Breaking News

07 July, 2011

Ummi ku, Lebah Madu!!

Honney Miftahuljannah
Tahu kan Lebah Madu? Itu lho, serangga kecil yang hobi sekali mengumpulkan cairan manis, atau lebih dikenal dengan nama madu. Dari madu ini banyak sekali yang bisa dimanfaatkan. Kelebihan yang lain dari si lebah ini, ternyata jarum yang berada diekornya bisa dimanfaatkan juga, terapi lebah istilahnya. Sampai disitu kah manfaat si Lebah Madu ini? Definately not. Air liurnya juga ternyata bisa jadi obat! Hebat ya si Lebah ini, tanpa harus bergantung dengan makhluk lain ia terus berusaha menghasilkan yang terbaik.
Tapi ada satu hal yang boleh dijadikan contoh, yakni semangatnya untuk berani keluar dari zona aman. Perhatikan saja, ketika bunga yang biasa ia hisap habis sari madunya, apa lebah berhenti disitu saja dalam mengumpulkan madu? Tidak. Ia mencari bunga lain sampai mendapatkan apa yang ia inginkan. Tidak menunggu si bunga tumbuh lagi atau menunggu bunga untuk kembali menghasilkan sari madunya. Ia terus mencari dan berani untuk keluar dari zona aman.
Nah, saking cintanya sama binatang ini saya selalu menggunakan nama Lebah Madu dimana-mana. Tak jarang juga mengenalkan diri dengan nama Lebah Madu. Saya ingin sekali mencontoh keberanian hidupnya, yaitu berani untuk keluar dari zona aman. Hingga memunculkan keinginan dalam diri untuk berani juga melakukan sesuatu yang dulu selalu dihindari, dan harus bisa mengatasinya. Melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang-orang disekitar, terutama mereka yang saya cintai. Juga berkarya tanpa harus menjadi beban bagi orang lain.
  Jadi, ketika pada akhirnya menikah dan dengan secara terhormat memegang tongkat dan makhota kehormatan sebagai ratu rumah tangga (sambil melambai ala Putri Indonesia), saya ingin melakukan lebih dari sekedar itu. Tanpa harus tergantung kepada suami, berkarya dan aktualisasi diri, serta mampu melaksanakan apa yang bisa dilakukan sendiri. Demi rasa idealisme ini lah ada beberapa listyang akhirnya tercipta.
  Pertama adalah mengatasi rasa trauma saya akan makhluk yang bernama sepeda! Kok, sepeda? Pikiran yang ada di benak saya adalah jika mampu kembali menguasai sepeda, akan sangat dengan mudah - mungkin - berhasil mengendarai sepupu sepeda yang bernama motor. Jadi, jika saya bisa mengendarai motor bisa dengan mudah antar jemput anak sekolah atau untuk memenuhi kebutuhan lain yang mengharuskan menggunakan alat transportasi. Hingga akhirnya, kesempatan untuk kembali menaklukannya tiba juga.
 Ketika berkunjung ke sebuah taman, dimana untuk menikmati taman tersebut harus menggunakan sepeda karena tempat itu luas. Meski bisa menggunakan mobil yang disediakan, anak-anak dan suami memilih sepeda untuk berkeliling taman itu. Saya? Berjalan kaki dengan sukses. Sampai tiba untuk makan siang dan istirahat, saya mengelus-ngelus mesra sepeda yang digunakan suami berkeliling-keliling taman.
Tergoda untuk berlatih sepeda, saya pun tertatih-tatih mulai berkawan mesra dengan si sepeda. Untung, waktu itu taman sepi sekali dari pengunjung. Hanya ada satu, dua orang petugas yang sedang bersih-bersih. Melihat saya belajar sepeda, mereka tersenyum-senyum memberikan semangat.
Dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan. Akhirnya,voila! Saya bisa mengendarai sepeda! Sepeda saudara-saudara! Makhluk yang dulu sekali saya jauhi, hanya gara-gara pernah terjatuh karena menabrak dengan tragis sebuah becak lengkap dengan si abangnya yang sedang parkir, hingga si becak itu terguling-guling akibat tabrakan saya. Satu kali kayuh, dua kali, tiga kali dan whuuuzz.. saya melaju dengan mulus. "Ummi, hebat!" Anak-anak dan suami bersorak sambil tepuk tangan. Para petugas yang menyaksikan pun ikut bertepuk tangan. Suami sampai mengabadikan adegan saya pertama kali bisa bersepeda dengan kameranya lho. Ah, memori terindah dalam hidup.
  Dari sepeda inginnya sih beralih ke motor. Tapi rupanya si pamannya sepeda, yaitu mobil lebih diinginkan untuk terlebih dahulu saya kuasai. Pertama kali berlatih dengan suami. Selama sesi latihan ini, suara perang dunia ramai terdengar kala itu.
"Di rem Ummi, rem Ummi. Rem sekarang juga, reeemmm!!!" Teriak suami.
"Ini juga di rem kok, pan disentuh halus gak usah kenceng-kenceng, lah nanti kalau mobilnya loncat gimana?" Protes saya.
"Emang pilih baju disentuh halus. Rem itu diinjak, diinjak! Tapi pake perasaan, bukan disentuh halus! Sekalian saja dielus-elus"
Hingga akhirnya bisa dengan percaya diri melenggang kangkung membawa mobil ke jalan raya dengan tenang, meski tetap harus ada yang mendampingi. Sampai suatu saat, ketika hendak memarkirkan mobil didepan rumah. Karena diberitahu ada mobil lain yang akan masuk, saya berinisiatif untuk membenarkan posisi mobil, agar mobil lain bisa masuk dengan nyaman.
