Breaking News

22 September, 2011

Belajar Untuk Mendidik Dan Mencintai Buah Hati Kita


Oleh : Deka Amalia ·

Makalah aku untuk presentasi
Minggu 22 November 2009
Masjid Baitussalam

  1. I.                 PENDAHULUAN

Saat ini satu hal yang pasti kita semua adalah orang tua bagi anak-anak kita. Kita mencintai mereka mungkin sudah tidak perlu dipertanyakan lagi,semua orang tua pasti mencintai anak-anaknya dengan cara masing-masing.
Sebuah pertanyaan penting,sudahkan kita mencintai mereka dengan benar? Mendidik mereka dengan benar?
Setiap orang tua seharusnya mengevaluasi diri dan belajar bagaimana seharusnya mendidik dan mencintai anak.
Kadang kita merasa cukup mengandalkan perasaan dan fikiran kita atau kadang kita merasa cukup tau, cukup mengerti dan cukup bisa. Tetapi kemudian mengapa masalah masih timbul ?
Kita menyadari banyak anak dan orang tua yang memiliki masalah  dari hal yang sederhana sampai yang komplex.  Mungkin jika kita renungkan kita sendiripun sedikit banyak memiliki masalah. Untuk itu pada kesempatan ini,saya akan membahas bagaimana mendidik dan mencintai anak-anak kita. Sudut pandang yang saya gunakan adalah beberapa hadist (dalil-dalil kewajiban orang tua kepada anak-anaknya) dan psikologi anak.
Semoga sharing kita / pembagian pengalaman kita kali ini dapat memberikan masukan yang berharga bagi kita semua, amin.
Saya mulai dengan sebuah kutipan yang manis dari :

Children Learn What They Live”……. karya Dorothy Law Nolte;

Jika anak dibesarkan dengan celaan ia belajar memaki,
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan ia belajar berkelahi,
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan ia belajar rendah diri,
Jika anak dibesarkan dengan hinaan ia belajar menyesali diri,
Jika anak dibesarkan dengan toleransi ia belajar menahan diri,
Jika anak dibesarkan dengan dorongan ia belajar percaya diri,
Jika anak dibesarkan dengan pujian ia belajar menghargai,
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.


  1. II.             SUDUT PANDANG

  • Dalil kewajiban orang tua kepada anak-anaknya (hadist)
“Tidak ada pemberian orang tua terhadap anak-anaknya yang lebih utama daripada akhlak yang baik” (HR.AHMAD)

“Cukuplah seseorang dikatakan berdosa apabila dia menyia-nyakan orang yang menjadi tanggung jawabnya” (HR.ABU DHAUD)

“Ajarilah anak-anak kalian 3 perkara, cerita nabi kalian, cinta dirumahnya nabi,dan membaca Al-Quran” (HR.ABU NASR)

“Kewajiban orang tua terhadap anak-anaknya yaitu memberi nama yang baik,memperbaiki tempat tidurnya,dan meperbaiki adabnya(HR.BAIHAQI)

“ Kewajiban orang tua terhadap anaknya yaitu mengajari berenang,mengajari memanah dan memberikan rezeki yang baik kepada mereka(HR.AL-HAKIM)

“Perintahkan anak kalian untuk mengerjakan sholat pada saat mereka berusia 7 tahun,dan pukulah apabila mereka meninggalkan solat pada saat usia mereka 10 tahun.dan pada saat itu pisahkanlah ranjang mereka.”(HR.ABU DAUD)

  • FASE PERKEMBANGAN ANAK SECARA PSIKOLOGIS
(Ibu Ratna Megawangi /Pakar pendidikan karakter)

• Fase usia 0-3 tahun . Peran orangtua begitu besar, karena landasan moral dibentuk pada umur ini. Cinta dan kasih sayang dari orangtua sangat dibutuhkan anak sepanjang fase ini. Memasuki usia 2-3 tahun, anak sudah dapat diperkenalkan pada sopan santun serta perbuatan baik-buruk. Biasanya anak pada usia ini mencoba-coba melanggar aturan dan agak sulit diatur, sehingga memerlukan kesabaran orangtua.

• Fase usia 4 tahun. Anak mengalami fase egosentris. la senang melanggar aturan, memamerkan diri, dan memaksakan keinginannya. Namun anak mudah didorong untuk berbuat baik, karena ia mengharapkan hadiah (pujian) dan menghindari hukuman. la sudah memiliki kemampuan berempati.  
• Fase 1 (umur 4,5-6 tahun). Anak-anak lebih penurut dan bisa diajak kerja sama, agar terhindar dari hukuman orangtua. Anak sudah dapat menerima pandangan orang lain, terutama orang dewasa; bisa menghormati otoritas orangtua/guru; menganggap orang dewasa maha tahu; senang mengadukan teman-temannya yang nakal. Anak-anak pada fase ini sangat mempercayai orangtua/ guru, sehingga penekanan pentingnya perilaku baik dan sopan akan sangat efektif. Namun pendidikan karakter pada fase ini harus memberi peluang pada anak untuk memahami alasan-alasannya.


