Breaking News

05 October, 2011

Mimpi Anggi


Oleh : Wylvera Windayana

Anak itu masih bernyanyi di depan pintu pagar rumahku. Dua bait lagu pelan-pelan mengalun. Suaranya lirih merambat bersamaan dengan dera angin panas di siang yang garang. Aku berusaha menikmati nada yang tak beraturan melantun dari bibirnya yang mengering kasar, pecah-pecah, digigit rasa haus.

“Kamu minum dulu dek,” kataku tak tega menyela. Dia menggeleng tegas, dan masih terus ingin menyelesaikan lagu yang samasekali tak terdengar indah di telingaku. Di tanganku masih tergenggam segelas air putih untuknya. Akhirnya lagu yang dinyanyikannya berakhir juga tanpa kumengerti keindahannya.

            
“Terimakasih kak,” katanya lirih sambil meneguk segelas air yang kusuguhkan.
            
“Istirahat saja dulu di sini, kamu capek kan?” kataku sambil memberinya kursi.
            
”Enggak, saya mesti cari duit lagi kak,” katanya menolak.
            
”Nama kamu siapa?” tanyaku menatap matanya yang malu-malu melirikku.
            
”Anggi,” jawabnya.
            
”Umur kamu berapa?” tanyaku lagi.
            
”Sembilan tahun,” katanya sambil mencoba duduk di lantai.
            
”Jangan duduk di lantai, duduk di kursi aja..,”
            
”Enggak usah kak, sudah biasa duduk di pinggir jalan,” komentarnya tenang, sementara aku terenyuh tak mampu menyela lagi.
            
”Saya mau jalan lagi kak, permisi,” katanya tiba-tiba berdiri menuju pintu gerbang rumahku.
            
”Eh, tunggu! Kamu pasti belum makan siang kan?” cegahku dengan cepat.
            
”Jangan, saya masih harus bekerja lagi,” katanya mulai membuka pintu.
            
”Kalau gitu ini buat kamu ya.” Kutarik lengannya yang lengket terbalut peluh jalanan.
            
”Terimakasih kak,..terimakasih,...terimakasih,” katanya berulang-ulang sambil mencium tanganku. Tak sanggup membendung rasa haru, aku hanya meganggukkan kepala melepas langkahnya yang lemah, menuju pintu-pintu rumah lainnya, mengais rupiah.
            
Sudah berkali-kali aku melihat pengamen menghampiri rumahku, biasa saja. Sekedar memberikan rupiah tanpa basa-basi. Tak ada rasa yang dalam ketika memandang sosok mereka. Sudah puluhan kali menikmati alunan merdu lagu-lagu dari pengamen yang selalu hadir di beberapa angkutan umum. Di kereta api, bis kota, bahkan mampir di tepi pintu mikrolet-mikrolet jarak dekat. Pemandangan itu sudah sedemikian lazim kunikmati. Meskipun sesekali ada panggilan batin untuk menaruh iba dan simpati, namun segera menguap bersama gerahnya hari. Kini, kehadiran Anggi, gadis kecil yang sebenarnya berparas cantik itu belum bisa hilang dari ingatanku. Sorot matanya, parau suaranya, kering bibirnya, panjang rambutnya yang terikat asal-asalan, lusuh bajunya, sandal jepitnya yang tipis sekedar melindungi telapak kakinya yang dekil, masih lekat di ingatanku. 
            
Sudah seminggu berlalu. Tak ada lagi Anggi yang bernyanyi lagu yang tak kumengerti. Kemana aku akan mencarinya? Dari mana asal anak itu pun aku tak tahu. Kota ini begitu ramai. Hampir setiap perempatan jalan bertebaran para pengemis, pengamen-pengamen jalanan. Mereka bergumul dengan deru suara gemuruh segala jenis kendaraan yang melintas-lintas setiap saat. Terpaksa menelan debu, demi menyambung hidup. Hidup yang jauh dari angan-angan mereka.Tapi, tak ada Anggi kutemui di sana.
            
”Kak, bagi uangnya, buat makan,” suara bocah seumuran Anggi nyaris menghentikan detak nadiku sesaat. Nafasku tercekat. Wajah anak di sampingku yang sedang gemetar menadahkan kedua telapak tangannya sangat mirip dengan Anggi.
            
