Breaking News

04 October, 2011

Lagu Rindu Dari Tsurumaki, Hadano



Oleh : Tiwi Dayang

Ini cerpen yang ditulis tahun 1996, saat pertamakali datang ke Jepang ikut suami yang waktu itu masih mahasiswa S2 . Ibu-ibu yang baiik..masukannya please..^^.

Hari ini hari kelima aku menetap di Tsurumaki, Hadano-shi, Kanagawa-ken. Sebelumnya, selama empat tahun aku menyelesaikan gakushi di salah satu universitas di Chiba. Aku baru lulus tes masuk studi S2 di sebuah universitas di Hadano ini. Kota kecil ini cukup indah dan asri, sepertinya aku akan betah tinggal di sini. Apartemenku yang mungil dan cukup berumur terletak persis di antara dua stasiun kereta, stasiun Tokai Daigaku Mae dan stasiun Tsurumaki Onsen. Jarak keduanya dari apartemenku dapat kutempuh hanya lebih kurang sepuluh menit berjalan kaki dengan kecepatan maksimum. 

Tidak ada kegiatan khusus dari jadwalku hari ini, selain membenahi apartemen kecilku agar tidak terlalu berantakan. Dua orang senpai yang sama-sama berasal dari Indonesia berjanji akan berkunjung pagi ini. Dering telepon menghentikanku dari kesibukanku berbenah.

 “Waduh, maaf sekali Fan! Kami berdua baru bisa ke apartemenmu nanti malam. Ada arubaito dadakan yang harus diselesaikan sehari penuh. Gomen ne!”, sahut suara di seberang teleponku.
         
 “Ah, daijobu, tidak apa-apa. Ganbatte ne! Semoga berhasil!”, jawabku sedikit bernada kecewa.
         
 “Dasar mahasiswa”, gumamku pelan setelah meletakkan kembali gagang telepon ke tempatnya. Arubaito, suatu cara yang ditempuh mahasiswa guna menambah uang saku. Lumayan, untuk membeli seperangkat media elektronik agar hidup menjadi mudah dan nyaman.
         
 “Baiklah, kalau begitu aku istirahat saja dulu”, batinku.
         
Empat hari sibuk berbenah cukup melelahkan. Pagi ini kuputuskan untuk keluar rumah, bersepeda keliling kota menikmati segarnya udara Hadano, kota kecil di daerah perbukitan. Apalagi pada awal bulan Agustus seperti saat ini, saat musim gugur, udara sungguh terasa sejuk. Anggap saja kegiatanku pagi ini sebagai ajang orientasi lingkungan. Aku menuntun sepedaku menuju jalan utama di depan apartemen. Sepeda ini kubeli dua hari yang lalu, hanya sebuah sepeda bekas yang dijual pemiliknya di bazar. Barang-barang yang dijual di bazar mungkin bekas pakai tapi masih lumayan bagus, bahkan ada juga barang yang masih baru.

Ohayou gozaimasu”, seorang bapak lebih separuh baya menyapaku seraya sedikit merundukkan kepalanya. Seulas senyum mengembang di wajah tuanya.

Ohayou gozaimasu”, aku membalas salamnya dengan sedikit keraguan. Kami belum pernah bertemu dan belum saling mengenal. Ini di luar kebiasaan orang-orang Jepang umumnya yang lebih bersikap hati-hati dan tertutup kepada orang yang belum dikenal, terlebih lagi orang asing seperti aku ini.
          
Hajimemashite. Watashi wa Nakata desu”, bapak itu memperkenalkan dirinya.
         
Hajimemashite. Watashi wa Irfan desu”, ujarku.
          
Anata wa Indonesia-jin desu ka?”, Nakata-san bertanya dengan mimik yang serius.
          
Hai, sou desu”, jawabku membenarkan. Aku senang dengan sikap bersahabatnya. Namun aku masih bertanya-tanya apa yang diinginkannya.    
           
Asoko no mise wa watashi no ie desu. Douzo yotte kudasai”, ujar bapak tua itu lagi.
          
Arigatou gozaimasu”, jawabku pula. Aku mulai merasa risih untuk berlama-lama berbincang dengan Nakata-san ini.
          
Chotto sanpou shitai node, kore de shitsurei shimasu”, tukasku pula seraya mengangguk perlahan.
          
Aa…douzo”, terlihat sedikit kekecewaan di wajahnya. Mungkin masih ada yang ingin ditanyakannya pada ku.

