Breaking News

07 July, 2011

The X-File for Thinker Mother

Diena Ulfaty

Apa kau pernah mengalami hal seperti ini? Saat menatap keluar jendela kamarmu, semua hal di sekelilingmu menjadi nampak mengerikan. Itulah yang kualami ketika baru saja menjadi Ibu Rumah Tangga. Saat memandang keluar jendela, aku melihat mayat-mayat kecil bermain bola sambil tertawa penuh ketegangan. Karena tak tahan melihat mata mereka yang tiba-tiba berubah menjadi hitam dan semakin mengerikan, aku mengalihkan pandanganku ke arah tembok kamar, berharap menemukan sesuatu yang berbeda.
Tapi sayang sekali, tembok kamarku sama-sama mengerikannya. Warna putih tembok yang mengelilingi rumah berubah menjadi abu-abu secara tiba-tiba. Seolah-olah mereka bosan memamerkan warna bersih berkilau yang biasanya ditampakkan. Yah, itulah yang menimpaku. Segalanya mendadak abu-abu, suram, dan nampak seperti kematian sebuah peradaban. Aku sadar, jika aku tidak beranjak dari titik ini (depresi), aku akan benar-benar tamat.
Menjadi Ibu Rumah Tangga yang memiliki seorang anak yang teramat rewel bukanlah idaman semua orang. Anak pertamaku memang cantik, kulitnya putih bersih, tapi sayang sekali perilakunya amat tidak menyenangkan. Ketika suamiku bekerja, aku harus menghadapi tangisnya yang kencang selama berjam-jam tanpa mengetahui apa yang harus dilakukan.
Aku sendirian. Tidak ada Ibu yang memanduku jika terjadi masalah karena Ibuku sudah meninggal sebelum aku menikah. Semua tetangga yang menyaksikan adegan tangis anakku ini terheran-heran, bagaimana mungkin anakku itu tahan menangis berjam-jam dan hanya mau berhenti kalau tertidur. Tidak ada seorang pun yang kukenal mampu menangani Kia (panggilan putriku).
 Bahkan dokter pun sudah kulibatkan, tapi percuma, mereka juga sama tidak tahunya denganku. Bahkan cenderung berteori dengan teori yang mudah sekali dibantah. Aku bosan. Sangat bosan. Tingkat kebosananku sudah berada di ubun-ubun dan mau meledak. Aku lelah, tidak punya waktu untuk menyenangkan diriku sendiri karena seluruh waktuku terkuras untuk mengurusi anak yang sangat rewel. Jadi, aku tidak heran jika kemudian aku memiliki dunia sendiri yang berwarna abu-abu, mirip sekali dengan bekas-bekas bangunan yang baru saja terkena bom atom.
Hancur, suram, dengan ratusan mayat bergelimpangan di atas tanah. Atau malah seperti film horor dengan zombi-zombi hidupnya yang senantiasa lapar. Aku terdampar dalam kehidupan yang sepi, karena terkungkung di dalam masalah yang tidak terpecahkan.
Jika ada yang bertanya, “Bukankah aku bisa membaca buku dan menyenangkan diriku dengan hobiku agar terhindar dari kebosanan?”
Sekali lagi kukatakan, apakah Anda bisa melakukan hal itu jika Anda sedang dikungkung oleh sebuah masalah besar yang menguras emosi, perhatian, dan pikiran Anda. Tidak ada yang bisa kulakukan untuk mengusir kebosanan.
Aku mencobanya berkali-kali dan gagal. Saat aku ingin ikut ta’lim untuk melepas kebosanan, Kia berulah di tempat ta’lim. Dia menangis terus menerus dari mulai saat kami datang hingga ta’lim selesai. Saat aku berada di tempat pengajian, Kia melakukan hal yang sama sehingga aku tidak dapat mendengarkan apa-apa dari sang penceramah.
Saat aku di rumah teman, dan tempat-tempat menarik untuk mengusir kebosananku, Kia selalu menangis sekencang-kencangnya sampai kurang lebih 2 jam. Sanggupkah Anda menghadapi anak yang rewel semacam ini, tanpa refreshing, dan harus sering-sering menggendongnya kalau tidak ingin tangisnya meledak seperti meriam. Tidak ada dokter ataupun psikolog yang mampu menangani, karena secara medis dan kejiwaan, anakku baik-baik saja. Apa yang menimpa anakku hanyalah sebuah kasus yang menjadi tanda tanya para pakar. Kalau pakar saja tidak mampu memecahkan misteri tangis semacam ini, siapa lagi yang kuharapkan dapat menolongku? The X - File for Thinker Mother.

