Breaking News

22 September, 2011

Sebuah tokoh Dibangun Dan dianalisa Dari Kacamata Psikologi


Oleh : Deka Amalia · 

( makalah di Seminar Sastra Tingkat Internasional)

I.Novel The Hour karya Michael Cunningham: Sebuah Model

Novel The Hour adalah novel yang bercerita tentang tiga orang perempuan dalam tiga ruang-waktu. Antara, tahun 1923-1941, di Richmond-England,  tokoh Virginia Woolf berjuang untuk mengatasi depresi yang dialaminya; Ia telah beberapa kali mencoba untuk bunuh diri.  Virginia mencoba menyelesaikan novelnya yang berjudul Mrs.Dalloway, yang kemudian menjadi jembatan penghubung antara dua tokoh lainnya yang dikisahkan dalam The hours. Leonard Woolf sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan tulisan Virginia. Ia sangat melindungi dan mengatur kehidupan Virginia. Ia merasa itu adalah kewajibannya untuk berusaha membantu Virginia mengatasi penyakit yang dideritanya.

Virginia merasa resah akan perlindungan berlebihan yang diberikan suaminya dan merasa cemburu terhadap Vanessa, kakaknya, yang dianggapnya memiliki kehidupan yang lebih baik dari dirinya. Virginia ingin kembali le London tetapi sebelum itu terjadi, ia tak lagi mampu mengatasi tekanan yang dirasakannya akhirnya ia bunuh diri dengan menenggelamkan diri ke sebuah sungai, ia meninggalkan surat untuk suami dan kakaknya.

Kemudian pada tahun 1951, di Los Angeles, tokoh Laura Brown yang digambarkan sebagai seorang istri yang kesehariannya mengurus suami dan anaknya. Ia merasa novel yang dibacanya yaituMrs.Dalloway, Karya Virginia Woolf,  dapat menggambarkan ketidakpuasan dalam hidupnya. Suaminya, Dan Brown, seorang suami yang baik dan menginginkan kebahagian bagi keluarganya. Mereka digambarkan seperti keluarga bahagia dan sejahtera. Tetapi Laura merasa ada sesuatu yang salah yang membuatnya resah. Ia merasa berada ditempat yang salah. Sejenak ia memutuskan untuk bunuh diri tetapi niat itu diurungkannya. Setelah melahirkan anak keduanya ia memutuskan untuk meninggalkan keluarganya dan memilih hidup sendiri. Di hari tuanya ia mendapati suami dan kedua anaknya lebih dulu meninggal dunia.

Akhirnya, tahun 2001, di New York City, tokoh Clarissa Vaughn, seorang editor sastra, ia digambarkan hidup dengan pasangan lesbiannya dan memiliki seorang anak perempuan yang telah remaja. Ia merawat bekas pacarnya, Richard Brown, yang ternyata adalah anak laki-laki dari Laura Brown. Richard menderita AIDS, ia seorang penulis yang baru saja mendapat penghargaan. Mereka menyukai novel Mrs.Dalloway yang memiliki nama depan yang sama yaitu Clarissa. Bahkan Richard memanggil Clarissa dengan nama Mrs.Dalloway. Clarissa merasa seluruh hidupnya telah berjalan dengan tidak semestinya.  Clarissa berencana mengadakan pesta untuk Richard atas keberhasilannya sebagai penulis tetapi sebelum itu terjadi Richard memilih bunuh diri karena tak tahan lagi dengan penderitaannya.  Diakhir cerita Clarissa menerima kunjungan Laura yang ingin menghadiri pemakaman anaknya. Laura sadar jika Richard sangat menderita karena ia meninggalkannya ketika ia masih berusia 7 tahun. Laura mengatakan pada Clarissa alasannya ia meninggalkan keluarganya karena ia memilih hidup daripada mati.


