Breaking News

07 July, 2011

Tenang Ibu-Ibu,…Kalian Tak Akan Iri Padaku

Harlis Setyowati

Terdorong oleh rasa mencintai diri sendiri yang teramat kuat dipompakan sahabat-sahabat saya di IIDN korwil wilayah,saya dengan berat sekaligus senang hati,hendak mencoba bernarsis ria di grup ini.Berbagi tulisan,berbagi pengalaman.Saya tidak berharap banyak ibu-ibu akan terinspirasi setelah membaca cuhatan saya ini,karena saya hanya ingin bernarsis ria,memuji diri sekali-kali.Pliiis,don’t try these at home…hehe.Dan saya berjanji dengan kesungguhan hati,ibu-ibu tak akan iri dengan kehebatan saya nanti.You can count on me!!
Tak terasa,telah hampir 11 tahun saya menyandang status ibu.Ibu dari 3 anak yang luar biasa-semua anak adalah anak yang luar biasa bagi orang tuanya,bukan?-dan istri satu-satunya dari seorang suami,yang belum bosen-bosennya memaksa saya untuk terus sadar bahwa saya telah menjadi istri dan ibu dari 3 anaknya.Dengan demikian telah hampir 11 tahun pula saya menyandang gelar ibu rumah tangga.Alhamdulillah,berkat rasa trauma suami yang teramat mendalam, melihat saya hampir sakaratul maut karena beban kehamilan yang besar pada kehamilan anak kembar saya,ditambah penyakit asma yang masih setia menggerogoti tubuh saya,suami saya bersumpah tidak akan mengijinkan saya bekerja terlalu berat mengurus rumah tangga.Jadi sukseslah saya mendapatkan bonus 3 asisten untuk ketiga anak saya tersebut.
Am I really a house wife?Ups,tadi hampir saja saya menuliskan gelar saya sebagai ibu rumah tangga ‘sejati’,untung tidaklah jadi,karena kalau dipikir sejatinya,saya bukanlah ibu rumah tangga ‘sejati’,setidaknya menurut pemahaman saya sekarang ini tentang makna ‘sejati’yang mengikuti kata –ibu rumah tangga- tersebut.
Mengapa demikian,karena senyatanya saya tak pernah merasakan menjadi ibu rumah tangga sejati-menurut pemahaman saya-yaitu,ibu rumah tangga tangguh multi tasking,yang mengurus sendiri semua urusan domestik menyangkut keberlangsungan system pemerintahan rumah tangganya.
Mulai dari tugas,membersihkan merawat menjaga kebersihan dan keteraturan rumah itu sendiri,alias menyapu,mengepel lantai,mengelap perabot,menggosok lantai kamar mandi,menyapu halaman,mengecat rumah,menata taman,memindah sendiri letak perabotan rumah yang menurut saya harus dirubah sebulan sekali,mencuci segala cucian,menjemur segala jemuran,dan menyetelika segala yang perlu disetelika.
Saya tidak pernah melakukannya sama sekali.Saya hanya memerintah asisten melakukan ini dan itu,setelah sebelumnya berkeringat memberi contoh kepada ketiga asisten saya.Semua saya contohkan,..tiap hari,kalau ada pekerjaan yang kurang menurut standard saya,saya kembali mencontohkan.Walhasil,saya masih juga bekerja,meskipun ada asisten.Kalo soal setelika baju dan celana suami,dari awal menikah sampai sekarang ini,saya tidak  pernah sekali-kali membebastugaskan diri saya,kecuali saat saya terkapar.
Suami teramat cerewet soal standard setelika celana dan hem yang licin,dan sejauh ini hanya saya yang berhasil memaksanya untuk mempercayai kemampuan saya.Salah sendiri jadi orang  sok teliti dan sok bersih,sok gak bisa percaya sama orang lain,jadi semua masih dikerjakan sendiri .Ketemu deh narsis pertama:Saya orang yang rajin,suka bersih-bersih rumah, sok teliti dan paling jago menyetelika baju  dan celana suami,hahaha.
