Breaking News

02 October, 2011

Ibu Tiri Pras


Oleh : Bu Lan

Telepon genggamku bergetar. Ada pesan singkat dari Pras, teman SD ku.“Datanglah ke rumah, Ndre. Ibu sakit dan terus-terusan menanyakanmu.
Aku langsung menghapus pesan itu. Sudah berulang kali Pras mengirimi aku pesan singkat sejenis itu, tapi aku tak pernah menanggapinya.

Hari ini pasienku lumayan banyak, ditambah lagi jalanan begitu macet, aku baru sampai di rumah pukul sebelas malam. Bunda tergopoh-gopoh membukakan pintu gerbang untukku. Eva dan Evi, adik kembarku, pasti sudah tidur. Biasanya merekalah yang membukakan pintu untukku.

Adik kembarku yang cantik-cantik, tak terasa mereka sekarang sudah kelas tiga SLTP. Bila memandang adik-adikku, aku sering teringat tentang masa lalu kami, aku sangat bahagia ketika bunda mengatakan padaku bahwa aku akan mempunyai adik kembar. Kubayangkan, hari-hariku tak kan sepi lagi.

Kuparkirkan mobilku di halaman. Badanku begitu lelah, rasanya aku sudah tak sanggup lagi memasukkan mobilku ke garasi. Bunda mengikuti aku masuk ke dalam rumah. Disiapkannya air hangat untukku.  Seraya aku mandi, bunda sibuk menyiapkan makan malamku. Rutinitas yang sudah aku hafal benar.

Bunda selalu melayani ayah dan kami anak-anaknya  dengan tulus. Aku menyebutnya,ibu rumah tangga yang baik, ibu yang bisa memberi kenyamanan bagi kami.
Semua pekerjaan rumah tangga dikerjakan bunda dengan sempurna. Masakan yang enak, baju yang rapi, rumah yang bersih dan wangi, membuat aku selalu rindu pulang ke rumah. Dan yang pasti, aku tak pernah mendengar bunda mengeluh.

Meski aku tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata yang manis, namun jauh di lubuk hatiku aku begitu menghormati dan menyayangi bunda. Dan aku yakin sekali, bunda tahu benar tentang perasaanku itu.

“Tadi siang Pras datang kemari mencarimu,” bunda membuka percakapan. Aku sibuk menikmati masakan bunda. Enak sekali, gulai sapi kesukaanku.
“... tak ada salahnya Ndre, kamu memenuhi permintaannya,”lagi-lagi bunda membujuk-bujuk aku.

Aku malas sekali membahas hal ini. Setiap kali membahas tentang permintaan Pras, hatiku merasa begitu sakit. Ada luka menganga yang tak kan pernah bisa sembuh setiap aku mendengar namanya... juga pada seorang wanita yang dipanggilnya “ Ibu” itu.

Bunda tahu benar kepedihan macam apa yang aku rasakan. Ada beribu dendam menusuk dada. Kesakitan yang nyaris mematikanku. Dulu aku pernah nyaris hancur karena merana, kesepian, terhina dan merasa tak berarti, beruntung ada bunda yang menemani dan menguatkan aku, sehingga aku bisa bangkit seperti sekarang ini.

“Gulai sapinya enak, boleh kuhabiskan bu?” Aku mengalihkan pembicaraan.

“Habiskanlah, semua sudah makan”, jawaban yang aku sendiri sudah tahu.

Eva dan Evi sudah tidur, ayah masih membaca koran di ruang keluarga.  Biasanya mereka makan bersama pukul tujuh malam. Aku hanya bisa ikut makan malam bersama pada hari Minggu dan tanggal merah saja, karena di hari-hari selain itu aku disibukkan dengan pasien-pasienku.
Melelahkan memang, menjadi dokter yang sedang naik daun. Namun, ada rasa bangga berkibar dalam hatiku, cita-citaku dapat kuraih. Tak kan pernah kulupa, tentu saja ini berkat perjuangan bunda yang tak kenal lelah memotivasi dan mendoakan aku.