  
II.        Gradasi kecemasan perempuan : Tinjauan Psikoanalisa dalam Bingkai Sinematografis

           Gambaran ketiga tokoh perempuan diatas dapat dikatakan secara sederhana memiliki kesamaan yaitu ketidakpuasan,keresahan,ketidakbahagiaan yang semuanya itu mengarah pada kecemasan. Pertanyaannya adalah kecemasan yang seperti apa yang mereka rasakan ? mengapa mereka mengalami kecemasan yang dalam yang sangat berpengaruh terhadap hidupnya ? atau apa sebenarnya yang mereka cemaskan ? atau yang menyebabkan kecemasan itu sendiri ? kemudian apabila dilihat dari kacamata Psikoanalisa bagaimana menggambarkannya dan seperti apa analisa dan kesimpulan yang dapat diperoleh. Dengan mencoba mengiterpretasikan Novel The Hours melalui film yang dibintangi oleh Meryl Streep sebagai Clarissa Vaughan, Julianne Moore sebagai Laura Brown dan Nicole Kidman sebagai Virginia Woolf maka tulisan ini mencoba menggali gradasi kecemasan dari ketiga tokoh perempuan tersebut ditinjau dari psikoanalisa. Latar waktu dan tempat  menjadi penting karena memberi penandaan dan pemaknaan yang menjadi berbeda terhadap ketiga tokoh tersebut. Apakah perempuan yang hidup dengan latar yang berbeda baik waktu maupun tempat dapat memberi gambaran yang berbeda tetapi merasakan kecemasan yang bisa jadi merupakan gambaran kecemasan yang dirasakan semua perempuan.

Dalam tulisan ini mencoba mengangkat intertekstulitas yang dihubungkan dengan
psikoanalisa. Julia Kristeva dalam tulisannya ”Word,Dialogue, and Novel.” (1) dengan mengikuti Mikhail Bakhtin menggambarkan dinamika intertekstualitas tidak hanya melihat hubungan antara pengarang dan teks tetapi juga antara teks dan pembaca. Dalam hal ini intertekstualitas antara novel The Hours dan Film yang ceritanya diangkat dari novel tersebut. Bagaimana memahami sebuah novel dari film dengan menggunakan analisis psikoanalisa dengan bingkai sinematografis. Dengan demikian dapat dilihat binary relationship antara teks dan pembaca. Intekstualitas adalah pengalaman membaca dan presepsi atau interpretasi kita terhadap apa yang kita baca tidak akan sempurna tanpa mengalami proses intertekstualitas. Jadi dapat dikatakan intertektulitas memberikan pemahaman yang lebih baik dalam menginterpreatsikan sebuah teks. Psikoanalisa memberikan kontribusi dalam proses tersebut, dalam hal binary relationship antara teks dan pembaca. Hal tersebut sama seperti yang dilakukan Freud ketika memberikan contoh analisis mengenai teori-teorinya misalnya ketika mengalisis ”La Gradiva” karya Jensen. Apa yang dilakukan Freud adalah intekstualitas antara teks dan pembaca.

Salah satu penemuan besar psikoanalisa adalah kehidupan taksadar pada manusia. Ketaksadaran adalah segi pengalaman yang tak kita sadari. Pengalaman yang bertumpuk dan terjadi diluar pengetahuan kita atau pengalaman yang tidak menyenangkan yang ingin kita hilangkan,kita lupakan atau kita hindari tetapi ternyata tidak hilang begitu saja. Pengalaman tersebut melekat dan terepresi dialam taksadar yang seringkali muncul dalam bentuk perbuatan-perbuatan tak sengaja,mimpi,fantasi,khayalan dan sebagainya. Manusia dikuasai oleh alam taksadar, digerakkan oleh dorongan biologis dan naluriah,berfikir dan bersikap irrasional.  Freud membagi struktur kepribadian id,ego dan superego yang bekerja sesuai dengan fungsinya dalam psike manusia. Id sebagai pemenuhan prinsip kesenangan, ego sebagai prisip realitas dan superego sebagai pengendalian diri. Manusia memiliki dorongan naluri yang terdiri dari Eros (naluri hidup) dan thanatos(naluri mati). Pada dasarnya manusia selalu ingin memuaskan dirinya tetapi seringkali kepuasan itu tidak dapat tercapai karena adanya hambatan diluar dirinya. Hambatan terhadap libido dan ketegangan yang tak tersalurkan menimbulkan kecemasan(anxiety) (3).

  Terdapat tiga jenis kecemasan. Kecemasan riil disebut perasaan takut  karena kejelasan objek yang ditakuti dan kesepadanan rasa takut dengan obyek yang ditakuti. Kecemasan neorotik adalah ketakutan bahwa naluri kita menjadi tak terkendali. Kecemasan moral adalah ketakutan terhadap hati nurani kita sendiri. Untuk menghadapi berbagai kecemasan maka kita mengembangkan sejumlah mekanisme pertahanan (Defense mechanisms).

