Breaking News

22 September, 2011

Bisnis, Antara Hoby dan Kebutuhanya


By Meti Herawati Meti ·


Sejak kecil saya diperkenalkan dengan usaha rumahan oleh mamah, mulai dari menjahit, sulam benang sampai membuat aneka jajanan. Karena terbiasa jadi biasa, mungkin tepat dialamatkan kepada saya. Sesudah beranjak besar saya suka sekali membuka usaha kecil-kecilan. Ada kebanggaan tersendiri ketika membeli sesuatu dari hasil keringat sendiri.
Ketika duduk di bangku kuliah  mulai menekuni bisnis pakaian. Awalnya karena banyak teman-teman suka dengan jilbab dan gamis yang Saya pakai, kemudian mereka memesan. memulai usaha ini tanpa modal awal alias modal dengkul. Caranya dengan mengambil barang pada teman, kemudian Saya jualkan dengan mendapat komisi. Keuntungannya  dikumpulkan sampai akhirnya punya modal sendiri dan bisa kulakan di pasar. Dengan demikian Saya punya keuntungan lebih banyak.

Setelah usaha pakaian jadi berjalan dengan baik, saya mulai melirik bisnis lain yaitu membuat kerajinan tangan. Saya merasa punya bakat untuk membuat kerajinan tangan karena sejak kecil ikut bantu mamah. Saya mulai membuat boneka dari benang wol dan kain perca. Tanpa dinyana hasil karya saya disukai banyak orang, akhirnya kebanjiran order.
Bisnis yang Saya jalani sempat berhenti total karena Saya menikah dan sibuk mengurus bayi. Hasrat bisnis sebenarnya tetap berkobar, tapi di tempat baru belum menemukan peluang yang menjanjikan.

Sampai pada akhirnya Saya mendapat kesempatan untuk pindah ke negri jiran, Malaysia. Mendampingi suami yang melanjutkan study. Malaysia ibarat kawah candradimuka bagi hidup Saya.  Disinilah merasakan hidup yang sesungguhnya. Saya disodorkan pada kondisi harus benar-benar mandiri tanpa bantuan dari keluarga, termasuk dalam masalah ekonomi.
Otak bisnis Saya mulai jalan, mulai membaca peluang dan mengukur kemampuan. Untuk memulai usaha Saya tidak punya keberanian untuk mengeluarkan modal, karena memang tidak ada juga. Tapi kesempatan itu selalu ada, seorang teman baik menitipkan barangnya untuk dijualkan. Terdiri dari satu dus kecil buku-buku dan satu tas pakaian.

Usaha yang saya rintis ternyata mendapat sambutan yang cukup baik, penjualan pun semakin meningkat.  Walaupun demikian saya menekuni bisnis ini hanya sekedar menyalurkan hoby jadi tidak terlalu ngoyo dalam menjalaninya.

Sampailah badai itu datang, beasiswa suami yang menunjang kehidupan kami selama ini HABIS. Padahal baru semester empat dan belum ada tanda-tanda mau cepat selesai. Waktu itu suami berinisiatif untuk cuti sementara waktu dan pulang ke tanah air. Biaya hidup yang sangat mahal sangat tidak memungkinkan bagi kami untuk bertahan tanpa penghasilan tetap.

Jiwa petualang saya terpanggil, inilah saatnya menghadapi tantangan hidup, tidak ada kata menyerah sebelum bertarung. Saya katakana pada suami “ Kita tidak akan pernah pulang tanpa ijazah di tangan dan gelar Phd diraih “. Suami pun membalas tantangan saya dan tidak jadi pulang.

Bagi saya rezeki itu bukan berasal dari manusia melainkan dari pemilik kehidupan ini. Takala ditutup sumber yang satu Allah janjikan membuka sumber yang lain, asal kita mau ikhtiar dengan kesungguhan.

Bisnis yang awalnya sekedar hoby mau ga mau harus lebih serius dijalani. Dari modal dengkul saya mulai punya modal sendiri. Dengan modal yang ada saya mulai merancang dengan benar bisnis ini ke depan, agar terus berjalan dan menghasilkan.