          
Ku kayuh sepeda perlahan menikmati angin segar yang menerpa wajah. Pemandangan indah membentang di kiri kanan jalan. Hamparan sawah yang siap dipanen dan perkebunan buah momo yang memerah saga menunggu tangan-tangan cekatan para petani memetiknya, serta kebun sayur hidroponik yang sungguh membuatku terkesan. Aku terus mengayuh sepedaku ke dataran yang lebih tinggi hngga sampailah aku di suatu komplek bangunan yang cukup luas. Ternyata komplek sekolah mulai dari SD hingga SMU. Aku berpapasan dengan serombongan ibu-ibu muda yang baru saja keluar dari komplek sekolah tersebut. Mereka berjalan beriringan sambil berbincang-bincang, sementara anak-anak mereka berjalan lebih di muka sambil bersenda gurau dengan wajah-wajah yang ceria. Anak-anak itu lucu-lucu sekali dan menggemaskan. Pipi mereka yang putih dan tembam bersemu merah jambu persis boneka Jepang yang kulihat di toko mainan anak-anak. Aku ingin menyapa bocah-bocah cilik itu, tapi tidak jadi. Aku ingat, para orang tua di Jepang tidak suka bila orang asing yang tidak dikenal menyapa anak-anak mereka.
          
Duk! Sebuah bola baseball mengenai jidatku. Sakit sekali, mataku sampai berkunang-kunang karenanya. Entah dari mana asalnya, bola itu dating begitu tiba-tiba hingga aku tidak sempat menghindar.
          
Itai..”, ku raba jidatku yang kini seperti ada bola kecil di atasnya. Mataku berkeliling mencari tahu siapa pemilik bola sialan itu.
          
Gomen nasai!”.
          
Daijoubu, kore wa kimi tachi bouru?”.
          
Ku acungkan bola itu di hadapan ketiga dara manis yang berseragam olah raga. Ku pikir mereka siswi-siswi dari SMU itu.
          
“Hai, soudesu. Shitsurei shimashita”, tiga dara itu membungkukkan badannya dan meminta bola mereka dikembalikan.
          
Kondo wa ki wo tsukeredun dazo”, aku memasang wajah rada seram biar mereka bertiga menjadi takut.
          
Arigatou gozaimashita”, ketiganya malah tersenyum manis berbalik lari menghilang di balik tembok sekolah.
          
Aneh, kok nggak takut ya”, aku menggerutu sendiri.

Ku teruskan perjalananku, melewati sebuah jembatan di atas jalan tol. Di seberang jembatan, telah menantiku pemandangan indah lainnya. Ada sebuah kuil tua, beberapa orang tengah berziarah. Di bagian ini aku merasa berada di sebuah perkampungan, karena di sini terasa sangat sunyi dan banyak rumah-rumah lama yang sudah tidak dihuni. Ternyata perjalanan ini memutar, setelah jauh mengayuh sepeda aku muncul kembali di perempatan jalan menuju apartemen ku dari sisi yang berlawanan. Aku persis berada di depan toko Nakata-san yang menyapa ku tadi. Tapi aku tidak melihat seorangpun di halaman rumahnya, bahkan di toko kecilnya. Ternyata toko itu menyediakan beras, minyak tanah dan berbagai keperluan rumah tangga lainnya. Minyak tanah itu untuk bahan bakar pemanas ruangan di musim dingin. Aku menuntun sepeda ku memasuki halaman toko itu. Aku bermaksud membeli beberapa kilo beras, karena belum sempat membelinya di super market. Beberapa hari ini aku membeli sandwitch tuna untuk sarapan dan bento dari restoran kecil dekat stasiun.
         
 “Gomen kudasai!”, aku berseru pelan.
          
Gomen kudasai!”, kembali aku berteriak sedikit lebih keras.
          
Tidak ada jawaban dari dalam rumah. Ku ulangi beberapa kali namun masih belum ada jawaban. Akhirnya ku putuskan untuk pulang dulu dan dating lagi sore hari. Namun seketika langkah ku terhenti, ketika sesayup sampai terdengar alunan lagu dari dalam rumah. Sepertinya tidak terlalu asing di telinga Indonesia ku ini.

 “…mata airmu dari Solo………..”

Aku tersentak, tentu saja tidak asing bagi ku, itu kan lagu Bengawan Solo ciptaan Gesang yang pernah diajarkan guru kesenian ku di SMP. Tapi mengapa lagu itu mengalun di sini, di tempat yang sangat jauh dari negeri asalnya. Dalam keterpanaan ku, ternyata Nakata-san telah ada di belakang ku.