Sebutlah soal masak-memasak di rumah tangga saya,berikut segala hal yang berkaitan dengan acara memasak yang heboh itu,sayapun hampir tidak pernah melakukannya.Boleh percaya boleh tidak,tiap saya memegang pisau,pastiiii,..*syerem ih,sampai bulu kuduk saya berdiri,..saya selalu terlukai.Tiap bau masakan,saya sukses bersin-bersin seribu kali,karena hidung saya amat sangat sensitif.Ibu dan ibu mertua mengusir saya dari dapur dengan galaknya, tiap kali saya berinisiatif membantu memasak (gila aja ngebiarin masakannya teracuni bibit penyakit dari hidung saya).
Sebutlah mengepel lantai,telapak kaki saya yang tidak sama panjangnya ini –sudah saya ukur dengan teliti-sukses selalu membuat saya terpeleset di lantai.Saat hamil,sebelum punya asisten,tak terhitung berapa kali saya jatuh terduduk karena terpeleset.Sebutlah mencuci piring atau gelas,pasti ada piring atau gelas yang pecah,that’s why di rumah saya tidak ada piring atau gelas dari kaca,kecuali hadiah dari pembelian sabun cuci.Saya tinggal buka internet,mengintip cara mengatur menu untuk anak-anak,untuk suami,dan untuk saya sendiri seminggu penuh,atau beli buku resep seabreg-abreg hanya untuk bahan referensi meneriakkan instruksi ke asisten,..masak ini,masak itu.
Celakanya,anak saya,terutama yang terakhir,hanya mau disuapin sama bundanya,hanya mau disiapkan makan sama bundanya,bahkan suami saya ikut-ikutan hanya mau makan jika saya bersamanya,…kadang-kadang minta disuapin juga,karena tidak mau tangannya kotor.Hanya satu keahlian saya memasak,yaitu memasak mie instant rebus nan lezat.Tidak hambar kebanyakan air atau malah keasinan kurang air.Dan suami saya selalu memuji mie bikinan saya adalah mie rebus paling lezat se Indonesia.Ketemu kan,narsis saya kedua :Saya ibu rumah tangga yang pandaaaai membuat mie rebus terlezat menurut suami saya.Hahaha
Sebutlah soal urusan mengatur keuangan yang harus handal dilakukan oleh ibu rumah tangga manapun. Pembayaran ini itu,listrik,air,uang les anak-anak,uang sekolah anak-anak,uang kewajiban berzakat,uang kewajiban berinfaq,uang asuransi,uang iuran rt,uang arisan,uang iuran pos kamling dan segala macam hal menyangkut keuangan yang seharusnya menjadi concern saya sebagai ibu rumah tangga,sudah sukses diatur oleh suami.Hari gini kan sudah ada pendebitan otomatis, atau pembayaran di muka,..saya benar-benar tak dibikin pusing karenanya.
Saya hanya mencatat secara teliti,semua aliran kas masuk dan aliran kas keluar.Tugas saya,hanya mempertanggungjawabkan uang dari suami,berikut pemakaiannya.Tiap hari saya menulis dengan teliti,bahkan pembelian barang dengan nominal tak seberapa juga saya catat dengan hati-hati.Hasilnya,ada laporan keuangan yang saya buat dan diajukan suami untuk ditanda tangani tiap bulannya.Serius.11 tahun menikah sudah berpuluh buku kas menumpuk di almari.
Suami mau tahu berapa duit yang dihabiskan krucilnya untuk jajan bulan ini?Ada catatannya.Suami mau tahu berapa duit yang dihabiskan istrinya untuk beli tas dan baju?xixi,..tercatat.Sungguh,saya menteri keuangan rumah tangga yang lumayan bisa diandalkan,anti korupsi,anti dumping,anti segala trik untuk saya salah gunakan demi menggelembungkan angka rekening “jatah bunda cantik” di kolom kredit.Ketemu lagi narsis saya ketiga.Saya pelit,saya teliti,dan saya sukses mengatur keuangan rumah tangga saya.Alias tidak pernah besar pasak daripada tiang.Hebat,kan?Haha