Setiap kali aku dan bunda membicarakan Pras dan ibunya, ayah hanya diam saja, seolah tak mendengar pembicaraan kami.  Ayah tak pernah membujuk dan meminta apa-apa kepadaku, karena ayah juga memiliki perasaan yang sama seperti apa yang aku rasakan.

Sedangkan bunda, aku tahu bunda adalah wanita yang lembut, hatinya begitu tulus, bunda itu pemaaf, tak pernah ingin mengecewakan dan menyakiti hati siapapun. Karena itu setiap bunda bercerita tentang Pras, aku memilih lebih banyak diam, meskipun dalam hatiku sesungguhnya penuh gemuruh dan ledakan, namun aku tak kan pernah mengungkapkannya. Bukan apa-apa, aku diam karena aku tak ingin berdebat dengan bunda, karena aku tak ingin menyakiti hati bunda.

Saat kelas enam SD
Hari ini teman sekolahku, Prasetyo Hutomo, ulang tahun. Kami teman-temannya diundang ke pesta ulang tahunnya. Hanya di rumah saja, tetapi kami begitu bersemangat menghadirinya. Seharian kami mengikuti pelajaran di sekolah nyaris tanpa konsentrasi, yang kami bicarakan hanya tentang ulang tahun Pras yang akan kami hadiri sore nanti.

Kabarnya, ibu Pras pintar masak dan membuat kue. Ibunya cantik dan baik hati, begitu kata teman-teman yang pernah datang ke rumah Pras. Aku jadi penasaran. Ingin sekali aku berjumpa dengan ibu Pras itu, karena kabarnya, sesungguhnya dia bukan ibu kandung Pras, tetapi ibu tiri. Dua tahun yang lalu ayah Pras menikahi ibu tirinya itu. Akhirnya Pras punya ibu setelah sekian lama menanti. Sejak lahir Pras tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, karena ibu kandungnya meninggal saat melahirkan dia.

“Mungkinkah ada ibu tiri yang baik hati?” Pertanyaan itu bergelayut dalam benakku. Begitu menggelitik hatiku.

Dan akhirnya semuanya terjawab. Aku bertemu sendiri dengan ibu tiri Pras. Memang cantik, baik hati, dan masakannya memang enak.

Ketika pesta usai, ibu tiri Pras memberi aku kue tar dan masakannya untuk kubawa pulang.
“Tak usah kau bilang pada ayahmu kalau ini dari Ibu ya... katakan saja kalau ini dari ibu  temanmu yang sedang berulang tahun.” Aku tersenyum geli karena sudah diajari untuk membohongi ayahku, namun aku menganggukkan kepala menyetujui permintaannya, karena aku tahu benar alasannya.

Ayah dan aku sebelumnya pernah mengenal ibu tiri Pras, dan aku bahagia bisa berjumpa lagi dengannya, setelah dua tahun aku tak tahu di mana dia berada.
Sejak saat itu aku jadi sering main ke rumah Pras. Dan aku juga memanggilnya “Ibu”. Ibu tiri Pras juga menyayangi aku. Hanya aku dan ibu yang tahu, bahwa kami berdua sebelumnya pernah saling kenal. Aku tak pernah bercerita pada ayah, tentang siapa ibu tiri Pras.


Seminggu lagi ujian kelulusan
Pagi ini seluruh siswa kelas enam berkumpul di aula sekolah. Dan yang istimewa, setiap siswa harus didampingi orang tua masing-masing. Boleh kedua orang tua atau salah satu saja. Sekolah akan mengadakan doa bersama, dan di situ masing-masing siswa akansungkem memohon doa restu kepada orang tuanya, agar kami dapat mengikuti ujian dengan lancar dan mendapatkan nilai yang memuaskan, begitu kata guruku.

Sayangnya, saat ini ayahku sedang sakit. Aku sengaja tidak memberitahukan pada ayah tentang acara ini.  Kupikir, aku tak ingin merepotkan ayah, jadi kubiarkan saja ayah istirahat di rumah.

