Breaking News

27 September, 2011

Kucing-Kucing Ganto


Oleh ida Siswanti ·

Ganto tak pernah berpikir bahwa kecintaannya pada kucing, membuatnya menjadi kaya raya seperti sekarang. Kini ia bahkan masuk sepuluh besar orang paling kaya di negeri ini, versi sebuah majalah bisnis terkemuka. Itu semua berkat kucing-kucing peliharaannya.Kucing-kucing liar yang menjadi jinak berkat tangan dinginnya. Tangan seorang pecinta kucing.

Padahal, awalnya Ganto merantau ke kota metropolitan hanya berbekal ijazah STM Mesin. Berharap ada bengkel yang bersedia menerimanya sebagai montir mobil atau motor. Tapi, ternyata bengkel-bengkel itu sama sekali tak membutuhkan ketrampilan miliknya, karena CV-CV para lulusan D3 atau S1 Mesin masih bergunung-gunung di kantornya. Mereka menyarankan Ganto membawa pulang ijazahnya.

Lelah sepagian menyusuri satu bengkel ke bengkel lainnya, Ganto menghabiskan sore di teras kontrakan Wira, kawan satu desa, yang mau menampungnya sementara. Ia melihat-lihat iklan lowongan di koran kota harga seribuan. Ketika mencermati satu per satu syarat yang diminta, Ganto dihampiri kucing-kucing kampung yang mengeong. Ganto yang suka kucing, menyapa binatang itu, bahkan kadang-kadang mengajaknya ngobrol. Ia juga berbaik hati memberikan sepotong tempe goreng sisa nasi bungkusnya yang disambut antusias oleh para kucing itu. Setelah mengendus-endus sebentar, binatang itu langsung memakannya, lalu mengeong lagi. Setahu Ganto, kucing termasuk binatang karnivora, tapi ternyata mereka juga suka tempe goreng. "Kucing metropolitan," gumamnya. Rutinitas ini membuat kucing-kucing selalu kembali ke sana dan mengeong, meminta jatah. Ganto hafal betul kucing-kucing itu. Ada yang berbelang satu, dua dan tiga, tapi semuanya kucing kampung saja.

Sudah tiga bulan sejak ia menginjakkan kaki pertama kalinya ke kota, belum juga ada juragan bengkel yang mau menerimanya. Ganto mulai resah. Bekal yang ia bawa sudah makin menipis. Ia pun mulai mengeluh pada kucing-kucing kampung itu.

Saat itu, semua penghuni kota menonton sebuah acara televisi yang sama dari stasiun penyiaran yang sama. Investigasi mengenai pengolahan aneka produk makanan. Mengupas detail praktek-praktek pengawetan produk makanan yang disinyalir menggunakan bahan kimia berbahaya. Pola hidup sehat memang sedang digandrungi penduduk kota sejak angka kematian akibat penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan kanker meningkat dengan tajam kurun waktu terakhir. Riset-riset yang diadakan oleh badan-badan kesehatan milik pemerintah maupun swasta menunjukan bahwa gejala tersebut paling dominan disebabkan oleh konsumsi makanan. Kini penduduk kota lebih waspada dalam memilih sumber-sumber makanannya.

Acara televisi yang kini menduduki rating tertinggi, mengalahkan semua jenis sinetron atau pun kuis tersebut, telah memaparkan berbagai hasil investigasi mereka. Pengolahan aneka daging, mulai dari daging sapi, kerbau, kambing hingga ayam, menjadi makanan olahan macam bakso, sosis, dendeng, abon, maupun daging segar yang dijual biasa, ternyata banyak menggunakan zat kimia bukan untuk makanan. Pengolahan ikan pun tak luput dari praktek ini. Bahkan pengolahan ikan asin pun yang semula banyak dipandang masih tradisional hanya menggunakan garam, ternyata sudah banyak yang menggunakan bahan kimia macam hidrogen peroksida. Zat-zat kimia itu digunakan untuk mempercantik dan mengawetkan makanan olahan tersebut. Merasa kesulitan memeriksa mana produk tanpa atau dengan zat kimia kala berbelanja, sebagian besar penduduk kota memilih urung mengkonsumsi. Mereka jadi vegetarian.