Dua ciri utama semua mekanisme pertahanan adalah bekerja tanpa disadari dan mengingkari-memalsukan-mengubah bentuk realitas. Mekanisme-mekanisme tersebut adalah Represi,Proyeksi,pembentukan reaksi,Fiksasi,Regresi, Pengalihan,Sublimasi dan Rasionalisasi.(2)

            Berangkat dari sudut pandang psikoanalisa maka intertektualitas antara Novel The Hours dan Film The Hours adalah menandai suatu standpoint tokoh-tokoh perempuan yang memilih untuk merepresi suara hati mereka sendiri. Mereka tidak bisa bersuara atas dirinya, berusaha keluar dari kungkungan hubungan antara dirinya dengan yang ada diluar dirinya dalam hal ini pasangannya/suaminya. Hal tersebut menimbulkan kecemasan hingga ada dua pilihan hidup atau mati, atau pilihan terakhir adalah menerima dengan keterpaksaan.(antara hidup dan mati). Hal tersebut juga menandai bahwa begitu sulit bagi tokoh perempuan tersebut untuk menggapai kebahagiaan yang sebenarnya sesuai dengan suara hatinya.(menjadi monsters in the house). Penjelasan diatas dapat dijadikan landasan pemikiran women ways of knowing (WWW). (3)Kecemasan yang timbul dari sudut pandang psikoanalisa membentuk mekanisme dan yang dilakukan oleh ketiga tokoh perempuan tersebut adalah ”Represi”, ketiga tokoh perempuan tersebut merepresi suara hatinya- Silence, merasa voiceless,powerless dan mindless. Sehingga berusaha menekan alam tak sadarnya. Kecemasan juga timbul karena lack power of knowing dan fixet construct antara ketiga tokoh perempuan tersebut dengan tokoh laki-laki dalam hidup mereka (Virginia dan suaminya,Laura dan suaminya, Clarissa dengan mantan kekasihnya dan dengan pasangan lesbiannya sebagai representasi dari suami)

Genre film  mempunyai hubungan istimewa dengan Psikoanalisa karena dianggap paling sesuai untuk dunia sinematografis. Penciptaan seni termasuk sinema berlangsung seperti proses kemunculan tak sadar.Sinema mempunyai kemampuan untuk menampilkan gambar  seperti khayalan atau mimpi. Pendekatan psikoanalisa pada film yang dianggap benar harus melihat tokoh sebagai Sujet (subyek)  dan mempertimbangkan juga tataran sinematografis dan naratologis film. Beberapa unsur sinema dapat dibahas dengan psikoanalisa yaitu sutradara,Tokoh dalam film,proses pembuatan film,Genre film,penonton,gender,unsur-unsur naratif dan materi sinematografis..Tataran sinematografis mencakup semua hal yang menyangkut materi sinema yang digunakan untuk menyampaikan suatu cerita, yaitu jenis shot-shot yang diambil,sudut pandang film yang dominan.sudut pengambilan gambar,gerakan-gerakan medan dan benda,penataan unsur-unsur profilmis dan pencahayaan.(4) Dalam tulisan ini yang digunakan adalah melihat tokoh sebagai sujet dan tataran sinematografis seperti jenis shot-shot yang diharapkan dapat  mengangkat kecemasan dalam diri tokoh.

Saat menulis Novel Mrs.Dalloway, Virginia merasa bahwa ia harus memutuskan apakah ia akan memilih mati atau hidup.Tokoh Virginia sebagai penulis novel dan tokoh Laura dan Clarissa Vaughn sebagai pembaca (intertekstulitas antara teks dan pembaca) Tokoh Laura merasa jika Novel tersebut dapat menggambarkan suasana hatinya, ketidakpuasannya,ketidakbahagiaannya dan keresahannya yang ia sendiri kadang sulit untuk memahaminya. Sementara Tokoh Clarissa yang memiliki nama depan yang sama dengan Mrs.Dalloway merasa terjebak dengan nama tersebut karena mantan kekasihnya memanggilnya dengan sebutan nama itu, Mrs.Dalloway. Clarissa merasa menanggung beban yang berat dengan sebutan itu dan ia merasa hidupnya telah berjalan dengan arah yang salah. Berikut adalah analisis kecemasan setiap tokoh.

