Breaking News

18 September, 2011

ANTARA 'MENCURI WAKTU' DAN BUAH HATIKU :)


Saya seorang ibu rumah tangga dengan 3 orang buah hati. Meskipun sarjana lulusan sebuah universitas negeri ternama di Semarang, namun saya secara sadar telah memilih untuk mengabdikan diri pada keluarga seutuhnya. Telah hampir 11 tahun saya menjalankan peran sebagai seorang istri dan ibu, dengan segala suka dan duka, tentu. Terkadang, rasa jenuh, bosan, dan tak bahagia melanda diri saya. Saya ingin melakukan sesuatu yang lain, sesuatu yang berbeda dari keseharian saya. Sesuatu yang bisa membuat saya merasa diri ini memiliki arti lebih, tak hanya ‘sekedar’ menjadi seorang ibu rumah tangga.



Sebenarnya, sudah sejak duduk di bangku sekolah dasar, saya ingin menjadi penulis. Selalu terbersit rasa iri, setiap membaca artikel, buku, atau cerpen yang dimuat di majalah atau surat kabar. Betapa inginnya saya seperti para penulis itu, bisa menghasilkan karya yang dibaca, disukai, bahkan menginspirasi banyak orang. Tapi, dengan segala keterbatasan dan juga segudang aktivitas rumah tangga yang seakan tiada habisnya, saya tak tahu bagaimana saya bisa memulainya.

Namun, semenjak membuat akun di facebook setahun belakangan ini, tiba-tiba saja saya bersentuhan dengan dunia ‘lain’ itu. Sebuah dunia yang sebenarnya selama ini diam-diam saya idamkan, bahkan nyaris terpendam dalam. Sebuah dunia yang seakan hendak membawa impian saya menjadi kenyataan: mimpi untuk menjadi seorang penulis.

Sahabat-sahabat dunia maya saya kebanyakan suka menulis. Mulai dari hanya sekedar hobi, sampai mereka yang sudah menelurkan begitu banyak buku. Wah, saya benar-benar termotivasi! Apalagi, mereka sama-sama ibu rumah tangga. Pikir saya, sahabat saya saja bisa, maka seharusnya saya juga bisa. Dan sahabat-sahabat saya pun tak pernah lelah menyemangati dan mendorong saya untuk menekuni dunia menulis. Maka, mulailah saya memberanikan diri untuk mulai menulis.

Akhirnya, satu per satu buah karya saya lahir. Dimulai dari sekedar catatan ringan di facebook, sampai ’nekat’ mengikuti berbagai lomba menulis. Beberapa kali gagal, namun alhamdulillah ada juga tulisan saya yang berhasil menang atau lolos dalam aneka lomba. Bahkan, sebentar lagi, buku kedua dan ketiga saya segera terbit! Meski berupa buku ’keroyokan’ dengan penulis lain, tapi saya bahagia dan bangga bukan kepalang!

Subhanallah...Ternyata di usia yang sudah tidak muda lagi – saya lahir tahun 1977 – Allah berkenan mewujudkan impian saya. Menulis, menghasilkan karya yang dibaca orang, dan menginspirasi. Saya sungguh bersyukur... Saya pun semakin bersemangat menulis. Kini, berbagai jadwal lomba menulis menghiasi agenda keseharian saya. Saya selalu menyempatkan diri untuk duduk di depan komputer, berusaha berkonsentrasi menulis, seakan saya seorang penulis profesional. Saya bersikap seakan-akan semua event kepenulisan itu harus saya ikuti, dan bersemangat menjelma menjadi ’hantu’ lomba.

Namun, ternyata tak semudah itu! Berbagai tugas sebagai seorang istri dan ibu, yang bekerja tanpa seorang asisten rumah tangga, benar-benar menguras tenaga saya. Mencuci, menyetrika, memasak, mengasuh, menemani belajar, dan banyak tetek bengek lain, harus ’sikut-menyikut’ dengan hasrat saya untuk menulis. Saya kelimpungan membagi waktu dan perhatian. Di satu sisi, saya begitu ingin menulis, menulis, dan menulis tanpa ada gangguan, sementara di sisi lain, naluri dan tanggung jawab sebagai seorang ibu rumah tangga memenuhi ruang batin dan pikiran saya. Saya bingung. Saya kalut, dan akhirnya, saya mulai tertekan.

Setiap kali saya ingin mengejar deadline lomba menulis yang menurut saya penting dan sayang untuk dilewatkan, saya pun mengalokasikan sebagian besar waktu dan pikiran saya untuk itu. Saya berusaha memanfaatkan sedikit waktu di sela-sela rutinitas saya. Seringkali, saya harus mengetik hingga jauh tengah malam, karena hanya itulah kesempatan saya. Maklum, anak bungsu saya yang masih belum genap dua tahun, sangat aktif, jadi tak bisa diajak duduk manis di depan komputer. Bila saya ingin mengetik, harus pada jam tidur si kecil. Belum lagi masalah pekerjan rumah. Seringkali, demi ’tuntutan’ kepenulisan, saya harus men’tega’kan diri untuk tidak mencuci atau memasak. Pokoknya, saya harus mendahulukan salah satu: menulis, atau menjadi ratu rumah tangga. Harus pilih salah satu dulu untuk sementara waktu.