Langkah pertama, mempelajari permintaan pasar yang paling potensial. Tidak semua jenis model pakaian disukai, demikian juga dengan pemilihan warna dan ukuran. Dengan demikian barang jualan kita akan selalu habis. Hal ini sangat penting untuk menghindari penumpukan barang, sehingga modal yang sedikit bisa terus berputar.

Langkah kedua, membangun jaringan. Awalnya saya berjualan dari bazaar ke bazaar, namun frekwensinya tidak jelas mengandalkan adanya kegiatan besar. Sedangkan untuk membuka toko berbenturan dengan masalah perizinan yang sangat ketat. Maka saya mulai membentuk jaringan pemasaran yang berasal dari konsumen.
Kehadiran mereka sangat menunjang bisnis saya, maka mereka perlu dibina dan diberi imbalan yang setimpal. Alhamdulillah dengan kerjasama dalam suasana kekeluargaan bisa menguntungkan kedua belah pihak. Tidak sedikit “anak buah” saya ini melanjutkan berbisnis ketika pulang ke tanah air. Bekal ilmu berbisnis yang saya perkenalkan dan keuntungan yang didapat menjadi jalan usaha bagi mereka.

Langkah ketiga, mencari relasi yang dapat dipercaya. Relasi yang saya maksud disini adalah produsen pakaian. Saya tidak bisa kulakan langsung, hanya mengandalkan pemesanan via telpon dan internet. Untuk itulah diperlukan relasi yang bisa dipercaya dan mau diajak kerjasama. Alhamdulllah setelah sekian tahun berinteraksi kami sudah merasa seperti saudara walaupun kebanyakan belum pernah ketemu.

Langkah keempat, manajemen keuangan yang baik. Seringkali para pengusaha gulung tikar karena modal usaha terpakai oleh konsumsi pribadi. Supaya usaha bisa bertahan lama maka saya berusaha tidak memakai modal untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Setiap bulan dihitung dengan cermat keuntungan yang didapat. Antara modal dan keuntungan disimpan ditempat yang berbeda walaupun jumlahnya tidak banyak. Hal ini akan mendisiplinkan kita dalam penggunaan uang.
Guna menutupi kebutuhan sehari-hari yang cukup banyak, saya mulai melirik usaha lain. Bisnis makanan perputaran uangnya lebih cepat, maka setiap Sabtu dan Minggu saya berjualan siomay dan batagor khas Bandung. Keuntungan dari jualan makanan inilah yang saya gunakan untuk kebutuhan makan sehari-hari. Keuntungan dari bisnis pakaian digunakan untuk bayar rumah, bensin, sekolah anak, dan lain-lain.

Langkah kelima, senantiasa mencari inovasi baru. Hal ini sangat penting bagi siapa saja pelaku bisnis dengan jenis bisnis apapun. Jangan sekali-kali kita meniru produk orang, justru kita harus berusaha menciptakan produk baru. Begitu juga ketika berjualan pakaian, kita harus senantiasa mencari model-model baru untuk dipasarkan. Hal ini untuk mengurangi tingkat persaingan dan menjaga hubungan baik dengan sesama pedagang.

Demikian langkah-langkah sederhana yang selama ini saya jalani dalam berbisnis, 

Alhamdulillah sekarang sudah menginjak tahun kedelapan berbisnis dengan sungguh-sungguh karena factor kebutuhan, bukan sekedar hoby. Alhamdulillah bisnis kecil-kecilan ini bisa turut menghantarkan seorang anak bangsa meraih gelar Doktor. Segala puji hanya milik Allah atas segala pertolongan dan kasih sayang-Nya.

Setelah sekian tahun berbisnis, banyak pelajaran yang saya dapatkan, yaitu : 

Pertama, kita jangan pernah ragu dengan rezeki Allah selama kita mau berusaha. 

Kedua, usaha kita akan semakin lancar ketika rezeki kita berkah. Bagaimana supaya rezeki kita berkah yaitu harus memiliki nilai manfaat untuk orang lain, bukan hanya bermanfaat untuk diri kita. Ketika ada keluarga atau teman yang membutuhkan, ringankanlah tangan kita untuk memberi. Ketiga, ketika rezeki kita bersih, baik caranya maupun dibersihkan dengan zakat maka pintu-pintu kesuksesan akan terbuka lebar.

0 komentar:

Post a Comment