3.1.1    Virginia Woolf: Kecemasan ...

Virginia Woolf : Adegan dimulai dengan menampilkan Kecemasan yang tergambar jelas dari penampilan fisik Virginia, wajahnya menyiratkan kegelisahan,sorot matanya  seringkali menatap kosong,   pucat,kata-kata yang diucapkannya  mengambang dan gerak tubuhnya resah. Dimulai saat bangun tidur, keengganan untuk memulai hari baru, memandang cermin dengan perasaan hampa, gerakan membasuh muka menyiratkan untuk sedikit mendapat kekuatan dalam memulai harinya.(pengambilan gambar dengan cara Close-us/C.U ( Cara pengambilan gambar dengan cara dekat sehingga detil obyek tertangkap jelas) detil kecemasan tertangkap jelas, raut wajah,sorot mata,dan gerak bibir)(5)
Telah lama Virginia mengalami depresi, pikiran kacau,pingsan,berhalusinasi, delusi (mendengar suara-suara) dan telah dua kali mencoba bunuh diri. Ada pergolakan antara id dan superego dalam dirinya. Dorongan id untuk memuaskan kesenangannya tak terpuaskan sebagai prinsip kesenangan. Keinginannya untuk mendapatkan kehidupan lain, kehidupan yang sesuai dengan apa yang diinginkannya, seperti yang dikatakannya pada Leonard jika hidupnya telah dicuri,tidak merasa hidup dan merasa sekarat.  Leonard berfungsi sebagai superegonya, sebagai pengendalian diri, sebagai suami, ia merasa adalah kewajibannya untuk melindungi, memutuskan apa yang terbaik bagi istrinya, membawa istrinya pindah dari London ke Richmond dianggapnya sebagai keputusan yang tepat. Ia berfikir kehidupan ibukotalah yang membuat Virginia depresi, ketenangan desa Richmond diharapkannya dapat memberi ketenangan pada jiwa Virginia. Tetapi bukan itu yang diinginkan Virginia hingga ia mengatakan jika harus memilih antara Ricmond dan kematian maka ia memilih kematian. (Adegan di stasiun kereta api.Virginia duduk di kursi tunggu dan Leonard terpekur disampingnya. Shot : Medium close-up/ M.C.U. Cara pengambilan gambar relatif dekat,lebih berjarak ketimbang C.U.memberi kesan jarak antara Virginia dan Leonard.memberi kesan jarak antara hidup dan mati)  

Dapat dikatakan jika kemudian Egonya sebagai prinsip realitas tak lagi mampu bertahan.  Kecemasan kemudian timbul dalam dirinya.  Dalam diri Virginia kecemasan yang dialaminya dapat dikatakan merupakan kecemasan riil yaitu perasaan takut karena kejelasan obyek yang ditakuti dan kesepadanan rasa takut dengan obyek yang ditakuti. Virginia merasa takut jika kehadirannya membebani suaminya yang telah merawatnya dengan baik, ia merasa hanya sebagai penghalang dalam hidup Leonard, ia merasa Leonard telah memberikan yang terbaik dalam hidupnya  dan berusaha membahagiakannya tetapi ia tak bisa membalas semua kebaikan Leonard. Itu adalah ungkapan hatinya dalam surat yang ditulis untuk Leonard ketika kemudian ia memutuskan untuk bunuh diri. Jadi kemudian dapat dikatakan Leonardlah obyek rasa takutnya 

  Sebagai istri umumnya dalam tatanan tradisional istrilah yang berkewajiban merawat suami. Dalam hal ini Virginia merasa tak mampu melakukan perannya sebagai istri.   Rasa irinya terhadap adiknya Vanessa yang dianggapnya beruntung karena memiliki tiga orang anak merupakan kesepadanan terhapat obyek yang ditakuti.  Egonya berusaha melakukan pertahanan, mekanisme yang terjadi dalam dirinya adalah Represi, ia berusaha menekan pengalamannya dalam alam tak sadar ingatan/pikiran/perasaan yang mengancam rasa aman ego.  Virginia berusaha untuk tampil rapi, berbicara sambil tersenyum walau terkesan dipaksakan, dan mencoba meyakinkan diri jika ia baik-baik saja. ( Code/kode. Organisasi tanda dalam sistem makna. Code memberikan suatu kerangka agar sebuah tanda bisa dimengeti.: bercermin, merapikan rambut,berbicara perlahan sambil tersenyum yang dipaksakan,)
 Adegan Ketika berbicara dengan keponakannya tentang burung yang mati, ia mengatakan jika kita mati maka kita kembali ketempat dimana kita berasal. Ia terkesan dengan perkataan keponakannnya jika burung yang mati tersebut tampak damai. Kemudian ia memandang lama wajah burung yang mati tersebut mencoba mencari kedamaian disana.(shot : Medium close-up/M.C.U. pengambilan gambar dengan kamera terhadap objek dalam jarak relatif dekat. Memberi kesan kehampaan hati Virginia)  Ia juga kemudian bertanya pada Vanessa apakah ia nanti akan dapat lepas, suatu hari nanti dapat lepas dari kecemasan yang dirasakannnya. (Shot: Close-up : detil objek tertangkap jelas. Sorot mata menggambarkan kecemasan dan detil raut Vanessa yang merasa iba) Kemudian ketika ia mengatakan pada pelayannya apa yang lebih menyenangkan dari perjalanan ke London, yang sebenarnya merupakan keinginannya untuk kembali ke London. Hal itu terbukti ketika ia memutuskan untuk pergi ke London dan mengungkapkan keinginanannya pada Leonard untuk kembali tinggal di London. Ia juga mengatakan pada Leonard jika dalam hidupnya ia ingin mendengar suaranya sendiri yang memutuskan apa yang terbaik dalam hidupnya bukan suaminya dan bukan yang lainnya dalam hal ini adalah dokter yang merawatnya selama ini. Semua itu menunjukkan mekanisme represi yang terjadi dalam dirinya. Tetapi mekanisme itu juga tidak berhasil bertahan, naluri mati lebih kuat dalam diri Virginia hingga kemudian ia memutuskan untuk bunuh diri sebagai jalan terakhir untuk mendapat kedamaian. Mekanisme yang terdapat dalam diri Virginia juga melakukan Sublimasi yaitu memindahkan kateksis kepada obyek lain yang memiliki nilai yang lebih tinggi yaitu melalui tulisannya dalam bentuk novel merupakan ungkapan perasaan dan pikirannya walaupun inipun tak juga mampu bertahan karena kematian yang dipilihnya. (Adegan Shot : Close-up/C.U. saat Virginia mencari ide untuk tulisannya. Merenung ketika menulis novel dengan tatapan mata berat dan raut wajah tegang dapat tertangkap jelas)