Kalau sudah begitu, biasanya saya akan menjadi amat sangat sensitif, tak sabaran, dan pemarah. Saya merasa seakan tak diberi kesempatan, tak punya waktu untuk menjadi diri saya sendiri. Saya merasa dikejar-kejar dua dunia, yang masing-masing menekan saya dengan kuatnya. Saya benar-benar dibutakan oleh keinginan untuk ’eksis’. Sudah tentu, yang menjadi korban adalah anak-anak. Saya menjadi tak jenak membersamai mereka. Saya ingin mereka cepat-cepat tidur, supaya bisa segera menyelesaikan tulisan saya. Kadang bila si kecil terbangun dari tidur siangnya, saya ajak dia mengetik. Saya setengah memaksa dia untuk anteng, tenang di samping saya. Meskipun dia menolak. Lalu dengan lincah, tangannya berusaha menekan tombol power komputer. Mencabuti kabel-kabelUSB. Dan akhirnya menangis. Kalau sudah begitu, rasanya saya mau meledak! Saya pasti langsung membatin dengan marahnya, mengapa saya seperti tak punya waktu untuk diri sendiri? Mengapa saya selalu harus mengalahkan keinginan saya pribadi? Mengapa saya tak bisa bebas, untuk satu hal ini saja?

Namun, alhamdulillah, Allah masih mengehendaki saya berpikir jernih. Setelah acapkali merasakan ketegangan emosi akibat perbenturan kepentingan itu, saya masih bisa mawas diri. Saya masih bisa ingat, untuk siapa dan untuk apa saya hadir di tengah-tengah keluarga saya. Melihat si kecil yang menangis rewel meminta perhatian saya, saya tersadar. Mungkin dia merasa tak nyaman dengan kesoksibukan saya. Lihat saja, begitu saya ajak menjauh dari ruang komputer, segera saja tangisnya terhenti, dan dengan suara cedalnya mengajak saya main, atau sekedar minum susu di kamar. Binar bahagia terpancar dari mata dan raut wajah mungilnya.

”Bunda, cenyuum, hmmm...!” si bungsu yang belum genap dua tahun itu lalu meminta saya tersenyum. Saya tercekat, malu luar biasa.

Astagfirullah... Ya Allah! Betapa saya buta belakangan ini! Betapa saya merasa begitu penting segala hal tulis-menulis ini, jauh lebih penting dari mencintai buah hati saya! Bagaimana pula saya bisa mulai mengabaikan hak anak-anak saya untuk didampingi sepenuh waktu yang saya punya? Bagaimana bisa saya mengharuskan mereka mengerti bahwa ibunya juga ingin menikmati waktu untuk dirinya sendiri, sedangkan mereka hanyalah anak-anak yang belum mengerti apa-apa? Lihatlah, saya bahkan tak tahu, seberapa dalam keegoisan saya itu telah menorehkan luka di hati mereka!

Astagfirullah.... Saya nyaris terlena oleh dunia baru saya, dunia yang semula saya kira akan mendatangkan kedamaian dan kebahagiaan buat saya. Menulis, menghasilkan karya, memang telah membuat saya keluar dari ’tempurung’ saya. Mendatangkan kebanggaan, tak hanya buat saya, tapi juga untuk suami dan anak-anak. Tapi, kalau harus begini caranya, saya memilih untuk berdamai dengan mimpi saya. Buat apa saya menulis, jika saya mengabaikan kewajiban saya sebagai ibu? Untuk apa saya memiliki buku-buku yang diterbitkan, jika dalam prosesnya saya harus bersikap tegang dan penuh emosi dalam menghadapi anak-anak?

Sayalah ibu mereka. Sayalah poros mereka, pusat rotasi hidup mereka. Kepada sayalah mereka bercermin. Sayalah pendidik utama mereka, madrasah pertama mereka. Seharusnya saya memberikan rasa aman dan nyaman untuk mereka, tidak dalam ketergesa-gesaan dalam tiap langkah saya. Seharusnya saya selalu ada untuk mereka, kapanpun mereka membutuhkan saya. ’Merepotkan’ saya, itulah fitrah mereka, karena mereka belum mampu bertanggung jawab atas diri mereka sendiri.

Jadi, Nak, mulai saat ini Bunda berjanji pada kalian. Bunda tak akan lagi bersikap seperti ’hantu’ lomba, bergentanyangan mengejar deadline ini-itu. Bunda akan menulis selagi ada waktu senggang. Tak akan lagi cemas dan menyesal setengah mati bila ada lomba yang terlewatkan. Bunda akan menulis untuk berbagi, untuk mngekspresikan cinta. Menulis karena suka, bukan karena harus. Toh, perlombaan datang silih berganti. Toh, pertarungan yang sebenarnya buat Bunda adalah bagaimana menjadikan kalian anak-anak yang berbahagia, sholih dan sholihah, sukses di dunia akhirat. Bukankah kalian adalah amanah dari Allah yang harus Bunda jaga baik-baik, dan dipertanggungjawabkan kelak di pengadilan-Nya?

Jadi, Nak, doakanlah Bunda, agar selalu istiqomah menempatkan kalian di atas segala kepentingan Bunda, karena kalianlah permata hati Bunda.

0 komentar:

Post a Comment