          
Chotto oniisan, nan deshou ka?”, ia bertanya kepada ku sedang mencari apa.
          
Aa, o kome wo kaitai no desu ga”.
          
Hai, kashi komarimashita”, Nakata-san bergegas mengambilkan beras yang aku minta.

Lagu Bengawan Solo itu masih terdengar pelan dari ruang dalam. Ingin rasanya aku bertanya kepada Nakata-san mengenai hal ini. Nakata-san seakan bisa membaca apa yang aku pikirkan.
          
Dou shimashita ka? Nani ka ga arimasu ka?”, tanyanya.
          
Kono uta wa Bengawan Solo deshou ne? Dou shite kono uta ga suki desu ka?”.
          
“Ee. Kono uta ni omoide ga aru no desu yo”.
          
Aku semakin tertarik setelah mendengar penjelasan Nakata-san bahwa lagu itu sangat berarti baginya, penuh kenangan dan tak terlupakan.

          
“Sukoshi hanashi wo kikasete itadakimasen ka”.
          
“Yorokonde. Ja, naka he hairimashou!”, Nakata-san mengajak ku ke ruang dalam.
          
Sebuah ruangan yang letaknya sedikit lebih tinggi dari ruang lainnya. Wangi pandan khas Jepang menyeruak dari ruang yang beralas tatami itu begitu pintu gesernya dibuka. Kami duduk berhadapan menghadap sebuah meja lipat sedang di tengah ruangan yang nyaris kosong dari perabotan. Lagu Bengawan Solo sudah tidak lagi terdengar.
         
 “Chotto kore wo mite kudasai”, Nakata-san menyodorkan sebuah album foto kepada ku.

Ku buka dan ku amati lembar demi lembar album foto yang ku taksir umurnya sudah puluhan tahun namun masih terawat rapi itu. Aku sedikit terkejut. Melihat foto-foto di dalamnya mengingatkan aku pada pelajaran sejarah perjuangan bangsa sewaktu di SMP dulu. Ini album foto Indonesia tempo dulu.
          
Kore wa Indonesia no shashin no you desu ne”, ujar ku.
          
Ee, kono shashin wa 1943 kara 1945 made ni Indonesia de totta shashin desu”.
          
“Kore wa Nakata-san deshou ne”, aku menunjuk potret seorang pemuda Jepang berpakaian militer berlatar belakang pedesaan di Indonesia.
          
“Iie, kore wa oyaji desu”.
          
“Kono josei to akachan wa dare desu ka?”, aku tertarik melihat potret keluarga, ayah Nakata-san bersama seorang ibu muda yang menggendong bayinya.
          
“Haha desu. Yasashikute ii hito desu. Solo no hito desu”, Nakata-san tampak begitu terharu, suaranya tercekat, ada segenang air di sudut matanya.

Nakata-san bercerita banyak tentang ibu dan tanah kelahirannya. Ibunya seorang wanita Solo yang menikah dengan seorang dokter militer dari Jepang pada tahun 1943 dan mendapat seorang putera. Namun apa daya ketika Jepang kalah perang dan semua pasukan harus ditarik mundur, tinggallah sang ibu dan bayinya menanggung rindu dan beban kehidupan tanpa kehadiran sang ayah. Perpisahan itu sangat menyakitkan bagi ibu Nakata-san. Saat Nakata-san berusia enam tahun ibunya  wafat. Tinggallah Nakata-san sebatang kara. Tak lama ayahnya membawa Nakata-san dari tanah kelahirannya di Solo menuju kampung halaman sang ayah di negeri matahari terbit ini.Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.
          
Shitsurei shimasu”, seorang gadis belia masuk membawa baki teh mengangguk perlahan.
          
Hai, douzo”, Nakata-san menyahut.
          
Gadis itu, dia salah seorang dari tiga anak SMU yang lemparan bolanya tepat mengenai jidat ku. Tampaknya ia tak berani melihat ke arah ku.
          
Kochira wa musume desu, Maryati to iimasu”, Nakata-san memperkenalkan putri tunggalnya. Nama Maryati diambil dari nama neneknya, ibunda Nakata-san.
          
Hajimemashite”, suara Maryati terdengar pelan.
          
Hajimemashite. Irfan desu. Douzo yoroshiku”, sahut ku pula.
         
