Breaking News

13 October, 2011

Hati-hati Iklan Baris


Oleh Dewi Muliyawan

Ibu-ibu ada yang pernah memasang iklan baris? Itu loh iklan berbentuk kolom-kolom kecil di surat kabar. Saya pernah. Ceritanya waktu itu saya pasang iklan untuk menjual rumah. Jual rumah LT/LB: 120/80 di daerah tangerang hub: Dewi 021-xxx xxx/ 081xxx xxx

Begitu kira-kira bunyi iklannya. Sebenarnya sih saya gak rela nomer ponsel saya ikut dipasang di iklan itu. Privacy gitu loh. Selama ini cuma teman-teman dekat aja yang tahu nomer cantik saya. Lahsekarang kok malah dipasang di koran, bisa-bisa orang seluruh dunia tahu dong. Tapi apa boleh buat demi mempermudah calon pembeli menghubungi saya.

Sejak nomer ponsel itu tayang, mulai deh ada telpon dan sms aneh berdatangan. Kayak begini nih salah satu sms yang masuk :

Pagi bu, Saya Riadi dari koran X. Rumah yang ibu jual sudah ada peminatnya harap menghubungi bapak Andi di nomer 08xxxx. Supaya tanpa perantara.

Atau

Siang bu, Saya Bu Dina. Saya sudah cocok dengan rumah yang saya lihat kemarin. Untuk masalah harga harap hubungi suami saya Pak Luke no hp 08xxxx tks.(semua nama bukan nama sebenarnya ya…)

Sms seperti ini tidak pernah saya tanggapi. Bukannya gak butuh pembeli, tapi kalau mereka memang berminat untuk membeli rumah saya kenapa gak telepon langsung? Malah minta ditelpon. Tidak berniat atau tidak punya pulsa?

Apalagi sms yang bilang kalau sudah pernah melihat rumah. Kemungkinan besar bohong. Bayangkan, iklan terbit di koran hari ini dan jam tujuh pagi saya sudah menerima sms. Kapan ibu itu datang melihat rumah? Saya hapus aja sms kayak gini.

Selain sms ada juga telpon-telpon rada ajaib. Contohnya seperti ini:

“Halo dengan Bu Dewi…” suara berat seorang bapak terdengar di ujung telpon.

“Betul, Pak…” 

“Rumahnya dilepas harga berapa Bu?”

“Limapuluh juta pak.”

“Saya tawar 45 juta dikasih gak?”

“Boleh-boleh, Pak,” karena lagi perlu uang cepat dan harga yang ditawarkan bagus, saya langsung sambar penawaran bapak ini.

“Ok, sepakat ya, Bu. Cuma saya masih di jalan nih, mau ke bandara. Boleh saya transfer DP-nya (uang muka) dulu?

“Oh ya gak pa-pa, Pak,” lumayan dapat DP. Berarti si bapak ini serius. Kalau pun batal DP kan gak bisa kembali, pikir saya.

“10 juta dulu, cukup kan? Tolong SMS-kan nomer rekening Ibu ya…” kata si bapak. 

Langsung saya SMS nomer rekening. Terus saya duduk manis menunggu transferan 10 jeti…J

Kira-kira sepuluh menit kemudian bapak itu menelpon lagi. “Bu uang 10 juta sudah saya transfer. Tolong ibu cek di-ATM ya bu. Kalau sudah diterima ibu telpon saya. Soalnya struk ATM-nya gak keluar,” perintah Bapak itu. 

Saya menyanggupi untuk mengecek ATM. Tapi karena saya berlangganan sms Banking, saya masih menunggu sms dari pihak bank. 

Sepuluh menit kemudian si bapak telpon lagi.

“Bagaimana, Bu? sudah masuk belum?”

“Belum pak,”

“Ibu sudah cek ke-ATM?”

“Belum, Pak. Saya langganan sms Banking jadi kalau masuk pasti ada sms dari bank ”

“Gak bisa Bu! Harus dicek langsung ke ATM,” bapak itu mulai memaksa.

“Saya nggak bisa keluar rumah Pak… Lagi sibuk,” saya ngotot.

“Sebentar aja, Bu, cek di ATM!”

“Gak bisa, Pak.”

“Jadi gak bisa, Bu !”

“Maaf, Pak gak bisa,” mendengar jawaban saya telpon langsung diputus.

Saya jadi curiga nih. Kalau dipikir-pikir masa sih bapak itu mau begitu saja transfer 10 juta. Dia kan gak kenal saya, juga belum lihat surat-surat rumah. Aduh… saya sudah kasih nomer rekening lagi. Jangan-jangan tabungan saya dikuras. Langsung saya telpon suami di kantornya. Panik.

Lewat telpon suami menenangkan saya. Kata suami sih bapak itu gak mungkin bisa menguras tabungan saya “cuma bermodalkan” nomer rekening. 

Terus saya berpikir lagi, kalau dia gak bisa menguras rekening tabungan saya, jadi apa sih tujuan dia sebenarnya? Masih kata suami nih, kemungkinan dia mau memancing saya untuk cek langsung ke ATM. Terus kalau saya bilang transferan dari dia belum masuk, si bapak akan memandu saya via telpon untuk mengecek sekali lagi. Tapi kali ini saya akan diarahkan untuk menekan tombol transfer. Jadi bukannya menerima uang, saya malah akan mengirim 10 juta ke rekening si bapak. Hiii… mengerikan. Bukannya untung malah tertipu. Tapi itu sih analisa suami saya, gak tahu juga benar apa salahnya. 

Selain SMS dan telepon mengerikan seperti di atas ada juga sms yang lebih aneh lagi. 

Andre, umur 29 tahun tinggi 175 berat 60 kg. 

Begitu yang terlihat di awal pesan sms. Apalagi nih? Apa hubungannya jual rumah sama umur dan tinggi badan? Ternyata lanjutannya: 

Anda butuh pijat atau facial bisa menghubungi nomer saya ini. 

Ampun…! Lain kali saya mau beli nomer ponsel khusus buat iklah deh…

1 komentar:

obat impotensi said...

sippp banget beritanya

Post a Comment