Akibatnya, omset produk olahan maupun bahan segar semua jenis makanan berbahan dasar daging, ayam dan ikan menurun tajam. Kios-kios daging, ayam dan ikan di pasar, baik pasar tradisional maupun supermarket, sepi pembeli. Tukang jagal memilih menghabiskan waktu sambil main kartu seharian, sesekali melirik sedih pada ternak-ternak yang sudah sejak lama siap dipotong, namun selalu urung karena tak ada pesanan. Populasi sapi, kerbau dan ayam di tangan petani di desa meningkat tajam sampai-sampai mereka kewalahan memasukannya ke kandang yang jadi tak cukup lagi menampung ternak-ternak itu. Para nelayan urung melaut meskipun laut sedang tanpa badai. Stok ikan hasil tangkapan mereka masih menggunung. Para tengkulak menolak membeli karena tak tahu harus dijual ke mana.

Fenomena tersebut membuat roda ekonomi menjadi timpang dan pemerintah menjadi gusar. Mereka menetapkan undang-undang, mengharuskan semua produsen makanan mendaftarkan diri pada badan terkait untuk secara berkala diperiksa. Produsen yang lolos, berhak mendapatkan sertifikat. Solusi ini berhasil. Warga kota kembali berduyun-duyun membeli produk makanan olahan dan segar pada penjual yang sudah disertifikasi. Ekonomi negeri kembali stabil. Pejabat badan terkait naik pangkat.

Pegawai bermental koruptor pun tak tinggal diam. Melihat peluang meraup uang, mereka diam-diam menawarkan para produsen jalan pintas, tak perlu tes makanan, cukup membayar sejumlah uang, sudah bisa mendapatkan sertifikat. Sial, seorang wartawan acara televisi mengetahui parktek ini. Ia kemudian melakukan investigasi dan acara mengenai hal ini pun dikupas detail.

Warga kota jadi tak percaya lagi, mereka pun kembali menjadi vegetarian. Pemerintah gusar. Pejabat yang semula naik pangkat kini di mutasi ke daerah terpencil.


Berawal dari keengganan kucing-kucing itu menyantap bakso bersertifikat yang ia beli dari sebuah mini market, Ganto menemukan ide yang dianggapnya jenius. Ide yang akan mengeluarkannya dari kesulitan diterima oleh bengkel-bengkel. Dari kemungkinan pulang kembali ke desa dengan tangan hampa dan menjadi pengangguran.

Setiap kucing yang menghampirinya, ia tangkap dan dimasukan ke dalam kandang bambu yang sudah ia buat. Wira, sempat protes karena merasa terganggu dengan kucing-kucing yang terus mengeong. Tapi Ganto menjanjikan akan memberinya komisi sepuluh persen dari bisnis yang sedang direncanakannya, tanpa harus ikut bekerja, cukup tutup mulut.

Ternyata sulit juga mencari kucing di kolong metropolitan. Bahkan di sudut-sudut kota yang relatif masih banyak perumahan warga, kucing kampung sudah termasuk binatang langka. Padahal kucing jenis ini terkenal sebagai kucing yang paling tangguh bertahan hidup daripada kucing-kucing lain. Ganto hanya berhasil mengumpulkan sepuluh ekor kucing hingga saat ini. Berhubung keuangannya kian tipis, Ganto segera memasang iklan mini, di sebuah koran harian lokal. Menerima uji tes kesegaran dan keaslian aneka daging, ayam dan ikan. Metode paling alami, sampel paling minimal, dijamin aman. Hubungi nomor telepon ini atau kirim saja sms dan kami akan datang langsung ke rumah anda.

Kerinduan memuncak warga kota untuk bisa kembali menikmati daging, ayam dan ikan kesukaan mereka, tanpa rasa khawatir dan takut ditipu oleh para produsen, membuat iklan mini Ganto mendapat sambutan luar biasa. Hari pertama setelah iklan terpasang, Ganto menerima sepuluh telepon. Ia langsung meminjam motor butut Wira. Membawa semua kucing di boncengan. Menuju kesepuluh rumah tersebut.

Penelepon pertama, rumahnya sangat mewah. Sang majikan khusus mengambil cuti untuk melihat langsung metode yang ditawarkan Ganto. Ia sudah membeli bakso, sosis, daging sapi giling, daging ayam utuh, ikan kembung, gurame, kerapu dan bawal, masing-masing satu plastik besar. Ia berencana masing-masing akan di tes, yang lulus akan ia stok dalam freezer dan itu cukup untuk membuatnya tenang selama dua minggu ke depan.