3.1.2    Laura Brown: Kecemasan ...

Sementara, kecemasan dalam diri Laura juga terlihat ketika ia bangun pagi dengan perasaan enggan. Dalam adegan itu tampak Ia terduduk dan membaca novel Mrs.Dalloway seolah novel tersebut dapat memberikan kekuatan dalam dirinya untuk memulai hari baru. Saat itu ia sedang mengandung anak keduanya. (shot : Close-up/C.U : Saat terduduk di tempat tidur tergambar jelas kecemasan dalam dirinya lewat sorot mata,gerak bibir dan raut wajah yang tegang) Sekilas nampak seharusnya Laura merasa bahagia, ia memiliki suami yang nampaknya sangat ideal.
Pagi itu Dan menyiapkan bunga sendiri dihari ulang tahunnya    
dan menyiapkan sarapan pagi, (Shot: Long shot/L.S : cara
penggambaran gambar yang relatif jauh sehingga konteks lingkungan bisa dikenali. Adegan Dan menyiapkan sarapan di dapur dan meletakkan karangan bunga yang baru dibelinya pagi itu menunjukkan seolah ia suami yang baik, mengambil alih tugas istri yang lemah karena hamil.) ia tidak membangunkan istrinya, ia juga memperhatikan istrinya dengan meminta Laura untuk banyak beristirahat. Saat mengantar suaminya bekerja selayaknya istri yang baik, Laura membetulkan letak dasi Dan, mengantar sampai ke pintu, tersenyum dari balik jendela hingga mobil suaminya menghilang. (Shot : Close-up/C.U : Tertangkap jelas raut wajah Dan yang tersenyum bahagia kontras dengan raut wajah Laura yang terkesan pucat,tegang dan senyum yang dipaksakan)
Ada pergolakan antara id dan  superegonya. Id sebagai prisip kesenangan tak terpuaskan. Laura merasa ada yang salah dalam hidupnya. Ternyata bukan hidup seperti ini yang diinginkannya. Bukan hanya menjadi Istri yang  baik dan Ibu yang baik. Bukan hanya menjadi bayangan suaminya, mendengar kata suaminya,menunggu suaminya pulang kerja, mengabdi pada kehidupan rumah tangga secara tradisonal. Ada yang kurang dalam hidupnya yaitu ia tak bisa menjadi diri sendiri,tak bisa mengungkapkan keinginannya,tak bisa mengutarakan isi hatinya. Wajahnya selalu nampak pucat dengan senyum yang dipaksakan dan perkataannya yang diucapkan secara perlahan.  Ia tidak tahu apa sebetulnya yang harus dikerjakannya ketika Dan bertanya apa rencananya hari ini, ia hanya terdiam. Akhirnya ia memutuskan untuk membuat kue ulang tahun untuk suaminya dan meminta Richard anaknya untuk membantu membuat kue tersebut. Ia merasa tak mampu melakukan apa-apa karena kue yang pertama gagal dan akhirnya ia memutuskan untuk membuat kue yang lebih baik. Dan suaminya sebagai superego yang berfungsi sebagai pengendalian diri. Ketika mereka merayakan ulang tahun Dan dengan makan malam bersama, saat itu Dan mengutarakan jika ia menikahi Laura karena Laura bisa menjadi istri seperti yang diinginkannya. (Shot: Long shot/L.S : Adegan di ruang makan ketika merayakan ulang tahun Dan. Tertangkap jelas suasana makan malam. Memberikan kesan seolah keluarga yang bahagia dan harmonis. Cut to cut : Tekhnik penyuntingan yang menghubungkan satu Shot dengan Shot yang lain secara cepat : pengambilan gambar  Close-up : antara wajah Dan dan Laura : memberi kontras mimik wajah yang berbeda. Dan tersenyum bangga dan Laura tersenyum sendu) Hal ini menunjukkan jika Dan sebagai suami yang berfungsi sebagai superego juga merasa bahwa ia telah memberikan yang terbaik bagi istrinya dengan menyediakan rumah,mobil dan materi yang berkecukupan. Kemudian membuatnya merasa telah membahagiakan istrinya. Justru pendapat tersebut yang menimbulkan kecemasan dalam diri Laura hingga ia merasa ingin lepas dari kehidupannya. Ia memutuskan untuk bunuh diri, ia pergi ke Hotel, membaca Novel Mrs.Dalloway dan membawa pil yang rencananya akan digunakan untuk membunuh dirinya sendiri. (Adegan di hotel Long shot : pengambilan gambar seluruh detil wajah,tubuh dan ruangan kamar hotel memberikan kesan putus asa) 
 Kecemasan yang dialaminya dapat dikatakan merupakan kecemasan neurotik yaitu ketakutan jika nalurinya menjadi tak terkendali. Rasa cemas yang dialaminya membuat Laura takut jika ia tidak lagi bisa mengendalikan dirinya,nuraninya.  Hal ini terbukti ketika ia menangis dan berkata”Saya tidak Bisa” artinya ia tak kuasa untuk melakukan bunuh diri. (Close-up : sorot wajah menangis tersedu ketika mengucapkan kata tersebut) Ia kembali kerumah setelah menjemput anaknya yang dititipkannya pada temannya. Mekanisme yang dilakukannya adalah represi yaitu menekan dalam alam tak sadar ingatan/pikiran/perasaan yang mengancam rasa aman ego.  Ketika di Hotel Ia bermimpi tenggelam, impian itu merupakan represi dari keinginannya untuk melepaskan diri dari kehidupan yang dijalaninya saat ini.  Ungkapan rasa sayang pada suaminya dengan mengecup pipinya ketika mengantar suaminya kerja, melambaikan  tangan ketika mengantar suaminya kerja, ungkapan rasa sayang pada anaknya, elusan lembut pada janinnya.

