Breaking News

03 October, 2011

Mba Atun


Oleh : Ida Tahmidah 

Namanya Atun, aku biasa memanggilnya Mba Atun. Seorang perempuan jawa pegawaiku. Tubuhnya kurus, matanya cekung, kulitnya sawo matang, cara bicarnya sudah sangat nyunda sekali. Diantara kesembilan pegawaiku, mba Atun lah yang paling menarik perhatianku. Ya, aku kagum atas kegigihan hidupnya. Melihat kehidupannya aku sepertinya meng ‘iyakan’ pendapat Mba Atun dan statment yang beredar di masyarakat kita bahwa ‘orang jawa’ itu ulet, ‘orang sunda’ itu manja. Padahal sebenarnya ulet tidak nya seseorang tidak tergantung darimana seseorang itu berasal tapi lebih bagaimana seseorang itu telah dididik dan dibesarkan. Mungkin karena daerah jawa itu lebih keras kehidupannya maka terciptalah kondisi seperti itu. Tidak semua orang sunda itu manja, buktinya suamiku orang sunda asli tapi dia pekerja keras dan ulet. Aku juga biasa dididik tidak manja, dan merasa sudah tidak manja, tapi pada awalnya terheran-heran juga melihatnya kegigihan suamiku, walau Alhamdulillah pada akhirnya sedikit demi sedikit bisa terbawa juga oleh ritme hidupnya.

Kembali kepada Mba Atun perempuan jawa itu.  Ia seorang ibu dari tiga orang anak.  Dua putri dan satu putra.  Suaminya seorang lelaki sunda yang kerjanya serabutan.  Mba Atun sering mengeluhkan ketidak uletan suaminya.  “Orang sunda mah teu ulet” itu keluhan yang sering keluar dari mulutnya.  Suaminya hanya bekerja kalau ada yang menyuruhnya bekerja, diluar itu, ia lebih banyak menganggur.  Mereka berdua bertemu, ketika sama-sama menjadi buruh sebuah pabrik tekstil di cimahi.  Krisis moneter akhirnya membuat keduanya di PHK.  Mba Atun memilih mencari pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di beberapa tempat.  Terakhir dia terdampar di usaha laundry kiloanku.  Sementara suaminya, sempat bekerja di sebuah pabrik roti, namun karena lokasinya jauh dari rumah akhirnya ia keluar, karena merasa berat di ongkos.  Akhirnya biaya kehidupan mereka lebih banyak ditanggung oleh Mba Atun.

Sering Mba Atun mengeluh kepadaku, juga pada rekan-rekan kerjanya.  Perilaku suaminya yang pemalas.  Keinginan Mba Atun, kalau pun suaminya tidak bekerja, semestinya ia bisa membantu urusan pekerjaan rumah.  Nyuci baju, beresin rumah, menanak nasi dan sebagainya.  Pada kenyataannya semua itu harus Mba Atun yang mengerjakan.  Sementara suaminya lebih sering nongkrong, tidur atau keluyuran tak menentu.  Pernah dimodalin berjualan ketupat sayur, tetapi usaha itu akhirnya gagal dan bangkrut. Usaha membuat kripik pisang gagal juga.  Merasa tidak cocok dengan menjadi pedagang, akhirnya suami Mba Atun lebih banyak jadi penganggur.  Walau sesekali kalau ada menyuruh,  ia memperoleh penghasilan dari menyervis barang-barang elektronik tetangga-tetangga disekitar rumahnya.

Sementara Mba Atun selain bekerja di tempat laundryku dari jam delapan pagi sampai jam lima petang, ia masih menerima cucian dari beberapa mahasiswa yang tinggal di dekat rumahnya.  Sebelum berangkat kerja, Mba Atun mencuci baju-baju mahasiswa itu sekalian baju dirinya dan keluarganya baru kemudian mengerjakan urusan rumah tangga, seperti masak, beresin rumah, nyuci piring dan terakhir mencuci baju.  Jam tujuh pagi, Mba Atun harus mengantar bungsunya pergi sekolah, disebuah TK yang agak jauh dari rumahnya.  Mba Atun memilih TK itu karena biaya sekolah disana jauh lebih murah dibanding TK di dekat rumahnya. Setelah mengantar anaknya, baru ia bekerja di tempatku. Jam 10.30 ia selalu minta izin untuk menjemput anaknya. Aku mengijinkannya dengan catatan Mba Atun harus mencatat berapa lama dia pergi di absensi yang telah aku sediakan.  Jam sebelas lebih sedikit, dia sudah kembali bekerja.  Jam dua belas sampai jam satu, adalah jam istirahat, ia akan pulang kerumah sambil mengantar pulang anaknya.  Jam satu sampai jam lima dia kembali bekerja menyetrika di landryanku, jam lima pulang ke rumah, jam sembilan malam baru dia bisa istirahat, tidur.  Jam dua dini hari dia harus sudah terbangun untuk menyetrika baju-baju mahasiswa dan keluarganya.

Begitulah kehidupan sehari-hari Mba Atun, untuk memenuhi biaya hidup dan keluarganya  Baginya biarlah ia harus pontang panting mencari nafkah yang penting mereka bisa sekolah.  Mba Atun merasakan betul pentingnya sekolah.  Ia hanya lulusan SMP, tidak bisa melanjutkan sekolah karena keadaan.  Padahal dulu dibenaknya ada cita-cita yang tinggi.  Keinginan untuk menjadi maju terganjal kondisi ekonomi.  Karena itu ia bertekad, menyekolahkan anaknya setinggi mungkin, semaksimal kemampuannya.  Seorang perempuan pekerja keras kupikir.  Bekerja di laundryku sebagai tukang setrika saja sudah begitu melelahkan, belum sepulang dari itu dia harus dihadapkan dengan rumah yang berantakan, cucian yang menumpuk dan memasak untuk makan malam.  Sementara sang suaminya lebih banyak ongkang ongkang kaki saja.

Sebuah fragmen kehidupan didekatku, yang harus aku tafakuri dan harus membuatku selalu mensyukuri limpahan nikmat yang Allah SWT berikan untukku. 

0 komentar:

Post a Comment