Namun aku tidak kecewa karena ketidakhadiran ayah, karena aku yakin, di sekolah nanti ada seseorang yang menyayangi aku, datang untuk mewakili ayah. Seseorang yang dengan tulus akan mendoakan aku. Aku tersenyum membayangkan orang itu. Seorang wanita cantik dan baik hati. Pandai memasak dan membuat kue.

Mataku menyapu ruangan aula. Di sana sudah banyak temanku yang datang. Semuanya didampingi orang tua masing-masing. Hanya aku yang datang seorang diri. Tapi aku tidak takut.
Kulihat seorang wanita tersenyum dan melambaikan tangannya ke arahku. Senyum yang kutunggu dan kucari sejak tadi. Aku mendatanginya.

Wanita itu tampak begitu cantik. Dandanannya rapi, memakai baju yang begitu anggun. Mirip sekali dengan ibu-ibu pejabat yang sering aku lihat di televisi.
Berbeda sekali dengan dua tahun yang lalu.
Dulu wanita ini tampak lelah, memakai baju yang sederhana. Dan wajahnya tampak polos tanpa riasan.

“Ayahmu mana, kamu kok datang sendirian?”

“Di rumah Bu, sedang sakit.”

“Sakit apa?”

“Biasa Bu, kecapekan.”

“Oooo..., “wanita itu tersenyum lega.

Benar! Wanita itu adalah ibu tiri Pras, wanita yang menyayangi aku, dan juga menyayangi Pras. Pagi ini Pras didampingi oleh ayah dan ibu tirinya. Wajahnya berseri-seri, tampak bahagia sekali. Aku turut senang melihatnya, walaupun sesungguhnya terselip rasa tidak enak yang mengganjal hatiku.

Acara telah dimulai. Pidato demi pidato telah dilalui. Kini sampailah pada acara terakhir, setiap siswa bersujud pada orang tua masing-masing untuk memohon doa restu.
Diiringi musik yang lembut, begitu syahdu, hingga para siswa seperti terhipnotis. Acara sungkem itu diiringi dengan isak tangis para siswa dan orang tua. Tidak hanya doa restu, tapi kami juga mohon maaf pada orang tua atas segala kesalahan dan kenakalan yang telah kami perbuat.

Dan tibalah giliranku. Aku harus memohon maaf dan doa restu pada orang tuaku. Aku melirik ke arah ibu tiri Pras. Tak tahu bagaimana harus mengatakannya. Ternyata tak semudah yang kubayangkan.

“Andre, mana orang tuamu?” Bu Ani, guru kelasku datang menghampiri, menanyakan keberadaan orang tuaku.

“Ayah sedang sakit, Bu.”

“Ibumu?, “aku diam saja dengan pertanyaan Bu Ani, tak tahu harus menjawab apa.
Dalam hati aku berdoa, semoga Tuhan mengirimkan malaikat penolongnya untukku.

Untuk beberapa saat aku diam membisu, menunggu . Tapi malaikat penolong yang kumaksud tak kunjung datang. Badanku terasa dingin, mataku terasa mengembun. Akhirnya aku memberanikan diri.
Aku berjalan mendekati ibu tiri Pras.

“Maukah ibu memberiku doa restu,.. mewakili ayah?”, pintaku.

Yang kutanya tampak gugup, tiba-tiba wajahnya memucat, ia melirik ke arah suaminya. Hening. Aku masih menunggu. Kutahan perasaanku, jantungku yang berdebar, tangan dan kakiku yang dingin.

Akhirnya, penantianku terjawab  oleh gelengan lemah ibu tiri Pras.
Aku malu sekali. Air mataku keluar membanjir, tak terbendung. Aku sungguh merasa tertolak. Kurasakan semua mata tertegun ke arahku. Tatapan aneh dan penuh tanya. Mereka tak ada yang mengerti, dan aku tak bisa menjelaskannya pada mereka.