”Kak, kasihan kak, aku belum makan dari semalam,” katanya semakin membekukan aliran darahku. Belum makan sejak semalam. Pantas saja wajahnya pucat. Matanya nyaris mengatup. Berdirinya gemetaran. Kutarik lengannya yang hitam berdaki, dingin.
            
”Sini, duduk di sini. Sebentar aku belikan nasi dulu ya,” kataku memintanya duduk dibawa pohon, sementara aku menuju warung nasi yang tak jauh di sudut jalan.
            
”Ayo makan, ini airnya buat cuci tangan ya” kataku menelan haru. Kuperhatikan jari jemarinya yang terburu-buru ingin melahap nasi yang terbungkus daun itu. Tak ada kebohongan di pengakuan dan tampilannya. Anak ini sungguh-sungguh kelaparan. Kubiarkan dia menghabiskan sisa makanannya sampai selesai. Aku duduk di sebelahnya. Mengatur semua dialog hati yang mulai menggetarkan. Aku ingin  menangis, tapi ini bukan saat yang tepat untuk hanya sekedar menangis. Anak sekecil ini harus berjuang, bertempur melawan nasib, kelaparan, kedinginan, kesakitan. Berapa banyak lagi Anggi yang bertebaran di kota ini? Akankah Anggi-Anggi kecil ini terus bertambah? Sementara, di sana mereka menari, tertawa, menikmati hasil bumi yang melimpah ruah. Tak pernah merasakan betapa perihnya menahan lapar berhari-hari. Meregang kesakitan ketika kulit disengat ganasnya panas matahari. Getirnya tenggorokan di saat tak setetes air pun yang mampu mereka dapatkan, demi menyirami kerongkongan mereka yang kering. Menelan kepiluan jika sehabis bernyanyi tak satupun tangan yang rela membagi rupiah, demi menghargai suara lirih mereka.
            
“Terimakasih ya kak. Aku mau ngamen lagi. Kalau tidak, bos pasti marah,” katanya membuatku kembali tersentak.
            
”Bos? Siapa bos kamu?” tanyaku menyelidik.
            
”Bos, dia yang menampung kami, jadi kalau pulang gak bawa duit, kami gak dikasi makan,” jawabnya tetap tak ingin menyebut nama.
            
”Boleh aku kenal sama bos mu?” tanyaku mulai geram pada orang yang dia sebut bos itu.
            
“Jangan kak. Tolong jangan tanya-tanya lagi ya, kalau ada yang tau aku pasti dimarahi,” katanya ketakutan dan ingin cepat-cepat berlalu.
            
“Eh, tunggu! Ini ambil buat kamu ya, bukan buat bos mu,” kataku membagikan uang untuknya.
            
“Terimakasih kak,” sambarnya cepat.
            
“Tunggu dulu! Kamu kenal Anggi?” tanyaku. Aku berharap bocah ini mengenal Anggi, karena wajah mereka begitu mirip.
            
”Anggi? Anggi kakakku,” jawabnya bingung. Belum sempat aku bereaksi.
            
”Dia kemarin sakit kak. Sudah tiga hari dihukum sama bos karena pulang gak bawa duit,”
            
”Astaga! Sekarang dia ada di mana?” tanyaku tergesa-gesa bercampur marah.
            
”Dia lari dari rumah kerdus kami tadi pagi. Katanya mau ke perumahan Kenari, tapi   aku gak tau lagi kabarnya. Sudah ya kak, aku pergi dulu,” katanya sambil mengejar mikrolet yang berhenti di perempatan jalan. Anak ini adik Anggi, tapi ganasnya tekanan nasib membuat ikatan batin diantara mereka terpupus. Mereka berjuang sendiri-sendiri untuk bertahan hidup. Bahkan, ikatan darah pun sudah tak mampu merangkul mereka untuk bertahan bersama-sama. Anak ini tahu kakaknya sakit, tapi dia tak mengerti harus melakukan apa. Mungkinkah jauh di lubuk hatinya masih ada perasaan bersaudara itu? Entahlah.
           