Menjadi Psikolog Anak
Aku tipikal wanita kritis dan seorang pemikir. Mungkin itu sebabnya aku dikaruniai anak yang sangat “aneh” yang memerlukan penanganan “aneh” pula. Dulu, sebelum menikah, aku dikenal sebagai penulis Sains, pengkritik ilmuwan besar seperti Harun Yahya, bahkan pernah dinobatkan sebagai Danah Zohar-nya Indonesia oleh seorang fisikawan ITB gara-gara kritikanku terhadap teori “The Secret Beyond Matter” yang meniadakan materi untuk membantah kaum Atheisme.
Salah satu karyaku diabadikan di dalam Jurnal Fisika Indonesia 2003, dan beberapa kali menggegerkan forum diskusi dunia maya yang beranggotakan kaum inteleknya ITB. Bahkan gara-gara “kehebohanku” ini, dalam waktu 6 bulan aku dilamar oleh 5 orang laki-laki dari kampus yang sama. Ehmm.... *kambuh deh narsisnya hueeekkk!!!
Tapi saat ini, ketika berumah tangga aku dihadapkan dengan masalah riel yang membutuhkan penanganan riel. Seolah-olah Allah sengaja mengujiku dengan ujian yang kadarnya nyaris di ambang batas masa kritis yang kumiliki. Aku banting setir, dari seorang peneliti Fisika menjadi seorang psikolog anak. Saat Kia tidur siang hari, aku mempelajari buku-buku psikolog anak dari pakar Amerika Serikat. Jangan tanya mengapa aku tidak mencari tahu dari pakar dalam negeri? Sekali lagi kukatakan, kalau masalah Kia tidak mampu dipecahkan oleh mereka. Jadi untuk apa buang-buang waktu?
Daripada membiarkan hidupku suram dan menyaksikan kematianku sendiri, aku mulai menganalisis apa saja yang membuat Kia rewel. Menurut buku yang aku baca, kolik pada bayi memang tidak selamanya disebabkan oleh penyakit. Ada kalanya hal itu berkaitan dengan karakter. Dan inilah, dasar ilmu tentang perilaku yang baru saja kuketahui. Aku dikaruniai anak yang sangat peka.
Kepekaannya yang terlalu tinggi membuat dia cenderung menuntut lingkungan agar seperti yang dia inginkan, padahal itu tidak mungkin. Jika Kia kuajak ke sebuah gedung berbentuk seperti kubah dengan langit-langit yang tinggi dan lampu bulat yang jumlahnya banyak, maka dia akan menangis sekencang-kencangnya karena tidak mampu mendeskripsikan apa yang dilihatnya.
 Dia takut pada apa yang nampak berbeda dari dunianya – dunia rahim, yang penuh ketenangan, dengan kehangatan. Wajar jika dia menangis sekencang-kencangnya sampai acara selesai, dan semua Ibu-ibu yang hadir dan ikut membantu menenangkan Kia, merasa putus asa. Kami semua putus asa manghadapi tangisnya yang menggelegar bak petir di siang bolong.
Menginjak usia 1 tahun Kia masih juga sulit ditenangkan. Jam tidurnya sangat kacau. Tiap malam dia begadang dan masih tahan menangis berjam-jam. Kia mengalami kekacauan dalam memahami sikulus siang dan malam. Sebagai Ibu, aku mencari buku-buku bergambar yang menceritakan perbedaan malam dan siang. Aku memberitahunya bahwa siang waktunya bermain dan malam waktunya tidur. Aku melakukan terapi yang dianjurkan oleh pakar di buku mereka dan berhasil mendisiplinkan waktu tidurnya.