Sebutlah soal profesi guru yang harus dimiliki ibu rumah tangga,madrasah pertama bagi anak-anak.Jangan tanya deh,..saya guru paling detail merencanakan apa yang harus saya ajarkan kepada anak-anak saya.Jadwal les ini dan itu,juga les mengaji ketat sekali saya atur.Saya tak percaya silabus pengajaran masa kini.Saya mumet membacanya,jadi saya kekeuh mengajari anak saya dengan cara saya sendiri.
Tak peduli anak saya berteriak-teriak,..”Bundakuuuu,di sekolah gak kayak gitu ngajarinnyaaaa”.
Apa peduli saya,hajar bleh…!Percuma dong saya yang dulunya pintar,langganan  juara kelas,langganan siswa teladan dari SD,SMP dan SMA di kampung saya sendiri,kalau mengajari anak-anak sendiri saja tidak bisa Saya guru yang teramat galak,sekaligus lucu,jika  stress saya kambuh, karena anak-anak didik saya loadingnya lama-mending lompat-lompat di atas kasur,main sirkus,ngedongeng, atau jungkir balik,diikuti anak-anak saya.Atau melucu,sampai tempat tidur sukses  berantakan tak keruan.
Lumayan,anak saya sih gak jenius-jenius amat,tapi gak malu-maluin juga tuh nilai di sekolahnya.Jadi,narsis saya keempat adalah:Saya ibu guru hebat yang paling tepat  untuk anak-anak saya,karena kalo diajarin ibu-ibu yang laen,anak saya gak makin tambah pinter,tapi malah ngobrooool sendiri,yang ditakutin cuma saya emaknya seorang.
  Apalagi?you mention it.Apakah saya termasuk ibu rumah tangga hebat  yang membantu suami mencari nafkah?Oooh,…tentu saja iya,…Hampir 9 tahun saya diijinkan ‘bekerja’ ala designer.Ini gara-gara asisten saya tidak menyisakan sedikitpun  pekerjaan kepada saya, seiring dengan perkembangan keterampilan dan kepandaian mereka.
Jadi daripada bengong,saya mencoba-coba buka konsultasi design,berikut menerima jahitan baju pengantin muslimah,baju pesta muslimah,berikut kebaya dan urusan rias merias pengantin.Padahal saya buta ilmu jahit menjahit,saya buta ilmu manajemen bisnis,saya buta ilmu marketing.Tapi entah bagaimana,jalan bisnis saya termasuk lancar.
Banyak pelanggan ,banyak orderan,tidak berhenti-henti sejak saya meniatkan hati untuk membuka butik.Saya tidak pernah memakai pola jahit yang pakem,karena saya tidak pernah kursus menjahit.Jadi kalau banyak pelanggan yang puas,kemudian kembali menjahitkan bajunya ke butik saya,itu berarti sebuah keajaiban belaka.Sampai saya pindah ke luar pulau,banyak pelanggan saya yang menyayangkannya.
Kata mereka,tak ada penjahit muridnya Anne Avantie yang bisa mengerti keinginan mereka dalam berbusana sebaik saya.Kalau ini sangat lebay,saya cuma pernah berfoto dengan “the master of kebaya” Ibunda Anne Avantie,mendapat pelukan,dan tanda tangan dari beliau,hanya karena saya menunjukkan kliping berbuku-buku mengenai karyanya.Saya sungguh bukan murid bunda Anne Avantie.
Kalau urusan rias merias,cukuplah saya mendapat banyak pengalaman manggung dari kelas taman kanak-kanak sampai kuliah di perguruan tinggi.Kebetulan saya mahir menarikan tari jawa klasik dan kreasi baru,dan masing-masing penari harus bisa merias dirinya sendiri tiap kali manggung.
Tinggal membesut keahlian dengan belajar merias wajah sendiri tiap hari,semua orang pun bisa melakukannya.Tak ada guru rias pribadi,buku dan tuntunan belajar di you-tube pun sudah mewakili.Nothing special.But,anyway..ini narsis kelima saya:Saya designer dan perias pengantin yang dicintai dan digilai pelanggan-pelanggan saya.Itu juga karena mereka boleh mengutang jahitan atau riasan kepada saya.Serius.Hahaha
Meski pingsan berkali-kali, gara-gara kebanjiran order dan pelanggan,saya sukses meyakinkan suami untuk tetap memberi perpanjangan ijin bekerja di rumah.Jadi,hari-hari saya selama 9 tahun itu adalah meneriaki asisten-asisten untuk ini itu,meneriaki pegawai-pegawai saya untuk ini dan itu.