• Fase 2 (usia 6,5 - 8 tahun). Anak merasa memiliki hak sebagaimana orang dewasa; tidak lagi berpikir bahwa orang dewasa bisa memerintah anak-anak; mempunyai potensi bertindak kasar akibat menurunnya otoritas orangtua/ guru, dalam pikiran mereka; mempunyai konsep keadilan yang kaku, yaitu balas-membalas
Bagaimana mengajarkan pendidikan karakter pada anak usia ini? Berikan pengertian betapa pentingnya "cinta" dalam melakukan sesuatu, tidak semata-mata karena prinsip timbal balik. Tekankan nilai-nilai agama yang menjunjung tinggi cinta dan pengorbanan. Ajak anak kita merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Bantu anak kita berbuat sesuai dengan harapan-harapan kita, tidak semata karena ingin dapat pujian atau menghindari hukuman. Ciptakan hubungan yang mesra, agar anak peduli terhadap keinginan dan harapan-harapan kita. Ingatkan pentingnya rasa sayang antaranggota keluarga dan perluas rasa sayang ini ke luar keluarga, yakni terhadap sesama. Berikan contoh perilaku dalam hal menolong dan peduli pada orang lain.

  • Tahapan perkembangan karakter anak

Perkembangan karakter anak mencakup Psikis,motorik,linguistik/bahasa,Presepsi,sosial dan emosional.Psikis yaitu perkembangan karakter anak, Linguistik yaitu
 bahasa,presepsi yaitu pandangan anak terhadap sesuatu,sosial yaitu berinteraksi dengan lingkungan dan emosinal yaitu kemampuan mengembangkan emosi kearah yang positif.

Dua masalah yang sering timbul dalam tahapan perkembangan anak yaitu :
  1. Masalah pengasuhan di lingkungan keluarga
  2. Masalah pengaruh lingkungan


  1. III.              PEMBAHASAN

Berdasarkan sudut pandang di atas dari dalil – dalil dan teori psikologis apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua ? Apa tujuan kita sebagai orang tua ? tentu saja kita ingin mampu mendidik anak kita dengan baik.
Apa keinginan kita terhadap anak-anak kita ? Tentu saja kita ingin anak-anak kita menjadi anak yang sempurna lahir batin,berakhlak muslim/muslimah,berkarakter baik,disiplin,tanggungjawab,pandai,sopan,rajin dan semua sifat yang positif. Untuk mencapai itu semua apa yang harus kita lakukan?
Hal yang paling utama tentu saja mencintai mereka sepenuh hati, jika ditanya apakah iya kita sudah mencintai anak-anak kita sepenuh hati. Cobalah renungkan….
  • Mencintai anak-anak sepenuh hati berarti mencintai tanpa pamrih,tanpa batas dan yang lebih penting menjadikan mereka sebagai subyek. Seringkali orang tua tanpa sadar menjadikan anak sebagai objek, hanya menasehati,memerintah,memberitahu,harus menurut,tidak boleh melawan dan lain sebagainya. Tetapi pernahkan kita memberi pengertian akan nasehat yang kita berikan, memberi alasan akan perintah yang kita berikan,memberitahu dengan argumentasi, dan meminta maaf jika kita menyadari ternyata kita sendiri telah melakukan tindakan yang salah terhadap anak kita.
Jadi jika kita memperlakukan anak sebagi subyek berarti kita juga mencoba memahami perasaan dan fikiran mereka.
Memakai sudut pandang fikiran mereka bukan hanya semata fikiran kita sebagai orang tua. Cobalah berada dalam posisinya. Jika hal tersebut bisa kita lakukan tentu saja pada akhirnya akan mudah bagi kita untuk mendidik mereka. Tanamkan semua nilai yang ingin kita tanamkan dengan rasa cinta, bukan dengan paksaan.