Kakiku yang dingin dan lemas seolah mendapatkan kekuatan secara tiba-tiba. Aku berlari sekencang-kencangnya. Pulang.
Kuceritakan semuanya pada ayah. Aku menangis hebat di pangkuan ayah. Aku tahu, ayah juga merasakan luka yang begitu dalam seperti yang aku rasakan.

Tuhan... salahkah bila aku ingin memohon doa pada ibu kandungku sendiri...
Bukankah ibu tiri Pras adalah ibu kandungku?

Dua tahun yang lalu ibu meninggalkan aku dan ayah, setelah pertengkaran demi pertengkaran tak dapat terselesaikan. Dan ternyata, ibu tak pernah berani mengakui bahwa sebelumnya ibu telah memiliki aku, anak kandungnya.
Ibu dapat memberikan doa untuk Pras, yang bukan darah dagingnya. Tapi untuk aku, yang anak kandungnya sendiri, ibu tak dapat berbuat apa-apa. Aku tak tahu lagi, apakah setelah kejadian ini aku masih mampu memanggilnya “Ibu”....

Dan aku masih ingat, setelah kejadian itu, aku mengalami syok berat. Badanku menjadi lemas tak berdaya. Demam tinggi. Padahal sebentar lagi ujian kelulusan. Saat itu ayah begitu cemas melihat keadaanku.

Untunglah, saat itu ada Bu Maya, guru lesku. Tak lelahnya Bu Maya menjaga dan merawat aku. Bu Maya selalu mendoakan kesembuhanku. Dalam tidurku dibisikkannya kata-kata indah. Aku harus sembuh, aku harus bangkit, aku tak mau hancur, aku harus lulus ujian dengan nilai yang bagus, demi ayah, demi Bu Maya dan demi diriku sendiri.

Tak selamanya, anak yang ditinggalkan ibu kandungnya itu akan hancur. Kan kutunjukkan pada ibu kandungku bahwa aku bukan anak yang layak untuk ditinggalkan. Kan kubuat ibu kandungku menyesal telah meninggalkan aku, begitu tekadku saat itu.

Dan akhirnya aku terbangun, kukalahkan sakitku. Dan saat pertama kali kubuka mataku, yang kulihat adalah senyum Bu Maya, bukan senyum ibu kandungku. Dan sejak saat itu, aku memanggil Bu Maya dengan panggilan “Bunda”. Dialah yang selalu menemani aku dan menyemangati hari-hariku di kemudian hari. Dialah yang memberiku adik kembar yang bernama Eva dan Evi.


“Huffft....,” dadaku terasa sesak setiap aku teringat akan peristiwa itu.

“Kenapa ,Ndre. Apa kamu baik-baik saja?” kata-kata lembut bunda membuyarkan lamunanku.

“Tidak apa-apa Bunda...”

“Jangan lagi kau ingat hal-hal yang menyakitkan. Hidupmu harus terus berjalan, Ndre. Bunda tahu benar bagaimana terlukanya hatimu, tapi bunda yakin, kamu pasti bisa. Terhadap bunda yang ibu tiri saja kamu bisa menyayangi, apalagi terhadap ibu kandung yang telah melahirkanmu... Kasihan, saat ini ibumu sedang sakit. Maafkanlah Ndre, bukankah surga itu ada di telapak kaki ibu...,” seolah tahu apa yang sedang kupikirkan, bunda berusaha mengetuk pintu hatiku.

Dan bila akhirnya aku mau menengok ibu kandungku, itu adalah karena aku tak ingin mengecewakan bunda. Aku tak mau munafik, sesungguhnya cintaku pada ibu telah terkubur oleh penolakan ibu padaku.

Tapi, benar kata bunda, kasihan. Aku benar-benar iba melihat keadaan ibu. Dan besok, atas permintaannya, aku berjanji akan menengoknya lagi.
Seperti layaknya seorang dokter menengok pasiennya.

Maafkan aku ibu, meski aku tak lagi membencimu, namun aku tak tahu lagi bagaimana cara mencintaimu...

0 komentar:

Post a Comment