 Ingatanku kembali ke Anggi. Kata adiknya, Anggi mau ke perumahan Kenari. Itu perumahan tempat tinggalku. Ada di mana anak itu? Perumahanku lumayan luas. Ada 12 blok. Demi Anggi, 12 blok bukan apa-apa. Jika Allah memang mentakdirkan kami bertemu, tak ada artinya berjam-jam mengitari blok demi blok di sini. ”Anggi, dimanakah kamu?”
Roda motorku sudah begitu panas. Berkali-kali aku berkeliling mencari Anggi di sudut-sudut perumahan, namun tak juga kutemukan. Apakah anak itu masih hidup? Pertanyaan ini begitu menguasai kepalaku yang mulai berdenyut menahan tekanan panas dari helm yang kupakai. Dan mungkin saja denyutan itu bercampur dengan dorongan ingin segera bertemu Anggi kembali.
            
”Tolong! Ada anak kecil tergeletak!” teriak seorang warga, panik. Aku yakin itu Anggi. Kuputar motorku ke arah teriakan. Nafasku berderu cepat, secepat tekanan gas sepeda motor yang kukendarai.
            
”Jangan pergi dulu Anggi, banyak yang ingin kulakukan untukmu,” suara batinku berbisik lirih.
            
”Anggi!”...teriakku tertahan haru.
            
”Alhamdulillah, anak ini masih bernafas.” Kuangkat tubuh ceking itu ke atas pangkuanku. Aku tak perduli jika sebenarnya aku duduk di atas rumput, dekat tong sampah, bau busuk dan lalat yang beterbangan, demi Anggi. Pelan-pelan mata Anggi terbuka.
            
”Kak...,” bisiknya lirih.
            
”Mas, tolong bantu saya membawa anak ini ke klinik terdekat,” kataku pada warga yang menemukan Anggi tadi. Sejenak aku tak menyahuti Anggi. Anak ini harus segera ditolong. Akhirnya kami berboncengan bertiga membawa Anggi. Tubuh Anggi semakin dingin. Aku tak berani membayangkan yang terburuk. Kehidupan Anggi saja sudah kenyataan buruk yang ada di depan mataku.
            
”Suster, tolong segera anak ini,” kataku buru-buru. Anggi diangkat ke atas tempat tidur. Matanya yang nyaris terkatup masih memandangiku. Kudekati wajahnya, aku yakin Anggi ingin mengatakan sesuatu.
            
”Kak, terimakasih..,” katanya pelan. Kuanggukkan kepala. Sementara suster-suster itu sibuk memberikan pertolongan, mencoba menusukkan jarum infus ke lengan Anggi. Ternyata tidak gampang mencari pembuluh vena di tubuh kering Anggi.
            
”Ya Allah, tolonglah Anggi. Jika Engkau memang masih memberinya waktu, aku ingin    merawatnya, menjadikannya bagian dari keluargaku,” doa dan janjiku dalam hati.
            
”Kak..,”
            
”Ya Anggi, bicaralah,” kataku mendekatkan bibirku di telinganya. Entah perasaan apa yang tiba-tiba merayap di dadaku. Apakah waktuku masih ada buat Anggi dan sebaliknya?
            
”Aku..ingin..sekolah..lagi, mau..jadi penulis..dan pengen..buat..buku..,” katanya terbata-bata. Mataku nanar menekan butiran-butiran air yang sejak tadi menggantung di kelopaknya.
            
”Ya, kakak akan bantu..tapi kamu harus kuat, kamu harus sehat dulu ya,” kataku mencoba memberi semangat.
            
”Terimakasih...,” katanya semakin pelan. Kugenggam sebelah telapak tangannya yang terkulai, namun suster di depanku mulai menyerah karena sulit memasukkan jarum infus. Hawa dingin tubuh Anggi semakin terasa di lenganku. Aku mulai pasrah.
            
”Anggi...Anggi...,” kugoyang tubuh Anggi yang mulai diam. Mata itu tak lagi terbuka.
            
Hatiku nelangsa, tak sempat membawa Anggi ke kehidupan yang lebih layak. Mimpi Anggi mungkin tak terwujud, tapi kehidupannya bisa menjadi inspirasi untuk menulis dan mengangkat jeritan dan kepedihan hidup anak-anak jalanan. Sosok Anggi sendiri sudah menjadi buku yang ingin ditulisnya. Semoga mimpi-mimpi itu memberikan tempat damai buat Anggi di sana. Dan semoga hatiku tetap terpanggil untuk merangkul Anggi-Anggi yang lain. Selamat jalan Anggi.

Bekasi, 31 Januari ’09

0 komentar:

Post a Comment