Semua itu adalah represi dari pikiran,ingatan dan perasaannya. Disamping itu ia juga melakukan pembentukan reaksi yaitu menampilkan sikap dan perilaku yang justru berlawanan dengan pikiran dan perasaan yang sebenarnya. Adegan di kamar mandi ketika ia menangis sendirian sambil bercakap dengan suaminya, ia menyembunyikan tangisnya dan berusaha untuk menjawab pertanyaan suaminya dengan wajar. ( Shot : Medium shot/M.S ( Pangmbilan gambar terhadap obyek pada ketinggian mata biasa memberi kesan intim pada penonton). : adegan tersebut memperlihatkan penggambilan gambar M.S,  wajahnya yang menyembunyikan tangis dan tubuhnya yang terduduk kaku memberi kesan putus asa)   Mekanisme yang dilakukan Laura juga gagal namun naluri hidup lebih tinggi daripada naluri mati. Ia sadar jika ia bertahan maka ia akan mati. Akhirnya ia meninggalkan keluarganya karena memilih hidup. (Code : Wajah pucat dan tegangkalimat yang diucapkan perlahan dan sorot mata kuyu/sendu) Adegan terakhir dalam film ketika Laura menghadiri pemakaman Richard,anaknya yang ditinggalkannya, ia mengungkapkan alasannya meninggalkan keluarganya karena ia memilih untuk tetap hidup. (Shot: Close-up : Wajah Laura menampilkan kesan seharusnya ia merasa menyesal karena telah meninggalkan keluarganya,menelantarkan anaknya tetapi ia mengatakan  saat itu pilihannya adalah hidup atau mati)


3.1.3    Clarissa Vaughn: Kecemasan ...

Selanjutnya, kecemasan dalam diri Clarissa nampak pada adegan di pagi hari. Ia memandang cermin,membasuh muka dan menghela nafas berat seolah ingin mendapat kekuatan untuk memulai hari baru.  (Shot: Close-us/C.U : tampak jelas sorot mata Clarissa,gerak bibir dan raut wajah yang gelisah)Sebagai perempuan Clarissa menjalani kehidupan yang tak lajim. Sebagai seorang ibu dari seorang putri yang telah remaja ia hidup bersama dengan pasangan lesbiannya. (Adegan di tempat tidur antara Clarissa dan Sally.Shot : Medium shot/M.S : memberi kesan hubungan seperti layaknya suami-istri)