Saking yakinnya sudah bisa menaklukkan kijang besi berkaki empat itu, saya ambil setir banyak-banyak ke arah kanan dan Bruaakkk!!! Kaca spion sebelah kiri bengkok, beserta body mobil bagian kiri tergores dan penyok! Bercucuran keringat dingin, saya laporan kepada sang pemilik yakni bapak mertua tercinta. Iya, kawan-kawan mobil itu milik bapak mertua saya, bukan milik suami. Dari kejadian itu saya maju mundur untuk kembali menyetir. "Ummi, ayo lancarkan lagi nyetir mobilnya."Ucap suami suatu hari. "I will my lovely, one day. After you have one!"
  Hal lainnya lagi, dalam daftar yang harus segera ditakluki dalam rangka menjadi si ibu serba bisa ini. Yakni mengusai medan bernama kolam renang. Ya, berenang juga sebenarnya harus bisa kita kuasai lho, ibu-ibu. Jika suatu hari, semoga tidak terjadi, ada kejadian buruk yang mengahuskan kita untuk terjun berenang, bagaimana? Jadilah saya yang pernah juga trauma dengan dunia air ini harus bisa menguasainya.
Dulu pernah nyemplung ke dalam sungai dengan kedalaman yang lumayan dalam. Hingga terseret sekian meter, alhamdulillah masih bisa diselamatkan. Mempunyai anak, mendorong kuat untuk kembali mengusai medan itu. Apalagi anak-anak hobi sekali dengan olah raga yang satu ini.
Hingga akhirnya latihan, dalam satu minggu bisa sampai tiga kali. Beruntung dulu, waktu tinggal di Malaysia ada kolam renang gratis, khusus perempuan pula. Dari awal hanya bisa gaya batu, masuk kedalam air hingga terus masuk kedasarnya dan tak bergerak lagi. Lambat laun badan bisa mengapung dengan ringan, bergerak lincah, mengatur nafas secara perlahan hingga gaya katak pun bisa dikuasai.
Jika dulu hanya berani dikedalaman satu meter setengah. Sekarang tiga setengah meter pun berani saya selami. Alhamdulillah, kegigihan saya berbuah manis, semanis madu.
"Ummi, keren!" Teriak anak-anak, ketika akhirnya bisa mulus terus bergerak berenang hingga menyentuh tepi lain dari sisi kolam renang. Suami tersenyum bangga ketika anak-anak ribut bercerita usai latihan, menceritakan emaknya yang berhasil menguasai kolam renang.
  Ada satu hal yang saat ini saya rintis kembali pekerjaan yang sempat ditinggalkan, yaitu berjualan. Membayangkan jika suatu saat saya diharuskan bisa mandiri secara finansial, muncul keinginan kuat untuk mencari aktifitas yang menghasilkan dan bisa dilakukan di rumah sembari melakukan rutinitas harian.
Awal mula hanya ingin sekedar membantu kawan berjualan, sampai akhirnya ingin serius bisnis kecil-kecilan berjualan kerudung. Sampai suami mengusulkan agar saya menjadi agen langsung, tanpa melalui perantara. Begitulah, meski konsumennya hanya dari kalangan terdekat, tapi secara perlahan memupuk rasa percaya diri untuk berjualan.
Dari kegiatan kecil ini pula, ada saudara menawari untuk mengikuti sebuah pameran sebagai ajang bagi saya untuk berjualan. Pengalaman luar biasa yang ingin kembali dijalani lagi. Bertemu dengan berbagai macam konsumen, kesibukan yang luar biasa dalam beberapa hari itu, memberikan sensasi unik yang hanya bisa didapatkan saat itu saja.
Utamanya adalah keuntungan yang didapat, lebih dari biasanya. Dari satu pameran, muncul berbagai tawaran lain untuk mengikuti pameran lain yang sayang sekali untuk dilewati. Alhamdulillah, kegiatan sampingan ini cukup memberikan kebebasan untuk memanjakan diri membeli buku yang saya sukai.
  Begitulah, hasil dari keinginan untuk mencontoh filosofi sang lebah, hingga akhirnya anak-anak kerap mengatakan jika emaknya ini adalah memang Ummi Lebah Madu. Sampai suatu saat muncul lah komentar dari  mulut salah seorang anak saya
"Nama Ummi ku itu Lebah Madu. Dan nama ku, Anak Lebah Madu!" Ucapnya, ketika salah seorang kawan bertandang ke rumah.
"Tahu enggak kenapa? Soalnya Ummi pernah nyubit Neng waktu Neng nakal, menyengat rasanya kayak Lebah!"
Kami tertawa mendengar kalimatnya, saya pun ikut tertawa sambil berusaha menutup rasa malu. Well, at least saya berhasil dikenal dengan nama Lebah Madu, meski dari keluguan anak-anak, akibat ulah saya waktu marah.
  Jadi, adakah list lain yang harus dikuasai sebagai ratu rumah tangga? Banyak pastinya. Dan ada satu hal yang masih penasaran ingin ditaklukan sampai sekarang. Yaitu si kijang besi berkaki empat yang selalu melambai mesra ke arah saya, untuk segera kembali ditunggangi. Yah, doakan saja saya kawan-kawan! Si Ummi Lebah Madu ini, pasti bisa mengusainya. Bisa, saya pasti bisa!!

0 komentar:

Post a Comment