Tapi masalah tidak berhenti sampai di situ. Kia sangat suka bereksperimen, dia akan memukul seseorang untuk mengetahui reaksinya. Dia juga meludah di lantai, mendorong, menendang, bahkan menge-tes karakter orangtuanya karena ingin memahami reaksi dunia yang baru dikenalnya.
Saat aku melahirkan anak kedua (Sa’id), Kia juga berusaha mengadu domba kami. Dia memukul Sa’id di depan Abinya lalu dengan sengaja melaporkan kenakalannya kepadaku saat mengetahui Abinya tidak bereaksi apa-apa. Tanpa babibu, aku langsung mengangkatnya ke kursi merah sebagai upaya memahamkan dia bahwa tiap perilaku itu ada konsekuensinya. Lalu Kia meminta tolong Abinya, agar menurunkannya dari kursi itu.
Untunglah kami aku dan suami kompak sehingga teriakan Kia tidak akan mengubah aturan yang telah kuterapkan. Saat Kia menyadari kelakuannya yang heboh itu tidak dapat mengubah kebijakanku, maka dia menyerah lalu meminta maaf padaku. Sikapku yang tegas dan konsisten ini ternyata berhasil menyembuhkan karakter Kia yang sangat rumit.
Setelah usianya 2 tahun Kia tumbuh menjadi pribadi yang tenang, tidak rewel, dan sangat sopan. Dia meminta ijin jika akan mengambil makanan di kulkas, meminta maaf jika salah, tidak pernah memukul, mendorong, meludah, dan mudah mengalah. Dia bisa diandalkan untuk menjaga adiknya yang usianya hanya terpaut 2 tahun. Kia juga tidak suka jajan dan selalu membuang sampah di tempat sampah. Ketika ada orang dewasa membuang sampah sembarangan, dia akan mengkritiknya lalu memungut sampah itu dan meletakkannya di tempat sampah.
Dia tahu hal-hal yang membuatku senang. Saat aku terlalu sibuk beres-beres rumah, dia ikut membantuku mengambil mainannya dan meletakkannya di tempat mainan. Dia juga belajar melipat baju, dan merapikan tempat tidur. Kia juga sangat cerdas, dia sudah ahli memainkan komputer danmouse-nya semenjak usia 2,5 tahun, hafal semua bentuk benda mulai oval, hingga belah ketupat. Bahkan sudah mengenal 12 jenis warna dan bisa menjumlahkan benda. Dia juga hafal alfabet dari A-Z sejak dua tahun.
Kia bisa mandiri sejak 2,5 tahun, pipis sendiri di kamar mandi, tidak pernah ngompol di malam hari, cebok sendiri, dan pakai celana sendiri. Jika tahu kakiku memar-memar karena kecapekan, Kia akan memijitku tanpa kuminta dan bertanya, “Ummi capek yah? Ini walnanya hitam,” katanya sambil menunjuk bagian kakiku yang memar.
Saat melihat perubahan Kia yang dramatis, dari bayi yang sangat rewel dan badung menjadi anak manis yang selalu menuruti perintah orangtuanya, suamiku sering merasa tidak percaya. Beberapa kali dia berkata, “Untung aku menikah dengan Ummi, kalau tidak? Nggak tahu deh apa jadinya anakku.” Bahkan suami pun menjulukiku psikolog anak, karena keberhasilanku menyembuhkan Kia.