Tak dijelaskan siapa ayah dari putrinya. Ia juga merawat mantan kekasihnya yang menderita AIDS.  Clarissa digambarkan sebagai perempuan yang hidup lebih bebas, dalam artian ia bisa melakukan apa yang diinginkannya,mengungkapkan perasaannya dan pikirannya. Tetapi ternyata hal itu tidak membebaskanya dari kecemasan.  Pergolakan antara idnya dengan superego terlihat jelas. Ada ketidapuasan dalam dirinya, ada keinginan yang tidak dapat dipenuhinya. Ia sebagai perempuan lesbian merawat mantan kekasihnya yang juga homo. Ada kerinduan akan kehidupan wajar sebagai perempuan, Richard adalah kerinduan akan pasangan heteroseksualnya. Ia bertindak sebagai seorang istri yang merawat suaminya. (Adegan di apartemen Richard ketika Clarissa mengunjungi Richard. Cut to Cut :  antara shot Medium Close-up : saat Clarissa membersihkan kamar Richard dan Close-up : sorot wajah dan gerak tubuh melayani seperti layaknya seorang istri) Dan kemudian Richard yang juga frustasi akan penyakitnya mengatakan bahwa ia tetap hidup hanya untuk memuaskan Clarissa. Sally pasangan hidupnya bertindak sebagai pengendalian diri yaitu superegonya. Sally mencoba melakukan perannya sebagai pasangan yang bertindak seperti suami terhadap istrinya. Ia selalu mengatakan jika semua akan berjalan dengan baik walaupun pada kenyataannya tidak. 

Clarissa menyiapkan pesta untuk Richard yang baru saja mendapat penghargaan tertinggi sebagai penyair. Ia mengundang teman-teman mereka,membeli bunga,dan menyiapkan makanan. Ia berusaha untuk membuat pesta yang meriah untuk Richard walaupun sebenarnya Richard tak menginginkannya. Sehingga Richard mengatakan jika Clarissa seperti Mrs.Dalloway, mengadakan pesta hanya untuk menutupi keresahannya,kesepiannya dan kecemasannya. Kecemasan dalam diri Clarissa adalah kecemasan moral yaitu ketakutan terhadap hati nuraninya sendiri. Ia merasa cemas akan kehidupan yang dijalaninya, ia merasa semua telah berjalan dengan salah, seperti pada adegan ketika mantan kekasih homo Richard yaitu Louis berkunjung kerumahnya untuk menghadiri pestanya. ( Cut to cut : antara M.S dan C.U : pengambilan gambar dialog antara Louis dan Clarissa memberi kesan curahan hati Clarissa dan C.U wajah Clarissa memberi kesan resah dan rapuh)  Ia merasa terjebak dengan panggilan Mrs.Dalloway yang selalu diucapkan Richard. Dan dalam novel tersebut Richard adalah suami Clarissa Dalloway. Ia tidak tahu mengapa semua terjadi seperti ini, Richard yang homo dan ia yang lesbian. Seharusnya mereka adalah pasangan seperti dalam novel tersebut. Seharusnya ia hidup seperti perempuan pada umumnya. 

Mekanisme yang dilakukannya adalah represi yaitu menekan dalam alam taksadar ingatan/pikiran/perasaan yang mengancam rasa aman ego.  Keinginannya untuk mengadakan pesta adalah represi dari kecemasannya, seolah kegairahan pesta dapat menutupi rasa cemasnya, tindakannya bertahun merawat Richard adalah represi dari kecemasanya, hidup dengan pasangan lesbian adalah represi dari kegagalan hubungannya bersama Richard. Ia merasa ada saat ia merasakan kebahagian bersama Richard, hal itu juga terungkap ketika ia menggemgam tangan Richard atau ketika adegan Richard menciumnya. Tetapi ia tetap merasa resah, ia merasa hidupnya sepele, hanya menyiapkan sebuah pesta.(Code : gerak tubuh yang lebih bebas, sorot mata yang menyembunyikan keresahan dan perkataan yang sering mengambang