“Saya hanya minta satu potongan kecil saja dari tiap-tiap produk, Bu!” pinta Ganto pada sang majikan, yang dengan sigap langsung menyuruh pembantunya melakukan permintaan Ganto.
Ganto membuka kain penutup kandang kucing-kucingnya. Mereka langsung mengeong, bernafas lega.

“Tesnya pakai kucing?" tanya sang majikan, terkejut campur heran.

“Betul, Bu! Dijamin alami. Tuhan menganugerahi mereka indra penciuman yang tajam. Uniknya, mereka ini priyayi, Bu. Hanya mau makan makanan segar. Ada campuran zat kimia sedikit saja, saya jamin mereka tidak akan memakannya,” Ganto berpromosi dengan bersemangat, yakin seratus persen.

Potongan-potongan kecil sampel makanan itu pun satu per satu diberikan pada kucing-kucing yang sudah mengeong sejak tadi. Mata mereka sudah berkilat-kilat tajam menatap mangsanya. Bakso, daging sapi giling, ikan kembung dan gurame, lolos uji. Kucing-kucing itu memakannya dengan cepat dan lahap. Sedangkan sosis, daging ayam utuh, ikan kerapu dan bawal, hanya mereka endus-endus saja, lalu ditinggalkan begitu saja, tak dijamah.

Ganto mengangguk-angguk puas. Sang majikan terpana, apalagi si pembantu. Dengan berat hati, sang majikan menyuruh pembantunya membuang makanan yang tak dijamah kucing itu ke tong sampah. Ia merasa dongkol dan tertipu.

“Ayam sama ikannya kemungkinan besar diawetkan dengan formalin nih, Bu. Supaya lebih tahan lama. Waktu belinya, Ibu lihat banyak lalat di sekitarnya ngga, Bu?” tanya Ganto.

“Lalat mana ada lagi di sini, Mas. Sudah tidak ada lagi tanah terbuka, semuanya sudah tertutup semen. Bahkan pohon besar pun lubangnya dibuat pas dengan batangnya. Bahkan semennya juga sudah di bersihkan dengan karbol setiap harinya. Ini kota paling bersih, Mas!” sahut sang majikan.

Ganto senang bukan kepalang menerima upah pertamanya hari itu. Upah pertama sejak meninggalkan kampung. Ia mencium segepok uang itu berkali-kali. Tanpa menunda waktu lama, ia langsung meluncur ke rumah penelepon kedua.

Makanan yang diujikan di rumah penelepon kedua sama saja, hanya saja tanpa ikan. Mungkin mereka bukan penggemar ikan. Hanya aneka daging sapi, kambing dan ayam, ada yang digiling, ada juga yang daging utuh yang kelihatan segar. Tak ada makanan olahan lain.

“Kami lebih suka buat bakso sendiri, Mas. Lebih aman!” jawab sang majikan, ketika Ganto menanyakan mengapa tak ada produk olahannya.

Sambil mengangguk-angguk, Ganto memberikan potongan kecil tiap-tiap bahan yang dites kepada kucing-kucingnya. Kali ini, hanya sampel daging ayam utuh saja yang tak disentuh kucing-kucing itu.

Di rumah penelepon ketiga hingga kesembilan, bahan makanan yang diacuhkan kucing-kucing itu tidak menunjukan pola yang tetap. Ada yang hanya baksonya saja. Ada yang sosisnya saja. Malah ada juga yang hanya bahan yang digiling. Bahkan di rumah penelepon kedelapan, semua sampel ikan asin yang diberikan pada kucing-kucing itu dibiarkan merana tak tersentuh. Kucing-kucing itu hanya mengendus-endus aja, cukup lama memang, seakan berperang dalam diri mereka sendiri, tidak dimakan itu adalah makanan kesukaan, mau di makan kok tidak menerbitkan selera sama sekali.

Ketika menuju rumah penelepon kesepuluh, Ganto melihat kucing-kucingnya sudah kekenyangan dan mengantuk. Ia sengaja singgah di sebuah kedai makan sederhana. Sementara ia makan, ia memarkir motornya di bawah pohon ketapang di depan kedai, membiarkan kucing-kucing itu terlelap barang sebentar. Sebenarnya, Ganto ingin sekali makan ayam goreng, makanan kesukaannya yang jika di kampung hanya bisa ia makan saat lebaran saja, atau jika ada yang sedang punya hajat dan ia diundang. Namun, kelihatannya ia sedikit tertular sifat paranoid para majikan yang baru saja ditemuinya. Ia tidak percaya pada si pemilik kedai. Maka ia makan hanya dengan tempe goreng dan tumis buncis saja.

