Breaking News

22 September, 2011

Perih Di Hati Yang Senja


Oleh : Lia Herliana

Adakah kehilangan yang terasa sesepi ini? Ah, kurasa tidak. Sepi yang kurasa ini sungguh senyap. Pelan namun pasti, setia menyayati hatiku tipis-tipis. Selembar demi selembar.

Padahal, masih bisa kulihat aku di halaman berumput tebal itu, berkejaran dengan seorang gadis kecil berambut keriting. Tertawa bahagia, sementara anakku dan suaminya menyaksikan kami dengan senyum dikulum. Setelah itu, gadis kecil akan menggelayut manja di pangkuanku, dan kami berempat menikmati senja dalam canda. Sebuah prosesi sore yang selalu indah.

Masih kurasa pula, sesak berbau sakit, berpuluh tahun silam, saat belahan jiwaku menitipkan bayi mungil cantik itu, anak kami, dalam pelukku. Lalu, dengan damai, ditutupnya mata untuk selamanya. Dan bayi mungil kami itu tak pernah mengenal ibunya.

Dan kini, aku harus merasakan kehampaan yang sama. Lebih pahit, malah. Semua pergi. Tak ada. Entah ke mana rimbanya. Pamit anak cucuku lima tahun lalu, untuk menyusul menantuku yang studi di Jepang. Aku kembali sendirian.

Tapi, kala itu, kami masih salinng menyapa hangat, meski sekedar lewat  telepon. Canda, obrolan ringan, curahan hati, masih kerap terdengar. Juga celotehan cucuku yang semakin pandai. Ah, masih bisa kurasakan bahagia itu.

Namun, Tuhan rupanya masih berkehendak menguji imanku. Dikirim-Nya gempa dahsyat dan tsunami ke Jepang. Porak porandalah negeri itu. Aku kehilangan kontak dengan empat orang yang kucintai di sana. Di mana kalian?

Sampai detik ini, aku masih saja sendiri. Berminggu berlalu setelah bencana itu, tiada sesepoi angin pun mengabarkan keberadaan kalian. Di mana kalian?  Hancur hatiku memikirkan kehilangan yang tak jelas ini. Ingin rasanya aku terbang ke Jepang, untuk mengais tiap jengkal reruntuhan. Siapa tahu aku bisa menemukan jasad kalian di sana? Atau bahkan, tiba-tiba melihat kalian sedang minum teh hijau, menikmati mochi? Barangkali aku mulai gila!

Ya, aku heran, kenapa aku belum gila karena kedukaan ini? Kehilangan demi kehilangan, harusnya membuatku mati rasa. Atau bahkan mati betulan! Ya, mungkin, lebih baik begitu! Jadi, aku bisa bertemu belahan jiwaku yang selalu cantik, putri tunggalku yang ayu, cucuku yang menggemaskan, juga menantuku yang baik budi?

He he he he. Aku mulai tertawa. Ya! Mati adalah ide bagus! He he he he. Bahakku tak dapat tertahan lagi, dan mengguncang keras tubuh rentaku. Kursi rodaku terhentak-hentak.

Beberapa orang berseragam putih dan berbau desinfektan berlarian mendekatiku, berusaha menenangkanku. Aku berontak. Apa-apaan ini? Mereka selalu saja mengganggu kesenanganku! Sama seperti saat aku berkeliaran di jalan raya, mencoba menghentikan tiap mobil yang lewat: siapa tahu mereka membawa keluarga tercintaku di dalamnya!

Hei, aku tidak gilaa!!

0 komentar:

Post a Comment