Sementara saya sendiri berlomba berpacu dengan  waktu memenuhi tuntutan anak,suami,saudara dan sahabat-sahabat dalam lingkup kekerabatan,tetangga-tetangga sekitar rumah dalam lingkup sosialisasi kemasyarakatan dan pelanggan yang berjibun dalam lingkup bisnis.Saya membagi perhatian,membagi cinta dan kasih sayang.
See?I’m really an ordinary housewife.Sekarang ini,saya semakin disayang suami.Karena saya tak lagi berbagi.Kasih sayang,cinta,dan perhatian saya hampir-hampir sepenuhnya untuk keluarga.Dan itu sungguh membuatnya lega,katanya.
Pagi hari,saya tak lagi meneriaki asisten untuk ini itu,sambil menyisir rambut si kembar,menyuapi si kecil yang berlarian ke sana kemari,itu juga sambil menerima telepon pelanggan yang stress karena kebaya pesanannya belum jadi-jadi juga, lalu  memilihkan baju suami,sambil memberi contoh motif bordir kepada tukang bordir,atau meneriaki asisten rias saya yang sedang menyiapkan rias besar di hari itu.
Siang menjelang,saya konsentrasi membagi perhatian pada anak bungsu yang tak peduli emaknya dikejar deadline, menerima tamu yang datang,mengawasi berjalannya proses pembuatan kebaya,menjemput anak sekolah,belanja kain,aksesories dan pernik segala rupa.Malam,meski letih dan bunyi nafas yang berderit-derit,saya harus menemani anak-anak membuat PR,begitu anak-anak terlelap,saya mulai bekerja dalam arti sebenarnya.Membuat pola,memotong kain,mengaplikasi kebaya dengan detil hiasan.Terkadang saya tertidur di lantai beralaskan kain yang digelar,dan gunting masih di genggaman tangan.
Semua itu tak ada lagi.Memang membuat rindu,tapi pujian yang menghangatkan hati saya dari suami selalu bisa membayar semua kerinduan itu.Bahwa saya adalah istri yang selalu membuatnya terpesona.Istri cantik yang selalu mengerti dirinya,selalu memahfumi kekurangannya.
Mendukungnya selalu di saat-saat terburuk maupun terbaik dalam episode kehidupan berumah tangga kami.Bahwa di pundak sayalah bertumpu  tugas dan kewajiban merawat,mendidik dan mengarahkan anak-anaknya agar tumbuh menjadi pribadi sholeh dan sholehah seperti yang dia amanahkan .
Pelukan anak-anak dan teriakan bahwa mereka kangen kepada saya,meskipun hanya setengah jam saya tinggalkan untuk ber me-time,itupun telah saya cukupkan membayar semua kerinduan berkarya mengatasnamakan aktualisasi diri dan pengembangan diri.
“Wanita-wanita cantik dan hebat di luar sana,adalah wanita dan ibu terhebat bagi suami dan anak-anak mereka masing-masing,…tapi bagi ayah,wanita terhebat di hati ayah pastilah bunda Harlis,..wanita cantik,manis,sexy,cerewet banget,manja banget,tapi …..pembuat mie instant paling lezat se Indonesia..”kata suamiku dengan nada cuek.
Yahhhh,apa boleh buat,hahaha,…tetap saya syukuri,saudara-saudara.
See?Telah terpenuhi janji saya tadi,saya berjanji tidak akan membuat ibu-ibu yang lain iri terhadap kehebatan saya.Cause I’m really an ordinary housewife.Ibu rumah tangga yang sangat biasa,dan sangaaat berbahagia.

*Peluk-peluk dan salam hangat untuk semua ibu-ibu hebat yang menginspirasi saya untuk melakukan banyak hal.Memaksa diri saya untuk menggali potensi diri,menjadi pribadi yang lebih baik,tak sekali-kali berputus harap,tak sekali-kali mundur karena menemukan aral.Maju,saya harus maju!Saya tak akan berhenti menabur harapan,menembus batas keniscayaan,menebar mimpi meskipun hanya membentur angin*

0 komentar:

Post a Comment