Kembali Terusik
Bagiku mengurus dua bayi dengan seabreg aktivitas rumah tangga seperti mencuci, mengepel, memasak, dll tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan musibah yang sebentar lagi menimpaku. Ketika masalah perilaku Kia sudah teratasi, keluargaku ditimpa badai untuk yang kedua kalinya. Tiba-tiba saja suamiku digugat tujuh milyar oleh perusahaannya dan dikeluarkan tanpa pesangon.
Bisa dibayangkan betapa terkejutnya kami. Gaji yang dulunya bisa dipakai untuk menyicil mobil Avanza kini berubah menjadi nol dan kami harus berupaya memikirkan jalan keluar dari masalah ini. (Catatan buat para istri: jangan merasa “nyaman” dengan gaji besar suami, karena tidak ada yang kekal di dunia ini. Bersiap-siaplah untuk sesuatu yang bisa saja menimpa keungan keluarga dan membalikkan kehidupan Anda menuju titik nol).
Aku nekad membuka bimbingan belajar padahal anak-anakku masih kecil (Kia waktu itu 3 tahun dan Sa’id 1 tahun). Dengan dua anak yang masih kecil-kecil dan butuh perhatian ekstra orangtuanya, aku perlu bekerja ekstra keras. Pekerjaanku mulai dari mengepel, mencuci, menyuapi anak-anak, memandikan mereka, harus sudah selesai sebelum jam 10 pagi. Karena aku mengajar mulai jam 10 pagi hingga pukul 4 sore (tapi khusus sekarang, karena murid bimbel tambah banyak aku baru selesai jam 6 malam). Tapi anehnya aku bisa menyelesaikan semua itu.
Rumahku sudah kinclong dan nyaman ditempati sebelum pukul 10 pagi, semua baju sudah dijemur, makanan sudah siap dan anak-anak sudah kenyang. Rumahku pun hampir selalu rapi setiap hari.
Saat mengajar, Kia membantuku menjaga Sa’id, sehingga suasana terkendali (ingat yah, Kia sudah berubah menjadi anak baik). Jika Sa’id sakit, aku mengajar sambil menggendongnya. Tak jarang pula ketika anak-anakku bangun tidur pukul 1 siang dan beberapa muridku sudah datang, aku menyuapi mereka ketika murid-muridku kuberi tugas mengerjakan soal, mengganti popok Sa’id (karena aku anti pampers kecuali darurat), dan bermain dengan anak-anak .
Bahkan aku masih bisa mengajari Kia membaca. Aku membuat kartu-kartu cantik yang menggabungkan gambar dengan suku kata di kedua sisinya. Hasilnya? Kia bisa hafal semua suku kata berakhiran “a” dalam waktu kurang dari 1 jam. Aku juga masih mempunyai waktu untuk diriku sendiri, buktinya?
Aku masih bisa bermain facebook, membaca buku, dan membuat kartu. Oya, jika penemuan kartu a ba cayang kuujikan kepada Kia diminati penerbit, tidak menutup kemungkinan, kartu itu akan diterbitkan. Karena Kia mampu membaca suku kata hanya dalam hitungan jam (bukan hari) dan bisa membaca kata/kalimat dalam hitungan hari (bukan bulan). Ini terjadi bukan karena anakku jenius, tapi lebih disebabkan oleh menariknya kartu yang aku buat karena melibatkan game interaktif saat memainkannya.
Oya pekerjaanku bukan hanya mengajar, aku juga seorang penulis artikel untuk sebuah perusahaan dengan jabatan ghostwriter content article. Tiap malam, ketika anak-anakku sudah tidur, aku menulis artikel kesehatan, sains, wisata, apa saja sesuai orderan. Tiap malam aku bisa menghasilkan 2 artikel bahkan kadang-kadang 3 artikel untuk diposting ke web perusahaan (1 bulan minimal 30 artikel). Pekerjaan tidak pernah berhenti. Malam menulis artikel, siang hari mengasuh anak sambil mengajar.
Melihat usahaku mendidik anak dan memperbaiki perekonomian keluarga, suamiku sering merasa kasihan padaku. Dia sering berkata, “Maafkan aku ya Mi, tidak bisa membahagiakanmu. Kalau Ummi capek, tidak usah begadang tiap malam untuk menulis, aku khawatir dengan kesahatanmu.”
Suatu kali suamiku juga bilang, “Ummi kalau capek, bimbelnya ditutup saja, biar aku saja yang pontang-panting cari duit. Ummi cukup mendidik anak-anak saja.”
Suamiku merasa berhutang budi padaku. Sampai-sampai saking ingin membahagiakan aku, dia rela mengambil lembur dan menyuruh aku libur mengajar. Dia benar-benar ingin membebaskanku dari kegiatan mencari uang.
Aku yakin keberhasilanku dalam mendidik anak, menyembuhkan karakternya yang destuktif, dan menjadikan mereka anak-anak yang hormat pada orangtuanya tidak terlepas dari bantuan Allah (melalui suami yang pengertian).
Aku juga yakin keberhasilanku dalam mengatur waktu untuk menulis artikel tiap malam dan mengajar dari pagi hingga sore serta mengasuh anak-anak dengan berbagai keterbatasan yang kumiliki, semua itu pasti dengan bantuan Allah. Rasanya tidak mungkin, jika semua itu bisa berjalan sempurna tanpa bantuan-Nya sementara aku memiliki anak-anak yang masih butuh asuhanku secara full time.
Aku berdoa, semoga Allah senantiasa memberi kebahagiaan kepada kami setelah kami berhasil memenangkan gugatan tujuh milyar di pengadilan.  Dan, semoga aku selalu menjadi istri kebanggaan suami hingga ajal menjemput kami. Hidup IRT !! hehehe...

Diena Ulfaty
Bandung, 15 Juni 2011

0 komentar:

Post a Comment