Breaking News

30 September, 2011

Flash Fiction About Wonder Women


Oleh : Mursyidah Mesra · 


bu bidan itu...

Dinding putih itu terlalu bisu tuk menjadi tempat mengadu, malam pun terlalu pekat tuk bisa mencairkan kekhawatiran yang menyesakkan dada. Rasa sakit pada perut yang tak dapat lagi tergambar dengan kata-kata. Nangis, marah, teriak, meraung tak dapat lagi menetralisir rasa sakit yang maha dahsyat ini.

“Sakit…aku ga tahan lagi” teriakku sambil meremas tangan suamiku sekuat tenaga.

“Sabar, dikit lagi…udah pembukaan lima” nasehat singkat bu Bidan, lalu dengan ketenangannya, dia melanjutkan tilawahnya. Perlahan, lantunan ayat Al-qur’an yang dibaca ibu Bidan sedikit menenangkan rasa sakit akibat kontraksi.

Malam ini terasa amat panjang, kontraksi yang timbul tenggelam seakan memperlambat gerakan jarum jam. Sekilas ku menoleh ke arah wanita paruh baya yang terduduk lelah disamping ranjangku. Aku tahu aktifitas hariannya dirumah dan di klinik sangat menguras energy tubuhnya yang tak lagi muda.

“Ibu ga tidur?”.Bu Bidan itu hanya tersenyum.

“Kalau sakitnya berkurang, cobalah istirahat sambil berzikir dan doa dalam hati” nasehat bu Bidan.

“Iya bu, makasih” aku membalas senyuman lembut bu Bidan.

Ditengah zikirku, aku mengamati bu Bidan yang masih asyik tilawah. Alangkah hebat perempuan ini. Pagi hari dia harus menjalankan tugasnya sebagai istri sekaligus ibu bagi suami dan anak-anaknya, memasak, mencuci dan aktifitas rumah tangga lainnya. Setelahnya dia harus standby di klinik bersalin, memeriksa ibu hamil, melayani konsul ibu menyusui sampai memimpin partus. Namun sore hari bukan menjadi batas waktu kerjanya, karena apabila ada ibu yang akan partus di malam hari, dia pun harus siap fisik dan pikiran mengemban tugas mulianya. Bahkan saat pagi telah menyambut, sedangkan sang bayi belum keluar juga, dia akan tetap sabar menunggu.

“Aduh bu, sakit banget” aku meronta, rasa sakit kali ini jauh lebih dahsyat. 

“Atur nafas, jangan ngeden dulu yah, pembukaannya belum lengkap” tangan bu Bidan terus mengelus perutku, sambil menuntunku terus melafazkan asma Allah memohon kekuatan.

“Ya Allah, tolong hamba” teriakku sambil berlinangan air mata, rasanya udah remuk tulang panggul ini.

“Alhamdulillah pembukaan lengkap, ayo nak, sambil bertakbir, dorong keluar” ucap bu Bidan menyemangatiku.

“Ahhghh… Allahu Akbar.”

“Lagi nak, ubun-ubunnya udah menonjol, ayo berkuat lagi” .Keringat membanjiri tubuhku.

“Bismillah….Ya Allah..” aku berkuat dengan semua tenaga sarta tawakkal yang ku punya.

“terus nak, yah…yah..dikit lagi ..dan Alhamdulillah, perempuan”

Seketika sebuah tangis bayi pecah membahana kesetiap sudut ruangan bersalin. Semua rasa sakit ikut terlepas, berganti buncah kebahagiaan.

“ini bayinya, biarkan dia inisiasi dulu” ucap bu Bidan sambil meletakkan sang bayi yang masih merah tanpa pakaian diatas dadaku, melatih si bayi bergerak perlahan dan menemukan sumber kehidupannya.

Kelegaan menyeruak, rasanya tak ada lagi tenaga tuk bergerak sekalipun. Namun, Subhanallah bu Bidan masih berjibaku membersihkan diriku (sampai ke daerah vitalku) dari noda darah dan terkadang –maaf- tinja yang ikut keluar. Tidak ada rasa enggan apalagi jijik, semua dilakukannya dengan penuh hati-hati agar tak menyakitiku. Aku bagaikan bayi yang habis pup, dibersihkan dan dipakaikan celana serta baju oleh bu bidan.

Dua jam pasca melahirkan, kondisiku mulai pulih. Kulempar senyum pada bu Bidan yang sedang menggendong bayiku, kelelahan terlukis jelas di wajah teduhnya, tapi dia selalu tersenyum demi menyelami setiap kebahagiaan pasiennya.


Dialah ibuku.. bidan desa yang bersahaja.