Ada beberapa hal yang kemudian harus kita lakukan yaitu :

  • Ciptakan lingkungan keluarga yang sehat, harmonis, demokrasi, tumbuhkan rasa aman dan nyaman anak dalam rumah. Lingkungan yang sehat berarti bebas dari bentakan,teriakan,cacian,hinaan,makian,pertengkaran dan kekerasan. Jangan ajarkan kekerasan pada anak, berikan pengertian dengan lembut dan penuh kasih sayang, jangan melotot pada anak, jangan membentak apalagi memukul atau mencubit karena tindakan tersebut hanya berpengaruh negatif pada anak dan tidak mendidik. Anak tetap tidak memahami kesalahannya sebaliknya yang terekam dalam benak anak hanya kebencian. Jadi hindarilah ! 
  • Aturan perlu dibuat agar anak menyadari bahwa semua ada batasan tetapi berikan pengertian mengapa aturan tersebut harus dibuat. Dalam hal ini anak akan belajar bertanggungjawab terhadap sesuatu dan belajar disiplin. Untuk itu jika kita sudah sepakat tentang sesuatu jangan sekali-seklai kita sebagai orang tua yang melanggar. JIka ini terjadi maka disiplin yang ingin kita tanamkan akan sia-sia.
Sebagai contoh :
Berikan waktu kapan harus belajar dan kapan boleh bermain. Lalu konsekuen dengan aturan yang sudah ditetapkan. artinya jangan dilanggar dengan alasan apapun juga, jika memang waktunya belajar ya harus belajar.
  • Perhatikan dengan siapa anak kita bergaul. Pengaruh teman sangat besar terhadap anak-anak kita karena itu kita harus yakin anak kita tidak bergaul dengan lingkungan yang hanya akan berpengaruh negatif terhadap dirinya.
  • Berikan pengertian mana yang benar dan mana yang salah.tetapi kemudian berikan alasan mengapa benar dan mengapa salah. Jangan katakan seharusnya tetapi katakan ini yang benar karena apa. Sehingga kemudian anak akan mampu memahami mana yang benar dan mana yang salah. Jelaskan menurut siapa benar dan menurut siapa salah.
  • JIka kita melarang anak melakukan sesuatu yang menurut kita tidak boleh dilakukan, berikan pengertian mengapa tidak boleh. Pastikan anak memahami karena apa kita melarangnya melakukan hal tersebut.
  • Berikan hak dan kewajiban pada anak dirumah. Jelaskan bahwa  sebagai anak ia sudah mendapatkan haknya yaitu hak dicintai, dilindungi, dirawat maka kemudian ia juga punya kewajiban misalnya bertanggungjawab terhadap kamarnya,barang-barangnya,sekolahnya dan lainnya.
  • Berikan kesempatan pada anak untuk mengemukakan pendapat, Jika ia berbuat kesalahan tanyakan dulu mengapa ia melakukan itu, coba pahami pemikirannya lalu berikan pengertian mengapa yang ia lakukan itu salah. Jangan sekali sekali  langsung kita berikan hukuman tanpa kita mau memahami alasannya  melakukan hal tersebut. Jika kita mampu melakakan ini maka anak akan mengerti kesalahannya dan tidak akan mengulanginya lagi.

Jika anak mengalami  masalah karakter (tidak disiplin,tidak bertanggungjawab terhadap pelajaran, malas, tidak sopan, tidak menurut/melawan, tidak menghargai orang lain, egois atau karakter negatif lainnya).   Apa yang harus dilakukan ?

Langkah yang keliru adalah jika memulai melihat diri anak sebelum melihat diri kita sebagi orang tua. Jadi cobalah melihat pada diri kita sendiri, apa yang salah pada diri kita sebagai orang tua ? apakah kita sendiri ternyata memiliki sifat yang negatif(anak meniru perilaku di sekitarnya, terutama orang tua) Jika ya,maka hilangkalah sifat negative dalam diri kita,kembangkan sifat positif dalam diri kita, jika kita malas mulailah rajin, jika kadang kita tidak sopan(misalnya terhadap pasangan kita) maka mulailah bersikap sopan. Intinya berikan contoh perilaku positif maka kita akan mampu membangun karakter positif/.baik dalam diri anak.
Namun jika kemudian ternyata kita merasa sudah baik tetapi ternyata anak kita kok masih tidak baik,maka lihat apa yang dia tonton, apa yang dia baca, dengan siapa bergaul, bagaimana lingkungan sekolahnya, jadi cari dahulu akar masalahnya baru penyelesaiannya. Selesaikan semua dengan bijak,artinya tidak menyudutkan anak, lalu cobalah secara perlahan tanamkan sifat/sikat positif dalam diri anak.
Ucapkan hanya kata-kata yang baik pada anak kita.


  1. IV.          KESIMPULAN

Diatas apa yang telah dipaparkan dalam makalah singkat dan sederhana ini adalah DOA, sebagai orang tua jangan pernah putus berdoa. Doakan anak-anak kita disetiap solat kita. Jika anak kita mengalami masalah, mohon ampun apda ALLAH SWT karena mungkin semua adalah kesalahan kita. Tetapi jangan tenggelam dalam kesalahan dan penyesalan. Yang lebih penting jika kita mengalami masalah dengan anak kita adalah mengatasinya dengan bijak dan baik. Dengan DOA dan USAHA, Insya Allah anak kita akan menjadi anak-anak yang soleh/solehah dan dapat dibanggakan, amin. 

0 komentar:

Post a Comment