 “Shitsurei shimasu”, Maryati beringsut keluar dari ruangan.
          
Maryati wa Indonesia he shin-gaku shitai sou desu yo”, lanjut Nakata-san, menjelaskan bahwa puterinya bercita-cita melanjutkan sekolah di Indonesia.
          
“Aa, soudesu ka”.
          
“Douzo meshi agatte kudasai!”.
          
“Itadakimasu”, aku yang memang sangat haus segera meminum secangkir teh hangat.

Hari menjelang siang, aku pun pamit untuk pulang. Sungguh sebuah perkenalan yang mengesankan. Kami cepat merasa akrab, mungkin karena ada segaris benang merah yang menghubungkan. Rindu Indonesia. Bagaimanapun juga Indonesia adalah tanah leluhur, tanah kelahiran, tanah dan air yang mengalir di dalam urat nadi anak negeri. Di akhir perbincangan pada suatu siang yang sejuk di sudut negeri bernama Hadano, Nakata-san dan puterinya Maryati Nakata berjanji akan hadir pada perayaan kemerdekaan RI di kedutaan besar RI di Tokyo.
Indonesia, sebuah negara yang senantiasa hidup di dalam hati sanubari mereka berdua. Dan tentu saja suatu saat nanti, akan berkunjung ke Indonesia, bersilaturahmi dengan keluarga yang masih menantikan mereka di sebuah negeri tak jauh dari sungan Bengawan Solo.

Catatan:
Shi: kota kecil
Ken: setingkat dengan kabupaten (prefecture)
Gakushi: Strata 1
Senpai: senior
Arubaito: pekerjaan paruh waktu
Gomen ne / gomen nasai: maaf
Daijoubu: tidak apa-apa
Ganbatte ne: semoga berhasil
Ohayou gozaimasu: selamat pagi
Hajimemashite: salam kenal
Watashi: saya
Anata: anda
Asoko no mise wa watashi no ie desu. Douzo yotte kudasai: toko yang di sana adalah rumah saya. Silakan mampir
Arigatou gozaimasu / arigatou gozaimashita: terima kasih
Chotto sanpou shitai node, kore de shitsurei shimasu: permisi dulu, saya mau jalan-jalan
Douzo: silakan
Itai: aduh
Kore wa kimi tachi bouru: ini bola kalian
Hai, soudesu. Shitsurei shimashita: iya, maaf tidak sengaja
Kondo wa ki wo tsukeredun dazo: lain kali hati-hati ya
Gomen kudasai: permisi
Chotto oniisan, nan deshou ka?: sebentar mas, ada keperluan apa?
Aa, o kome wo kaitai no desu ga: o, saya ingin membeli beras
kashi komarimashita: saya ambilkan
Dou shimashita ka?: ada apa?
Nani ka ga arimasu ka?: ada sesuatu?
Kono uta wa Bengawan Solo deshou ne?: ini lagu Bengawan Solo bukan?
Dou shite kono uta ga suki desu ka?: mengapa senang dengan lagu ini?
Ee. Kono uta ni omoide ga aru no desu yo: iya, ada kenangan dengan lagu ini
Sukoshi hanashi wo kikasete itadakimasen ka: bisakah anda menceritakannya kepada saya
Yorokonde: dengan senang hati
Ja, naka he hairimashou: kalau begitu, mari kita masuk ke dalam
Chotto kore wo mite kudasai: silakan lihat ini
Kore wa Indonesia no shashin no you desu ne: Foto ini seperti di Indonesia, ya
Ee, kono shashin wa 1943 kara 1945 made ni Indonesia de totta shashin desu: iya, foto ini diambil dari 1943 sampai 1945 di Indonesia
Kore wa Nakata-san deshou ne: apakah ini Nakata-san
Iie, kore wa oyaji desu: bukan, ini ayah saya
Kono josei to akachan wa dare desu ka?: siapakah wanita dan bayi ini
Haha desu: ibu saya
Yasashikute ii hito desu: beliau orang baik dan ramah
Solo no hito desu: orang Solo
Shitsurei shimasu: permisi
Kochira wa musume desu: ini anak saya
Maryati to iimasu: namanya Maryati
Douzo meshi agatte kudasai: silakan dicicipi
Itadakimasu: terima kasih

1 komentar:

Lozz Akbar said...

permisi saya kopi kamus mini basa Japannya ya mbak.. buat nambah perbendaharaan kosakata baru..

matur nuwun mbak

Post a Comment