Breaking News

01 October, 2011

Balada Kupu-kupu Jelita (sebuah catatan menjelang 1st wedding anniversary)



Oleh : Izti Bunda Bumi.

ini catatan yang kubuat menjelang 1st wedding anniversary... 2 tahun yang lalu...

Suamiku, ijinkan aku bercerita tentang sepasang kupu-kupu.


--- story’s begin ---


Tersebutlah seekor kupu-kupu jelita yang tinggal di negeri Sayap Indah. Ia begitu jelita, elok, dan rupawan, menyenangkan siapa pun yang memandangnya. Nyaris tak satu ekor pun kupu-kupu yang dapat memandangnya tanpa jatuh hati setelahnya. Wahai… ia begitu bangga pada dirinya. Maka dengan segala keelokan yang ia miliki, ia sangat yakin dapat membuat Pangeran Kupu-kupu Emas jatuh hati kepadanya, dan membawanya tinggal di Istana Bahagia Tanpa Derita.

Dan ia tak salah, Pangeran Kupu-kupu Emas memang jatuh hati kepadanya, dan mengajaknya tinggal di Istana Bahagia Tanpa Derita, menjadi ratu di istana hatinya. Tetapi sungguh tak beruntungnya ia, karena Pangeran Kupu-kupu Emas telah bertunangan dengan Putri Kupu-kupu Hijau. Malangnya si kupu-kupu jelita, Putri Kupu-kupu Hijau tak begitu saja merelakan kekasihnya direbut dari sisinya. Maka menderitalah ia, ketika terompet berbunyi, dan genderang pesta bertabuh di seluruh negeri, tanda pernikahan Pengeran Kupu-kupu Emas dan Putri Kupu-kupu Hijau dilangsungkan.


Wahai… para pecinta, aku telah mabuk oleh cintaku pada Pangeran Kupu-kupu Emas. Tak peduli apa pun, cintaku hanya miliknya, dan hanya kepadanya selamanya…meski cinta ini membuatku menderita… akan kunikmati setiap detik penderitaan itu, karena aku cinta… begitulah ratapan hatinya yang berderak patah. Tak sanggup ia melangkahkan kaki dengan tegak, karena yang ia lihat hanya bayangan Pangeran Kupu-kupu Emas yang mengikutinya. Hingga ia tak menyadari, bahwa sepasang sayap biru selalu mengamati dan mengikuti langkahnya, kemana pun ia pergi.

Syahdan, kupu-kupu biru pun melamarnya. Si kupu-kupu jelita sejenak lupa pada hatinya yang telah berai. Ia pun mulai membangun harapan, bahwa bersama kupu-kupu biru, luka hatinya akan sembuh, dan cintanya yang berai akan utuh kembali, karena ia yakin bahwa kupu-kupu biru sangat mencintainya, dan tak akan menyakitinya.

Sekali lagi ia tak salah. Kupu-kupu biru mencintainya tanpa syarat. Kupu-kupu biru mencintainya tanpa cacat. Kupu-kupu biru mencintainya dengan sempurna. Tetapi semua itu tak mampu menghapus segala cintanya kepada Pangeran kupu-kupu Emas. Makin ia melupakannya, makin deras cinta itu menerjangnya. Kupu-kupu jelita lupa pada niatnya, lupa pada harapan yang pernah dipupuknya. Setiap hari ia terus mengeluh… “oh… andaikan si kupu-kupu biru ini adalah Pangeran Kupu-kupu Emas yang kucintai… tentu aku tak akan menderita seperti ini…”

Ia terus meratap… ia terus menangis… ia lupa bersyukur, ia lupa membalas cinta si kupu-kupu biru. Hingga suatu hari, ia tak lagi melihat si kupu-kupu biru di sangkar mereka. Dan beberapa waktu kemudian ia menerima sebuah paket berukuran sangat besar, yang didalamnya ada seekor kupu-kupu disepuh emas, yang telah mati. Dan juga selembar surat… “istriku… aku sangat mencintaimu… namun aku tak mampu membahagiakanmu… karena yang engkau inginkan hanyalah hidup bersama dengan Kupu-kupu Emas.. maka hari ini, aku menemui Empu Hias, kuminta padanya untuk mencelupkan tubuhku di cairan emas, dan memintanya untuk mengantarkan tubuh emasku kepadamu. Kau tahu, cairan emas itu sangat panas, maka begitu tubuhku masuk ke dalamnya, aku pasti mati. Tetapi aku rela, asalkan aku tetap bersamamu, sesuai dengan apa yang engkau inginkan… menjadi kupu-kupu emas…”

--- End Story ---

Suamiku, aku bukanlah kupu-kupu jelita. Bukan pula angsa putih nan rupawan. Apalagi menjadi phoenix yang merdu dan menawan.

Aku adalah kupu-kupu rapuh, yang menjadi kuat karena perhatianmu… aku adalah putik kecil, yang menjadi buah karena cintamu… aku adalah kuntum bunga, yang menjadi mekar bersamammu… aku adalah helai daun, yang menjadi segar dalam siraman kasih sayangmu…


Apapun adanya diriku, cintamu tulus dan sempurna, tanpa syarat dan tanpa cela. Seelok dan selembut cinta si kupu-kupu biru. Namun aku tak sebaliknya, seringkali aku menuntut lebih dari dirimu… seringkali aku mengharapkan apa yang belum ada dalam dirimu… hingga aku pun bertanya-tanya, bisakah engkau bertahan? 

Namun kurasakan, cintamu tak pernah berkurang… kasihmu tak pernah lekang… sabarmu tak pernah hilang…

Maka, kuyakin dengan saldo cintamu yang tak pernah habis, bahwa bahtera yang telah melewati masa 1 tahun ini akan melewati masa 2 tahun, 3 tahun, 4 tahun, dan seterusnya, bersama dirimu, menjadi istrimu, hingga ke dalam surganya….

Jangan pernah lelah, mengajari dan memberiku kesempatan, untuk membalasnya sebesar cinta yang engkau berikan…

To my husband, With love ever after….

Semoga Allah memberkahi pernikahan ini, dan buah hati yang terlahir di dalamnya… amin…

Happy 1st wedding anniversary, 27 Januri 2009

0 komentar:

Post a Comment