Breaking News

08 September, 2011

[catatan lebaran] Cinta Dalam Sepotong Rangginang



[catatan lebaran] Cinta Dalam Sepotong Rangginang

       Oleh : Izti Bunda Bumi






Ouuwww... ada apa dengan rangginang? Apakah menurutmu kue itu terlalu kampungan? udik? murahan? Oyeah, katakan saja kue itu memang kampungan, tapi sama sekali engga murah. Di toko kue langgananku yang ada di kompleks ini, harganya lebi mahal daripada harga permen. Sumpah? yakin? bener? Ya iyalah... :p

Well, aku tidak suka menyebut kue ini sebagai kue yang kampungan, tetapi kue etnik nan unik, asli Indonesia. Cuma ada 2 suku di Indonesia yang membuat kue ini: Betawi dan Sunda (setahu aku). Kue tradisional, satu-satunya kue yang aku cari setiap musim lebaran. Mengalahkan kharisma nastar, kastangel, dan teman-temannya. Bahkan menyingkirkan keanggunan kue putri salju. Jika ada rangginang, dipastikan kue yang lain hanya kulirik dengan sekilas. Selama rangginang di toples belum habis, kue-kue lain hanya menjadi pelengkap pajangan di meja tamu di rumah mertuaku, atau di meja makan rumahku. Bahkan aku bisa berebut dengan keponakanku, dan memeluk erat-erat toplesnya, melirik judes, agar keponakanku tidak berani mengambilnya dariku. Lihatlah, betapa egois dan kekanakannya diriku ketika mempertahankan benda kesukaanku.

Bagiku, rangginang bukanlah kue biasa, melainkan kue yang teramat istimewa. Bukan hanya karena rasanya yang gurih dan renyah, tetapi, dalam setiap potong rangginang ada sepotong kenangan yang penuh cinta. Potongan kenangan yang selalu membawaku ke masa lalu, dan menghadirkan kebersamaan yang teramat indah, bersama sosok perempuan agung yang penuh kasih dan penuh cinta, Kecintaan yang tidak akan pernah hilang meski ia telah tutup usia. Kenangan bersama ibuku.

Rangginang adalah satu-satunya benda yang menyambungkan kehidupanku di masa kini, dengan kehidupan kami di masa lalu. Sejak pertangahan Ramadhan, ibuku akan mulai memilah bulir-bulir ketan terbaik yang akan dijadikan kue, menyingkirkan kerikilnya, dan memisahkannya dari beras biasa. Kemudian memasaknya, memberi bumbu, dan mulai mencetaknya. Ibuku tidak asal membentuknya, ia memiliki cetakan khusus untuk membuat kue rangginang, agar ukurannya sama. Dan selama proses itu, aku selalu menemaninya, dan membantunya jika perlu, Bukan hanya membantu mencetaknya saja, tetapi juga membantu mencicipinya (sebanyak yang aku mau). Rangginang buatan ibuku adalah rangginang terbaik yang ada di kampungku. Belum pernah ada orang yang mencelanya, karena setiap orang menyukainya.

Tak ada satu lebaran pun yang kulewatkan tanpa kue itu. Ibuku akan membuatnya banyak sekali, tak akan habis meski dibagikan kepada seisi kampung. Apa boleh buat, ibuku dan ayahku lahir dan dibesarkan di kampung yang sama. Jadi bisa dipastikan bahwa nyaris seisi kampung adalah saudara kami. Sebagaimana tradisi di sana, setiap 3 hari menjelang lebaran, kami akan membagi-bagikan kue-kue yang kami buat kepada family dan para tetangga. Begitupun dengan mereka. Sehingga, acara bagi-bagi kue pun menjadi acara tuker-tukeran kue.

Ibuku meninggal 9 tahun yang lalu. Sayangnya, aku tidak mewarisi kepandaian ibuku dalam membuat rangginang. Lebih tepatnya, semasa ia masih hidup, aku tidak pernah serius belajar darinya. Sehingga, setelah ibuku wafat, aku hanya bisa mengenangnya, dan menangis antara sedih dan bahagia, setiap kali bisa mendapatkannya. Sedih, karena aku tak bisa lagi menikmati rangginang buatan ibuku, Bahagia, karena aku masih mengingat dengan jelas, setiap episode kenangan lebaran bersamanya. Bahagia, karena memiliki ibu seperti ibuku...

Ya Robb... kasihilah ibuku, ayahku, dan adikku di sana
lapangkanlah kubur mereka, terangilah dengan cahaya-My
Duhai Robbi, ampuni mereka, sejahterakanlah dengan nikmat-Mu
aamiin...

-- with love --
.:: izti ::.

0 komentar:

Post a Comment