Cukup lama Ganto harus menunggu kucing-kucing itu bangun. Rupanya mereka benar-benar kekenyangan. Begitu satu ekor kucing bangun, Ganto langsung memacu motornya.

Di rumah penelepon kesepuluh, di sebuah apartemen, Ganto hanya menjumpai aneka macam ikan.

“Kami ini berasal dari kota pesisir, Mas. Beberapa minggu tidak makan ikan sungguh menyiksa. Mau bikin kolam sendiri mau ditaruh di mana karena kami tinggal di apartemen. Kolam ikan di taman bawah, milik pengelola, hanya boleh di isi ikan koki dan koi. Untung suami saya baca iklan yang Mas pasang. Langsung saya beli semua jenis ikan yang ada di pasar. Cukup dites sekali, lalu saya stok di freezer, cukup buat makan sebulan,” jawab sang majikan panjang lebar. Ia langsung menyuruh pembantunya menyediakan sampel yang diminta Ganto.

Hanya satu jenis ikan yang tak satu pun kucing-kucing itu mengendusnya. Barangkali bahan pengawetnya sudah tercium dari jarak jauh sehingga menghilangkan bau asli ikan. Sang majikan sangat gembira. Ia memberi upah lebih atas jasa Ganto saking senangnya bisa makan ikan lagi.

Sesampainya di rumah, ketika Ganto membuka telepon genggam kuno miliknya, sudah ada lima belas sms dari nomor tak di kenal, merespon iklannya. Ia sampai letih membukanya satu per satu. Namun ia bertekat mengambil semua kesempatan dan peluang itu. Ia sungguh siap menjadi besar.

Hanya dalam waktu sebulan, Ganto sudah menerima lima ratus pesanan. Uang yang ia peroleh cukup untuk mengontrak rumah sendiri. Bulan berikutnya bahkan ia sudah bisa membayar uang muka cicilan motor. Tiga bulan berikutnya, Ganto kewalahan melayani pelanggannya. Akhirnya ia membuka kantor sendiri. Kantor itu ia beri nama kantor uji coba bahan makanan khusus daging, ayam dan ikan. Ia langsung mengabari para pelanggannya supaya mereka bisa datang langsung ke kantornya begitu selesai berbelanja. Ia sudah merekrut dua pegawai, satu stand by di kantor dan satu lagi sebagai kurir, melayani delivery.

Ganto kini berkonsentrasi memelihara aset utamanya, kucing-kucing kampungnya. Ia membiakkan kucing-kucing itu dan beberapa kini sudah beranak pinak banyak sekali. Jika ia tengah di perjalanan dan menjumpai kucing kampung yang berkeliaran, langsung ia ambil dan ia pelihara. Kini ia mulai melirik bisnis baru, yaitu jual beli kucing. Beberapa pelanggannya, yang suka kucing tentu saja, dan tidak berkeberatan memelihara kucing di rumahnya, memesan beberapa ekor kucing sebagai alat untuk mengetes kesegaran bahan makanan daging, ayam atau ikan yang mereka beli. Berapapun harga yang ditawarkan Ganto, mereka sama sekali tak menawarnya, langsung setuju. Ganto sungguh senang hidup di kota metropolitan ini.

Profil Ganto sudah beberapa kali tampil di majalah maupun koran, dianggap sebagai pebisnis ulung. Ia bahkan sudah diundang ke kantor menteri pangan dan menteri ekonomi untuk menerima penghargaan sebagai penyelamat ekonomi negeri.

Kucing-kucing milik pelanggan sudah beranak pinak. Kini mereka tidak memerlukan jasa Ganto lagi. Kantor uji tes miliknya sudah lama tutup. Tapi itu tak membuat Ganto khawatir karena kini ia bisa melakukan apa saja dengan uangnya yang melimpah. Ia berencana segera membuka bengkel mobil dan motor idamannya. Sebagai rasa terima kasihnya pada kucing-kucing yang sudah membuatnya kaya, Ganto akan tetap mempertahankan toko jual beli kucing.

0 komentar:

Post a Comment