Mekanisme lain yang dilakukannya adalah Rasionalisasi yaitu memberikan penjelasan atau pembenaran bagi hal yang mengancam ego seperti kegagalan atau ketidaksanggupan. Clarissa selalu berusaha untuk memberikan penjelasan atau pembenaran seperti ketika ia berbincang dengan Richard ketika ia berusaha meyakinkan Richard jika Richard mampu bertahan melawan penyakitnya atau ketika berbincang dengan Julia anaknya, saat ia mengungkapkan bahwa ia pernah merasakan apa itu kebahagiaan dalam kehidupannya. Ia merasa gagal mempertahankan Richard karena Richard akhirnya memilih bunuh diri dengan melompat dari jendela apartemennya dihadapan Clarissa.(Adegan Richard bunuh diri: Medium Close-up : tergambar rasa terkejut Clarissa, tak menyangka Richard bunuh diridihadapannya. Ia tak kuasa menerima kenyataan itu)  Naluri hidupnya bertahan karena ia mampu melanjutkan kehidupannya bersama Sally. Kehadiran Laura, ibu dari Richard mampu memberinya pemahaman akan kemampuan untuk bertahan. (Adegan percakapan antara Laura dan Clarissa ketika Laura memberikan penjelasan mengapa ia meninggalkan keluarganya. Medium Close-up : tergambar jelas sikap Clarissa yang mencoba untuk memahami pilihan Laura yang mungkin juga ada dalam pikirannya)

Kesimpulan :
Dari analisis tersebut dapat disimpulkan jika kecemasan perempuan bersumber dari konflik batin dalam dirinya. Ketiga tokoh perempuan tersebut dalam kondisi yang berbeda mengalami kecemasan yang sama yaitu ketidakpuasan dalam hidupnya. Gradasi terlihat jika dalam keadaan seperti yang dialami Virginia dan Laura yang berperan sebagai perempuan tradisional dalam artian menikah mengalami ketidakpuasan dalam hidupnya tetapi Clarissa yang menjalani kehidupan yang berbeda  juga tetap sama tidak lepas dari kecemasan. Hal ini membuktikan jika peran perempuan sebagai istri atau bukan sebagai istri tetap saja tidak lepas dari kecemasan. Ada hal-hal yang tetap membuat perempuan sulit untuk dapat bergerak sesuai dengan keinginannya.(Silence,Lack power of knowing dan fixed construct) Clarissa tetap cemas dengan nuraninya dan mencoba mencari pembenaran dengan pilihan hidupnya yaitu hidup bersama dengan pasangan lesbiannya.

Penerimaan anak perempuannya terhadap pilihanya juga tak bisa melepaskannaya dari kecemasan. Apakah ini menunjukkan jika perempuan sebagai subyek tetap tidak bisa menjadi subyek seutuhnya seperti laki-laki ? Mungkin juga ya, dalam kurun waktu yang panjang, ketiga tokoh perempuan tersebut hidup dalam konflik. Mungkin dapat disimpulkan perempuan tak pernah lepas dari konflik. Dapat disimpulkan juga melalui bingkai sinematografi kita lebih dapat memahami kecemasan yang tergambar dalam film ini. Teknik Dissolve ( perpindahan dari satu scene ke scene yang lain secara halus tanpa terlihat terputus) dalam film ini terlihat perpindahan scene yang bergantian menggambarkan ketiga tokoh tersebut dapat memberikan penekanan terhadap kecemasan yang ditampilkan dalam tiap adegan.

Bunga dalam film ini mejadi icon : tanda yang mempunyai petanda(Signifier) : Virginia dalam menulis novel Mrs.Dalloway memulai dengan kalimat : Mrs.Dalloway bilang ia akan membeli bunga sendiri. Seolah bunga adalah sebuah harapan hidup yang ternyata tidak dimilikinya. Dan suami Laura membeli bunga sendiri dihari ulang tahunya, seolah dengan membeli bunga ia dapat memberikan harapan kebahagiaan pada Laura. Clarissa membeli bunga sendiri untuk pestanya,seolah bunga adalah harapan kebahagiaannya bersama Richard. Dapat dikatakan bunga adalah petanda dari harapan.

PUSTAKA ;


Andrea Wild. The suicide of the Author and his reincarnation in the reader : Intertekstuality in The Hours          by Michael Cunningham. American Studies Program. 
S.S.Budi Hartono. Dasar-dasar psikoanalisa Freudian dan Psikopatologi dan Psikoterapi Freudian. Pelatihan Psikoanalisa. Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya.Lembaga Penelitian Universitas Indonesia.(13-16 Nov 2000) 


Goldberger, Nancy, Jill Tarule, Blythe Clingchy, Mary Belenky (eds) 1996. Knowledge, Difference, and Power: Essays Inspired by Women’s Ways of Knowing. New York: Basic Books
Apsanti Djokosujatno.Psikoanalisa sebagai Pendekatan Sinema. Pelatihan Psikoanalisa. Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya.Lembaga Penelitian Universitas Indonesia.(13-16 Nov 2000)


Budi Irawanto. Film,ideologi dan Militer. Hagemoni Militer dalam Sinema Indonesia.