Breaking News

22 September, 2011

Malin Kundang Si Anak Sholeh


Oleh :Yessi Anggraini Bt Muyardi 

Mujahid Salafi Aulia, putraku yang kedua, dikenal para tetangga kami di U8 sebagai anak yang lincah dan aktif. Kadang dia terkesan keras hati dan cenderung tidak mau mengalah. Salah seorang ibu yang berasal dari Jawa pernah berkata  : “ Anak bu Yessi ini kok ndablek ya…..?”. Anak – anak Arab pun pernah complain : “ Your son is very naughty…! “ .  Atau ada juga yang mengadu : “ Aunty, your son bit me…! “. Malah si bapak – bapak Arab pun ikut menambahkan : “ Brother Aulia, your son is very noisy….!”.  
     Kadang kala ada rasa malu yang terselip, kesannya kami tidak bisa mendidik anak menjadi anak yang baik dan sholeh. Kadang juga timbul rasa geram, jika hati sedang tidak mood. Ujung – ujung nya kami sering memarahi Muja dan sebenarnya terlalu keras untuk anak yang belum berumur 5 tahun seperti dia.  Jika dimarahi, Muja akan menangis tersedu – sedu sambil protes : “ Kenapa ummi marah sama Muja, Muja kan tidak buat salah  ! “.
     
Rasa marah memang sering menutupi kebenaran. Karena kalau diperhatikan dengan seksama, Muja juga termasuk anak yang berhati lembut. Ini berdasarkan pengalaman – pengalaman keseharianku dengannya. Pada suatu siang, Muja meminta aku bercerita, dia memang sangat suka mendengar cerita. Akhirnya kupilihkan cerita Malin Kundang si Anak Durhaka. Aku bercerita dengan ekspresi dan intonasi suara semenarik mungkin. Dari awal cerita Muja mendengarkan dengan antusias dan konsentrasi. Sesekali dia bertanya atau berkomentar. Semakin lama dia tampak semakin sedih dan matanya mulai berkaca – kaca. Dan ketika aku sampai pada bagian akhir cerita :
“ Maka...... Ibu Malin Kundang pun sedih karena Malin Kundang sudah melupakannya dan menjadi anak durhaka. Sang ibu pun  menangis tersedu – sedu. Sambil  menangis, ibu Malin Kundang mengadu kepada Allah. Ibu Malin Kundang kemudian berdoa kepada Allah supaya Malin Kundang dihukum oleh Allah. Dan Allah pun mendengar doa seorang ibu yang teraniaya.  Kemudian kapal Malin Kundang tenggelam dan Malin Kundang pun berubah menjadi batu....”
     
Mendadak Muja pun menangis dengan keras sambil berkata dengan terputus – putus : “ Kenapa ummi menceritakan Malin Kundang anak yang durhaka pada ibunya. Kasihan ibunya, dia sudah tua. Muja tidak mau cerita Malin Kundang anak durhaka. Muja mau Malin Kundang menjadi anak yang sholeh dan sayang sama ibunya. Sekarang ummi harus mengulang lagi cerita Malin Kundang dari pertama. Dan Malin Kundangnya harus jadi anak Sholeh yang sayang sama ibunya...”
     
Sesaat aku termangu. Subhanallah... seorang anak memang lahir dalam keadaan fitrah. Bahkan untuk sebuah ceritapun dia tidak mau ada orang yang durhaka pada ibunya. Atau ada seorang ibu yang menangis tersedu – sedu dan merasa teraniaya. Artinya setiap anak ingin menjadi anak sholeh dan membahagiakan ibunya. Jadi tidak ada hak kita untuk memberi label “nakal” pada seorang anak.
     
Kemudian aku pun mengulang kembali cerita Malin Kundang dari awal. Dan membuat ending sesuai dengan permintaan Muja. Walau ada rasa geli sewaktu bercerita :
    
 “ Akhirnya.....Malin Kundang bertemu kembali dengan ibunya di tepi pantai Air Manis, Padang setelah bertahun – tahun berpisah. Ibu Malin Kundang memeluk anaknya sambil menangis bahagia. Malin Kundangpun memeluk ibunya dengan penuh rindu. Kemudian Malin Kundang mengajak ibunya ke kerajaan mertuanya. Setelah mertuanya meninggal, Malin Kundangpun menjadi raja. Mereka hidup bahagia selamanya...”
    
Muja pun tersenyum senang dan tampak lega. Dia pun bertanya : “ Ibu Malin Kundang dikasih baju bagus sama Malin Kundangnya, ummi...? Subhanallah...begitu inginnya Muja supaya ibu Malin Kundang senang.
     
Ada banyak hal yang bisa kita ambil sebagai ibrah. Semoga cerita tadi menjadi ibrah bagi kita semua.

Mei 2008
At U8, Kolej Perdana UTM Skudai
Johor, Malaysia