bisa menggali banyak informasi  dengan menjalin informasi melalui komunitas ataupun milis-milis wirausaha. Belakangan ini sudah mulai marak komunitas entrepreneur yang mengadakan pertemuan rutin untuk saling berkomunikasi dengan anggotanyanya.  Dari sini kita bisa memanfaatkan untuk saling bertukar informasi tentang dunia usaha.
Dunia internet pun terbuka lebar bagi kita untuk mencari informasi tentang wirausaha.  Beberapa milis-milis wirausaha sangat terbuka bagi anggotanya untuk saling berbagi informasi dan pengalaman di dunia usaha.
Bahkan beberapa mompreneur mendapatkan ide berbisnis melalu sebuah situs jejaring social facebook ataupun twiteer setelah saling berinteraksi sesama anggota situs.  Hal ini menarik, karena kedepannya kita dapat pula memperkenalkan sekaligus mempromosikan usaha bisnis yang telah kita jalankan kepada sesama anggota komunitas, milis ,ataupun teman dalam jejaring social.


*) silahkan di baca ya bu, dan di telaah baik-baik. Mungkin saja ide-ide bisnis itu sebenarnya sudah ada di sekeliling kita, ayo mari kita tangkap dan wujudkan...
ACTION  ACTION  ACTION...

Buku Pengetahuan Umum

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 3

Gambar 4

Buku Sastra

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 3

Buku Parenting

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 3

Gambar 4

Gambar 5

Gambar 6

Buku Resep Masakan

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 3

Gambar 4

Gambar 5

Gambar 6

Gambar 7

Gambar 8

Gambar 9

Gambar 10

Gambar 11

Gambar 12

Gambar 13

Gambar 14

Gambar 15

Gambar 16

Gambar 17

Gambar 18

Gambar 19

Gambar 20

Gambar 21

Gambar 22

Gambar 23

Gambar 24

Gambar 25

Gambar 26

Gambar 27

Gambar 28

Gambar 29

Gambar 30

Gambar 31

Gambar 32

Gambar 33

Gambar 34

Gambar 35

Gambar 36

Gambar 37

Gambar 38